Locita

Razia Buku Itu, Sia-Sia

SEDIH menyeruak di batin Kyai Saleh. Hari ini, Kyai Jafar akan kembali ke Jawa. Sudah terlalu lama dia meninggalkan pesantren. Kehadiran Kyai Jafar membuat hidup  Kyai Saleh berwarna. Kyai Jafar senang bercanda. Kyai Saleh seperti kembali ke masa-masa nyantri di pesantren Mbah Bisri.

Tesa, Yusran, Ale, dan Dani datang membawa sedikit bingkisan. Minyak tawon, sarung sutera Sengkang, dan kacipo (penganan kering khas Sulawesi Selatan). Kyai Jafar terlihat semringah menyambut bingkisan itu.

Syukran, jazakumullah khairan katsira.”

Setelah persiapan dianggap sudah purna, Kyai Jafar bersiap menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Yusran dan Tesa mengantarnya. Kyai Saleh sedang kurang enak badan.

“Istrahatlah, Kyai. Biar santrimu yang mengantarku.”

Selepas basa-basi perpisahan, Kyai Jafar beranjak ke mobil.

Suasana jalan kota padat. Perbaikan jalan menuju tol reformasi membuat jalur jalan ramai dan macet. Mobil menumpuk dengan acak. Klakson berbunyi liar.

“Mau ka tanya Kyai?” Tesa tiba-tiba bertanya.

Kyai Jafar menatap ke arah Tesa sejenak dan sedikit menganggukkan kepala.

“Kyai, sudah dengar razia buku oleh pihak keamanan?”

“Saya baca beritanya.”

“Bagaimana menurut Kyai?”

Kyai Jafar terdiam. Tiba-tiba dia menarik nafas dengan berat.

Tesa dan Yusran sedikit terkejut. Kyai Jafar adalah sosok yang ceria. Selama dua minggu di rumah Kyai Saleh, tak sekalipun Kyai Jafar terlihat murung atau tegang. Namun kali ini berbeda. Pertanyaan Tesa seperti mengais sesuatu yang sudah tersimpan erat dalam cerukan ingatan Kyai Jafar. Tentang bilur di hati yang tak kunjung pulih oleh waktu. Entah!

Setelah beberapa jenak terdiam, Kyai Jafar mulai bercerita tentang satu peristiwa suram dalam hidupnya di medio tahun 1960-an. Tentang ayahnya.

****

Peristiwa kelam itu terjadi ketika Kyai Jafar masih kanak-kanak.

Ayah Kyai Jafar adalah seorang petani. Namanya Samiun. Saban sore, Samiun ikut mengaji di salah seorang kyai yang cukup terkenal di kampung tetangga. Meski petani, namun Samiun dikenal sebagai orang yang cukup cerdas.

Tak pernah mengikuti pendidikan formal, namun intelektualitas Samiun tidak diragukan. Dia bisa dengan mudah menguasai dengan baik ilmu-ilmu dari kitab yang diajarkan gurunya.

Samiun mulai populer di kalangan warga desa, ketika dia dengan tegas menolak membayar pajak. Alasannya sederhana:pajak yang dibayarkan rutin setiap tahun ternyata hanya dinikmati oleh elit desa.

Pembangunan desa tidak pernah diperhatikan. Kesejahteraan warga desa diabaikan. Para warga desa sendiri yang bersusah payah menjual hasil sawah dan kebun ke kota agar bisa menyambung hidup.

Sementara kepala desa dan semua perangkatnya hidup dengan bermewah-mewah dari hasil pajak yang tak pernah dilaporkan ke kecamatan dan kabupaten.

Sikap Samiun enggan membayar pajak diikuti oleh warga yang lain. Resonansi gerakan meluas dari rumah ke rumah. Kepala desa panik.

Sumber penghasilannya terancam hilang. Bahkan suara yang meminta dirinya untuk mundur dari jabatan kepala desa sudah mulai terdengar.

