Locita

Pernikahan: Neraka atau Surga?

SEBAGAI perempuan kelahiran 90-an yang belum menikah atau bahkan belum sedikitpun berpikir akan menikah, tentulah pertanyaan “kapan nikah?” ini selalu muncul.

Untungnya bukan dari keluarga besar tapi dari beberapa teman yang memang kebanyakan telah menikah dan menimang bayi, bahkan bulan lalu salah satu teman saya memasukkan anaknya ke sekolah dasar.

Saya kira pilihan beberapa orang untuk menikah muda sama sekali tidak salah, semua orang baik laki-laki maupun perempuan berhak menentukan hidupnya kedepan, apakah ia akan menikah, menikah muda, menikah tua, atau bahkan memilih tidak menikah sekalipun. Masalahnya, ternyata tidak sesederhana itu.

Masyarakat kita,  dengan kentalnya budaya patriarki dan heteronormatifitas ini, tak pernah punya ruang atas pilihan-pilihan hidup yang diambil perempuan. Salah satunya, soal pernikahan.

Perempuan yang belum menikah pada usia yang menurut banyak orang telah cukup untuk bisa menikah, dianggap telah gagal, tidak bahagia, atau bahkan tak laku.

Saya pernah dianggap menyedihkan oleh teman laki-laki saya karena tak pernah punya target untuk menikah. Tidak ada target dan tidak menjadi cita-cita, itu berarti saya menyedihkan. Bagaimana respon saya? Tentu saja tertawa,  pun dalam hati saya memutuskan tak akan pernah tidur atau ya menikah dengan laki-laki tersebut.

Beberapa teman dekat saya, paham betul bahwa menikah bagi seorang Adis Puji Astuti masih sangat menakutkan. Bagi saya, menikah terlebih lagi menikah muda seperti kita sedang berjalan ke dalam goa yang sangat gelap.

Kemungkinannya hanya ada dua, kita akan terus berputar dalam goa dan terus dirundung kegelapan atau kita akan berhasil menemukan cahaya. Ditambah lagi bayangan akan menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan satu orang yang sama, melakukan hubungan seksual dengannya dan gaya yang itu-itu saja juga mengerikan.

Sebagian teman menganggap saya terlalu banyak baca buku feminis, sebagian lain berpikir bahwa saya mulai berlebihan. Anggapan membaca buku feminis pasti akan menolak relasi pernikahan sangatlah absurd. Anggapan bahwa feminisme selalu menolak pernikahan sangatlah keliru. Meskipun benar adanya bahwa gerakan feminisme tak pernah tunggal dalam memaknai relasi pernikahan.

Sedikitnya yang saya pahami bahwa bukan (baca: tidak selalu) pernikahan yang ditolak dalam feminisme, tapi adanya relasi kuasa yang tak setara antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah relasi pernikahanlah yang ditolak itu.

Laki-laki selalu dianggap sebagai kepala keluarga dan perempuan adalah “pengikutnya”. Pun jika dianggap pernikahan melanggengkan hal tersebut, dalam beberapa kesempatan jawabannya ya. Kenapa? Karena dalil agama, budaya, norma mendukung hal tersebut.

Kondisi perempuan yang selalu dianggap inferior dibandingkan laki-laki, akan semakin parah dan berbahaya serta merugikan ketika diinstitusikan dalam pernikahan.

Hingga akhirnya, pernikahan menjadi legitimasi kuat untuk perempuan menjadi budak seperti yang diucapkan Firdaus, tokoh dalam novel Perempuan Di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi seorang feminis dari Mesir, “…semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak…”

Apa yang menjadi ketakutan saya juga diperparah dengan data yang hadir di lapangan. Maraknya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan menjadikan istri sebagai korban, menambah deretan panjang alasan logis kenapa akhirnya pernikahan tidak selalu bisa membahagiakan.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2018, menyebutkan dari 9.606 kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah privat atau personal yang diterima adalah 5.167 kasus kekerasan terhadap istri, yang mana pelakunya adalah suaminya.

