Locita

Kitab Suci (Bukan) Fiksi

Faris mengamati layar kaca dengan kening mengkerut. Kata-kata yang diucapkan oleh Rocky Gerung membuatnya kesulitan berpikir; kitab suci adalah fiksi. Faris bisa memahami dengan baik alur penjelasan Rocky Gerung tentang fiksi, tetapi kesulitan untuk mencerna contoh yang ditawarkan oleh Rocky Gerung. Selama ini, Faris memahami fiksi sebagai karya imajiner, yang lahir dari renungan seorang seniman. Jika Rocky Gerung menyebutkan kitab suci itu fiksi, maka imajinasi siapa? Imajinasi Tuhan? Tuhan berimajinasi? Ah, Faris mematikan teve dan memilih untuk tidur.

Faris terbangun mendengar suara azan dari masjid. Ia segera meraih ponselnya. Semula dia bermaksud mengetahui jam berapa saat ini, namun perhatiannya teralihkan oleh tanda merah di akun dari salah satu grup WhatsApp yang diikutinya. Angka di tanda itu menunjukkan 523. Sungguh ramai! Faris tergoda untuk segera membukanya.

Wah, rupanya pendapat Rocky Gerung tentang fiksi ramai diperdebatkan. Faris tersenyum-senyum kecil membaca pendapat kawan-kawan grupnya.
Faris segera beranjak menuju kamar mandi, berwudu, ganti baju, dan beranjak menuju masjid. Suara iqamat sudah mulai terdengar. Faris mempercepat langkahnya.

***

Hari ini tidak ada jadwal pengajian.
Usai Salat Subuh, satu per satu jamaah kembali ke rumah. Kecuali Yusran, Tesa, Faris, Ais, Sampara, dan beberapa gelintir jamaah. Mereka mendekati Kyai Saleh setelah doa selesai dibacakan. Satu persatu menciumi tangan Kyai Saleh.

Tabe, Kyai. Yusran angkat bicara.
Pandangan Kyai Saleh mengarah kepada Yusran dan menganggukkan kepala.

“Ada apa, Yus?”

“Nonton ki ILC tadi malam?”

“Ya, kenapa?”

“Bagaimana pendapat Kyai soal komentar Rocky Gerung,” Yusran melanjutkan perkataannya. Faris memandangi Yusran sejenak. Pertanyaan yang sejak tadi ingin diajukan kepada Kyai Saleh rupanya mengendap juga dalam pikiran Yusran.

“Bagus,” ucap Kyai Saleh.

Yusran tersenyum kecil. Jawaban singkat Kyai Saleh membuatnya sedikit keki.
Jadi, setuju ki kalau kitab suci disebut fiksi, Kyai? Faris akhirnya bertanya.

“Pak Gerung orang cerdas. Orang filsafat tentu punya pertimbangan ketika bicara. Mungkin ada kebenaran dalam kalimatnya dan juga mungkin ada kekeliruan. Setiap kebenaran manusiawi selalu berpotensi mengandung kesalahan, sebaliknya juga begitu. Imam Malik pernah bilang, pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan dan pendapatmu salah tetapi bisa jadi mengandung kebenaran.”

“Tapi saya sulit memahaminya, Kyai.”

“Begitulah. Ketika filsafat bekerja, bahasa pun berlibur.”

“Maksudnya, Kyai? Saya tidak mengerti.”

“Kalau kamu mengerti, tidak filsafat lagi,” ucap Kyai Saleh sambil tersenyum. Para santri ikut tersenyum.

“Apa kebenaran dalam ucapan Rocky Gerung?” Faris terus bertanya.Subtansi fiksi.

“Maksudnya, Kyai?”

“Penjelasan Pak Gerung bahwa fiksi memiliki kekuatan yang besar untuk mengaktifkan imajinasi dan memberi harapan di masa depan, itu benar. Saya setuju. Fiksi sebaiknya dipahami seperti itu. Pak Gerung ingin membawa fiksi ke ruang spiritual, dimana energi positif dan baik dalam dunia spiritual bisa diserap dan dijadikan kekuatan. Jika fiksi dipahami dengan visi seperti itu, ya benarlah kata-katanya. Saya bersetuju dengannya.”

Lalu apa kesalahannya, Kyai?” Kali ini Yusran tidak ingin kalah cepat dari Faris.

“Juga, subtansi fiksi. Kenapa sama, Kyai? Tadi Kyai bilang dia benar karena subtansi fiksi, lalu Kyai bilang salah karena subtansi fiksi. Bingung ka, Kyai,” Ais menyela.

