Locita

Asian Para Games 2018, Tanda Cinta untuk Difabel

RESTU Novianto berjalan tergesa, dengan langkah gontai ia memasuki area Monumen Nasional (Monas). Rintik hujan yang semalam turun diserta angin kencang yang seminggu terakhir melanda Jakarta, rupanya tidak menyurutkan langkah pria pengidap down syndrome ini.

Restu yang kini berusia 18 tahun tampak senang karena akan berlari bersama kedua orangtuanya pagi itu, tepat di Hari Difabel Sedunia, Minggu (3/12/2017).

Restu yang diketahui mengidap down syndrome saat usianya baru setahun ini menggenggam kuat lengan ayahnya. Ia seolah ingin segera menuju lokasi perhelatan Run for Difabel 2017 yang diselenggarakan di pintu Timur Monas. Ditemani kedua orangtuanya, Edisubiyakto dan Suminah, Restu berangkat dari rumah mereka di kawasan Kemayoran. 

Seorang penyandang disabilitas tengah memotret kawannya di sela acara lari. (foto: Aco’ Pamatte)

***

Saya memasuki area Monumen Nasional (Monas) pada Minggu yang basah itu. Dengan langkah gesit menyusup di antara sesak manusia dari arah pintu Monas yang berhadapan gedung Pertamina.

Perhelatan lomba lari  bertajuk “Run for Difabel, Humanity for Diversity”  akan segera dimulai, dan saya berharap tidak terlambat. Demi datang tepat waktu, tidak seperti biasanya, pagi-pagi buta saya sudah menuju Monas menumpang bis Transjakarta. Sampai di dekat lokasi lari, secara tak sengaja saya bertemu Restu dan kedua orangtuanya. Saya pun meminta kesediaan mereka untuk wawancara.

Restu rupanya tak sendiri, ia bersama 200 orang berkebutuhan khusus lain yang datang jauh-jauh untuk mengikuti kegiatan ini. Bagi mereka ini salah satu bentuk solidaritas terhadap rekan penyandang disabilitas yang terpinggirkan secara sosial maupun fasilitas. Di Indonesia pengidap down syndrome telah mencapai sekitar 300 ribu orang.

Selain 200 penyandang disabilitas yang ikut berpartisipasi pada acara lari ini, tercatat 1.800 peserta turut ambil bagian. Menurut panitia, acara lari ini memang diadakan untuk kampanye menghargai para penyandang disabilitas. Selain itu sebagai rangkaian persiapan Asian Para Games 2018 bulan Oktober mendatang dengan Jakarta sebagai tuan rumah.

***

Jakarta bisa dibilang belum layak dikatakan sebagai kota yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Tengok saja fasilitas umum yang ada. Ketika menggunakan bus TransJakarta misalnya, penyandang disabilitas tentu akan ketakutan dengan posisi halte yang terlalu tinggi dan curam.

Begitupun dengan jembatan penyeberangan orang, yang sangat tidak ramah bagi kaum difabel. Saya pernah menyaksikan betapa sulitnya mengangkat penumpang yang harus menyeberangi lubang untuk masuk ke dalam bis.

Melalui lomba lari ini panitia mengharapkam seluruh pihak menghormati hak penyandang disabilitas.

Diselenggarakan oleh Indonesia Para Games Organizing Committee (Inapgoc), Raja Sapta Oktohari selaku ketua umumnya menyampaikan tujuan acara ini.

“Harapannya kita bisa menghargai (penyandang disabilitas) karena kota yang ramah pada disabilitas adalah kota yang memanusiakan manusia,” harap Raja kepada awak media yang mengerubunginya selepas turut serta pada acara lari tersebut.

Nampaknya, keinginan Raja Sapta Oktohari agar kegiatan ini menjadi kampanye untuk menghormati hak penyandang disabilitas cukup terpenuhi. Seperti yang diakui oleh Yamadi, pria berusia sekitar 40 tahun yang saya temui di antara sesak pelari.

Pekerja swasta di Jakarta ini mengaku sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan lari bersama para penyandang disabilitas ini. Bahkan, ia membatalkan dua acara lari lainnya di hari itu demi dapat turut serta.

“Saya mengajak teman-teman saya agar mereka mau datang ke acara lari ini,” kata Yamadi.

Memang akan cukup terkesiap jika melihat banyaknya peserta yang turut hadir. Sejak dimulai pukul 05.00 WIB, peserta terus berdatangan. Mendekati garis akhir, panitia melalui pengeras suara mengumumkan jumlah pelari mencapai lebih 2.000 orang.

Sekitar pukul 07.05 WIB acara lomba lari sebagai peringatan hari difabel sedunia ini berakhir. Jarak yang berhasil ditempuh sepanjang 7,3 kilometer. Tak hanya berlari ternyata, para peserta juga melakukan penghimpunan dana bagi para penyandang disabilitas. Tercatat dana sebesar Rp125 juta terkumpul hari itu saja.

Akhir acara ditutup dengan menerbangkan balon sebagai simbol menghargai sesama. (foto: Aco’ Pamatte)

Memandang Sebelah Mata

Menurut Raja Sapta Oktohari, Tema “Run For Difabel, Humanity in Diversity” terasa sangat sesuai dengan cara pandang masyarakat Indonesia terhadap kaum difabel. Tema ini bermakna bahwa keberagaman suku, agama, maupun kondisi fisik bukanlah sebuah batasan untuk berkarya dan bekerja sama. Manusia Indonesia mampu memaknai keberagaman merupakan perwujudan rasa kemanusian yang tinggi, untuk mencapai tujuan positif.

