Locita

Maoisme, dan Bagaimana Cina Mengekspor Indeologinya ke Seluruh Dunia

Sumber Gambar: Spiegel

Tidak semua orang dapat mengidentifikasi momen dimana hidup mereka berubah, tetapi Julia Lovell tak termasuk kebanyakan orang. Seorang cendekiawan yang diakui secara internasional, penerjemah dan penulis, wanita berusia 44 tahun ini merupakan salah satu figur berbahasa Inggris yang terdepan dalam sejarah modern Cina, literaturnya, dan kulturnya.

Hampir 25 tahun lalu, ketika Lovell memulai kuliah S1 di jurusan Sejarah Universitas Cambridge, dia hampir tak tahu apapun tentang negara yang kemudian membentuk kehidupan profesionalnya.

“Itu tahun 1995,” kenangnya, “Pada saat itu, Cina dan bahasa Cina terasa sangat asing. Ia [Cina] seringkali terlupakan, namun antara tahun 1989 dan 1992, Cina terlihat sangat mungkin akan kembali ke model Maois untuk organisasi ekonomi. Waktu itu, ada sanksi internasional yang diberlakukan untuk melawan negara tersebut.”

Keluarga Inggris Lovell tak punya hubungan dengan Asia, dan meskipun orangtuanya sudah mendukung minatnya di bidang bahasa, satu-satunya kedekatan Lovell dengan bahasa Cina adalah pernah belajar bahasa Jepang di sekolah.

Jadi, saat kuliahnya dimulai dengan menilik sejarah Cina, Lovell sangat tertarik namun sadar akan ketidaktahuannya. Saat itulah ibunya memberikan salinan buku yang ditulis Jung Chang, Angsa Liar: Tiga Gadis Cina (1991) untuk dirinya.

“Buku itu telah menjadi buku terlaris waktu itu. Orang-orang yang biasanya tak akan membaca soal Cina bahkan turut membaca buku ini dan bilang bahwa buku ini merupakan pengenalan yang tak biasa terhadap sejarah Cina di abad ke-20, melalui ketiga gadis luar biasa ini. Saya membacanya dalam suatu akhir minggu dan memutuskan saya ingin tahu lebih banyak tentang Cina.

“Kira-kira minggu berikutnya, saya memutuskan untuk beralih dari sejarahnya ke bahasa Cina. Saya merasa semester pertama sangat sulit. Saya benar-benar tidak bisa mengingat karakter-karakter hurufnya. Namun, ada yang berubah setelah semester pertama. Masa itu sangatlah sulit, tapi saya berhasil merubah hidup saya.”

Sisanya hanya sejarah dan literatur – mata kuliah yang diajar Profesor Lovell di Birkbeck, Universitas London, dimana minat akademiknya bervariasi mulai dari arsitektur dan olahraga hingga perjalanan penulis Zhang Chengzhi dari Komunisme menuju Islam radikal. Lovell sudah menerjemahkan buku karya Eileen Zhang, Nafsu, Kehati-hatian (1979), buku karya Lu Xun, Fiksi Lengkap (1953), dan buku karya Yan Lianke, Melayani Rakyat (2005). Buku-bukunya telah mengupas tentang perjalanan Cina untuk Hadiah Nobel dalam Literatur, tentang Tembok Cina, serta tentang perang opium pertama dan kedua.

Meski minat-minat tersebut terkesan luas, tetapi dapat dipahami secara kolektif dalam konteks peran Lovell untuk mediasi publik antara sejarah, kultur, dan politik Cina dalam dunia Inggris.

“Melihat topik-topik yang telah saya tulis, Anda mungkin berpikir topiknya sangat tersebar dan luas. Namun, saya pikir salah satu benang merah minat saya adalah mengembalikan Cina ke dalam sejarah global. Ya, saya mencoba menjadi Cina-sentris – menggunakan sebanyak mungkin sumber dari Cina langsung dan terus berdialog secara konstan dengan kolega-kolega brilian dan berbakat asal Cina. Tetapi saya juga memikirkan bagaiamana interaksi Cina dengan dunia di luar batasan-batasannya telah membentuk negara tersebut.”

Lovell menyebut pendekatannya terhadap buku Perang Opium (2011), dimana dia berharap untuk menarik “perhatian ke dalam fakta bahwa Imperialisme Inggris belum dilupakan di Cina, namun telah terlupakan dari ingatan Inggris”.

Buku baru Lovell, Maoisme, sangat cocok untuk kerangka intelektual ini karena memperluas selera intelektual ala Katolik yang dimiliki Lovell, sekaligus berfokus pada tempat Cina dalam politik-nyata global. Salah satu permulaan yang jelas adalah, alih-alih memikirikan cara dunia luar membantu pembentukan jati diri Cina, Lovell justru menggali bagaimana Cina telah membentuk dunia yang lebih luas. Meski cerita dalam buku dimulai dari Lovell mengakarkan prinsip Maoisme dari satu orang (Mao Zedong), satu negara (Cina), dan dalam periode waktu yang cukup singkat – tahun 1930-an, kurang lebih – hal yang membentuk narasinya secara keseluruhan adalah evolusi nomaden ke dalam ideologi internasional, menyebar dari Cina pada paruh kedua abad ke-20 menuju negara-negara di seluruh Asia (termasuk Vietnam, Korea Utara, Kamboja, Indonesia, Nepal, dan India), Afrika (Tanzania, Zimbabwe), dan Amerika Latin (Peru), belum lagi Eropa dan Amerika.

