Locita

Memaknai Laut di Pulau Batuatas

foto: Rustam Awat
foto: Rustam Awat

Perjalanan ke Pulau Batuatas telah lama direncanakan namun baru terealisasi pada bulan Desember 2017, dan ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau ini. Secara geografis pulau ini terletak di wilayah paling luar Kabupaten Buton Selatan dan dipisahkan oleh Laut Banda dan berhadapan dengan Laut Flores. Bila dilihat pada peta bentuknya memanjang dan agak melengkung serupa bumerang.

Untuk sampai ke Pulau Batuatas dibutuhkan sekitar 6-7 jam perjalanan dari Baubau dengan menumpang kapal kayu. Pulau karang ini saat masih bergabung dengan Kabupaten Buton dijuluki sebagai pulau buangan PNS “nakal”, terutama pegawai-pegawai negeri yang berbeda pilihan politik saat pemilihan kepala daerah.

Perahu yang membawa penumpang ke Pulau Batuatas. (foto: Rustam Awat)

Perjalanan saya menuju Pulau Batuatas tak mengalami banyak kendala, selain kapal kayu yang sarat dengan muatan karena penumpang yang pulang untuk memilih kepala desa. Sepanjang perjalanan siang itu lautan teduh, namun orang-orang yang duduk di bagian atas kapal gelisah karena panas matahari yang menyengat dan tak ada yang bisa digunakan untuk berteduh. Sebelum kapal kami berlabuh di dermaga sore itu, di kejauhan perahu-perahu para pemancing ikan layang berjejer dalam jarak yang berdekatan dengan latar senja yang membayanginya.

Saat tiba di Pulau Batuatas (foto: Rustam Awat)

Di depan kami para penjemput telah memenuhi dermaga mulai dari anak-anak hingga orang tua, sampai-sampai kami kesulitan untuk keluar dari kapal. Anak-anak menunggu orang tuanya, orang tua menjemput anak-anaknya. Berjalan menyusuri dermaga, saya melihat kapal-kapal berjejer, mulai dari perahu tradisional lambo (boti) maupun kapal kayu. Kapal dan perahu tradisional ini biasanya berlayar menuju Maluku, Papua, NTT, Selayar Sulawesi Selatan)  hingga Pasuruan (Jawa Timur). Di sepanjang jalur pelayaran itu, kapal dan perahu ini mengambil muatan hasil bumi dan memperdagangkannya.

Penduduk memenuhi dermaga saat menyambut perahu yang hendak sandar (foto: Rustam Awat)

Denyut kehidupan orang-orang Batuatas bergerak di lautan, di antara hantaman gelombang, di sepanjang pulau-pulau yang dilewati dan juga disinggahi. Jiwa maritim terus diasah saat mengarungi lautan sebab nafas hidup ada pada laut yang memungkinkan untuk berlayar dan memperdagangkan hasil bumi yang dibeli maupun yang dijual. Laut menjadi teman akrab orang-orang pulau karang ini sebab tanah yang tidak subur dan penuh batu.

Jagung yang ditanam dapat tumbuh tapi tak menghasilkn buah yang banyak. Ubi kayu juga demikian, mati diserang hama. Maka tak mengherankan bila jagung dan ubi kayu biasanya dibeli di Flores, Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan perahu tradisional (boti) yang ditempuh semalam perjalanan. Begitu pula dengan kopra yang dibeli di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan yang selanjutnya akan dikeringkan dan dijual di Bitung, Sulawesi Utara untuk diolah menjadi minyak goreng.

Warga Pulau Batuatas di atas perahu (foto: Rustam Awat)

Selama di Pulau Batuatas, saya menumpang di rumah salah seorang teman. Penerimaan tuan rumah dan kehangatan warganya membuat saya seakan berada di rumah sendiri. Kehidupan komunal masyarakat Batuatas masih terjaga. Hal ini saya alami saat kami membawa pulang ikan hasil pancingan jam 11 malam, tiba-tiba para tetangga tanpa dikomando mengeluarkan makanan yang mereka miliki di dapurnya masing-masing mulai dari nasi hingga sangkola/kasoami (tumpeng ubi kayu). Suasana komunal seperti ini sudah jarang ditemui bahkan di desa-desa sekalipun.

Kasoami, pangan lokal di Batuatas (foto: Rustam Awat)

Di kesempatan lain, ketika menyusuri kampung ini di saat tengah malam, saya merasa heran seakan ada yang ganjil, sebagian besar warga yang menempati rumah panggung membiarkan pintu-pintu rumah mereka terbuka hingga pagi. Tak ada kekhawatiran barang-barang atau perabot di dalam rumah akan hilang digasak maling. Di pulau ini listriknya hanya mengandalkan tenaga surya. (BACA: Bajo: Kisah di Balik Foto)

Untuk mengisi daya listrik di handphone, tidak bisa dilakukan di setiap rumah, khusus rumah yang mempunyai aki saja. Tak ada jaringan internet. Meskipun telah ada jaringan telepon, namun tidak semua desa memilikinya. Jaringan ini pun kadang bagus signalnya, akan tetapi pembicaran telepon banyak yang terputus karena jaringan yang buruk. Namun bila ingin hidup tenang, hiduplah di pulau ini. Belajar hidup tenang tanpa jaringan telepon dan internet.