Raja Sapta berharap perbedaan yang ada antara kita tidak lantas harus menjadi jurang pemisah, apalagi hanya karena perbedaan fisik.

“Perbedaan fisik itu hanya apa yang terlihat di depan mata kita, namun lebih dari itu, semangat berkarya mereka yang perlu kita dukung dan banggakan,” katanya lagi kepada para wartawan di Silang Monas.

Pernyataan Raja memang benar. Penyandang disabilitas tidak boleh dipandang sebelah mata. Di antara mereka ada para pahlawan bangsa. Pahlawan yang mengharumkan nama bangsa di bidang olahraga contohnya.

Pada ASEAN Para Games 2017 yang diselenggarakan oktober lalu di Malaysia. Indonesia berhasil menjadi juara umum dengan membawa pulang sebanyak 126 medali emas, 75 perak, dan 50 perunggu. Hasil itu jauh melampaui perolehan tuan rumah Malaysia  90 emas, 85 perak, dan 83 perunggu serta Thailand dengan 68 emas, 72 perak, dan 92 perunggu di peringkat ketiga.

Selain mengumpulkan pundi emas, atlet-atlet difabel Indonesia pun berhasil memecahkan beberapa rekor, seperti yang dicatatkan Suparni. Turun pada cabang olahraga tolak peluru F20 putri di ASEAN Para Games 2017. Ia mencatatkan jarak lemparan sejauh 11,03 meter yang menjadi rekor Asia baru. Selain Suparni, adapula Jendi Pangabean yang mencetak rekor baru ASEAN Para Games dengan catatan waktu 33,37 detik pada nomor 200 meter gaya ganti.

Saking bahagianya Menpora Imam Nahrawi waktu itu bahkan mengatakan keberhasilan ini adalah misi utamanya. “Indonesia juara. Kita berhasil mencapai misi utama kita dalam ASEAN Para Games 2017 ini dengan merebut kembali takhta sebagai juara umum. Kemenangan ini bagi saya seperti menebus sekaligus mengobati kegagalan kita dalam SEA Games lalu,” ujarnya kepada media tak lama setelah kepastian Indonesia sebagai juara umum.

Namun, di tengah kisah manis akan keberhasilan mereka yang mengharumkan nama bangsa. Persiapan dari Asian Para Games menuai kekhawatiran tidak hanya di dalam negeri juga dari luar negeri. Pasalnya dana yang diharapkan untuk menutupi penyelenggaraan acara ini tidak kunjung cair.

Dari banyak artikel yang saya baca, Asian Para Games memang seolah menjadi anak tiri dibandingkan Asian Games yang akan berlangsung sebulan sebelumnya. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan Asian Paragames sebesar Rp1,7 triliun.

Namun, anggaran yang dapat dicairkan hingga akhir 2017 hanya sebesar Rp 86 miliar. Persiapan pun kalang kabut, bahkan di banyak kesempatan Komite Paralimpiade Asia (APC) menyatakan keraguannya Indonesia bisa menyelenggarakan Asian Para Games 2018. Dan mengkaji opsi untuk memindahkan acara tersebut.

Semoga kabar bahagia pada November lalu dapat segera direalisasikan. Kemenpora dan INAPGOC sudah menandatangani nota kesepahaman untuk pencairan anggaran pada 27 November. Pemerintah dengan diwakili oleh sekertaris Menpora Gatot S Dewabroto berjanji akan berjanji mencairkan dana Rp1,7 triliun hingga akhir 2017.

“Sekarang, kami sudah lebih siap sehingga penyaluran anggaran memungkinkan lebih cepat,” kata Gatot kepada media.

Ketua INAPGOC pun, Raja Sapta yang saya temui di sela acara lomba lari itu mengatakan, sudah bisa bernapas lega setelah ada kepastian dana ini. Sebab, banyak agenda persiapan tertunda karena tidak ada kepastian anggaran.

“Namun, dengan kepastian anggaran itu, kami bisa meyakinkan APC bahwa Asian Para Games 2018 akan terselenggara dengan baik. Sebab, ini juga pertaruhan harga diri Indonesia,” ujar mantan Ketua HIPMI ini.

Kegiatan lari yang harapannya dapat menjadi sebuah pemicu untuk menghargai penyandang disabilitas ini seolah menemukan momentumnya. Sandiaga Uno yang turut berlari pada acara tersebut juga berjanji akan lebih memperhatikan sarana dan prasarana Ibukota untuk lebih ramah pada difabel.

“Kaum disabilitas itu pahlawan kita. Mereka harus diberikan fasilitas dan pekerjaan yang layak,” kata Sandiaga dengan topi dan kacamata hitamnya usai tiba di garis finish.

Seperti acara penutupan lari yang berakhir dengan tari zumba,  hiburan dari Tulus, maupun pelepasan balon udara. Kegiatan hari itu berakhir dengan bahagia. Senyum ceria terpancar dari para atlet maupun penyandang disabilitas yang turut berlari demi indonesia dan masyarakat yang lebih peduli pada kaum difabel.

Seperti tagline penyelenggaraan Asian Para Games 2018 “Inspiring Spirit and Energy of Asia”. Logo menggambarkan atlet di atas kursi roda itu sebagai bentuk inspirasi lebih menghargai sesama.

Saatnya mari kita bersiap menyambut atlet disabilitas dari 42 negara Asia. Asian Para Games yang akan mempertandingkan sebanyak 17 cabang olahraga, dengan 582 kategori pertandingan, dari tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018 mendatang.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.