Locita

Mau Dibawa ke Mana Semangat 212?

ilustrasi (foto: Antara)

PAGI sekali saat dingin malam masih menyisakan hawanya, bersama dengan seorang teman, kami membelah Jakarta yang masih Sepi dengan sebuah sepeda motor. Sengaja kami memilih berangkat sangat pagi mengingat jarak Ciputat dan Monas yang tidak dekat.

Hari itu, satu tahun setelah aksi 212 di gelar di Monas. Setahun setelahnya, mereka yang menyebut dirinya alumni akan mengadakan reuni akbar di tempat yang sama. Kami berdua bukan alumni, pun bukan pendukung aksi ini. Namun keingintahuan mengantarkan kami menembus dinginnya Jakarta pagi itu.

Motor melaju sedang dari arah Cirendeu Raya, terus hingga Jalan Lebak Bulus Raya lalu berbelok ke arah Jalan Adiyaksa Raya. Selanjutnya melewati Jalan T.B. Simatupang trus hingga berbelok menuju Jalan Warung Jati Barat.

Di daerah Pejanten kami sempat terhenti oleh lampu merah. Meski tak begitu ramai, tanda tanda mereka yang terlihat ikut aksi sesekali mulai terlihat. Satu dua orang berkumpul dengan pakaian koko putih. Sebahagian ada yang membawa bendera merah putih. Pagi itu teman saya memakai pakaian putih koko. Saya memakai batik berwarna-warni.

Semakin mendekati titik aksi, massa mulai kelihatan. Kami memarkir kendaraan tak jauh dari Patung Tugu Tani, pada halaman ruko-ruko di Jalan Kebon Sirih. Tukang parkir berdiri menunggu kami yang baru memarkir motor. Biaya parkir lima ribu rupiah untuk satu motornya. Uang pembayaran parkir itu dimasukkan langsung ke dalam kresek hitam.

Ahmad Dhani di orasi Reuni 212 (Sumber foto: Merdeka)

Kami sempat bercanda, kalau tahu begini kami harusnya datang lebih awal dan menjadi tukang parkir. Tukang parkir mungkin adalah salah satu orang yang mendapatkan pemasukan berlebih hari itu. Ada ribuan kendaraan peserta aksi hari itu.

Dari sana kami berjalan menuju tempat reuni, Monas. Iring-iringan massa mulai berdatangan. Di depan kami dua buah Kopaja berisi anak-anak umur sekolah berusaha untuk menemukan tempat parkir. Mereka juga bagian dari peserta.

Atribut Alumni 212 terlihat di mana-mana. Dari yang dipakai orang tua hingga anak muda. Ada banyak model baju kaos yang sepertinya disablon khusus untuk alumni. Termasuk sablon baju couple-an.

Di Jalan Medan Merdeka Timur, sebelum masuk ke Monas kami berhenti. Di seberang jalan Ada hidangan kopi dan makan gratis untuk peserta aksi yang disediakan oleh Jamaah Masjid Al-Kifah Pekayongan Bekasi. Teman saya mengajak singgah.

Kami kemudian ditawari nasi dan juga kopi. Kami lalu mengambil dua bungkus nasi lalu memakannya dengan lahap.

Saya berbisik kepada teman. Ini untuk para peserta reuni atau yang mereka sebut sebagai mujahid. Padahal kita hanya observer. Teman saya hanya tersenyum. Setelah nasi habis, barulah kami kembali bergerak menuju Monas. Di Silang Monas Tenggara, seseorang berdiri seraya membagikan koran Republika secara gratis. Saya singgah mengambilnya. Begitu pula teman saya.

Semakin mendekati Monas massa semakin banyak. Beberapa orang laskar berpakaian putih dengan tulisan besar FPI dan juga kelompok lainnya berbagi tugas. Di antaranya ada yang khusus mencegah peserta aksi agar tidak menginjak rumput.

Para penjual juga semakin banyak. Ikat kepala bertuliskan Syahadat dibanderol Rp5000. Ada pula buku biografi Habib Rizieq dibanderol Rp35 ribu serta buku Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siraj seharga 60 ribu rupiah.

Poster Habib Rizieq dan pimpinan Aksi 212  banyak yang dijual. Termasuk kalender tahun 2018 berisi gambar-gambar Aksi 212 lalu.

Kami tiba tepat di lokasi bersamaan dengan lagu Indonesia Raya akan dikumandangkan. Namun sebelumnya salah seorang orator di panggung utama mengatakan bahwa meski sang Imam Besar tidak bersama mereka secara fisik, namun jiwanya ada bersama mereka. Setelah itu lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Lagu diakhiri dengan terikan Takbir, Allahu Akbar sebanyak tiga kali

Kami lalu memilih lokasi di bagian barat dari Panggung Utama. Jumlah massa di daerah itu belum begitu banyak. Belum sampai menutupi seluruh area Monas. Saf-saf yang juga disediakan panitia belum terisi penuh. Berbeda dengan bagian depan panggung yang sudah disesaki dengan peserta reuni.

