Locita

Mengapa Perlu Menonton IT? Review film IT (2017)

Ilustrasi: http://wbpsites.com

SEORANG kakak yang sedang sakit, yang menyebut dirinya “sekarat” membiarkan adiknya keluar rumah bermain kapal-kapalan ketika hujan turun dengan derasnya dan jalanan begitu lengangnya. Berbulan-bulan kemudian masyarakat menganggap hujan di hari itu adalah badai.

Saat si adik berlari keluar rumah, di saat yang sama ibunya juga sedang bermain piano. Beberapa menit kemudian si adik tewas tersedot ke dalam selokan.

Adegan pertama dalam IT ini membuat tanda tanya besar dalam benak saya, “Kok bisa logika seperti ini dipakai sebagai pembuka cerita?”

Andai saja saja teman saya tidak terlanjur mentraktir saya dengan popcorn yang harganya lebih mahal dari harga tiketnya, mungkin saya walk-out duluan detik itu juga. Menit demi menit berikutnya, saya melewati menit-menit penuh kerutan di dahi.

IT merupakan adaptasi dari novel karya Stephen King berjudul sama. Awal 90-an, ia sempat disadur menjadi miniseri dan populer. Karakter antagonisnya adalah sebuah badut yang memiliki ribuan gigi runcing untuk menguyah tubuh manusia.

Badut ini kerap hadir menghantui anak-anak yang memiliki kecemasan tertentu dalam hidup. Namun hingga akhir cerita, saya tidak penah berhasil paham yang diinginkan sutradaranya.

Entah ia ingin menjadikan IT sebagai simbolisasi ketakutan, atau entah ia sungguh nyata. Batasnya kabur dengan cara yang membingungkan.

IT memang bukan film anak-anak, itu bisa diketahui dari rating yang diberikan oleh pihak bioskop. Anehnya tetap saja ada orang tua yang membawanya anaknya masuk.

Anehnya lagi, tak ada pihak bioskop yang melarang aktivitas orang tua tersebut. Ada apa dengan kalian berdua? Tapi sekalipun ini bukan film anak-anak walau dibintangi segerombolan anak-anak, tetap terasa bahwa cara berpikir anak-anak dalam film ini mewakili cara pikir orang dewasa selaku pembuat film.

Orang dewasa seolah melakukan sebuah apologi. Agar tindakan mereka bisa ditafsirkan wajar, ia menggunakan tokoh utama anak-anak dalam menyampaikan cara pandang mereka. Serupa dengan Park Chan-wook yang menjadikan dua perempuan sebagai tokoh utama dalam The Handmaiden, lalu mengeksploitasi seksualitas mereka seolah dua perempuan itulah yang menginginkannya.

Sumber foto: screenrant.com

Itu sebabnya anak-anak bisa sangat kejam dalam film ini. Itu sebabnya mereka bisa membunuh.

Itu sebabnya mereka juga beramai-ramai melihat tubuh teman perempuan mereka sebagai objek seks. Sementara itu anak-anak ini juga bisa bertingkah lucu dan manis, maka penonton mengukur rasa suka mereka terhadap anak-anak ini berdasarkan kriteria terakhir itu.

Namun, permasalahan utamanya bukan cuma sampai ditingkatan di mana orang dewasa mengeksploitasi cara pikir anak-anak, melainkan orang dewasa kulit putih patriarki nan rasis pemuja standar kecantikan barat mengeksploitasi cara pikir anak-anak. Dalam IT, saya menemukan;

  1. Seorang anak lak-laki kulit hitam diselamatkan sekelompok anak laki-laki kulit putih.

Dikisahkan Mike Hanlon anak yatim piatu keturunan Afro-Amerika hidup di sebuah lokasi penyembelihan hewan ternak. Ia selalu dianggap lemah oleh kerabatnya sebab tidak memiliki keberanian membunuh hewan ternak. Mike punya trauma karena sewaktu kecil ia selamat dari kebakaran pabrik yang menewaskan orang tuanya dan banyak pekerja kulit berwarna lainnya.

Suatu hari Mike dirundung sekelompok anak-anak nakal (kulit putih). Ia mungkin hampir mati, seperti yang saya bilang anak-anak dalam film ini amat kejam. Andaikan sekelompok anak-anak kulit putih lainnya tidak segera datang menyelamatkannya.

Di awal film, saya tidak begitu paham mengapa tokoh Mike dimunculkan. Kisahnya hampir tidak begitu berkaitan dengan kisah anak-anak kulit putih yang menjadi tokoh utama dalam film ini.

Namun, begitu Mike diselamatkan oleh sekelompok anak-anak kulit putih tersebut, ia menjadi terlihat penting. Sekali lagi, kaum mayoritas menyelamatkan kaum minoritas.

Dalam banyak film-film Hollywood, kaum minoritas hanya menjadi bermakna hidupnya jika diselamatkan kaum kulit putih. Coba hitung dengan jari, kita mulai dari Crash yang pernah memenangi piala Oscar.

  1. Persis seperti khayalan khas Disney, seorang anak perempuan selamat setelah dicium anak laki-laki.

Beverly Marsh, satu-satunya tokoh anak perempuan utama dalam film ini sejak awal ditampilkan pemberani dan tegar sekalipun ia menjadi korban ayah yang pedofilia. Sedihnya, rumor yang beredar di masyarakat adalah bahwa ia pernah berhubungan seks dengan temannya, lalu dianggap sebagai anak perempuan murahan.

Walau ia kerap dirundung oleh teman-teman sekolahnya, Beverly tetap berusaha menjadi anak yang menyenangkan. Dalam kelompok pertemanannya yang didominasi laki-laki, Beverly kerap dipandang sebagai objek seks yang menggairahkan.

