Locita

Pramuka Masihkah Diperlukan?

KWARTIR Nasional Pramuka baru saja menyesaikan Rapat Kerja Nasional 2018 di penghujung Februari. Secara lengkap dihadiri seluruh Kwartir Daerah dari setiap sudut Indonesia.

Perhelatan ini menjadi momentum awal sebelum sampai pada Musyawarh Nasional yang segera dilaksanakan tahun ini. Bukan sekadar ritual yang menjadi rutinitas tetapi menjadi langkah untuk terus menjadikan Pramuka sebagai pilar kebangsaan.

Kepengurusan Kwartir Nasional periode ini tersisa tidak lebih setahun lagi. Sebuah pertanyaan yang menyentak “masihkah Pramuka itu menjadi sebuah keperluan?”

Satu sisi, komunitas-komunitas yang dibentuk berdasarkan kesamaan minat menjadi pilihan generasi muda. Sementara Pramuka mulai kehilangan daya tarik?

Jambore, Raimuna, Perkemahan di masa lalu menjadi pilihan utama. Disamping karena murah juga menawarkan kemeriahan. Keduanya sudah ditawarkan banyak pihak. Lalu, Pramuka bisa tetap wujud?

Atau seiring dengan gawai yang menjadi kawan karib anak-anak, mereka tidak pernah mengenal lagi Pramuka. Bahkan mendengarnya sekalipun, juga tidak lagi.

Kesemarakan dunia digital dan juga kemeriahan hiburan gratis di dunia maya menjadi tawaran yang bisa saja mengetepikan Pramuka sebagai wadah berlatih dan belajar.

Hanya saja, Keberadaan Pramuka tetap wujud sehingga hari ini. Beberapa rahasianya berkaitan dengan keberadaan Pramuka yang menjadi sarana melatih multi kecerdasan.

Ketika hanya bersentuhan dengan teknologi semata, manusia akan kehilangan daya magisnya yang secara khusus dianuegerahkan oleh Penguasa Alam. Pada praktiknya, kita bisa menyaksikan masyarakat Jepang.

Pada saat yang sama secara teknologi maju dan terkemuka. Sekalipun sangat maju, interaksi kemanusiaan tidak hilang dan justru tetap mewujud dan menjadi pilar kehidupan.

Kesempatan untuk berinteraksi dengan ragam etnik dan perjumpaan dengan pelbagai budaya. Dengan berapa di Pramuka, menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan warna-warni kehidupan.

Kecuali jika tidak berminat terhadap tantangan dan menyenangi suasana yang monoton. Dalam Pramuka tidak ada doktrin dan fatwa yang tunggal. Dengan Pramuka hanyalah kesempatan untuk bersenang-senang dan menikmati kehidupan.

Metode dan teknik yang digunakan, sepenuhnya untuk menyenangkan peserta didik. Tradisi dibangun untuk menjadi ingatan dan justru langsung bersentuhan dengan alam.

Tidak membangun jarak dengan alam sehingga justru bencana yang akan datang. Olehnya, dengan semakin mendekat ke alam, akan memahami perilaku manusia dalam berhubungan dengan Sang Pencipta.

Lord Baden Powell (1857-1941) memberikan peluang keberadaan Pramuka untuk melatih kemampuan beradaptasi dalam kehidupan. Kecakapan menghadapi tantangan kehidupan akan tetap menjadi nafas yang menyatu dalam hayat itu sendiri.

Dua hal yang menjadi tantangan bersama adalah intoleransi dan kesiapan menghadapi bencana. Keduanya dapat saja dijadikan sebagai bagian dari program-program Kepramukaan.

Sejatinya, Pramuka justru menjadikan spiritual sebagai landasan gerak. Sehingga dengan berada di Pramuka, ekspresi keberagaman justru dipraktikkan sepanjang berada di lingkungan kegiatan.

Tidak saja ketika berada di latihan atau perkemahan, tetapi lebih luas dalam kehidupan itu sendiri. Kemampuan ini harus dilatihkan. Tanpa itu, maka kemampuan untuk menerima perbedaan tidak pernah dapat dicapai.

Sementara itu, bencana demi bencana menimpa dunia. Justru dengan pengalaman berlatih dengan interaksi dengan alam akan memberikan peluang bagi penguasaan menghadapi apapun kondisi termasuk dalam bencana sebesar apapun.

Ketika berada dalam situasi darurat itu, kebiasaan menghadapinya diperlukan kelapangan dan kemampuan hidup untuk bertahan.

Kecakapan hidup menjadi alasan Baden-Powell mendirikan gerakan ini. Demikian pula prinsip universalitas yang menjadi strategi pengembangan. Tak satupun negara yang menolak gerakan ini.

