Locita

Bertaruh di Tanah Rantau

Ilustrasi (Foto: IDN Times)

Sarima (Bibi Bakul)

Seorang perempuan berjalan membungkuk seperti menggendong peralatan perang. Selembar kain sarung melilit menahan beban itu. Bawaan itu seberat anak usia 6 tahun (kurang lebih 25 kg).

Gendongan itu adalah  beberapa bakul besar. Di atasnya menyembul sapu, kemoceng, dingkul (bakul ukuran kecil), kipas, dan beberapa kerajinan rotan. Kepalanya pun tertutup kukusan, seperti helm serdadu. Sarima  (43) adalah salah seorang bibi-bibi bakul. Sebuah istilah yang dilekatkan pada penjual bakul keliling.

“Sapu,bakul…”

Beberapa kali Sarima meneriakkan itu. Sudah sekitar 1 km dia menyusuri Jalan Bojong Raya, Cengkareng, Jakarta Barat.

Jam menunjukkan pukul  7 pagi di hari Senin (7/8). Sudah sekitar dua jam perempuan pemanggul bakul ini menyusuri daerah tersebut dengan berjalan kaki dari Stasiun Rawa Buaya. Peluh membasahi mukanya, namun dia masih tetap tersenyum ramah sembari menjual suaranya yang sedikit cempreng.

Perempuan ini berasal dari Desa Wiyong, Kabupaten Cirebon. Sebuah desa yang dapat ditempuh sekitar setengah jam dari Kota Cirebon dengan menggunakan mobil . Kesulitan ekonomi membuatnya berlabuh di ibukota.

Jakarta bisa dibilang menjadi janji para perantau untuk mendapat penghasilan lebih besar. Hal itu disebutkan oleh peneliti sejarah Indonesia, Susan Blackburn dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun.

“Pengen cari uang jang. Laki saya hanya kuli. Apalagi anak sudah sekolah,” ujarnya ketika ditanya soal alasannya menjadi bibi bakul.

Kebetulan mantan kepala desanya, Dasini (47) memiliki usaha keluarga yang sudah dilakukan turun-temurun sebagai penjual bakul dan sapu di Jakarta. Dasini mendapatkan barang-barang tersebut dari pengerajin Majalengka.

Sarima, bibi bakul berkeliling dengan barang jualannya (Foto: Dhihram Tenrisau)

Beberapa ibu-ibu dari kampungnya yang ingin mencari uang di ibukota, Dasini tampung di rumahnya, di salah satu lorong sekitar Jl. Kalianyar, Jakarta Barat. Pekerjaan rutin itu dia lakoni di luar pekerjaan lainnya sebagai seorang petani pada bulan April dan November.

Barang ini dijual secara door to door oleh para ibu tersebut. Mereka yang bekerja di Dasini menyusuri wilayah Mangga Dua, Pesing, Cengkareng, Tarimi, Tanah Abang, dan daerah-daerah lainnya—sekitaran Jakarta Barat dan Utara. Sarima adalah salah satunya yang memilih pekerjaan tersebut. Hal itu dimulainya sejak 25 tahun yang lalu.

Mereka mendapat keuntungan dari para perantau yang menjemput kebutuhan makanan warga Jakarta. Prorposi sebesar 74 persen pada pengeluaran keluarga tersebut dijemput oleh para imigran dari Jawa. Sebagai etnis yang sebagian besarnya mendiami kota Jakarta (kurang lebih 58 persen), usaha kuliner seperti Warteg (warung tegal) menjadi salah satu jenis usaha mereka. Seperti halnya pada laporan Indeks Tendensi  Konsumen Triwulan I Tahun 2017 oleh BPS, bahwa penduduk Jakarta memiliki kecenderungan menghabiskan uangnya untuk makanan.

Dasini dan para bibi bakulnya mendapat keuntungan dari warung makan terbanyak di Jakarta,  Warteg. Warteg tersebut memerlukan beberapa peralatan untuk produksi makanan. Namun baik Dasini dan Sarima tidak menampik bahwa barangnya laku juga diluar pemilik usaha Warteg, semisal ibu rumah tangga.

Mereka  akan berkeliling biasanya sampai sore hari. Saat sore, mereka pulang rumah Dasini—yang terkenal oleh warga sekitar dengan istilah ‘gang bakul’. Kemudian jumlah barang yang laku kemudian dicatat dan disetor oleh Dasini. Keuntungan rata-rata per hari yang didapatkan sebesar 60 hingga 100 ribu didapatkan oleh Sarima dan kawan-kawannya saat menyusuri jalanan.

