Locita

Tulisan Bodoh Seorang Ayah untuk Anaknya di Hari Raya Kurban

Sumber foto: pt.dreamstime.com

Entah Idul Adha yang keberapa, saya tak lagi bersama keluarga besar di tanah kelahiran saya. Sejak memilih merantau di Ibukota, saya lebih memilih menghabiskan momen hari raya kurban ini bersama teman. Kini, tentu dengan istri, anak, dan keluarganya.

Sehabis mendengarkan ceramah, saya menyempatkan diri menelpon orangtua. Ajaran ini secara langsung saya dapatkan dari tetta dan emma’ terhadap masing-masing orang tuanya (kakek dan nenek).

Tak terasa mata saya berembun, terpaut ribuan kilometer meniscayakan kerinduan. Memori masa kecil membuat sedih menyeruak, bagaimana mulai dari buaian, merangkak, berdiri, jalan, hingga berakal  yang dilakoni di tanah kelahiran, Sulawesi Selatan.

Kini setelah menjadi suami Rara dan ayah buat  Arzanka, saya sudah mulai merasakan bagaimana menjadi orang tua. Begitulah roda hidup, terus menggelinding jauh, dulu kita sebagai anak, hari ini kita sebagai orang tua.

Hampir dua tahun ini saya menikmati pertanyaan, “Sibuk apa sekarang?”

Sebenarnya saya masih memiliki banyak cita-cita. Salah satunya adalah melanjutkan studi. Namun sekiranya dalam menyetir mobil memang kita tidak harus memacu gas. Sesekali kita harus melepaskannya, menurunkan kopling, atau bahkan mengerem.

Terlebih kini saya memiliki tumpangan. Seorang isteri tercinta dan seorang bayi. Saya tidak ingin mereka takut, muntah-muntah, atau kecelakaan ketika pedal itu kuinjak keras, membuat mobil bernama keluarga itu melaju cepat.

Maka jangan heran ketika pertanyaan itu kusambut dengan jawaban,

“Jadi kepala rumah tangga yang baik.”

Di sini mungkin letak semangat kurban seorang lelaki dengan pilihannya menjadi tiang keluarga. Terlebih lelaki-lelaki yang di kepalanya ribuan ambisi berhamburan untuk digapai.

Menikahi anak orang memang pilihan, dan pilihan itu saya percaya hanya dimiliki oleh para bernyali. Saya yakin Pak Pimred, Yusran Darmawan sepakat akan itu.

Mengabdikan diri di dalam keluarga yang baru tentu tak mudah juga tak sulit. Yah, gampang-gampang susahlah. Lingkungan yang jauh berbeda tentu memaksa untuk semuanya bisa cepat beradaptasi satu sama lain. Apalagi mengurusi keluarga membutuhkan lobi, konsolidasi, advokasi, dan demonstrasi dalam artian yang lebih luas.

Begitulah hari Idul Adha, sebuah perayaan untuk bapak-bapak. Perayaan bapak atas anaknya, serupa lagu Cat Stevens, Father and SonIbrahim saya pikir adalah sosok ayah yang baik. Sama baiknya seorang Ismail sebagai anak.

Tiap kali memandang mata Arzanka, saya selalu berharap saya dapat menjadi yang terbaik untuknya begitupun sebaliknya.

Saya takut menjadi seorang Vito Corleone, seorang bapak yang menjadikan keluarga prioritas tapi tangannya bersimbah darah. Saya takut menjadi Frank Abagnale Senior, yang menginspirasi anaknya menjadi penipu. Bahkan saya sangat khawatir saya menjadi seorang Guido Orefice, yang mati di kamp konsentrasi tanpa melihat anaknya tumbuh dewasa.

Amanah sebagai ayah haruslah dipegang, hingga melihat anak tumbuh dewasa dan bertanggung jawab akan lingkungannya. Amanah itu menyiratkan sebuah contoh yang kiranya dapat diwariskan kepada anak. Bukan main sulitnya menemukan tokoh seperti itu.

Bagi saya amanah adalah harga diri. Jika kita lalai maka harga diri kita di titik terendah, pun juga jika kita penuh kesungguhan menunaikannya maka harga diri kita akan melambung tinggi. Dan menunaikan amanah terkadang adalah pengorbanan terhadap apa yang kita sangat inginkan.

Kini saya alami itu. Berat memang.

Beberapa rekanan yang berdiskusi mengenai keinginanya maju dalam suksesi kepemimpinan selalu tak luput dari pertanyaan yang saya ajukan. Pertanyaan saya selalu singkat saja,

“Apakah Anda sudah menghabiskan waktu bersama keluarga?”

Ya, saya sadar saya bukanlah siapa-siapa yang bisa membantu memenangkan kontestasi. Saya bukanlah seorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah peta politik. Tapi keyakinan saya tetap: keluarga adalah miniatur sebuah organisasi. Saya selalu percaya diktum,

“Jangan bermimpi menjadi pemimpin dalam lingkup yang lebih besar jika tak mampu memimpin keluargamu dengan baik.”

Beberapa diantaranya tertawa, beberapa diantaranya juga berkelit. Namun, beberapa diantaranya juga adalah seorang ayah yang sukses memimpin keluarga. Tapi ah, apa gunanya. Toh, saya bukan siapa-siapa. Saya selalu menganggap itu penilaian pribadi saya.

Dan ketika tulisan ini diketik, Arzanka menangis. Kelak tahun-tahun berlalu dan dia akan menjadi dewasa. Mungkin setelah itu saya ikut merasakan ditinggal anak juga dalam rangka merantau.  Mungkin di hari itu, tubuh saya yang renta sudah tidak bisa menggendongnya, mata saya telah rabun untuk melihat kejernihan matanya. Telinga saya sudah samar mendengar dan mengenal suaranya.

Bisa jadi saat itu dia sudah hidup bahagia bersama isteri dan anaknya, dan hidup jauh di benua lain. Saya yang saat itu sudah berbau tanah.

Betapa bangganya ‘Ismail’ itu telah saya besarkan, batinku.

Di hari itu saya akan tidak pernah menyesal menuliskan tulisan bodoh ini untuknya.

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Tentang Penulis

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.