Locita

Hari Kemenangan

Sumber Gambar: Beritagar.id

Suara petasan dan gema takbir berkumandang di langit Kampung Kalimana. Para warga menyatakan kegembiraannya. Deklarasi kemenangan yang disertakan puji-pujian kepada Allah SWT.

Kaum muslimin bergembira sekaligus bersedih. Bergembira atas kemampuan menjalankan puasa dan kesedihan karena ditinggalkan ladang subur pahala. Dimana, semua perbuatan baik ternilai sebagai ibadah dan mendapatkan bonus pahala yang berlipat ganda. Bahkan tidur sekalipun memiliki poin ibadah. Sungguh ritus yang sangat menarik.

Kyai Saleh memandang langit. Ini tahun pertama melewati idul fitri tanpa masakan sang istri. Para santri berkumpul di ruang tengah sembari menikmati sajian makan malam.

“Kyai. Benarkah umat Islam hari ini menang?” Tanya Ais tiba-tiba, usai menyelesaikan makan.

Kyai Saleh sedikit terkejut dengan pertanyaan ini dan memandangi Ais dalam beberapa jenak.

“Kamu ragu?”

“Bukan Kyai. Saya butuh keyakinan. Kita menang atas apa?”

Kyai Saleh tak segera menjawab. Diseruputnya kopi yang masih mengepul di depannya itu.

“Jika maksudmu menang dalam konteks kompetisi, kamu mungkin keliru. Tapi paling tidak, kemenangan identik dengan kegembiraan. Hari ini kita merayakan kegembiraan karena telah berhasil menunaikan kewajiban sebagai muslim. Berpuasa selama sebulan penuh. Itu patut dirayakan. Ajaran Islam meminta kita, di hari lebaran untuk makan, berkumpul, bergembira.

Bahkan haram berpuasa di hari raya itu.”

“Bukannya kita harus bersedih telah ditinggalkan bulan Puasa, Kyai?”

“Kesedihan itu konteksnya personal. Tak penting diperlihatkan. Tetapi dalam konteks sosial, kita patut bergembira dan merayakan kebesaran hari ini. Mudik, berkumpul, dan bercengkrama bersama adalah titik penting untuk memulihkan hubungan sosial. Itu patut dirayakan.”

“Kyai. Apa benar umat Islam hari ini kembali suci.”

“Jika yang kamu maksud, bersih dari dosa rasanya tidak mungkin.”

“Loh, bukannya puasa bulan Ramadhan ini penghapus dosa?”

“Iya. Menjalankan puasa adalah prasyarat formal. Tuhan menjanjikan pengampunan. Yang utama bagi kita, keikhlasan menjalankan dan efek yang ditimbulkan pasca puasa.”

“Jadi? Kita merayakan apa sebenarnya, Kyai?”

“Begini, anak-anakku. Idul fitri yang sering diterjemahkan kembali suci adalah kalimat simbolik. Fitrah adalah suasana awal manusia. Simbolnya bayi. Dia datang ke dunia dengan tubuh yang belum termodifikasi. Dia datang tanpa apa-apa kecuali tangisan yang menandakan keterasingan dirinya.

“Nah, cocokmi Kyai. Kembali ke fitri berarti ke situasi tanpa dosa lagi.”

“Rasanya itu tidak mungkin. Bisa saja semua dosa kita terampuni oleh Allah sebagai balasan atas kesungguhan kita melakukan ibadah. Tetapi tubuh kita ini penuh dengan modifikasi. Kita tidak bisa bertindak dan ditindak seperti bayi.”

“Maksudnya, Kyai?” Sampara mengernyitkan dahi. Kalimat Kyai Saleh sulit untuk dicerna dengan mudah.

“Bayi adalah kondisi manusia yang paling sempurna sebagai ciptaan. Bersih, ramah, dan terbuka dengan siapapun. Semua manusia akan merasa senang, bahagia dengan kehadiran seorang bayi di tengah mereka. Jadi bayi adalah situasi yang menjalin dan menghubungan frekwensi kebahagiaan. Yang menarik, bayi ini sama sekali tidak diberi beban agama. Kewajiban-kewajiban agama tidak dibebankan kepadanya atau dalam bahasa fiqih, ghairu mukallaf. Dia bisa menerima siapapun dan diterima oleh siapapun. Itu adalah kondisi manusia yang paling mendekati situasi ketuhanan.”

“Bukankah ketika kita beribadah juga mendekati situasi ketuhanan.”

“Tidak. Ibadah adalah jalan pulang kita ke situasi ketuhanan. Tidak mudah, semudah agitasi para dai di mimbar tarawih. Setelah tumbuh besar, si bayi mulai menerima kondisi sosial, budaya, agama yang membentuknya menjadi individu yang berbeda dari kondisi semula. Identitasnya terbentuk, tubuhnya semakin termodifikasi. Dia semakin menjauh dari situasi awal, situasi ketuhanan. Semakin tumbuh besar, manusia cenderung melakukan kesalahan. Dalam fiqih disebut baligh atau mukallaf. Hakikatnya adalah dia semakin menjadi manusia dan menjauh dari Tuhan dan diberi cara untuk pulang yang kita sebut ibadah. Tapi anehnya, ada jenis manusia semakin beribadah justru semakin kehilangan Tuhan.”

“Kok bisa? Bukankah orang beribadah itu dekat dengan Tuhan?”

“Secara simbolik, ya. Tetapi sebagian manusia kesulitan untuk mendekati Tuhan karena dinding keangkuhannya terlalu tebal. Dia merasa mendekati Tuhan tetapi tidak melekatkan sifat Tuhan pada dirinya. Misi-misi kemanusiaan ditinggalkan. Orang lain yang berbeda dengan dia dianggap bersalah. Kafir, munafik, sombong. Semua ini justru muncul ketika dia sedang beribadah kepada Tuhan. Dia ahli ibadah dan justru gara-gara itu dengan mudah dia menyalahkan orang yang tidak berada sama dengan dirinya. Ini ironi bukan?”

Kyai Saleh berhenti sejenak. Menyeruput kopi panas yang baru saja tiba.

“Puasa adalah cara kita untuk berdiam sejenak dan merenung. Kita diajak untuk kembali dekat dengan Tuhan dengan cara yang awal, cara bayi. Dimana kita bisa menerima dan diterima semua orang dengan gembira dan tanpa pra-sangka. Ini adalah jalan pulang menuju kemanusiaan dan ketuhanan sekaligus. Bisa kah kita?”

Kyai Saleh kembali terdiam dan menyeruput kopi. Para santri pun terdiam. Mereka menanti kalimat Kyai Saleh selanjutnya, sembari ikut menikmati kopi Toraja nan lezat itu.

“Dalam banyak hal, agama telah menjauh dari titik spiritual. Agama menjadi identitas pembeda semata dan menjadi alat hirarki kemanusiaan. Banyak fakta orang beragama tetapi dengan mudah meletakkan manusia lain ke tempat yang rendah. Alih-alih mendekatkan diri ke Tuhan, sebagian manusia malah mengambil alih fungsi Tuhan. Dia menghakimi, mengadili orang yang berbeda identitas keagamaan.

Bukankah ini keliru? Bulan puasa sebaiknya kita fungsikan sebagai tempat merenung. Nafsu kita untuk menjadi Tuhan harus segera dihilangkan dan kembali ke situasi menjadi bayi. Situasi dimana kita bisa menerima dan diterima oleh manusia dengan damai, senyum, dan penuh kegembiraan.”

Suasana semakin larut. Para santri pamit pulang untuk mempersiapkan diri menyambut kemenangan. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

8 comments

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.