Tempat persinggahan para bibi bakul di rumah Dasini (Foto: Dhihram Tenrisau)

Sudah sejaman Sarima berjalan dengan gendongannya. Matahari makin meninggi dan mulai menyengat. Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Sosok itu adalah polisi lalu lintas. Lelaki berkulit legam terbakar matahari, tinggi besar, dan berompi hijau itu memanggilnya dari sisi jalanan.

Dengan kikuk, dia mendekati polisi tersebut. Polisi tersebut kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari kantongnya. Ibu tersebut terkejut.

“Maaf, Pak. Saya bukan peminta-minta.”

“Ini buat minum es. Rejeki jangan ditolak, Bu,” timpal Polisi tersebut.

Air mukanya menyiratkan rasa haru. Polisi tersebut tak lupa memberikan tepukan pelan pada lengan perempuan tangguh itu, menyiratkan sebuah dukungan moril dan empati.

Imam (Staff Ahli DPR)

Jauh dari terik yang dirasakan Sarima, Kamis siang itu (10/8) di ruangannya lantai 9 Gedung Nusantara DPR, Senayan, Jakarta Selatan Ahmad Sulaiman (28) sedang sibuk dengan Macbook Pro-nya. Di sebuah sofa yang empuk bermotif bunga, dia sedang sibuk mengirim foto-foto lewat  surel.

Dia adalah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Indonesia (UI) cum tenaga ahli seorang anggota DPR  di Partai Golkar.

Dia adalah satu dari kesekian banyak perantau asal Makassar yang mendarat di Jakarta. Lelaki lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM UNHAS) angkatan 2007 ini merantau sekitar pertengahan tahun 2012 untuk memenuhi panggilan sompe’—tradisi merantau dalam Bugis-Makassar. Christian Pelras, seorang peneliti suku Bugis-Makassar mengatakan bahwa suku tersebut perantau untuk melakukan perdagangan.

Berbeda dengan Imam yang melakukan urbanisasi  karena diamanahkan sebagai Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam. Jabatan itu mengharuskannya tinggal di ibukota.

Dalam merantau, perantau berdarah Bugis-Makassar ini terkenal sering membekali diri dengan tellu cappa atau tiga ujung. Ketiga ujung tersebut adalah cappa lila atau ujung lidah (bersilat lidah dan diplomasi), cappa kawali atau ujung badik (senjata) dan cappa laso (perkawinan).

Dengan latar belakang aktivis kampus di Universitas Hasanuddin, Imam merasa sudah cukup mengasah kesemua kemampuan tersebuat. Itu menjadi modalnya untuk menaklukkan  Jakarta.

Bagi para aktivis dari daerah, Jakarta adalah kawah candradimuka menuju kesuksesan politik. Menurutnya, hal ini disebabkan posisi Jakarta sebagai ibukota dan pusat pemerintahan. Dia berucap,

“Semua toh ada di Jakarta, beda kalau di daerah.”

Ahmad Sulaiman seorang staff ahli DPR sekaligus mahasiswa pasca sarjana UI (Foto: Dhihram Tenrisau)

Saat pertama kali mendaratkan kaki di Jakarta, Imam ikut bersama seniornya yang kebetulan lebih duluan di Jakarta. Dari mulai tempat tinggal, pekerjaan sampingan, uang saku, hingga makan sehari-hari. Hal ini berhubungan dengan nilai kekerabatan Bugis-Makassar  yakni hubungan patron-klien.

Pada gilirannya pemberian tersebut akan dibalas dengan memberikan dukungan atau bantuan. Termasuk jasa-jasa pribadi kepada patron. Terlepas dari itu, Apa yang ditempuh Imam saat mengawali tinggal di Jakarta, bisa dibilang tidak mudah juga.

Dia pernah merasakan kelaparan karena dompetnya kosong melompong. Ditodong para preman di gang lorong kosannya.  Menjadi supir  dan kurir proposal proyek-proyek. Hingga bertualang dari satu warkop ke warkop lainnya demi mencari ‘senior baik’ yang rela memberinya penganan dan uang saku secara sukarela.

Lelaki klimis ini kemudian mencari peluang dengan melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia. Imam berhasil masuk menjadi mahasiswa pascasarjana Program Studi Ekonomi Kesehatan FKM UI di kali ketiga.