Dua warga Pulau (foto: Rustam Awat)

Di pagi hari, saya menyusuri ujung kampung di mana bangunan sekolah SMP, MIS, dan SMA berjejer tanpa diantarai tembok pembatas dan tak ada gerbang sekolah. Sekolah-sekolah ini memiliki halaman yang luas berpasir putih dan dipenuhi oleh pohon-pohon kelapa yang bagian tengah batangnya dipasangi seng agar tak dipanjat oleh sembarang orang. Betapa indah bersekolah di pulau karang ini, hanya mendengar suara burung, debur ombak, dan semilir angin meniup daun-daun kelapa.

Ketika jam istirahat (keluar main), saya melihat anak-anak SMA dalam beberapa kelompok duduk di bawah pohon kelapa, ada yang membaca buku, ada yang berdiskusi dan ada pula yang bercanda dengan temannya. Halaman sekolah menjadi sebenar-benarnya taman bermain sekaligus tempat untuk belajar.

Halaman sekolah yang sangat luas (foto: Rustam Awat)

Saat berjalan di ujung kampung itulah saya melihat air laut surut dan banyak ibu yang beraktifitas mengikuti surutnya air laut. Karena penasaran, saya menyempatkan diri untuk melihat dari dekat dan mengabadikan kegiatan mereka dalam sorotan kamera. Pulau Batuatas memiliki laut surut yang panjang, kurang lebih 1,5 kilometer. Dalam keadaan surut itu, hamparan batu dan terumbu-terumbu karang bertebaran di permukaan-permukaan yang kering, menawarkan keindahan yang tiada tara.

Terumbu karang ini seakan telanjang seutuhnya. Pada moment surut inilah ibu-ibu mencari ikan dengan cara memindahkan batu-batu karang. Saat batu dipindahkan, di sisi yang lain telah disiapkan keranjang anyaman rotan untuk menangkap ikan tersebut.

Seorang ibu yang menangkap ikan-ikan kecil (foto: Rustam Awat)

Selain menangkap ikan-ikan kecil, ibu-ibu ini juga mencari gurita dengan cara mengorek lubang persembunyiannya. Apabila gurita tak didapat, biasanya mereka akan memecahkan batu atau karang tersebut dengan linggis dan mencungkil gurita dengan besi yang ujungnya menyerupai kail. Gurita yang telah didapat akan segera dikeluarkan tinta hitamnya. Saya mendekatinya dan bertanya kenapa ia dan ibu-ibu yang lain melakukan hal itu, ia menjawab bahwa rasanya pahit bila gurita dimasak dengan tintanya.

Saya lalu menyampaikan bahwa sebaiknya tinta hitam gurita itu jangan dibuang karena memiliki kandungan gizi yang tinggi, tapi sepertinya apa yang saya sampaikan dianggap angin lalu, karena hal tersebut telah menjadi kebiasaan di masyarakatnya. Meskipun saran saya tak didengarkan, tak mengapa, saya cukup puas mengabadikan moment ini, melihat perempuan-perempuan tangguh berpenutup kepala memegang linggis dan segala peralatan untuk berburu gurita.

Seorang ibu yang menangkap gurita (foto: Rustam Awat)

Keesokan harinya selepas subuh saya kembali berjalan-jalan di ujung kampung yang berpasir putih, menyaksikan belasan ibu ke laut yang telah surut sambil membawa linggis, besi pencungkil yang ujungnya dibengkokkan seperti kail, keranjang anyaman bambu dan anyaman rotan untuk menangkap ikan dan gurita. Rupanya mereka menembus subuh dari kampung sebelah dengan berjalan kaki sejauh 4 km untuk mencari ikan dan gurita di ujung tanjung.

Pencari ikan dan gurita (foto: Rustam Awat)

Saat melihat ibu-ibu mencari gurita, di bagian lain pagi itu tujuh anak remaja berjalan membawa alat panah dan kacamata kayu yang biasa digunakan oleh penyelam tradisional. Mereka berjalan hingga batas surut, untuk memanah ikan di terumbu-terumbu karang. Saya mengikuti mereka untuk mengabadikan aktivitas anak-anak remaja pulau karang ini memanfaatkan hasil laut.

Sepanjang mengikuti mereka, di sekeliling saya terumbu-terumbu karang bertebaran di segala penjuru. Sungguh mengagumkan berjalan di antara terumbu-terumbu karang sebatas lutut melihat ikan kecil warna-warni bermain dicelah-celah karang. Sekitar delapan meter dari tempat saya berdiri, anak-anak ini menyelam sambil  membidik panah pada ikan-ikan karang sebesar lengan.

