Locita

Kisah Seorang Darwis dan Seorang Pengemis

Sumber Foto: Magiclriver.org

Suatu hari seorang pengemis melihat seorang darwis yang sedang duduk di dalam sebuah kemah yang mewah. Tali kemahnya terikat dengan paku emas. Dinding dan lantainya dilapisi dengan kain beludru yang lembut dan empuk.

Pengemis itu mengamati dengan baik satu-persatu apa yang dimiliki sang darwis, seolah tak percaya apa yang sedang ia saksikan. Beragam pertanyaan datang bergejolak di dalam benaknya.

Mengapa tidak! Seorang darwis tak ubahnya seperti seorang pengemis. Hanya saja seorang darwis, pada hakikatnya adalah seorang sufi yang mengarungi kehidupan kesehariannya. Umumnya sebagai pengemis. Mereka berkeliling dan mendoakan setiap orang yang mereka temui di perjalanan. Sufi gembel biasanya disebut dengan sebutan darwis.

Tak kuasa membendung beragam pertanyaan yang ada di dalam benaknya, akhirnya pengemis itu memberanikan diri bertanya pada darwis, “Wahai Darwis! Untuk apa semua ini? Bukankah Anda seorang darwis yang terkenal dengan kezuhudan dan kesederhaan! Namun setelah menyaksikan segala kemewahan yang engkau miliki saat ini, aku mulai meragukan eksistensi Anda sebagai seorang darwis”.

Sang darwis tersenyum setelah mendengar ocehan pengemis itu. Lalu ia berkata kepada pengemis itu, “Baiklah! Aku bersedia meninggalkan segala yang aku miliki saat ini dan pergi mengemis bersamamu”.

Kemudian sang darwis bergegas bangkit dari tempat duduknya dan pergi mengikuti pengemis itu. Bahkan sang darwis tak sempat lagi memakai sendalnya karena tak ingin ditinggal pergi oleh sang pengemis. Ia meninggalkan kemah mewahnya termasuk sendalnya.

Beberapa saat kemudian, pengemis itu sedang mengeluhkan sesuatu dan merasa tak nyaman. Akhirnya ia mengungkapkan kegelisahannya pada sang darwis.

“Mohon maaf, kotak yang biasa aku gunakan untuk meminta kepada seseorang, tertinggal di kemahmu, dan aku tak bisa berbuat apa-apa tanpa kotak itu. Saya mohon Anda menunggu saya disini dan saya akan kembali ke kemah anda, mengambil kembali kotak itu”.

Sang darwis hanya bisa tertawa atas kegelisahan pengemis itu. Kemudian ia berkata padanya, “Kawanku, paku emas pengikat tali kemahku aku tancapkan baik-baik ke dalam tanah, bukan ke dalam hatiku, sedangkan Kau masih terganggu dengan kotak kecil itu”.

Dialog antara seorang darwis dengan seorang pengemis dalam kisah tersebut memberikan satu pemaknaan atas apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebergantungan. Bahwa berada di dalam dunia tidak secara otomatis bermakna bergantung dan bersandar pada dunia.

Berada di dalam sesuatu tidak berarti bahwa kita bergantung kepada sesuatu tersebut. Bahkan menggunakan sesuatu tidak berarti bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada apa yang kita gunakan.

Makna kebergantungan adalah ketika dunia telah hadir di benak kita. Saat dunia telah hadir di dalam imajinasi dan hati kita, pada saat itulah kita bergantung kepada dunia. Jadi tolak ukurnya adalah apa yang mengisi imajinasi dan hati kita.

Jika kotak yang mengisi imajinasi dan hati maka kehidupan kita akan berjalan dengan kotak itu dan jika Tuhan yang mengisinya, maka kehidupan kita akan berjalan sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Jadi pilihannya adalah apakah kita berada di dalam dunia atau dunia berada di dalam diri kita. Ukuran kebergantungan adalah saat sesuatu yang ada di luar yakni dunia telah hadir di dalam diri kita. Sebab saat dunia berada di dalam diri kita berarti kita membiarkannya masuk dan membiarkan mengontrol kita.

Akan tetapi jika kita mampu mengeluarkan dunia yang telah berada di dalam imajinasi dan hati kita, maka pada saat itulah kita akan menemukan kebebasan dan kemerdekaan.

Avatar

Muhammad Nur Jabir

Aktif di Rumi Institute

Tentang Penulis

Avatar

Muhammad Nur Jabir

Aktif di Rumi Institute

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.