Locita

Belajar Toleransi dari Sepotong Kue Chocolicious

MENYAMBUT hari raya Natal, Arnold Serestyen berencana memesan kue ke salah satu gerai kue di Makassar, bernama Chocolicious. Permintaanya tertulis, Tolong di atas kue….. selamat hari natal keluargaku. Tanpa embel-embel panjang dan lebar, toko tersebut menolak membuat ucapan tersebut. Setelah ditolak, dia tidak melanjutkan pemesanan tersebut.

Tiba-tiba screenshoot pemesanan via Whatsapp Arnold beredar di jagat maya. Walhasil hebohlah para netizen. Bertanggal 23 Desember 2017, akun media sosial Chocolicious kemudian mengunggah pernyataan klarifikasi dan permohonan maaf atas ketidaksanggupan untuk menyediakan ucapan selamat Natal dengan alasan prinsip agama.

Pro-kontra terjadi terhadap kejadian tersebut. Pernyataan menilai perbuatan diskriminatif dilontarkan oleh media-media dan para netizen.

Dengan segala kerendahan hati dan segala hormat. Sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami dari Chocolicious Indonesia belum bisa memberikan atau menyediakan tulisan ucapan selamat Natal dan semisalnya. ㅤ Bukan berarti kami tidak menghargai agama mas/mba. Akan tetapi dengan segala hormat inilah yang harus kami jalankan dari prinsip agama kami. Sekali lagi kami mohon maaf dari hati kami yang paling tulus dan rasa saling menghormati dan menghargai sebagai anak bangsa Indonesia. ㅤ Kami tetap menyediakan kartu ucapan dan papan cokelat sebagai kelengkapan pesanan mas/mba. Silakan diberikan ucapan sendiri. Sekali lagi, kami mohon perkenaannya. ㅤ We love you, Chocolovers 😊 ㅤ Hormat kami, Chocolicious Indonesia

Sebuah kiriman dibagikan oleh CHOCOLICIOUS INDONESIA (@chocoliciousindonesia) pada

Kontroversi ucapan natal memang bukan perdebatan baru. Perdebatan ini senantiasa terjadi dan sepertinya tak berkesudahan. Beberapa yang menolak menggunakan dalil dalam Surah Al-Kafirun, Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Juga ditambahi dengan pendapat ulama Syekh Ibnu Taimiyah, Syekh Utsaimin, Syekh Abdullah bin Umar Al-Adni.

Di sisi lain beberapa ulama membolehkan ucapan tersebut. Sebut saja ulama asal Mesir, Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Menurtnya ucapan selamat natal boleh dilakukan.  Ini termasuk perbuatan baik kepada sesama. Dengan catatan, mereka tidak sedang memerangi Muslim.

Untuk menjembatani potensi perpecahan itu, tahun ini Majelis Ulama Indonesia lewat ketuanya, Ma’ruf Amin sebenarnya sudah mengatakan tiada larangan dalam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Dia melanjutkan bahwa  sampai saat ini, tidak ada larangan bagi seorang muslim melakukan hal tersebut.

Pernyataan itu senada juga dengan pernyataan pakar hadis sekaligus dosen UIN Alauddin, Mahmud Suyuti, saat dihubungi oleh Locita.co Selasa kemarin, (25/12).

“Umat Islam yang mengucapkan salam keselamatan, selamat Natal memperingati hari kelahiran Isa Almasih tidaklah dilarang seabgaimana Muhammad SAW merayakan hari keselamatan Musa AS dengan berpuasa Asyura,” tuturnya.

Dewan Pembina GP Anshor ini kemudian melanjutkan,

“Apa salahnya mengucapkan kalimat, ‘Selamat Natal’, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud Al-Qur’an?”

“Sebenarnya secara agama, memang tidak ada alasan untuk melarang individu dalam menerima pesanan atau tidak. Karena toko itu milik person dan punya hak. Tinggal memilih yang mana nilai kebermanfaatannya lebih banyak dari kemudaratannya,” tutur Mahmud Suyuti.

Namun, dalam kaidah aturan hubungan antara konsumen, hal itu disebut oleh Undang-undang Perlindungan Konsumen. Dalam aturan itu, diatur juga soal perlindungan konsumen dari hal-hal yang bersikap diskriminatif.

“Hal ini jelas merugikan hak konsumen untuk mendapatkan kue yang diharapkannya. Hanya gara-gara alasan “agama” ini jelas tidak bisa diterima secara hukum,” ujar praktisi hukum Agus Amri saat berbincang bersama Locita.co.

Aturan itu berada dalam pasal 4 poin g dan 7 poin c, UUPK tentang hak konsumen dan kewajiban pelaku usaha yang berbunyi:

Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif dan memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

Advokat dan legal auditor ini kemudian menambahkan bahwa perilaku diskriminatif karena alasan apapun tidak dibenarkan. Sekalipun pihak Chocolicious dan Arnold belum melakukan transaksi jual-beli, sikap tersebut tidak dibenarkan.

“Jauh sebelum terjadinya transaksi atau hubungan hukum antara konsumen dengan pelaku usaha, UUPK sudah mengatur kewajiban-kewajiban para pelaku usaha untuk tunduk sepenuhnya tanpa pengecualian,” lanjut Agus.

Menurutnya pelaku usaha diwajibkan untuk menegakkan prinsip fairness yang artinya tidak boleh membeda-bedakan (mendiskriminasi) konsumen.

***

Hari Minggu, saat linimasa sedang sengit perdebatan soal kasus ini, Tempo.co merilis krnologis penulisan ucapan tersebut dari Arnold Serestyen.

Dia membenarkan bahwa memang toko kue itu tidak mau menuliskan ucapan selamat natal seperti yang sebelumnya dia minta. Namun dia tidak mempertanyakannya. Yang perlu diapresiasi adalah bagaimana kebesaran hatinya adalah penghormatannya.

“Saya menduga itu karena alasan keagamaan, dan saya sangat menghormati itu,” tutur pria itu.

Arnolod menambahkan bahwa tidak ada masalah apapun antara dia dan toko kue itu. “Mereka tidak pernah menghina maupun rasis kepada saya,” lanjut pria asal Hungaria itu.

Natal telah berlalu dan kini konon Chocolicous telah mendulang banyak manfaat dan kepopuleran dari kasus tersebut. Gerainya yang berpusat di Makassar itu dikabarkan diserbu pembeli dan peringkat fanpage Facebooknya meningkat.

Di hari Natal ini pula, di mana para rekan Kristiani bersuka ria, beberapa pihak justru berdebat dan saling bersitegang. Menambah jumlah baru polemik yang mengatasnamakan agama di Indonesia.

Baik yang pro dan kontra sama-sama reaktif, padahal kalau mau dilihat, di Makassar sana masih banyak toko-toko kue lain selain gerai coklat yang baru saja mendulang sertifikasi MUI ini. Kalau tidak mau atau tidak suka, masih banyak ji gerai toko yang lain yang masih menjual kue cokelat dengan kartu ucapan selamat.

Kejadian ini mi yang mungkin bisa menjadi pengingat agar kita menghargai juga menghormati pilihan beragama dan menghargai keberagaman. Mengingat kasiat medis mengkonsumsi cokelat.

Kenapa tidak kita menikmati sajian cokelat dulu sebelum berpalagan ria? Sehingga hati lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Slurrppp

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.