Locita

May Day

Sumber Gambar (Ilustrasi.The wire)

“Macet total, Kyai!” ucap Yusran begitu mobil memasuki ruas jalan A.P. Pettarani. Mobil berjejeran memenuhi ruas jalan, dengan pergerakan yang sangat lamban.

Kumpulan massa yang sedang demonstrasi di depan gedung DPRD Kota menyebabkan penumpukan kendaraan plus jalan yang sedang ada pembangunan. Lengkap. Mobil Kyai Saleh terjebak di tengah lautan kendaraan lainnya.

“Ada apa, ya?” tanya Kyai Saleh sambil menatap tajam ke depan. Sesekali kepalanya didongakkan. Matanya mendelik mencari tahu.

“Sepertinya, ada demo ini.” Ais yang duduk di bagian tengah angkat suara.

“Demo apa? Pilpres?”

“Oh. Iya. Kyai, hari ini hari buruh. 1 Mei. May day. Biasanya memang ada demo dari kelompok serikat pekerja setiap tanggal begini.” Tesa menepuk jidat.

Kyai Saleh menghembuskan nafas berat. “Sepertinya kita telat untuk mengisi acara Isra’ Mi’raj ini. Coba telpon panitianya, Tesa!”

Tesa mengangguk mengikuti perintah Kyai Saleh.

“Ndak apa-apa Kyai. Katanya, acara diundur sampai ba’dadhuhur. Panitianya juga tadi bilang terjebak macet seperti kita.”

Kyai Saleh tersenyum lega.

Yusran berkonsentrasi penuh untuk mencari celah gerak. Matanya awas mengamati suasana sekitar melalui kaca spion.

Tiba-tiba, mata Yusran menangkap sosok seorang ibu yang meringis kesakitan di atas bentor (becak motor) yang berada di belakang mobil. Yusran menurunkan kaca mobil untuk memastikan penglihatannya.

Benar! Seorang ibu dengan perut besar meringis kesakitan. Yusran sedikit panik.

“Kyai. Kayaknya ada ibu mau melahirkan itu di belakang.”

Kyai Saleh segera membalikkan badan. Kyai Saleh terkesiap. Wajah ibu meringis membuatnya segera berkata dengan nada tinggi, “Anak-anak, turun! Bawa ibu itu ke dalam mobil kita!!”

Tanpa banyak bicara, Ais, Tesa dan Yusran segera turun. Mereka mendekati ibu itu. Setelah berdialog sejenak, Ais memapah si ibu menuju mobil. Tesa bergerak duluan membuka pintu mobil dan membantu sang ibu duduk di bagian tengah.

“Bagaimana ini Kyai?” Ais bertanya cemas. Wajah ibu itu semakin pucat menahan rasa sakit. Sepertinya, saat melahirkan semakin dekat.

Kyai Saleh ikut cemas. Yusran dan Tesa pun turut cemas. Dalam beberapa jenak, mereka tidak tahu berbuat apa.

“Tesa… coba kamu ke rumah sakit sana. Minta satu dokter atau siapapun yang bisa membantu.” Kata Kyai Saleh menunjuk ke arah rumah sakit P yang tak jauh jaraknya dari tempat mereka.

Tesa mengangguk dan langsung berlari ke arah rumah sakit.

“Ais, ada sarung di tas bagian belakang mobil. Ambil dan tutupi badan ibu ini.” Kata Kyai Saleh sembari mengambil botol air mineral. Kyai Saleh memejamkan mata, merapal doa dan meniup air botol itu.

“Minum-ki dulu bu.” Kata Kyai Saleh. Si ibu meraih air mineral. Tak lama setelah itu, dia berteriak kesakitan.

Ais pucat, Yusran pun pucat, Kyai Saleh pun turut pucat. Mereka semua cemas. Ibu muda itu terus berteriak kesakitan tanpa peduli kerumunan orang yang perlahan semakin banyak.

“Tolong kasih jalan!” Teriak Tesa bersama dua orang suster. Kyai Saleh lega.

Kedua suster itu segera bertindak. Keduanya cekatan memeriksa kondisi si ibu

“Tidak ada jalan lain. Ibu ini harus melahirkan di sini. Sudah hampir pecah ketubannya ini. Ayo bu…. Tarik nafas dan tekan kuat.” Kata salah seorang suster.

Yusran bengong. Kyai Saleh memberi isyarat kepadanya untuk mengalihkan pandangan

De ja vu.

Kyai Saleh tiba-tiba merasa pernah dalam situasi ini. Cemas dan perasaan tak karuan. Kyai Saleh terseret dalam ingatan beberapa puluh tahun silam.

Kala itu, bu Fatima sedang mengandung anak pertama. Anak itu lahir dalam situasi kurang tepat. Cuaca sedang tidak bagus. Hujan lebat mengguyur kota sejak sore.

Tiba-tiba, Fatima meringis kesakitan. Tanda melahirkan telah tiba. Kyai Saleh panik tak terkira.