Sebagai pembinaan kehidupan tidak terbatas untuk anak-anak semata. Gerakan Pramuka juga menjadi wadah bagi orang dewasa. Justru kebersamaan antara anak-anak dan orang dewasa menjadi sinergi tersendiri. Menjadi masa yang menyenangkan jikalau bersentuhan antara kenangan masa lalu dan harapan masa depan.

Kesadaran kebangsaan justru dibangun di antaranya melalui kepanduan yang dinamakan Pramuka saat ini. Melalui Pramuka dapat saja semangat kebangsaan dipertahankan.

Justru ketika Pramuka dituduh tidak memperjuangkan kepentingan bangsa, sebuah tuduhan yang tidak berdasar. Dimana keberadaan Pramuka menjadi alat perjuangan kebangsaan dengan tidak melalui aktivitas politik praktis.

Situasi kebangsaan yang terancam rapuh dapat dieratkan dengan menguatkan keberadaan Pramuka yang adaptif untuk menyahuti isu yang ada. Pramuka akan merekatkan ikatan kebangsaan, sekaligus semangat menjaga kesatuan dan persatuan.

Untuk mewadahi minat khusus, Gerakan Pramuka menyiapkan sarana dalam bentuk Satuan Karya (SAKA). SAKA yang sudah berjalan secara nasional di antaranya Saka Bakti Husada, Saka Bayangkara, Saka Bahari.

Sementara itu, Kwartir Daerah Lampung Timur memprakarsai Saka Amal Bakti. Diprakarsai untuk menggerakkan muatan-muatan khusus yang berkenaan dengan krida keagamaan dan hubungan antar umat beragama.

Saat ini, sudah wujud SAKA diantaranya Saka Wanabakti yang fokus dalam kehutanan, Saka Bahari dengan minat pada laut, Saka Bhayangkara berkaitan dengan partisipasi publik dalam keamanan lingkungan.

Ketiganya diantara SAKA yang sepenuhnya berdiri dengan prakarsa masyarakat. Jikalau sudah berada di kwartir-kwartir cabang, maka akan disahkan dengan status SAKA dengan cakupan nasional.

Pramuka hanya merupakan wadah beraktivitas. Maka, dengan pelbagai dan ragam peminatan dapat disinergikan. Paling tidak pelaksanaan program yang diimplementasikan secara nasional antara lain Kemah Budaya, Kemah Kebangsaan. Sementara itu, untuk komunitas-komunitas dilembagakan dengan Satuan Komunitas (SAKO).

Keterlibatan SAKO sebagai bagian dari Gerakan Pramuka ini menjadi tanda keterbukaan Pramuka terhadap pelbagai unsur. Siapapun yang berkontribusi akan diterima dan diberikan kesempatan secara luas.

Dengan semakin luasnya keikutsertaan dalam pengembangan Pramuka, akan menjadikan wadah ini sebagai tempat bertemu dengan semua lapisan masyarakat.

SAKO seperti Sekolah Islam Terpadu, dan Pendidikan Ma’arif, dua diantara SAKO yang turut memperkaya kesatuan pramuka dengan komunitas. Maka, nilai dari Gerakan Pramuka tida lagi sebatas dalam lingkungan tertentu tetapi mengalami perjuampaan dengan pengembangan keterlibatan, dan juga sinergi dengan pelbagai kalangan.

Menyanyi dan seragam, dua diantara ikon Pramuka hanyalah ragam metode dan teknik dalam menyampaikan materi. Sehingga tidak monoton, dan terdapat variasi untuk menghibur, menginformasikan, dan melatih keterampilan.

Untuk itu berbaris, berkemah, dan juga aktivitas lainnya termasuk upacara berkaitan dengan pemaknaan terhadap kehidupan. Inti dari semua aktivitas yang dilaksanakan adalah kehidupan itu sendiri.

Pramuka sejatinya adalah proses untuk memaknai kehidupan dengan cara yang menggembirakan.

Belajar tak hanya dimaknai dengan ruang-ruang kelas. Justru dengan berpartisipasi pada peran yang ditekuni sebuah pelajaranan dengan turut terlibat secara langsung.

Maka, perkemahan dan segala atribut melingkupinya sebagai contoh disertai dengan makna yang terinternalisasi sebagai bagian dari aktivitas yang dijalankan.

Dengan demikian, Pramuka menjadi sebuah sarana dan perlu inovasi sesuai dinamika dan situasi lingkungan. Tantangan yang perlu dijawab adalah mengupayakan Gerakan Pramuka merespon keadaan semasa.

Dalam kondisi apapun, Pramuka dapat menjadi kolaborasi, sinergi, dan integrasi dalam merespon perkembangan kehidupan.

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

1 comment

Tentang Penulis

Ismail Suardi Wekke

STAIN Sorong

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.