Locita

Salat dan Politik

Foto-foto jamaah yang sedang salat Subuh di GBK beredar dan menjadi perbincangan publik. Gambar lelaki dan perempuan bercampur melakukan salat berjamaah segera menuai kontroversi.

Para warga Kalimana pun tak lepas dari perdebatan itu.

“Eeee…. Bahaya na ini. Madzhab dari mana ini boleh campur laki-laki dan perempuan saat Salat?” Kata Tesa

“Darurat tawwa.” Jawab Yusran

“Darurat apa? Itu kan acara memang di set untuk salat. Berarti bukan darurat. Kalau darurat itu tidak jalan lain. Masa aturan agama mau dilanggar untuk kepentingan acara. Apalagi dilakukan secara massal begitu.” Tesa tetap bersikukuh.

“Sudahmi. Janganmi berdebat. Nanti di pengajian, tanyakanmi sama Kyai Saleh.” Sampara menengahi.
Perbincangan selesai. Masing-masing kembali ke rumah dan bersiap menuju masjid.

*****

Wajah Kyai Saleh sedikit pucat. Sudah dua minggu, pengajian diliburkan karena kondisi kesehatan sang kyai sedang tidak bagus.
Para santri demikian antusias demi melihat kehadiran Kyai Saleh di masjid Nurul Autar dan siap menggelar pengajian lagi.

Tesa langsung mengangkat jari ketika diberi kesempatan bertanya.

“Kyai. Bagaimana hukum salat jamaah bercampur antara lelaki dan perempuan?”

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena dia pendukung Jokowi, Kyai.” Sampara menimpali.

“Apa hubungannya?”

“Begini, kyai. Waktu kampanye kemarin pendukung 02 melakukan salat jamaah subuh di GBK dan campurki jamaah laki-laki dan perempuan.”

“Wah, kalian ini menanyakan perihal ini karena ingin tahu atau karena ingin saling menyalahkan.”
Santri terdiam.

“Anakku. Mengapa dari awal saya tidak setuju simbol agama dibawa masuk ke dalam politik. Karena dua ranah ini berbeda. Basis agama adalah moralitas, basis politik adalah kepentingan. Membawa simbol agama ke ranah politik tanpa sadar kita sedang merendahkannya.

Agama terlalu agung untuk diperdebatkan, apalagi untuk kepentingan yang bersifat dunia, seperti politik kekuasaan. Lihatlah sekarang. Saling memamerkan ketakwaan. Saling mengklaim kesalehan. Ajaran darimana itu?”

Santri kembali terdiam.

“Kembali pertanyaan Tesa. Di luar urusan politik. Para ulama bersepakat bahwa salat jamaah lebih utama bagi pria di masjid, sedangkan perempuan di rumah. Jikapun salat berjamaah di masjid, maka shaf lelaki dan perempuan itu terpisah.

Shaf lelaki bagian depan dan shaf perempuan di bagian belakang, seperti yang kita temui di semua masjid di seluruh dunia, kecuali di masjid haram. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang jamaah yang bercampur. Ada ulama menganggap batal salatnya. Ada yang mengatakan sah, tetapi makruh untuk dilakukan.”

“Apa maksudnya, sah tetapi makruh!”

“Tidak membatalkan rukun salat, tetapi sebaiknya jangan dilakukan.”

“Jadi, bagaimana kasus di GBK itu, Kyai?”

“Ya, tidak masalah. Salatnya tetap sah.”

“Saya dengar ada yang menyebutnya darurat.”

“Darurat merupakan kondisi pembenar bagi seseorang muslim untuk melakukan sesuatu yang sejatinya dilarang. Misalnya seorang muslim terjebak di hutan, dan makanan yang tersedia hanyalah makanan yang diharamkan. Itu boleh dimakan, untuk menyelamatkan jiwanya.