Dengan melihat dari data dan fakta tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tak selalu pernikahan menjadi gerbang kehidupan yang bahagia. Tidak jarang juga pernikahan menjadi kehidupan yang meresahkan dan menjadi malapetaka bagi perempuan, jika merujuk pada banyaknya kasus kekerasan terhadap istri tadi.

Akan tetapi, tentu saja hal tersebut bisa kita ubah dan apa yang saya takutkan tak selalu terjadi. Hal itu juga bergantung pada sejauh mana kita melihat dan memaknai pernikahan.

Seperti yang dikutip Kyai Husein Muhammad dalam bukunya Ijtihad Kyai Husein, setidaknya Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tiga alasan mengapa pernikahan menjadi penting.

Pertama, pernikahan adalah cara ikhitar manusia memperoleh keturunan. Kedua, pernikahan menjadi  metode manusia untuk menyalurkan hasrat seksual dan menjaga alat kelamin. Ketiga,pernikahan merupakan tempat atau wahana rekreasi, dimana tempat untuk pasangan saling mendapatkan kesenangan dan kenikmatan.

Dalam agama Islam, Al-Qur’an menjelaskan dalam satu ayatnya tentang tujuan daripada pernikahan itu tadi. “Di antara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah bahwa Dia telah menciptakan pasangan bagi kamu dari bahan yang sama agar kamu menjadi tentram (sakinah) bersamanya. Dia menjadikan kamu berdua saling menjalin cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Itu adalah pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang berfikir,” (Q.S. ar-Rum [30]:21).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan atau kata kunci untuk sebuah pernikahan ada tiga. Yakni Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Jadi secara etimologis bisa kita simpulkan bahwa pernikahan terjadi agar setiap pasangan merasa tentram, saling jatuh cinta dan menyayangi.

Selain itu, anggapan bahwa dengan menikah maka perempuan atau istri menjadi hak milik suami layaknya properti juga menghadirkan ketimpangan relasi yang tak setara dan mampu menjadi basis yang kuat atau berpotensi menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga sehingga berlangsungnya pernikahan yang tidak sehat dan merugikan perempuan.

Tiga prinsip tadi, yakni Sakinah, Mawaddah dan Rahmah seharusnya mampu menjadikan pernikahan sebagai sebuah relasi yang menjunjung tinggi penghargaan dan penghormatan satu sama lain atas dasar kemanusiaan.

Maka setelah semua prinsip dan tujuan yang mengedepankan asas kemanusiaan telah kita ketahui, penting untuk selanjutnya mencari laki-laki atau “teman hidup” yang juga satu frekuensi dalam melihat pernikahan tadi.

Pilihan apakah pernikahan mampu membuat kita ada dalam goa yang sangat gelap selamanya atau berhasilkah kita melihat cahaya sangat ditentukan dengan siapa kita akan menikah.

Mengukur sejauh mana pasanganmu mampu jadi teman hidup yang setara bisa dimulai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kecil, semisal maukah dia mengerjakan pekerjaan rumah, siapa nanti yang akan mengurus anak, siapakah yang akan menggunakan alat kontrasepsi sampai seberapa kuat komitmennya untuk saling mendukung potensi satu sama lain.

Saya tak pernah segan juga memberikan saran kepada para teman saya yang akan menikah, untuk tidak menikah dengan pasangannya yang ketika masih jadi pacar saja sudah abusive.

Terakhir, apapun pilihan yang diambil perempuan  baik untuk menikah muda atau tua sekalipun dan bahkan tidak menikah sekalipun selama itu diambil atas pilihan sadar, kita hanya perlu saling mendukung dan berhentilah meletakkan standar kebahagiaanmu pada orang lain.

Salam kecup.

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

1 comment

Tentang Penulis

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.