Kepala desa tahu bahwa Samiun adalah pemicu dari pembangkangan ini. Selama dua puluh tahun lebih menjabat tak seorang pun yang berani menantang, kecuali Samiun.

Teror terhadap Samiun pun dilancarkan. Baik fisik maupun non-fisik. Tetapi Samiun adalah seorang jawara. Teror yang dilancarkan oleh kepala desa tak sedikit pun membuatnya takut dan kehilangan nyali.

Kepala desa kehilangan akal. Dia tidak bisa melaporkan Samiun dengan alasan tidak membayar pajak karena selama ini uang pajak tidak pernah sampai ke pihak kecamatan. Melaporkan Samiun dan warga sama halnya menggali kuburan sendiri.

Hingga suatu hari, kepala desa mendapatkan laporan dari “mata-mata”-nya. Samiun adalah seorang pembaca buku. Koleksi bukunya lumayan banyak.

Kitab-kitab ulama klasik hingga buku filsafat. Samiun kadang-kadang menyisihkan hasil jerih payahnya untuk membeli satu-dua buku. Ada pula yang memberinya sebagai hadiah.

Beberapa buku sudah dibacanya, sebagian lagi belum pernah disentuh karena Samiun tidak paham isinya.

Samiun tidak pernah menduga kalau melalui bukunya itulah, hidupnya menjadi sulit. Kepala desa yang pensiunan militer melakukan razia terhadap buku yang dimiliki oleh warga desa.

Alasan yang digunakan adalah, pemerintah sedang gencar melakukan pembersihan terhadap antek-antek komunis. Maklum saja, para pentolan PKI di Jakarta sedang melakukan gerakan kudeta dengan menangkapi jenderal-jenderal tinggi.

Gerakan yang populer dengan G 30 S PKI. Setelah pemerintah berhasil “menghabisi” para pentolan PKI. Gerakan bersih-bersih dari komunis dilancarkan hingga ke tingkat paling rendah, desa.

Kepala desa segera memerintahkan aparatnya untuk melakukan razia. Satu per satu rumah warga didatangi. Beberapa warga memang memiliki koleksi buku meski jumlahnya tidak banyak.

Hingga akhirnya tim itu tiba di rumah Samiun. Dua lemari besar berisi buku diperiksa. Beberapa buku disita oleh aparat desa. Samiun hanya pasrah melihat rak bukunya terobrak-abrik.

Keesokan harinya, rumah Samiun didatangi oleh pihak keamanan. Meski tidak paham apa yang terjadi, Samiun hanya pasrah ketika dibawa ke kantor polisi.

Sejak itu, Jafar tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. Yang tersisa adalah cerita bahwa Samiun ditangkap dan dipenjara karena menyimpan buku-buku komunis. Samiun meninggal dunia beberapa tahun kemudian di dalam penjara.

Dan, setelah itu keluarga Samiun harus pindah kampung. Menjauh dari warga yang terlanjur percaya bahwa keluarga Samiun adalah keluarga komunis.

***

Ada bulir kecil di sudut mata Kyai Jafar. Suasana hening tercipta. Mobil sudah lepas dari jerat kemacetan dan mulai memasuki jalan tol. Yusran mempercepat laju kendaraan.

“Buku apa yang disita oleh aparat desa, Kyai?” tanya Tesa.

“Saya tidak mengerti, buku apa yang disita. Buku apa yang membuat ayah saya dianggap sebagai komunis.  Ibu juga tidak tahu. Yang beliau tahu, bapak hanya petani biasa yang memang senang mengoleksi buku.”

Suasana kembali hening.

“Tapi beberapa tahun lalu, anak kepala desa itu menyerahkan bungkusan. Anak kepala desa itu menyampaikan permintaan maaf.”

“Bungkusan apa, Kyai?”

“Buku Karl Marx, Das Kapital”

Tesa dan Yusran terkesiap. Seorang petani kecil membaca Das Kapital?