Seorang yang sakit, tidak bisa berdiri dibolehkan untuk salat sambil berbaring karena kondisi darurat yang dialaminya. Nah, darurat adalah kondisi terpaksa yang dialami oleh seseorang yang memaksanya untuk melaksanakan sesuatu yang dalam keadaan normal tidak dilakukannya.”

“Jadi, benar. Mereka yang salat di GBK itu memenuhi unsur darurat.”

“Ya. Jika dilihat secara personal, maka dia darurat. Tidak ada jalan lain. Tetapi jika melihat acaranya yang memang sengaja menggelar salat subuh di GBK, maka unsur daruratnya dipertanyakan. Artinya, mereka bisa saja melaksanakan salat subuh terlebih dahulu di rumah atau di tempat baru melakukan kampanye.”

“Nah, itu Kyai. Saya dengar subuh berjamaah memang masuk dalam agendanya.”

“Itu kekeliruan. Sama halnya dengan melaksanakan kegiatan hingga melampui waktu dhuhur yang menyebabkan seseorang terpaksa menjamak salat atau melakukannya di tempat yang tidak bersih, seperti stadion itu. Agak berbeda dengan di Masjid Haram.

Itu memang tempat ibadah. Orang berjubel ke sana untuk melaksanakan salat. Dalam situasi itu, ada beberapa kondisi yang tidak bisa dihindari, termasuk bercampurnya jamaah laki-laki dan perempuan. Nah para ulama memberi pendapat atas ini. Sedangkan kampanye dan GBK bukanlah kegiatan keagamaan dan bukan tempat beribadah. Seharusnya bisa diprediksi hal-hal seperti ini.”

Kyai Saleh menyeruput air putih yang tersedia di depannya.

“Namun, sekali lagi, saya tegaskan. Jangan mencemooh perilaku keagamaan seseorang. Intinya mereka melakukan kewajibannya sebagai muslim.

Mereka ke sana untuk hajat dan tujuan tertentu yang menurut mereka benar. Salat yang mereka lakukan secara fiqih tetap bisa dibenarkan. Mereka pun melakukannya dengan tanpa kesengajaan. Jadi, tidak perlu dilebih-lebihkan. Ingat, ibadah adalah hubungan personal seseorang dengan Tuhannya.”

“Dengarko itu Tesa.” Kata Sampara.

“Dalam soal agama apalagi ibadah, Nabi mengutamakan kerendahan hati. Tidak bisa kita menilai ibadah orang lain lebih jelek dari kita. Itu namanya ujub. Ibadah itu sangat pribadi. Yang bisa menilai hanya Allah. Jadi, anak-anakku. Tahan diri kalian untuk tidak terbiasa menilai ibadah orang lain.

Apalagi, jika tujuan dari penilaian itu bersifat duniawi atau bertujuan menertawai dan sebagainya. Jangan mengambil alih fungsi Tuhan, karena kalian hanya hamba yang juga belum tentu benar ibadahnya.”

Kyai Saleh kembali memberi jeda. Kondisinya tampak belum terlalu normal. Berulang kali batuk kecil menginterupsi pembicaraannya.

“Anakku. Jangan sampai politik membuat kalian kehilangan hal yang paling dijunjung oleh agama kita.”

“Apa itu, Kyai?”

“Persatuan. Persaudaraan sebagai bangsa. Kedua pasangan capres ini adalah putera terbaik bangsa. Mereka semua muslim. Mereka semua pancasilais. Siapapun yang terpilih akan menjadi pemimpin kita. Sudahilah perdebatan untuk sesuatu yang kalian bahkan tidak mengerti situasinya dengan baik.”

Kyai Saleh segera mengakhiri pengajian dengan meminta kepada para santrinya untuk berdoa. Semoga Bangsa Indonesia tetap utuh menjadi satu dan tidak digoyahkan oleh bentuk kepentingan apapun.

“Aminnn!!” Para santri mengaminkan.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

6 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.