Pemanah ikan. (foto: Rustam Awat)

Dari apa yang saya saksikan, mereka begitu mahir menyusuri laut yang surut untuk memanah ikan dan mencari gurita di sela-sela batu karang. Alam yang gersang di daratan membuat hidup begitu keras. Laut menjadi tempat menampung segala asa, meski ombak selalu menjadi momok, tapi tak pernah benar-benar membuat gentar. Orang di Pulau Batuatas telah menjadi terbiasa dengan ombak karena mereka dikepung dari empat penjuru. Ia berada di tengah antara Laut Flores di bagian barat dan Laut Banda di timur.

Menuliskan ini hanyalah sekedar menorehkan kisah-kisah jiwa maritim yang sampai kapan pun tak akan pernah lupa pada laut. Laut telah membuat mereka kuat, gelombang telah menjadikan mereka tegar, kapal dan perahu telah membuat mereka seimbang menjalani hidup.

Anak muda pemanah ikan. (foto: Rustam Awat)

Batuatas merupakan pulau yang berada di laut lepas karena tidak ada pulau di sekitarnya sehingga laut di daerah ini jarang tak berombak. Pulau dengan tujuh desa ini semua beretnis dan berbahasa Cia-Cia. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, saya tak pernah mendengar mereka berbicara bahasa Indonesia bila bersama, kecuali saat bercerita dengan orang dari luar etnis Cia-Cia sebagai bentuk penghargaan bagi pendatang seperti saya.

Bahasa lokal mereka masih terjaga dengan baik. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di kampung saya. Saya salut pada orang-orang desa yang selalu berbahasa lokal, ini semata karena saya menyukai keragaman bahasa lokal di setiap lokasi yang saya kunjungi meskipun saya tak tahu artinya sama sekali.

Kecintaan saya kepada pengguna bahasa lokal karena saya pernah membaca hasil penelitian dari National Geographic bahwa setiap dua minggu satu bahasa di muka bumi punah. Semoga saja prediksi dari penelitian ini tak terbukti untuk bahasa lokal di daerah kita.

Melihat pulau dari ketinggian (foto: Rustam Awat)

Cerita tentang Pulau Batuatas ini mungkin tak akan lengkap dan menegangkan bila saja tak ada kejadian perahu katinting 1,3 x 6 meter yang kami tumpangi ketika pulang di siang itu. Hal ini bermula dari kapal kayu yang mesinnya rusak ketika kami telah menempuh 1,5 jam perjalanan. Akhirnya kapal kembali ke dermaga karena tidak memungkinkan untuk menuju Baubau.

Karena tak ingin menunggu besok, kami mengecek transportasi laut yang lain, dan ternyata siang itu ada katinting yang dicarter ingin mengantar penumpang ke Baubau, maka kamipun ikut menumpang katinting yang mungil itu dengan jumlah penumpang 11 orang (4 laki-laki dan 7 perempuan). Waktu menunjukan pukul 13.30 siang, laut seakan terlihat teduh.

Namun ketika menempuh 10 menit perjalanan, kami telah diombang-ambingkan gelombang selama 5 jam. Dan 5 jam bukanlah waktu yang singkat di lautan lepas yang mengganas tanpa ada pulau di dekatnya. Inilah perjalanan paling dramatis dalam kisah saya mengarungi lautan. Saya telah merasakan ombak yang lebih besar dari ini saat menumpang kapal besar menuju Ambon, juga kapal berukuran sedang saat menuju Wakatobi, namun menumpang perahu katinting mungil di lautan lepas dengan hantaman Laut Flores ini pertama kalinya. Dan ini mendebarkan.

Awalnya saya bersama seorang teman duduk di bagian haluan katinting, namun saat gelombang mengombang-ambingkan perahu katinting kami dari samping dan menghentak dari depan, kami seakan berayun dan terbang dari katinting. Semua penumpang basah kuyup, wajah kami ditampar gelombang sepanjang perjalanan itu, untung saja tas kami telah diamankan di dalam palka katinting.

Tepian katinting yang mungil itu hanya berjarak sekitar 40 cm dari air laut, jarak yang begitu dekat untuk perjalanan di laut lepas. Belum lagi bunyi mesin di sepanjang perjalanan itu yang memekakan telinga yang hingga dua hari belum bisa berfungsi normal. Menjelang isya, kami tiba di dermaga Baubau dengan selamat. Terima kasih Tuhan, telah melindungi perjalanan kami yang menegangkan, di antara gelombang yang memutihkan lautan.

Perjalanan memaknai laut di Pulau Batuatas telah berakhir, empat hari memberi begitu banyak makna tentang pulau terluar yang hebat ini. Pulau karang yang turut mengokohkan semangat manusianya dan juga budaya maritimnya.

 

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Tentang Penulis

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.