Dan ini yang gagal saya pahami. Jika memang sutradaranya peduli dengan persoalan pedofilia, mengapa ia dengan mudahnya tetap menjadikan Beverly yang masih anak-anak ini sebagai objek seks?

Beverly suatu waktu bertemu dengan IT si monster, lalu terhipnotis dan lumpuh. Begitu teman-temannya berhasil menemukannya, tak ada yang tahu cara membangunkannya. Hingga akhirnya salah satu dari mereka mencium Beverly tepat di bibir.

Yang terjadi berikutnya begitu klise, Beverly sungguh tersadar kembali. Dalam konteks patriarki, perempuan tidak penah sungguh-sungguh kuat. Dan laki-laki adalah penyelamat.

Jelas bahwa Beverly digambarkan seolah pemberani hanyalah fantasi si pembuatnya. Di sini, entah si pembuatnya adalah patriarki atau ia penggemar berat film-film Disney, atau justru kombinasi keduanya.

  1. Stigma terhadap ukuran tubuh tertentu.

Terakhir kali saya menyaksikan film Hollywood yang menjadikan tokoh utamanya bertubuh gemuk dan tetap memiliki pacar adalah lewat Trainwreck karya Judd Apatow, dan itu sekitar dua tahun lalu.

Dalam industri film dan iklan, body positivity adalah mitos. Ben Handscom adalah anak kecil yang lagi-lagi juga kerap dirundung teman sekolahnya. Tapi dialah yang yang menyelamatkan Beverly dari kelumpuhan lewat ciumannya.

Dia juga yang diam-diam mengirimkan Beverly puisi romantis. Tapi apakah Beverly peduli? Untuk sesaat iya, selanjutnya tidak. Beverly lebih menyukai Bill Denbrough, tokoh utama dalam film ini, si kakak yang mengizinkan adiknya bermain di bawah hujan deras.

Ben bertubuh gemuk. Itu, jadi tanda utama mengapa Ben sekalipun penyelamat dan romantis belum cukup layak dijadikan kekasih. Akankah berbeda jika Ben bertubuh ramping, misalnya? Bisa jadi.

Ingat tetralogi Twilight atau The Hunger Games? Tokoh utama wanitanya terjebak dalam hubungan cinta segitiga yang dibuat seolah-olah rumit. Si wanita dibuat seolah tak berdaya dalam menentukan pilihan.

Tentu saja, karena dua laki-laki yang menyukainya bertubuh atletis. Dalam IT, tak ada kompleksitas hubungan antara Beverly, Ben dan Bill seperti dalam Twilight atau The Hunger Games. Bukan karena mereka masih kanak-kanak, percayalah bukan. Melainkan karena Ben bertubuh gemuk. Ia tidak memiliki kesempatan untuk dipikirkan dua kali.

Ketiga poin ini secara singkat pernah saya tuliskan di media dan beberapa teman-teman saya mengomentari mungkin dengan setengah bercanda bahwa saya terlalu serius. Mungkin yang mereka maksud adalah IT cuma perlu ditonton dengan sikap santai.

Menikmati alur ceritanya dan nuansa horor-nya tanpa merisaukan ketimpangan sosial di dalamnya. Ketimpangan ini kerap diabaikan ketika saya membaca opini orang-orang mengenai IT juga di media sosial.

Mungkin ini butuh penelitian lebih lanjut tapi pengabaian ini bisa jadi sebagai proyeksi terhadap fenomena serupa di sekitar kita sehari-harinya.

Sumber foto: collider.com

Pertama, karena kita cenderung menganggap kecantikan itu selalu datang dari bentuk tubuh yang ramping atau atletis.

Sekarang jika diperhatikan, dulu cuma salon kecantikan yang gampang ditemukan, sekarang pusat kebugaran tubuh juga makin banyak didirikan. Maraknya pusat kebugaran tubuh ini tentu sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat yang ingin bertubuh ramping atau atletis.

Tapi apakah itu karena kita ingin sehat? Ataukah karena cara kita melihat standar kecantikan?

Kedua, wacana mengenai memiliki kulit putih lebih menarik daripada berkulit gelap. Ini ditandai dengan banyaknya produk pemutih kulit muncul di berbagai media. Dalam lingkungan sehari-hari, kita cenderung melekatkan orang-orang berkulit gelap dengan kata dekil atau kusam.

Ketiga, patriarki yang masih menjajah cara pikir kita. Perempuan yang dijadikan objek seks, dan di saat yang sama mereka makhluk lemah yang selalu butuh dilindungi. Jarang sekali perempuan didorong untuk mandiri, sebaliknya kekuatan laki-laki seringkali tanpa sadar dilekatkan dari cara mereka mau melindungi dan mengatur perempuan.

Tigahal di atas adalah masih sangat Indonesia. Sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari,beberapa di antaranya biasa ditemui dalam bentuk lelucon.

Mungkin jika banyak di antara kita yang mengabaikan IT dari konteks ketimpangan sosial, itu karena kita adalah masyarakat yang sudah terbiasa dengan ketimpangan-ketimpangan tesebut sehingga kini terlihat sah-sah saja.

Kemal Putra

Sehari-harinya menghabiskan waktu menonton film. Saat ini terlibat dengan komunitas film bernama Kinotika yang setiap pekannya mengadakan eksebisi dan diskusi. Ia hanya menulis ketika dipaksa.

Tentang Penulis

Kemal Putra

Sehari-harinya menghabiskan waktu menonton film. Saat ini terlibat dengan komunitas film bernama Kinotika yang setiap pekannya mengadakan eksebisi dan diskusi. Ia hanya menulis ketika dipaksa.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.