Tanpa peduli suasana hujan lebat, dia segera berlari ke rumah sanro memmana. Apesnya, sanro itu sedang sakit.

Tak hilang akal, Kyai Saleh segera mencari tahu tetangga yang pernah membantu kelahiran. Untunglah, ada seorang tetangga yang pernah sekali ikut membantu kelahiran.

Kyai Saleh tidak kuasa menahan cemas melihat isterinya ditangani seorang ibu amatir. Rapal doa terus mengalir dari mulutnya.

Setiap teriakan isterinya terdengar, adrenalin Kyai Saleh ikut meningkat.  Kecemasan itu berlalu, setelah mendengar tangisan dari si bayi.

“Kyai…. Lahirmi!”  Ucap Ais pelan.

Kyai Saleh terbangun dari lamunannya. Seorang anak perempuan mungil berada di dekapan suster. Sedangkan sang ibu terkulai lemas dengan senyum bahagia.

“Terima kasih.” Ucap sang ibu dengan lemah.

Ais memberi kode kepada suster untuk menyerahkan sang bayi ke Kyai Saleh untuk diazani. Kyai Saleh dengan senang hati meraih anak itu dan melantunkan azan. Sekali lagi, de javu. Kyai Saleh benar-benar terseret ke masa silam. Tak sadar, air mata Kyai Saleh meleleh.

“Kenapaki menangis Kyai?” Tanya Yusran.

Kyai Saleh memilih tak menjawab. Dia menyerahkan si bayi kembali ke dekapan suster.

*****

Suasana jalan AP. Pettarani mulai lancar. Para demonstran sudah meninggalkan titik aksi menuju ke tempat yang lain.

Yusran segera membawa mobil ke rumah sakit. Tesa dan Ais terpaksa berjalan kaki menuju rumah sakit.

“Kyai. Tolong beri nama anak saya.” Pinta sang ibu ketika Kyai Saleh dan santri-santri pamit pulang.

Kyai Saleh terdiam dalam beberapa jenak. Pikirannya seperti sedang menjelajahi lautan nama di alam maya yang cocok dan menjadi takdir bagi anak.

“Nur amaliah.” Gumamnya pelan.

“Siapa, Kyai?”

“Nur amaliah.”

“Artinya?”

“Cahaya amal kebaikan. Tetapi kata amal artinya kerja yang merupakan fondasi dari kaum buruh yang sedang demo. Jadi namanya bisa juga diartikan, cahaya yang lahir di hari buruh.”

Si ibu tersenyum. Dia merasa beruntung anaknya lahir diazankan dan diberinama oleh seorang Kyai.

****

“Huft… tegangku tadi.” Kata Tesa dalam mobil. Perjalanan dilanjutkan. Suasana jalan raya sudah lancar. Yusran mempercepat laju mobil.

“Jangankan kita…Kyai saja tadi juga saya lihat pucat dan cemas.” Kata Ais dengan nada sedikit mengejek.

“Ah, salah lihat kamu Ais. Saya ini orangnya tenang.” Tangkis Kyai Saleh.

Ais tersenyum simpul mendengar pembelaan diri Kyai Saleh.

“Kyai, Kenapa anak lahir harus diazani?” tanya Tesa menyela.

“Itu salah satu sunnah Nabi menurut jumhur ulama. Dunia rahim adalah dunia terbaik dalam perjalanan hidup manusia. Di rahim ibu, manusia dibentuk perlahan dan lembut melalui mekanisme penciptaan yang sudah fixed jutaan tahun.

Ketika tubuh manusia sudah terbentuk sempurna, Tuhan akan meniupkan roh-Nya. Inilah interaksi pertama kali manusia dengan Tuhan. Ruh ini bersifat spiritual. Semacam energi yang menggerakkan potensi-potensi fisik yang tersusun pelan-pelan tadi.

Kita meyakini ruh itu adalah anugerah dan bentuk cinta Tuhan kepada manusia. Di dunia rahim itu, manusia sangat dekat dengan Tuhan.

Karena itu, ketika dia lahir dia harus diperdengarkan nama-nama Tuhan dan diberi keyakinan bahwa suasana spiritual yang menyenangkan di alam rahim itu, juga ada di dunia. Anggap saja, azan sebagai welcome speech bagi bayi untuk tenang dan tidak bersedih karena meninggalkan dunia rahim.”

Tak lama berselang, mereka tiba di tempat Kyai Saleh akan memberi tausiah tentang Isra dan Mi’raj.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

5 comments

  • Sangat menarik dan penuh motivasi…
    Penasaran dengan tokoh ceritanya..
    Tabe’..mungkin lebih tepatnya disebutkan juga iqamah u perempuan..🙏

  • Baru ngeh, mengapa bayi yang baru lahir harus diazankan. Tp mengapa bayi laki-laki dan perempuan berbeda saat diazankan?

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.