“Subtansi fiksi bukan hanya soal kekuatan imajinernya dan kemampuannya menginspirasi, tetapi juga soal kebenaran. Fiksi menawarkan kebenaran yang relatif. Bisa ya bisa tidak. Pada titik ini, Pak Gerung keliru ketika membawa kitab suci ke dalam ruang fiksi. Jalur kebenaran kitab suci hanya satu saja, tidak relatif. Adakah pemeluk agama yang mengatakan bahwa kebenaran dalam kitab saya mungkin benar, mungkin juga salah? Tidak ada. Semua orang meyakini bahwa kebenaran dalam kitab sucinya mutlak.”

Semua terdiam.

Kyai Saleh melanjutkan kalimatnya. “Dugaan saya, penekanan Pak Gerung bukan soal kitab suci, tetapi soal fiksi. Dia ingin membersihkan kata fiksi dari kotoran yang dilekatkan kepadanya selama ini, tetapi dia sepertinya sedikit terjebak dalam kata-katanya sendiri.”

“Maksud ta Kyai?”

“Dia tidak adil pada kata fiktif. Dia melepaskan kata fiktif dari cangkang fiksinya, dan membiarkan kata fiktif terbebani dengan beban pejoratif sendirian.”

Dee susahnya kata-kata ta, Kyai.”

Sampara ikut menimpali sembari menggaruk kepala. Tema pembicaraan kali ini sulit dicerna olehnya.

Kyai Saleh tersenyum, dengan logika yang runtut dan menarik, Pak Gerung mencoba menjernihkan persoalan fiksi, tetapi ketika sampai kepada kata fiktif dia membiarkannya pejoratif. Padahal, fiksi dan fiktif adalah dua sisi mata uang. Fiktif adalah hal yang bersifat fiksi. Itu pengertian literernya. Tidak ada pengertian bohong, buruk, pejoratif dalam kata fiktif. Kecuali dalam dunia sosial kita saat ini. Seharusnya dia juga membersihkan kata fiktif dari beban sosial yang mengikutinya selama ini, sebagaimana dia lakukan pada kata fiksi.

“Loh, bukankah memang fiktif itu identik dengan bohong, Kyai.” Tesa ikut berbicara

“Ada seorang filosof bahasa, saya lupa namanya bilang makna sebuah kata tergantung penggunaannya dalam sebuah kalimat, makna sebuah kalimat tergantung penggunaannya dalam bahasa, dan makna sebuah bahasa tergantung penggunaannya dalam kehidupan. Filosof ini dikenal dengan teorinya tentang permainan bahasa.”

Kayaknya itu Ludwig Wittgenstein, Kyai. Ais menimpali.

“Itu kayaknya.”

“Maksudnya bagaimana, Kyai?” Faris kembali bertanya.

“Konteks diskusi malam itu adalah pidato Prabowo yang mengutip karya fiksi, novel Ghost Fleet. Dalam konteks sastra, fiksi dan fiktif tidak bisah dipisahkan. Tipikal karya fiksi adalah fiktifnya.”

“Tambah bingung saya, Kyai.” Sampara bergumam.

Sederhana, kalian suka novel apa?
Harry Poter, Kyai.” Faris menjawab.

“Bagaimana itu novel?” Kyai Saleh bertanya balik.

Lalu, Faris menjelaskan sekilas novel kesukaannya itu. Kyai Saleh mengangguk-angguk.

“Nah, Harry Poter adalah karya fiksi yang bisa mengaktifkan imajinasi tentang keindahan, keajaiban, kebaikan, perjuangan, keberanian dan sebagainya. Ini bisa menginspirasi banyak anak-anak dan penggemarnya. Inilah bagian yang dijelaskan oleh Pak Gerung malam tadi. Tetapi tokoh Harry Poter dan kawan-kawannya, tempat tinggalnya, dan sapu terbangnya semuanya fiktif, tidak faktual. Energi karya fiksi justeru pada bagian fiktifnya. Karena kalau dia faktual secara keseluruhan, karya fiksi bisa berubah menjadi karya ilmiah. Nah, pada bagian ini pula, semakin bermasalah ketika kita menyebut kitab suci sebagai fiksi.”

Para santri itu mengangguk-anggukkan kepala.

“Dan ingat! bahasa itu digerakkan oleh kepentingan, termasuk analisis Pak Gerung tentu saja,” lanjut Kyai Saleh.

“Apa kepentingan Pak Gerung, Kyai?”

“Hanya dia yang tahu. Perhatikan saja posisi duduknya selama ini dan renungkan kemana dia sedang berpihak. Narasi-narasinya mudah tertebak ke arah mana.”

