Esai

Tebakan Tepat Tentang Abu Tours

“INGAT! kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!”

Itulah kalimat-kalimat bang Napi yang masih menyala-nyala di sisa kenangan masa kecil kita. Kebetulan penulis merupakan seorang yang kelahiran 90an, jadi slogan dari bang napi itu masih tetap bergema di sisa memorinya. Alm. Bang Napi tutup usia di tahun kemarin.

Beliau merupakan seseorang yang berjasa tinggi sebagai pengingat kita jika kita sedang menghadapi masalah serius walaupun hanya sebentar saja di sesi bagian akhir sergap di RCTI tempo doloe.

Slogan bang napi bukan hanya sekedar slogan tapi juga sebuah prediksi. Prediksi inilah yang berhasil menebak segala macam kejahatan. Prediksi ini juga berarti bahwa tingkat kejahatan di Indonesia semakin rapih bahkan itu diadakan oleh jasa umroh.

First Travel, dan sekarang malah Abu Tours. “Sungguh terlalu” kata bang Aji Rhoma. Penulis juga memiliki keluarga yang juga sudah menjadi korban dari AT ini karena tak berangkat-berangkat padahal sudah memiliki 5 koper. Itu pun ke 5 koper itu sudah ada setahun yang lalu. Yang konon katanya keluarga penulis akan berangkat pada tahun 2018.

“Slogan bang napi bukan hanya sekedar slogan tapi juga sebuah prediksi. Prediksi inilah yang berhasil menebak segala macam kejahatan.”

Sebenarnya jasa Abu Tours terbilang sangat rapi. Hanya saja ketika Arab Saudi mengalami krisis minyak, semua rencana kejahatan matang AT menjadi berantakan. Setidaknya ada tiga rencana jahat AT, yang kata bang napi, terjadi karena ada kesempatan.

Pencucian Uang

TPPU merupakan singkatan dari tindak pidana pencucian uang. Pencucian uang bukan berarti memakai mama lemon atau rinso. Bukan itu, itu masih sekelas emak-emak.

Tapi melainkan bagaimana caranya agar uang banyak yang telah dikumpulkan menjadi hilang agar tak dicurigai. Itu-lah maksud dari pencucian uang. Toh, kejahatan sekarang sudah canggih.

Salah satu anggota keluarga penulis sempat mengeluh, “Aduh, gimana sih ini Abu Tours. Banyaknya ji perusahaannya tapi tidak mau na jual, padahal bisa ji na berangkatkan itu semua jamaah kalau na jual semua perusahaannya.”

Keluhan tersebut masih bergema di telinga penulis setiap hari dan malam. Berbagai sumber berita baik itu dalam bentuk surat kabar maupun maya.

Penyidik telah memblokir 28 rekening bank yang diduga berisi uang hasil penggelapan atau pun penyucian eh pencucian. Belum lagi masih terdapat aset-aset yang masih dilacak hingga saat ini. Jika hanya krisis minyak tidak terjadi.

Barang Mewah

Motor Moge seharga 1 milyar juga disita oleh pihak kepolisian. Ini bukan hanya rapi, tapi mewah. Dan masih banyak barang lainnya disita. Sayangnya jika memang barang itu mahal mengapa tidak dijual saja walaupun itu hanya sedikit tapi paling tidak digunakan untuk ibadah.

Belum lagi beredar foto-foto yang dimana kemewahan itu ditampakkan. Foto-foto ini sudah diekspos di media-media berita bahkan ada yang membandingkannya dengan jasa First travel dulu.

Jika kita melihatnya secara mendalam, pasti First travel lebih mewah, tak semewah 1 trilliun yang sudah disita oleh polisi. Mungkin saja sebelum ada krisis minyak di Arab Saudi, bos AT bertransformasi berubah menjadi seorang sultan.

Pilih Kasih

Hal yang menarik juga dilangsirkan oleh media berita online. Katanya walaupun ijin Abu Tours sudah dicabut, yang telah dipesankan tiketnya akan tetap diberangkatkan.

Ini menarik dan juga, sebagai pembangkit semangat di keluarga penulis. Kita mungkin yang jadi korban pasti menunggu telpon tapi tunggu dulu. Ternyata realitanya berbeda.

Ini lagi informasi yang penulis dapatkan dari salah satu anggota keluarganya. Katanya yang dulu berangkat itu tak lain merupakan seorang ‘pejabat’ tinggi. Prioritas pergi atau tidaknya, bukan berdasarkan aturan yang adil tapi melainkan status sosial.

Kata teman penulis di grup WA, “Jangan sebarkan aib seseorang, itu tak baik, inilah hobby kita yang suka menggosip.” Siapa juga yang menggosip? Ini bukan persoalan artis atau penyanyi, tapi persoalan ibadah.

Siapa yang tak marah jika ibadah kita terganggu dikarenakan oleh kejahatan terselebung? Nonsense! Kebetulan keluarga teman WA penulis cuma dua orang anggotanya pergi umroh, itu pun bukan promo. Mungkin karena dia bukan korban jadi tak merasakan.

Dan juga bisa saja dia bisa jelaskan sama penulis karena penulis hanya seorang diri dan tak bisa dijelaskan kepada puluhan ribu jumlah calon jamaah yang masih bermasalah sampai saat ini.

Dengan ketidakhadiran Bang Napi lagi, kita mungkin merasa jenuh melihat realita saat ini. Kejahatan semakin canggih bahkan agama pun bisa dijadikan alat. Lagi-lagi, kerinduan kita kepada bang napi tak hanya sampai saat ini. Tulisan ini ada agar kita bisa mengingat kembali apa yang dikatakan bang napi.

“Ingat, kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya. Tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!”

Dan bergemalah di kepala kita dan juga di generasi berikutnya!

Sardjito Ibnuqoyyim

Sardjito Ibnuqoyyim

Penulis Misantropis

Previous post

La Marupe dan Prediksi Pilkada Sulsel

Next post

Menguji Dua Keistimewaan: Tionghoa dan Yogyakarta