Locita

Membela Jomblo: Sebuah Pandangan Kebangsaan

ilustrasi (foto: hipwee.com)

Coba anda bayangkan, saya di-bully hampir empat jam lamanya karena masih belum menikah. Kalau diperturutkan panasnya hati, tentu saya akan membalas gurauan mereka dengan pertanyaan menohok. Bagi orang yang masih sendiri, pertanyaan bila akan menikah sebisa mungkin dihindari. Ketika sudah menikah, pertanyaan hadir dengan lebih kejam lagi, kapan akan punya anak.

Dan pertanyaan tentang anak ini adalah koentji, sebagai benteng terakhir saat menghadapi serangan teman yang sudah menikah namun belum mempunyai momongan. Untuk teman yang sudah mempunyai junior , tidak perlu dilawan cukup angkat bendera putih kalau ada. Pertahankan ingatan, bahwa Tuhan memberikan yang terbaik buat hamba-Nya. Ini adalah ujian kesabaran.

Jomblo, itu istilah yang senantiasa hadir hampir dalam setiap percakapan anak muda. Kalau hanya sekedar ungkapan tanpa makna mungkin tidak mempunyai kesan apapun. Masalahnya manusia itu adalah makhluk maknawi, bahasa sebagai simbol mempunyai arti yang mendalam. Begitu juga kata jomblo, sarat dengan kondisi psikologis bagi penyandang istilah ini. Atas dasar ini, saya hendak membela orang-orang yang senasib.

Istilah jomblo dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Android adalah bentuk tidak baku dari kata jomlo. Artinya gadis tua dan pria atau wanita yang belum mempunyai pasangan hidup. KBBI tidak menjelaskan, apakah pasangan hidup itu dalam institusi pernikahan ataukah hanya sekedar mempunyai pacar yang bisa digandeng dan dicolek.

Orang yang masih memilih hidup sendiri bagi saya mempunyai rasa kebangsaan yang cukup tinggi. Ini cukup beralasan. Ada kemungkinan mereka mengikuti jejak Bung Hatta yang belum menikah sampai Indonesia merdeka. Dalam konteks saat ini, para jomblo mungkin belum nikah sampai memberikan sesuatu yang berharga untuk bangsa dan tanah airnya.

Rasa kebangsaan yang paling mendasar bagi para jomblo adalah mengikuti Pancasila dengan sepenuhnya. Misalnya saja sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada poin ini warga negara diharuskan mengikuti perintah Tuhan, apapun agama yang mereka jalani. Bagi para jomblo, poin ini tentu lebih spesifik artinya.

KBBI memang tidak menjelaskan definisi pasangan hidup terkait arti jomlo. Manusia Indonesia yang masih sendiri akan menafsirkannya sesuai dengan agama masing-masing. Pasangan sah menurut agama adalah mereka yang telah mengikuti proses pernikahan. Saya yakin agama apapun mempunyai prinsip ini. Buktinya prosesi pernikahan ada dalam setiap agama.

Terkait tafsir ini, mereka yang mengaku tidak jomblo namun belum menikah, sejatinya mereka belum mempunyai pasangan. Sementara para jomblo adalah orang yang mencoba hidup dengan kesalehan, berusaha menghindari pelanggaran aturan agama. Inilah yang terjadi pada pemuda dan pemudi Muslim yang masih sendiri. Begitu juga misalnya pada kawan Katolik yang religius namun tidak berkarir sebagai agamawan dengan menjadi biarawati dan frater.

Tafsir ini bisa didalami lagi dengan konsep segitiga cinta dari Robert Sternberg. Yakni passion (gairah), intimacy (kedekatan) dan commitment (komitmen). Passion berarti dorongan yang kuat kearah orang yang dicintai, termasuk dalam urusan seksualitas. Sementara intimacy, adalah kedekatan antara orang yang saling mencintai dimana mereka saling berbagi. Adapun komitmen, adalah kesadaran untuk saling terikat satu sama lain. Cinta yang utuh memiliki ketiga dari komponen ini.

Bagi para jomblo, tiga komponen cinta diatas membuat mereka tidak mau bermain api cinta. Mereka menyadari tidak ada komitmen yang paling kuat selain ikatan pernikahan. Tidak juga peduli dengan istilah berpacaran atau Teman Tapi Mesra (TTM). Alasannya, ketika dekat dengan lawan jenis, gairah akan meninggi dan akan berpotensi tinggi melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

Korban dari pasangan yang tidak sah ini cukup banyak, dan penderitaannya juga bermacam rupa. Tidak hanya fisik, namun juga psikologis dan materil. Perempuan banyak mengalami eksploitasi fisik. Membiarkan pasangannya atas nama cinta untuk menjamah mereka. Mulai dari adegan Musang menikmati pepaya, sampai meneladani nenek moyang meneroka hutan rimba.

Laki-laki juga tidak kurang penderitaannya. Dalam masyarakat yang cenderung patriarkis, mereka harus membayar makan saat kencan, dan menjadi ojek gratis untuk jalan-jalan. Banyak materi yang mereka investasikan dalam hubungan yang sebenarnya tidak jelas itu. Sebuah investasi rugi apabila tidak jadi menikah. Mereka bersedekah kepada jodoh orang lain.

Para jomblo jelas lebih merdeka. Mereka tidak harus terbebani dalam menjalani hidup. Punya lebih banyak waktu untuk menuntut ilmu baik secara formal maupun informal. Juga lebih efisien dalam urusan finansial untuk berbagi dengan pasangan sah mereka nanti. Dan yang lebih penting, mereka tidak mempunyai resiko psikologis apapun yang akan mereka tanggung.

Tidak ada sakit hati karena ditinggal menikah, atau penyesalan yang mendalam karena sudah memberikan banyak hal untuk orang yang meninggalkannya. Mereka juga jauh dari resiko Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) apabila saat reuni tiba. Salah satu penyebab perceraian karena ketidaksetiaan dan sisa-sisa kenangan bahagia masa lalu sementara tidak nyaman dengan pasangan sah.

Maka berbahagialah para jomblo. Para pemudi yang mengidamkan suami idaman untuk membimbing mereka dalam kehidupan yang penuh liku. Dan para pemuda yang  mengharapkan perempuan baik, menjadi pilar agama, memakmurkan rumah tangga dan senantiasa mendukung suaminya, seperti kata Ibnu Miskawaih.

Menjadi jomblo sementara menunggu pasangan sah, berarti juga turut mengurangi masalah moralitas bangsa. Lebih menghargai eksistensi laki-laki dan perempuan secara lebih manusiawi. Tidak seperti para tukang bully, yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan apalagi keadilan. Mereka lupa, bahwa para jomblo adalah saudara sebangsa mereka juga dan mereka lebih dahulu menikah karena ketentuan Tuhan jua yang menyertainya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.