“Jika buku ini menjadi penanda seseorang menjadi komunis, maka komunislah semua ilmuwan sosial. Buku ini hampir menjadi rujukan semua sosiolog, filosof, dan antropolog tentang ekonomi politik melawan ideologi kapitalis.”

“ Kyai, sudah baca?”

“Saya harus kursus bahasa Inggris dulu. Versi yang disimpan ayahku itu versi Inggris.”

“Ayah Kyai bisa bahasa Inggris?”

Kyai Jafar menggelengkan kepala, “ Tidak. Saya menduga buku ini belum dibaca oleh ayah. Mungkin hanya hadiah saja atau sekedar koleksi. Kata ibuku, ayah memang seorang pengoleksi buku. Bagi ayah, menghormati buku, menghormati pengetahuan sama dengan menghormati Sang Pemberi pengetahuan. Meski tak tahu dan tak mengerti isinya, pasti ada berkahnya.”

“Jadi, bagaimana pendapat Kyai dengan fenomena razia buku-buku kiri, saat ini?” Tesa mengulang pertanyaannya.

“Ya, anggap saja itu cara negara mengkritik semangat literasi warganya.”

“Looh… kok bisa, Kyai?”

“Coba lacak data. Berapa jumlah pembaca buku di Indonesia? Pasti sangat sedikit. Jangan-jangan, jumlah buku lebih banyak dari orang yang suka baca buku.”

“Tetapi bukannya itu bisa dianggap kembali ke zaman Orde Baru seperti cerita Kyai tadi?”

“Jika gara-gara itu, ada orang yang ditangkap ya salah. Tetapi kalau razia buku itu dianggap sebagai cara mengikis paham apapun itu, komunis kek, khilafah kek. Itu salah kaprah. Sia-sia dan itu lebay.”

“Kenapa, Kyai?”

“Dulu, di tahun-tahun 60-an sampai 90-an para aktivis punya jargon begini, Kamu boleh memenjara fisik dan jiwa kami, tapi tidak gagasan kami.”

“Trus, Kyai?”

“Kalau sekarang, begini, Kamu boleh merampas fisik buku kami, karena kami sudah punya pdf-nya.” Kata Kyai Jafar dengan gaya deklamasi.

Yusran dan Tesa tertawa ngakak.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

13 comments

  • Cerita tentang kyai saleh terus mengalir. Banyak hal yang diperbincangkan, dan tentu menggelitik dan penuh satire, mulai soal keagamaan, kemanusiaan dan kebangsaan. Kisah yai saleh seperti oase atas kegersangan kita soal dialektika kehidupan, sekecil apapun masalahnya. Kisah yai saleh seperti mata air yang tdk pernah kering. Kali ini, muncul sosok yai jakfar soal razia perbukuan. Yai terakhir ini menawarkn soal substansi, soal gagasan yang tdk pernah dapat dirazia, bahkan diberangus oleh siapapun. Membaca yai soleh karya senior pepi el-bayquni membuat kehidupan kita tdk lagi kerontang dan gersang oleh segala sengkarut persoalan di negeri ini. Salute..

  • With the whole thing that appears to be developing within this particular subject material, your perspectives tend to be somewhat exciting. Nonetheless, I beg your pardon, but I do not give credence to your entire suggestion, all be it radical none the less. It seems to us that your comments are generally not entirely justified and in simple fact you are yourself not even wholly certain of your assertion. In any event I did take pleasure in looking at it.

  • I have to show my thanks to this writer just for rescuing me from this issue. Just after surfing through the online world and getting recommendations which were not beneficial, I assumed my life was over. Living without the strategies to the problems you have solved as a result of this guide is a critical case, as well as ones which could have negatively affected my career if I hadn’t come across your site. Your actual natural talent and kindness in handling every part was useful. I am not sure what I would have done if I had not come upon such a step like this. I’m able to at this moment look ahead to my future. Thanks for your time very much for the high quality and sensible guide. I won’t think twice to refer your web page to any individual who requires direction on this subject.

