Locita

Urang Minang Bukan Anti-Intelektualitas dan Buku Komunis

KADANG panas telinga mendengar, Ngku. Bukan setuju atau indak. Kawan, Tapi masalah ko dari dulu ko itu-itu juo. Indak barubah-barubah. Cubo Angku ingek-ingek sejarah?

Negara Indonesia ko sejak zaman pergerakan nasional. Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Muhamad Yamin, Agus Salim dan lainnyo. Urang-urang Minang mantul (mantap betul) yang dalam sejarah Indonesia indak bisa dilupokan.

Bukan berarti kito sombong soal ini. Tapi, kenyataanya memang tokoh-tokoh pergerakan nasional berbagai ideologi dan partai. Banyak yang berdarah Minang.

Pada umumnya tokoh-tokoh urang-urang kita rajin mambaco buku. Namun, iba pula hati melihat kasus yang terjadi ketika ada kasus penyitaan buku yang diduga berbau-bau komunis. Penyitaan pun dilakukan ke toko-toko buku.

Kadang heran ambo, Ngku? Penyiataan buku tu bagi ambo bukan masalah ‘ideologi’ komunis-nyo. Tapi, nasib urang yang hobi baco buku atau mancari dan manjua (menjual) buku. Itu masalahnyo bagi ambo terkait penyitaan buku tu. Indak labiah.

Soal ideologi itu urusan pribadi. Ambo ndak sato-sato (ikut-ikut) soal itu. Biliak-biliak ‘ketek’ alias sudah seharusnya cukup kita-kita saja yang tahu.

Soal ajaran komunis atau tidak. Negara yang punya wewenang terkait itu semua. Tapi Ngku, soal penyitaan buku tanpa melewati peradilan tidak adil. Itu menurut ambo, Ngku. Soal ajaran komunis memang ado TAP MPR-nya.

Tapi soal buku juga ada peraturan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menerangkan. Jadi, disayangkan penyitaan terhadap buku-buku tersebut terjadi. Mau ditaruh di mana wajah kita di hadapan dunia yang semakin pintar dan ilmu pengetahuan, Ngku.

Namun, terkadang urang yang dari luar Sumatera Barat salah paham. Sok-sok tahu. Mereka anggap Sumbar ko anti intelektualitas karena ada penyiataan terhadap buku.

Ketika ada buku yang membahas tentang sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Lika-likunya dalam politik Indonesia. Bagi ambo soal itu, Ngku.

Biasa saja, tidak ada masalah besar. Itu sejarah yang bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Seperti melihat telur, ingatan kita bisa saja: telur itu bulat, keluar dari perut ayam, ceplok atau dadar. Dan itu lah yang kita pikirkan ketika mendengar kata “telur”.

Banyak hal yang indak urang tahu tentang Sumatera Barat. Secara pola pikir dan budaya Ngku di kampung kito itu hal biasa. Orang luar mengenal Tan Malaka sebagai ‘tokoh komunis’. Ia adalah asli orang Minangkabau.

Ibrahim Datuak Tan Malaka nama aslinya. Setahu ambo, Ngku. Eh, buku-buku karya Tan Malaka, misalnya, Madilog asli lawas. Menjadi Buku wajib ‘para aktivis’ kata kawan-kawan kita yang aktif di dunia pergerakan. Baik yang pernah kuliah, maupun yang berkegiatan di dunia kemasyarakatan.

Begitu pun Sjahrir. Tokoh sosial Indonesia.  Tokoh pergerakan nasional Indonesia yang pertama kali mendengar kekalahan sekutu lewat radio. Sehingga ini menjadi pintu masuk ‘Proklamasi Indonesia”. Aslinya adalah Urang Minang juo tu, Ngku.

Hatta, Sang Proklamator Indonesia. Dia juo Bapak Koperasi Indonesia. Terkenal dengan gagasan-gagasan ekonominya. Beliau adalah orang Minangkabau asli, Ngku.

Punya gelar datuak pulo. Soal pemikiran orang-orang ini berbeda satu sama lain. Dan juga berbeda dengan apa yang masuk dalam pangana (pikiran) urang kampung.

Tokoh-tokoh ini sering mendapatkan kritikan dan caci-maki. Yang harus urang tahu budaya Minang tu tidak sependapat dan tidak suka itu hal biasa di Sumatera Barat. Semua itu dibungkus dengan cemooh.

Buya Hamka pun pernah mendapatkan cemooh.  Saat ini menulis novel. Banyak anggapan ulama kok menulis novel cinta-cintaan. Novel Di bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Berbagai orang punya sudut pandang. Di Minangkabau hal itu tak bisa disalahkan, Ngku.

Sumatera Barat hidup dalam sistem matrilinial. Secara kelompok  berada pada garis  keturunan ibu. Hidup dalam musyawarah dan mufakat.

Makanya, di Minangkabau ba iyo-iyo adalah jalan memufakatkan suatu perkara. Di sinilah duduk para tokoh masyarakat dan adat.

Coba Angku lihat. Di Sumatera Barat tidak pernah terjadi politik dinasti. Meskipun ada upaya tapi sulit terjadi. Indak amuah tu do masa inyo ka inyo sech atau masa ke dia-dia saja. Bahkan orang terkenal di rantau pun sulit meyakinkan orang kampung di Minangkabau.

Dalam dunia politik. Kita ingat dengan Fadli Zon yang pernah kalah menjadi anggota DPR RI di Dapil Sumatera Barat. Ketika dia maju di Jawa Barat langsung duduak.

Begitu pun dengan mantan anggota DPR RI Nodirman Moenir, yang setiap waktu masuk telvisi. Dan baliho-balihonya tersebar di berbagi sudut sebelum pemilu 2014. Kenyatannya Angku tahu. Beliau tidak lagi dipilih oleh masyarakat.

Menurut Ambo, itu lah keunikan Sumatera Barat, Ngku. Susah tertebak dan penuh rasionalitas.

Kalau misalnya ada anggapan urang Minang anti-intelektualitas ketika menolak suatu pemikiran. Semua itu salah. Yang jelas dialektika yang berkembang di masyarakat  Minangkabau itu dinamis. Terpenting bagaimana cara kito meyakinkan orang dengan apa yang kito pikirkan.

Bagi Ambo soal buku-buku yang disita di Padang. Itu indak ado kaitannya dengan sikap intelektualitas. Namun banyak yang batanyo?

Kenapa tidak banyak yang protes ketika buku-buku tersebut disita. Jawaban ambo ka urang-urang tu Ngku, “Urang Minang indak pernah fanatik dengan pemikiran atau pun dengan orang lain.”

Kato-kato dalam falsafah Minangkabau ada banyak soal itu. Bahwa yang benar itu tidak ditentukan oleh satu orang. Banyak proses yang dilewati. Justru lewat musyawarah, mufakat, diskusi dan perdebatan.

Orang Minang itu biasa berdebat gagasan tidak berebut sumber gagasan. Penghakiman benar-salah bukan lewat penyitaan ataupun bahasa halus dari militer ‘pengamanan’ itu. Itu bukan urang Minang.

Hanya nan bana tidak bisa disanggah, sebab tagak sandirinyo alias yang benar akan tidak bisa diperdebatkan dan akan pasti muncul.

Arifki Chaniago

Arifki Chaniago

Storyteller dan Knowledge Management Specialist

Add comment

Tentang Penulis

Arifki Chaniago

Arifki Chaniago

Storyteller dan Knowledge Management Specialist

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.