Locita

Sebuah Usaha Merekonstruksi Konsep Surga yang Sangat Patriarkis

BEBERAPA orang tidak percaya jika kelak surga akan menghadiahkan bidadari-bidadari cantik dan bermata biru. Laki-laki diberi hak oleh Tuhan untuk bebas memilihnya. Saya salah satu orang yang sangsi dengan konsep surga yang seperti itu. Tetapi banyak orang mengamini dan percaya karena mendengar ceramah atau khotbah Jum’at.

Bahwa kehadiran bidadari di surga itu memang telah disebutkan dalam beberapa  hadis dan ayat  di Al-Qur’an. Kisah ini juga sering saya dapatkan dulu saat liqo di SMA, murobbiyah (yang mengisi liqo) memberitahukan kehadiran bidadari-bidadari di surga itu. Selebihnya saya dengarkan  melalui  speaker masjid di depan rumah ketika khotbah shalat Jum’at berlangsung. Beberapa saya saksikan pada tayangan ceramah di televisi sebelum berangkat ke sekolah.

Tetapi, entah kenapa ada perasaan tak menerima tatkala mendengar ustas, penceramah atau siapapun itu mengatakan ganjaran bagi laki-laki beriman adalah bidadari-bidadari cantik, putih, jernih, dan masih perawan.

Beberapa hari lalu, saat mengikuti kuliah sastra dunia di salah satu universitas di Jakarta. Dosen saya juga mengatakan hal yang serupa. Saya protes sekaligus mempertanyakan. “Masa iya, konsep surga se—patriarkis itu, Pak?” Lalu, tiba-tiba saya mengingat kata-kata guru saya. “Memangnya surga dipakai untuk tempat nge-seks saja?”

Saya mempertanyakan ketidakadilan Tuhan terhadap kaum perempuan jika benar konsep surga seperti itu. Lah, masa saya tidak percaya dengan Tuhan. Beberapa pertanyaan dimunculkan, anggaplah sebagai usaha merekonstruksi konsep surga yang sangat patriarkis ini.

Pertama, ayat dan hadis itu benar menjelaskan kehadiran bidadari-bidadari di surga, tetapi apakah kehadirannya sebagai persembahan untuk laki-laki? Kedua, ayat dan hadis tersebut langsung dicomot oleh para penceramah tanpa diterjemahkan. Al-Qur’an sangat banyak mengandung perumpamaan-perumpamaan. Bukan? Ketiga, Islam menempatkan perempuan pada posisi yang equal dengan laki-laki. Sekiranya, laki-laki diberikan bidadari-bidadari, lalu bagaimana dengan perempuan? Keempat, seperti apa asbabul nuzul dari turunnya hadis dan ayat tentang bidadari-bidadari di surga tersebut?

Saya dan mungkin kalian yang sering mendengar kisah-kisah surga dan bidadari-bidadarinya merasakan betapa surga begitu nikmat untuk kaum laki-laki saja. Sementara neraka paling banyak dihuni oleh perempuan. Padahal jumlah perempuan memang jauh lebih banyak di bandingkan laki-laki.

Alasan lain yang bisa dipikirkan bersama utamanya bagi penceramah yang menganggap berceramah sebagai pekerjaan agar tidak hanya sekedar cuap-cuap serampangan di atas mimbar. Misalnya, mengapa surga digambarkan ada sungai yang mengalir. Saat itu bangsa Arab mengalami kekeringan dan sumber air adalah sebuah kenikmatan yang tiada tara oleh sebab itu Al-Qur’an menjadikan air sebagai perumpamaan.

Sama halnya ketika surga digambarkan dengan bidadari-bidadari. Bagaimana orang Arab memposisikan dan memperlakukan perempuan saat itu. Laki-laki memiliki kuasa terhadap tubuh perempuan. Konsep hebat bagi laki-laki adalah yang memiliki 10 hingga 20 isteri. Betapa bangsa Arab berada pada kebodohan masa itu.

Konteks dan diskursus inilah yang dihiraukan oleh sebagian besar kita. Sehingga, jika berbicara surga, orang-orang akan membayangkan dan percaya bahwa bidadari-bidadari itu dalam bentuk yang fisik. Bidadari yang memiliki sayap, mata yang biru, indah, dan paras yang sangat cantik. Seperti ketika kita membayangkan sungai-sungai yang mengalir.

Ketika iseng mencari penjelasannya di internet, saya bertemu dengan satu artikel di laman muslimafiyah.com. Saya kutip bebarapa penjelasannya, mengapa  laki-laki mendapatkan bidadari? Dan apa yang akan didapatkan oleh perempuan?

“Wanita umumnya mengikuti laki-laki. Jika laki-laki (dijanjikan) diberikan bidadari di surga, bersamaan dengan itu, Allah juga menjanjikan bagi wanita yang beriman kebaikan yang besar dan kedudukan yang tinggi di surga (yaitu mereka jauh lebih cantik dari bidadari, sehingga terkadang bidadari tidak ditoleh oleh suaminya sedikitpun, pent). Bagi mereka Isteri bagi suami mereka yang baik di surga (wanita di dunia akan mendapatkan suaminya di surga, menjadi suami-istri abadi, pent).” Sumber: muslimafiyah.com

Penjelasan di atas saya anggap sangat patriarkis, bahkan untuk memberi ganjaran perempuan sholehah adalah membuatnya lebih cantik dari bidadari-bidadari hingga suaminya tidak mendapatkan kesempatan melirik bidadari. Apakah sepanjang sejarah kehidupan manusia, tugas perempuan hanya untuk melayani laki-laki?

Kehidupan di surga yang serba tenang, damai, dan penuh kenikmatan itu yang ingin didapatkan seluruh umat manusia. Penyanyi lagenda Indonesia, Chrisye bahkan sempat menyindir hal tersebut melalui lagunya, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepadanya….”

Apakah manusia sanggup untuk hidup serba tentram, damai, dan nyaman di surga? Kehidupan yang sebenarnya bukannya hadir jika ada keseimbangan, ada ying dan yang, ada kutub utara dan kutub selatan, ada api dan air, ada sunyi dan gempita dan ada baik dan jahat.

Apa yang bisa didapatkan dari segala kenikmatan yang kita pahami selama ini tentang surga. Bukannya sebenarnya kita telah mati saat hidup itu damai, tentram, dan nyaman. Bagaimana kalau air mengalir itu adalah perumpamaan dari tanah yang subur, buah-buah yang dipetik dari pohonnya bukan dari gedung yang memiliki banyak lampu. Bagaimana jika bidadari-bidadari itu adalah perumpamaan dari perempuan-perempuan yang menyatatkan sejarahnya dalam peradaban manusia. Bukan yang hanya sekedar “melayani” laki-laki.

Bagaimana kalau surga yang kita bayangkan adalah neraka di dunia?

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.