Niat kami untuk mencapai panggung utama kami batalkan. Kami memilih duduk di barat panggung seraya berharap dapat mendengarkan apa yang dipaparkan orang-orang di panggung utama.

Apa lacur, sepertinya sound system di bagian itu sedang mengalami masalah, kami hanya mendengar suara sama-samar dari panggung utama.

***

Aksi 212 yang lalu tentu akan tercatat sebagai salah satu momen dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebuah momen yang cukup besar dan menghadirkan banyak orang.

Ada yang mengklaim bahwa peserta Aksi 212 mencapai 7 juta jiwa sedang yang menghadiri reuni mencapai 7,5 juta jiwa. Angka yang bagi sebahagian lainnya dianggap sangat fantastis dan terlalu glorifikasi jumlah peserta yang hadir.

Bahkan dalam klaim teman dari teman saya, melebihi jumlah peserta peristiwa Arafah.  Sebuah momen langka yang pada awalnya disebabkan oleh satu sosok gubernur yang dianggap menghina Al-Qur’an. Saya sendiri masih sanksi jika jumlah yang hadir di reuni melebihi jumlah yang hadir di Aksi 212.

Satu tahun setelah aksi tersebut,  sang gubernur telah dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan menistakan agama,  ghirah itu masih saja ada. Kalau ucapan di Pulau Seribu itu tidak muncul dan diekspos besar-besaran sebagai bentuk penistaan agama, besar kemungkinan sang gubernur masih terpilih.

Saya beberapa kali menemukuan driver ojek yang mengakui bahwa kinerja sang gubernur sangat bagus, namun karena menghina Al-qur’an maka akhirnya mereka tidak memilih sang gubernur.

Pemnadangan Monas di Reuni 212 (Sumber foto: Antara)

Seraya duduk di area Monas, saya berdisuksi dengan teman. Apa yang kira-kira menjadikan orang sebanyak ini bisa datang jauh-jauh bahkan membawa anak dan istrinya. Banyak diantaranya bahkan dari luar Jakarta. Puluhan ribu orang yang datang berasal dari latar belakang yang berbeda termasuk suku hingga organisasi yang berbeda.

Di antara mereka yang hadir, banyak yang datang lengkap dengan bendera organisasi di mana dia mengafiliasikan dirinya misalnya bendera FPI dari berbagai daerah, bendera organisasi Islam selain FPI, bendera partai dalam hal ini PKS, hingga bendera masjid. Saya baru tahu di sini bahwa sebuah mesjid memiliki benderanya masing-masing.

Ada lebih banyak lagi yang membawa bendera hitam dan putih yang berisikan kalimat syahadat yang selama ini sering dibawa oleh para kader HTI. Adapula yang terlihat ngotot membawa bendera NU dan Muhammadiyah meski kedua organisasi ini telah menyatakan diri tidak terlibat dalam gerakan Alumni ini. Tak lupa mereka yang membawa bendera merah putih.

Salah satu jawaban atas pertanyaan yang muncul tersebut adalah adanya isu pemersatu. Tahun lalu, saat Aksi 212 terjadi, isu pemersatu tersebut adalah common enemy bernama Ahok dan para pembelanya. Pada saat itu, mereka yang turun aksi adalah mereka yang membela Islam.

Tidak heran jika aksinya mereka sebut Aksi Bela Islam.  Pada reuni kali ini, meski Ahok yang dulu menjadi musuh bersama telah ditangkap. Namun semangat pemersatu itu masih ada. Ditambah lagi, reuni kali ini bisa disebut pula sebagai ajang perayaan atas kemenangan yang telah mereka perjuangkan tahun lalu.

Semangat aksi ini juga terjaga berkat kehadiran sosial media. Dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, self actulization (aktualisasi diri) berada pada tingkatan kebutuhan yang paling tinggi.

Kehadiran sosial media secara perlahan mengubah piramida kebutuhan Maslow. Kehadiran sosial media ditambah dengan membanjirnya smartphone menjadikan kebutuhan aktualisasi diri menjadi kebutuhan dasar.

Seseorang merasa butuh untuk menunjukkan ataupun memberi pembuktian kepada orang lain bahwa dia terlibat dalam sebuah kegiatan. Reuni 212 misalnya. Maka tidak heran jika kita temukan ada begitu banyak orang yang beraksi selfie dan juga wefie di lapangan Monas pagi itu lalu membagikan fotonya di sosial media atau grup grup WA sebagai absensi kehadiran mereka.

Pada posisi yang lain, dalam benak sebagian mereka yang hadir, aksi ini diyakini bernilai ibadah. Apalagi jika mengingat tokoh-tokoh agama yang jadi panutannya ikut berpartisipasi dalam aksi ini. Sungguh sebuah kemuliaan.

Alumni Aksi 212 bahkan menjadi parameter baru seseorang dalam menentukan jodoh untuk anaknya. Malam menjelang aksi, beredar pesan berantai seorang pria yang sedang mencari jodoh untuk putrinya.

