Locita

Ojek Online Mungkin Tak Harus Ada di Jakarta

TULISAN ini tidak bermaksud mengurai sejarah kopi, atau perkembangan industrinya yang lekat dengan ekspansi Eropa hingga ke Nusantara di beberapa abad lalu.

Menyeruput kopi memang telah menjadi bagian yang tidak terpisah dari sejarah dan kebudayaan manusia. Sejak era kolonial hingga era kemerdakaan saat ini, ngopi adalah identitas sekaligus cerita.

***

Pagi itu seperti biasanya, warung yang serupa lapak kecil berdiri dekat tembok kompleks perumahan wakil rakyat itu berdinding tripleks, membentuk ruang segi empat beratap seng yang telah berkarat. Kerumunan di warung itu selalu nampak selalu ramai diwaktu pagi. Persis seperti panggung pertunjukan dalang wayang sekali waktu.

Warung itu punya koleksi varian kopi yang lumayan bervariasi, tapi jangan bayangkan jejeran biji kopi sanggrahan atau mesin filtrasi kopi seperti di gerai modern. Hanya tumpukan kopi kemasan terjuntai di sisi dinding tripleksnya.

Menyeduhnya hanya tinggal menuangkan air panas dalam gelas yang telah berisi kopi kemasan, sesederhana itu. Cerita kopi dan cara menyeduhnya memang selalu menunjukkan kelas dan hirarki sosial masyarakat, gumamku skeptis.

Saya telah menjadi pengunjung tetapnya semenjak tinggal di kompleks itu, mungkin seperti member tetap yang punya kartu diskon jika warung itu adalah gerai kopi Starbucks.

Warung ini juga punya pelanggan tetap selain saya. Ya, mereka adalah para ojek online, menjadikan warung kecil ini serupa base-camp. Ngopi di base-camp bagi mereka mirip seperti ritual. Laku ngopi menjadi aktivitas rutin yang wajib, dan yang penting adalah berjamaah.

Ritual jamaah menjadi proses membatin yang intens antar mereka, sesi curhat terbuka, atau sekadar guyon nyeleneh yang memancing tawa yang ringkih karena persaingan mendapat penumpang tak semudah dahulu. Base-camp adalah ruang interaksi dialektis yang hidup, tempat mereka menemukan kesadaran dan eksistensi sebagai bagian dari industri transportasi di era milenial ini.

Base-camp tak punya ketua, tidak ada hirarki dari jamaah warung kopi itu. Diskusi sambil menyeruput kopi shacet itu selalu riuh dengan antusiasme, dan sang mamang penjaga warung selalu mengambil peran sebagai moderator diskusi. Ia melakukannya dengan sangat piawai, tak peduli sebanyak apapun topik yang mengemuka. Ucapannya selalu memancing tanggapan dan penjelasanan dari jamaah base-camp.

“Eh… Si Doel kena pukul ya. Kmaren waktu jemput penumpang depan stasiun?” tanyanya dengan suara nyaring memecah kerumunan.

Kerumunan itu spontan menjawab, “Iya tuh.. sama ojek pangkalan yang mukul, untung ada anak-anak yg lain nolongin,” kata sebagian mereka. Emang tuh ojek pangkalan yang depan stasiun slalu ngusir kalo ada ojek online, padahal kan rejeki kan ga kemana. Mau online mau kaga rejeki kan Allah yang atur, ya ngga?” sambungnya lagi.

Emang sih, Bang, kalo soal rezeki sudah pasti dari Allah, tapi keamanan dan keselatan kan kita sendiri yang musti jaga baik-baik. Padahal nih, dulu kita udah bareng-bareng demo ke DPR di Senayan minta ojek online kaya kita-kita ini di akuin sebagai salah satu moda transportasi umum. Pengennya sih kita dianggap resmi/formal juga sama kaya angkot dan kopaja. Tapi sampai sekarang ga jelas tuh udah sampai mana, pemerintah emang selalu ga peduli. Nanti ada korban tuh baru pada heboh,” sanggah salah satu dari mereka.

Yah… Tuh, ga usah ngarep banyak dah dari pemerintah, kita saling jaga dan ingetin aj diantara kita, itu lebih penting, sambung yg lain. Perbincangan tentang peristiwa “si Doel” tadi akhirnya berlalu dengan kepasrahan.

***

Perbincangan singkat itu hanyalah peristiwa biasa. Perkara ojek online hanyalah salah satu kepingan dari tumpukan persoalan transportasi kota besar selevel Jakarta.

Ojek online serupa pemain cadangan yang keberadaan menanti pengakuan, walau kontribusinya begitu penting. Ojek online adalah pilihan yang masuk akal untuk mengais rezeki halal di belantara ibu kota, saat pintu lowongan kerja tertutup rapat.

Kehadiran mereka bukanlah sebab dari pertambahan kepadatan dan kemacetan lalulintas Jakarta. Keberadaan mereka adalah akibat dari kelambanan dan kesalahan cara penanganan pembangunan transportasi umum kita. Pada sisi lain, harga  jual kendaraan terlampau murah untuk dimiliki, apalagi melalui sistem bayar berbunga atau kredit.

Keberadaan ojek online mungkin tak akan jadi ancaman bagi ojek manual. Bahkan jika angkutan umum telah nyaman dan memadai, mungkin ojek apapun tak harus ada di kota ini.

“Saya ngga bakal jadi Gojek kalo ijazah saya bisa dipake kerja di kantoran,” kata salah seorang disebelahku.

Perkataan itu disambut ucapan sedikit lirih pemilik warung, “Jangan ganti kerjaan dong, bisa tutup warung saya ntar.

Sejenak kemudian tawa menyeruak bersama uap seduhan kopi kemasan base-camp itu. Merekapun kembali sibuk dengan gawainya masing-masing untuk menjaring penumpang. Dan hidup kembali bergulir.

Atri Munanta

Atri Munanta

Peniliti Urban and Regional Planning di Suropati Syndicate

Tentang Penulis

Atri Munanta

Atri Munanta

Peniliti Urban and Regional Planning di Suropati Syndicate

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.