EsaiRagam

Manusia Beragam Wajah

VALAR Morghulis

Valar morghulis merupakan kata salam dari bahasa tinggi valyrian, yang bersumber dari serial drama barat terpopuler, Game of Thrones.

Di tahun politik sekarang, jenis tipe manusia ini ada banyak. Namun, tulisan ini bertujuan agar kita bisa rehat sejenak membahas politik yang makin hari makin bertuju kebencian. Toh, itulah sifat politik. Berbeda dengan politik secara asali. Kalau kita membahas ini, kita perlu sejumlah SKS yang banyak di satu mata kuliah.

Kehadiran manusia beragam wajah beraneka dalam berbagai bentuk dan lingkungannya. Setidaknya ada tiga fakta yang patut kita ketahui tentang manusia setipe ini.

Dewa

Ini tentunya menjadi pertanyaan bagi kita. Mengapa seorang yang memiliki wajah banyak merupakan seorang dewa? Di dalam novel maupun serial drama terlaris sepanjang masa saat ini, yakni Game of Thrones (GoT), dia merupakan seorang dewa. Dia biasanya dipuja sebagai many-faced god. Para pemujanya menyebut dia “god of death” atau dewa kematian.

Para penganut ajaran tersebut juga terbilang sangat unik. Mereka disebut sebagai faceless men. Manusia tak memiliki wajah yang dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak kita. Ini seriusan? Manusia yang tak berwajah menyembah dewa yang berwajah banyak?

Ajaran serupa ini merupakan ajaran yang dimiliki oleh para assassin atau pembunuh bayaran. Pasalnya ketika mereka menyembah dewa yang berwajah banyak, mereka yang tak memiliki wajah bisa meminjam banyak wajah dari dewanya untuk membunuh demi keuntungan yang dia dapatkan dari penyewanya.

Ajaran ini unik. Yah, siapa sangka wajah yang tak bersalah bisa jadi pembunuh, atau mungkin wajah saudara kita bisa jadi pembunuh bayaran. Ngeri. Kalau menonton serial drama barat ini, kelihatan deh prosesnya. Bagaimana si Arya Stark melawan musuh-musuhnya (maaf spoiler).

Problematis

Ini mungkin di luar dari imajinasi kita. Kita tak bisa membayangkan jika sebuah badan memiliki wajah banyak. Jika seorang dari keluarga misalnya menempel di badan kita, bayangkan rasanya. Terlebih lagi jika mereka berasal dari orang-orang terdekat kita.

Yang pintar pasti berada dekat dengan otak, sedangkan yang bodoh pasti ada yang tertempel di bagian kaki. Sedangkan yang dapat bagian enak itu pasti ada di perut. Gak adil dong untuk ukuran manusia. Ini mah problematis.

Misalnya kalau kita lagi makan, yang berkerut susah itu para kaki dan tangan, otak mendingan , karena cuma berpikir bagaimana cara mendapatkan makanan, sedangkan perut santai aja asal kenyang.

Kekerabatan

Fakta ini memang sulit ditangkis bagi Manusia Beragam Wajah. Persoalannya, ketika wajah kita tertempel pada satu tubuh, berarti kita sudah memiliki hubungan sedarah. Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata kecuali kalau berbeda tubuh. Namun, uniknya ketika kita memiliki kepentingan tersendiri. Di tubuh berwajah banyak ini kepentingan itu semakin kabur bahkan tidak jelas.

Jika wajah di bagian otak selingkuh dengan pacar wajah perut, tentunya wajah yang belakangan tidak tahu menahu persoalan ini. Hasilnya kepentingan si wajah otak ini tak bisa diprediksi oleh wajah perut.

Dalam kajian kekerabatan, Levi Strauss, seorang antropolog asal Prancis pernah melihat hal ini sebagai fenomena yang ada di suku pedalaman. Ini terlihat jelas, ketika kita melihat corak kesukuan saat ini. Akan selalu ada kaitan sedarah.

Kekerabatan ini kadang hanya melihat sebelah mata. Kadangkala ada yang bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan tubuh tersebut, tapi masih ada saja yang mengomelinya.

Misalnya saja jika saja tubuh berwajah banyak itu dipecah dalam sebuah keluarga. Siapa yang tersiksa dari keluarga itu tentu orang yang paling dituakan. Mereka harus menghadapi kepentingan materialis. Sedangkan anak-anak yang mereka miliki, mungkin ada yang sedang bermanja-manja atau bahkan melawan orang tuanya. Inilah yang menarik jika kita memiliki tubuh berwajah banyak.

Jika kita mengaitkan problem kekinian, kita akan bertemu seperti faceless man, seorang pembunuh bayaran. Mereka terkadang menyuarakan sesuatu yang mungkin bagi kita itu bagus, tapi di belakang layar lain cerita. Mereka tak memiliki wajah.

Dan juga, merupakan sesuatu yang aneh, ketika kita berada di luar dari apa yang mereka rasakan. Sebagai orang awam kita tak tahu wajah siapa yang dia pakai. Apakah itu wajah seorang anak yang lugu atau pun seorang politisi yang idealis tapi materialis saat menjalankan suatu ideologi. Kita tak tahu. Media mungkin membentuk sedemikan rupa, akan tetapi ketika kita melihat kenyataannya semua berjalan atas nama materi.

Dan terakhir, ciri dari Manusia Beragam Wajah itu tak lain merupakan kekerabatan. Kekerabatan kerap kali dipakai dalam menjalankan sebuah kendaraan politik. Ketika seseorang itu kenal dengan baik dari depannya, kita bakalan menganggap dia sebagai seorang saudara. Namun, sekali lagi kita sebaiknya harus mengetahui dia baik dari belakang maupun depan. Eh, btw ini tulisan rehat politik kok.

Valar Dohaeris  

Sardjito Ibnuqoyyim

Sardjito Ibnuqoyyim

Penulis Misantropis

Previous post

Kemenangan Putin dan Boikot Piala Dunia di Rusia

Next post

Tips Mendekati Gebetan ala Partai Perindo