Syaratnya: muslim yang taat, hafalan minimal 10 juz, pribumi Indonesia dengan usia maksimal 40 tahun, dan juga haruslah alumni Aksi 212.

Sayangnya, meski bagaimanapun cara dilakukan untuk menolak mengaitkan kegiatan ini sebagai sebuah kegiatan politik, nuansa politik praktis tidak bisa terpisahkan dari pelaksanaan kegiatan temu Alumni 212. Kehadiran politisi seperti Fahri Hamzah ataupun Fadli Zon–lawan oposisi dari pemerintahan sekarang–mungkin bisa menjadi bukti. Belum lagi orasi-orasi yang disampaikan dalam reuni.

Saya sendiri yakin, setiap organisasi memiliki agendanya masing-masing dalam kegiatan ini. HTI misalnya. Di lapangan, nuansa HTI sangat terasa. HTI jelas memiliki kepentingan dalam aksi ini. Selain dengan hadirnya tokoh-tokoh mereka. Poster-poster bertuliskan “Jangan Kriminalisasi Khilafah” atau pembagian buletin dakwah, Kaffah yang memiliki afiliasi dengan HTI juga dibagikan. Judul tulisannya adalah “Haram Mendukung Rezim Anti-Islam”.

Di bagian belakang buletin, ada informasi tentang telah terbitnya Media Umat edisi 206 dengan tajuk; “Perpu Ormas Menodai Ajaran Islam.”

Ada semacam upaya untuk menyampaikan bahwa apa yang terjadi terhadap HTI adalah sebuah bentuk kriminalisasi. Dan pelarangan HTI adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Islam.

Saya sempat mendengarkan beberapa poin yang disampaikan dari panggung utama terkait dengan Hasil Kongres Alumni 212. Diantaranya, Kesepakatan mengangkat Habib Rizieq Shihab senagai Imam Besar Ummat Islam. Sebuah kesepakatan yang menurut saya susah diterima oleh umat Islam Indonesia secara keseluruhan karena tentu tidak akan disetujui oleh banyak organisasi Islam di Indonesia.

Isi kongres lainnya adalah pandangan bahwa pemerintahan sekarang selama 3 tahun ini cenderung anti Islam dan terkesan Islamophobia. Pemerintah dianggap tidak terlalu ramah terhadap ummat Islam.

Menariknya, meski tema besarnya adalah Maulid, tak terdengar suara-suara yang mencoba menarasikan ataupun mencoba membagikan kisah-kisah Rasulullah. Entahlah di saat saya mulai meninggalkan lapangan. Selama dua jam berada di lapangan, yang terdengar hanyalah berisi sindiran politis kepada pemerintah dan juga kelompok yang dianggap berseberangan.

Mungkin akan lebih baik jika massa yang berkumpul itu diberikan kisah Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya. Bahwa Muhammad adalah sosok yang anti marjinalisasi. Bahwa Muhammad adalah sosok yang sangat dekat pada kelompok mustadh’afin.

Bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang selalu mengutamakan akhlak. Dan Muhammad adalah sosok yang menghargai orang lain. Muhammad bukan tukang cela apalagi tukang hina. Tapi yah, sebagian yang berorasi jangan-jangan lupa bahwa mereka berkumpul untuk Maulidan. Sehingga lupa menyampaikan pesan-pesan kemaulidan saat berorasi.

***

Kami sudah mulai meninggalkan lokasi saat Fadli Zon mendapatkan kesempatan berbicara. Para peserta reuni masih saja terus berdatangan. Dari pengeras suara saya mendengar Fadli Zon mengatakan bahwa aksi ini adalah aksi yang dilindungi undang-undang.

Di dalam perjalanan pulang saya berfikir, betapa besar ghirah yang dimiliki oleh massa yang hadir di Monas saat itu. Sayang sekali jika semangat itu justru diarahkan ke pada kepentingan politik tertentu.

Harapan saya tentu saja kepada mereka yang dengan semangatnya datang ke Monas karena merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah membela Islam, suatu saat jika mereka mulai merasa bahwa ada upaya politisasi dalam gerakan yang mereka yakni membela Islam itu, maka jangan ragu untuk meninggalkannya.

Motor yang kami pakai berjalan bebas menembus jalan-jalan di Jakarta yang tak begitu macet di hari Sabtu. Saya yang saat itu dibonceng masih bertanya-tanya, Sampai kapan semangat 212 ini akan di jaga dan akan dibawa ke mana semangat ini? Reuni Monas saya yakin bukan akhir dari drama 212. Akan ada jilid-jilid selanjutnya.

Syamsul Arif Galib

Syamsul Arif Galib

Seorang pemimpi yang ingin menjelajahi dunia dan menuliskannya.

Tentang Penulis

Syamsul Arif Galib

Syamsul Arif Galib

Seorang pemimpi yang ingin menjelajahi dunia dan menuliskannya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.