“Maksud Kyai, ini bukan murni penjelasan akademik.” Yusran kembali angkat suara.

“Ini penjelasan akademik di tempat dan tujuan politik. Lalu mengapa menjadikan kitab suci sebagai contoh?” Faris bertanya lagi.

“Itu biasa. Dalam diskusi atau debat, agama dan segala perangkatnya adalah alat legitimasi yang paling kuat dan paling favorit. Pak Gerung mencontohkan kitab suci sebagai upaya untuk mendapatkan kekuatan besar dalam berargumentasi. Ini pola umum!”

“Lalu bagaimana caranya memahami ucapan Rocky Gerung itu, Kyai?”

Guru saya mbah Bisri mengajarkan kepada kami tentang hal ini dulu?”

“Oh, ya. Bagaimana itu Kyai?” Faris semakin tertarik. Dia memperbaiki posisi duduknya.

“Fiksi dalam bahasa Arab adalah khiyalun. Sama artinya dengan tidak nyata. Karya sastra seperti novel bisa dikategorikan sebagai khiyalun. Ada kata lain digunakan yaitu Al-Akhbar Al-Ghaibiyah atau kabar gaib. Kabar ini datang melalui wahyu. Allah sebagai Zat Maha Benar dan Maha Suci memberikan kabar ini kepada orang yang dipilih-Nya. Kata-kata dari wahyu inilah yang kita sebut Kitab Suci, khususnya Alquran. Ini bukan khiyaliun. Itulah sebabnya ketika nabi membacakan Alquran, sebagian orang Quraish tidak percaya dan menganggapnya sebagai khiyaliun dari Nabi Muhammad SAW. Alquran tidak memerintahkan menghukum orang seperti ini tetapi memintanya untuk membuat ayat yang serupa.
Jadi keliru ketika menyebutkan kitab suci itu fiksi.”

“Kalaupun benar, itu baru pada level dasar.”

“Level dasar?” Ais mengulang kalimat Kyai Saleh dengan tekanan suara yang sedikit heran.

Seseorang yang menganggap kitab suci sebagai fiksi, sebetulnya hanya menjadikan kitab suci sebagai alat untuk mengaktifkan imajinasi tentang Tuhan, masa depan, kebaikan dan sebagainya. Imajinasi inilah yang mendorong mereka berbuat kebajikan. Ini level dasar dalam beragama, seorang anak kecil diajarkan fiksi tentang surga dan neraka agar dia mau rajin salat. Itu fungsi fiksi yang diinginkan oleh Pak Gerung. Yang beragama seperti ini otaknya akan fiksional dan akan kesulitan menerima hal-hal dari kenyataan fiksional di luar yang mereka bayangkan. Kalian sudah sering dengar kan, salah satu alasan orang bom bunuh diri? Adalah karena otaknya fiksional. Dia membayangkan bidadari di surga sebagai pemantiknya. Dia membayangkan bahwa Tuhan akan mengasihinya dan memberikan surga untuknya. Otak fiksional seperti ini justeru bahaya dalam beragama.”

Level selanjutnya?

Tanya para sufi. Hubungan mereka dengan Tuhan tidak fiksional. Tidak ada fiksi surga dan neraka yang menghalangi. Mereka melampui dunia imajinasi yang membatasi manusia dan Sang Pencipta. Mereka berada di dunia spiritual, bukan dunia fiksi.
Semua terdiam. Kalimat Kyai Saleh kali ini rumit untuk dipahami tetapi mudah untuk dirasakan. Tapi ada yang bilang, yang dimaksud Pak Gerung bukan Alquran melainkan kitab suci agamanya. Suara Faris memecah kesunyian.
Kyai Saleh tersenyum kecil.
Ah, itu sotta. Kecuali orang itu menganggap Alquran bukan kitab suci. Pak Gerung menyebut kitab suci, tidak menyebut Injil atau yang lebih spesifik. Ini permainan semantik yang sudah disiapkan oleh Pak Gerung agar dirinya memiliki ruang yang besar untuk membuat alibi.

“Ada tong kudengar mau melaporkan ke polisi.” kata Yusran.

“Itu lebih sotta lagi. Ucapan Pak Gerung biarkan menjadi perdebatan. Perdebatan akan melahirkan ilmu. Tapi lapor melapor itu akan melanggengkan dendam. Nikmati sajalah! ”

Faris tersenyum lega. Penjelasan Kyai Saleh membuat sengkarut kebingungan yang menyergap otaknya sejak tadi malam perlahan-lahan terurai.

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Add comment

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.