  • A lot of thanks for your own effort on this web page. Betty really likes engaging in investigations and it’s really obvious why. A number of us know all concerning the powerful method you offer powerful suggestions through this web blog and even increase response from other people on that situation so our own princess is without a doubt discovering a lot. Enjoy the remaining portion of the year. You have been carrying out a glorious job.

  • I truly wanted to construct a word in order to express gratitude to you for the stunning tips you are posting at this website. My extensive internet look up has at the end of the day been honored with professional facts and strategies to write about with my guests. I would assert that we website visitors actually are unquestionably endowed to dwell in a wonderful website with many perfect professionals with insightful guidelines. I feel very lucky to have encountered the weblog and look forward to plenty of more fabulous minutes reading here. Thanks a lot once again for all the details.

  • Thanks for all your valuable efforts on this blog. My niece really likes engaging in investigations and it’s really obvious why. Most of us know all about the powerful mode you deliver effective secrets on this web blog and cause contribution from visitors about this subject matter while our own daughter is certainly starting to learn a lot of things. Enjoy the remaining portion of the year. You’re the one carrying out a really great job.

  • I truly wanted to type a small note in order to say thanks to you for some of the fantastic points you are posting at this website. My time intensive internet search has now been recognized with good quality ideas to write about with my best friends. I ‘d mention that most of us site visitors actually are very much blessed to dwell in a useful network with very many lovely individuals with great ideas. I feel quite grateful to have seen your entire weblog and look forward to really more entertaining minutes reading here. Thanks a lot again for a lot of things.

  • I simply wanted to appreciate you once again. I do not know what I might have handled in the absence of the type of tips revealed by you over this problem. It was before a frightening circumstance for me, however , understanding this specialised strategy you processed the issue forced me to weep over fulfillment. Extremely happy for your guidance and in addition trust you know what a great job you were accomplishing instructing the rest with the aid of your web blog. Probably you haven’t met any of us.

  • Thank you a lot for providing individuals with remarkably terrific opportunity to read articles and blog posts from this site. It’s always very nice and as well , jam-packed with amusement for me personally and my office fellow workers to visit your website particularly three times every week to read the latest tips you will have. Not to mention, I am just actually motivated considering the staggering concepts served by you. Certain 4 points in this posting are completely the very best we have all had.

  • I in addition to my friends have already been taking note of the excellent strategies located on your website and then unexpectedly I had a horrible feeling I had not thanked the website owner for those strategies. Those guys were for that reason excited to learn all of them and have in effect truly been enjoying these things. We appreciate you getting well helpful and then for settling on certain perfect information millions of individuals are really needing to be aware of. My sincere apologies for not expressing appreciation to you sooner.

  • Thank you for your own work on this web site. Gloria really likes managing research and it’s easy to see why. Most people notice all of the compelling medium you deliver precious information through your web blog and in addition welcome participation from some other people on this idea and my princess is actually discovering a lot of things. Enjoy the rest of the new year. You’re the one doing a stunning job.

  • I want to express my appreciation for your kindness for persons that absolutely need help on the subject matter. Your very own commitment to getting the solution all over came to be extraordinarily valuable and have consistently empowered professionals just like me to realize their ambitions. The valuable key points entails a whole lot to me and even more to my fellow workers. Thanks a lot; from all of us.

  • I intended to send you one very small observation just to give many thanks over again considering the splendid thoughts you have documented here. It was incredibly generous with people like you to provide without restraint what numerous people might have distributed for an ebook to make some dough on their own, precisely considering the fact that you might have done it if you considered necessary. The tactics in addition worked to provide a easy way to understand that the rest have a similar eagerness similar to my own to find out good deal more pertaining to this issue. I am certain there are a lot more pleasant instances ahead for those who looked over your website.

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.