Status mahasiswa S2 itu pula membawanya pada salah satu impian banyak aktivis yang merantau di Jakarta: tenaga ahli DPR. Saat itu secara tidak sengaja di tahun 2013, seorang seniornya menawarkannya posisi itu. Imam kemudian iseng-iseng mencobanya.

“Utamanya pekerjaan ini memberikan batu loncatan untuk orang-orang yang ingin masuk politik,” alasannya menjadi staff ahli DPR.

Untuk masa kerja, tenaga ahli ini memiliki dua macam. Masa berkantor dan masa reses. Masa reses biasanya dihabiskan oleh para tenaga ahli untuk mendampingi anggota dewannya turun ke Dapil. Masa reses diadakan tiga bulan sekali selama dua minggu.

“Tenaga ahli itu menarik, karena pekerjaan tersebut tidak terikat oleh waktu kerja,” dia kemudian menambahkan.

Namun Imam menolak bila dikatakan pekerjaan seabgai tenaga ahli itu mudah. Terkadang mereka harus bekerja diluar job description mereka.

“Mendampingi anggota, bahkan menemani diskusi, beberapa diantaranya soal tesis, bila anggota dewan tersebut sedang melanjutkan studi. Syukurlah anggota dewan yang saya dampingi tidak,” ujarnya.

Saat ditanyakan soal gajinya, Imam merendah,

“Biasa ji. Di atas UMP ji.”

Dalam laporan detikNews, gaji staff ahli berkisar 5-10 juta. Namun gaji seorang TA (tenaga ahli) berada pada kisaran 10 juta rupiah. Tiga kali lipat di atas UMPJakarta (3,35 juta rupiah), bahkan jauh di atas penghasilan rerata Sarima (sekitar 3 juta rupiah).

Posisi tenaga ahli DPR hari ini sudah tidak menjaminkan kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut diucapkan oleh  Yus (nama samaran), salah satu tenaga ahli rekanan Imam.

“Sebenarnya honor yang diterima tenaga ahli sudah lebih dari cukup, namun pola konsumsi orang beda-beda. Ada yang kebutuhannya banyak, ada yang sedikit. Untuk itu, banyak dari tenaga ahli itu memiliki pekerjaan ‘sampingan’.”

Telepon berdering dari ponselnya. Imam yang sedari tadi fokus dengan layar laptopnya terkesiap. Ada panggilan untuknya di lantai satu. Seminar yang turut mengundang anggota dewannya. Dia menutup layar laptop dan bergegas menuju lift. Menuruti arahan panggilan telepon tersebut.

 

****

Baik Imam dan Sarima adalah pelaku urbanisasi. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dan desa ke kota atau dan kota kecil ke kota besar yang disebabkan oleh adanya faktor penarik dari kota besar dan faktor pendorong dari desa. Urbanisasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hal tersebut berhubungan dengan data yang dirilis oleh World Bank bahwa setiap 1 persen urbanisasi, pertumbuhan ekonomi –dalam hal ini Produk Nasional Bruto (PNB)—meningkat sebanyak 4 persen. Bisa dibilang perantau adalah salah satu yang memajukan ibukota dan negara.

Jakarta sebagai salah satu kawasan perkotaan terbesar di Asia Timur—tidak termasuk China—kemudian menjadi garda depan dalam transformasi ekonomi Indonesia, dari ekonomi pertanian ke ekonomi perkotaan (urban). Ekonomi urban inii membuka lapangan kerja yang besar untuk berbagai sektor utamanya.

Tingginya tingkat urbanisasi selama dua dekade terakhir ini menjadikan Jakarta turut menjadi destinasi bagi orang yang ingin mencari kebutuhan pendidikan, hiburan, dan kesehatan. Hal tersebutlah yang membuat Imam, Sarima, dan para perantau lainnya berani bertaruh di ibukota.

Perantau membutuhkan solidaritas satu kampung. Dan itu yang kemudian dilakukan oleh Imam dan Sarima.

“Sudah jadi kultur orang-orang perantau untuk saling bahu membahu di tanah rantau,” imbuh lelaki kelahiran Jeneponto ini.

Sekalipun sudah bekerja dengan gaji di atas UMP, Imam mengakui bahwa dia masih belum apa-apa di ibukota.Terlebih dengan Sarima yang sudah 25 tahun berkarir di ibukota dengan penghasilan yang tidak menentu.

Mereka sudah menggantungkan diri terhadap ibukota, namun baik Imam dan  Sarima masih berharap dapat hidup di kampung mereka. Seperti pada pengakuan Imam,

“Biar mami itu sederhana, lebih enak di kampung.”

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.