Satu contoh kecil progres pan-global Maoisme yang tak terduga bisa jadi adalah pertemuan saya sendiri dengan Lovell. Mao sendiri mungkin tak pernah mempromosikan Emmanuel College di Cambridge sebagai tempat untuk mendiskusikan filosofi politiknya, tetapi di pertemuan inilah Lovell mengalami pencerahannya tentang Cina, bertahun-tahun yang lalu.

Ia sampai dalam gaya khas Cambridge, dengan sepeda, lalu ia kunci dengan sebuah gembok yang sangat kuat – sebuah gembok yang baru dibeli setelah sepeda lamanya dicuri. Ini adalah waktu yang lebih sibuk dari biasanya dalam rumah tangga Lovell. Hanya beberapa hari setelah Maoisme mulai dijual di toko buku, suaminya, yang merupakan penulis pemenang penghargaan, Robert Macfarlane, juga menerbitkan bukunya sendiri, Underland. Dengan tiga anak untuk diurus, juga dua karir akademik, publikasi berturut-turut seperti ini bukanlah pengalaman yang ingin diulangi oleh Lovell.

Kami berjalan melalui Emmanuel’s Front Court ke sebuah taman mewah, yang menghadirkan suasana sempurna untuk sedikit nostalgia.

“Masa itu adalah masa yang spesial dalam hidup saya,” kata Lovell tentang masa kuliahnya, dengan kesukaan yang nyata. “Terakhir kali saya benar-benar bisa mengerahkan diri saya untuk belajar. Saat saya tidak punya pekerjaan, tidak punya anak-anak untuk diurus. Saya mendapat pengalaman paling mengagumkan, dan merubah hidup saat belajar bahasa Cina disini – 16 sampai 20 jam belajar seminggu dari para ahli di bidang bahasa dan sejarah premodern maupun modern.”

Setelah berjalan-jalan menikmati danau yang memantulkan kilatan cahaya matahari, serta sebuah kolam renang yang separuh ditutup, kami duduk di bangku taman di sebelah pohon plane Oriental-nya Emmanuel yang terkenal, diperkirakan telah mencapai usia hampir 200 tahun. Lovell pernah berakting di pentas teater, di lokasi yang sama, dengan ranting-ranting pohon tersebut yang bergesekan satu sama lain membentuk lengkungan di atas panggung dan, di tempat yang lebih teduh, menyediakan ruang ganti bagi para pemain.

Kami memulai dengan pertanyaan yang paling besar dan paling jelas. Kenapa Maoisme? Dan kenapa sekarang?

Betapa radikalnya “peniduran” Mao oleh Bo di tahun 2009 dapat tergambarkan oleh ketiadaan total tentang Mao dari Olimpiade Beijing tahun sebelumnya. “Hampir tak ada yang tidak sadar bahwa, di sebuah upacara yang menampilkan seluruh sejarah Cina, dari Konfusius hingga spandeks hijau limau, era Mao benar-benar tidak disebutkan.”

Saat Bo diusir dari partai dan dipenjara karena beberapa skandal, Mao nampaknya sudah hilang dari pandangan bila mantelnya tak ditarik kembali oleh suatu kekuatan yang lebih besar, dari figur yang lebih kuat.

“Xi [Jinping] dengan cepat mewarisi proyek Maois yang telah dimulai Bo,” kata Lovell, “Salah satu perubahan kultural dan politikal terbesar di era Xi adalah merayakan dengan aktif kultur dan politik masa Mao.” Lovell mengutip restorasi Xi dari sesi “kritik terhadap diri”, “Garis Massa” yang secara gagasan mengundang kritik pejabat partai, dan “tentu saja kultus kepribadian”.

“Seperti Mao, Xi Jinping juga bisa menjadi pemimpin seumur hidup. Komentar ini sudah banyak dilontarkan dari luar maupun dalam Cina, dimana berkomentar adalah hal yang berbahaya. Bagi banyak pengamat Cina, hal ini mengisyaratkan kembalinya Cina ke politik zaman Revolusi Kultural. Batasan konstitusional telah diletakkan pada tempatnya oleh Deng Xiaoping dan jelas merupakan bagian dari de-Maoifikasi Cina pasca kematiannya.”

Hal yang membuat Lovell yakin bahwa buku tentang Maoisme diperlukan adalah hal mengejutkan bagi para komentator non-spesialis di Barat tentang kembalinya pengaruh Mao.

“Asumsinya selama ini adalah, Cina telah menjadi komersial, lalu Mao dan Komunisme Cina sudah dibuang jauh-jauh ke tempat sampah dalam sejarah. Ada perasaan bahwa tidak ada yang perlu bersinggungan dengan Maoisme karena Cina akan terus tumbuh menjadi lebih seperti Barat.” Lovell mengutip perkataan Bill Clinton yang terkenal sebagai keyakinan tak berdasar, mengibaratkan usaha Cina membatasi kebebasan berpendapat di era internet sebagai “seperti berusaha memaku Jell-o (merek jeli di Amerika.) ke permukaan dinding”.

Bagi Lovell, reaksi-reaksi semacam inilah yang menggambarkan kesalahpahaman fundamental di dunia Barat – bukan hanya tentang konversi Maois Xi tetapi juga warisan global Maoisme yang bertahan secara global.

“Kebangkitan Maoisme oleh Xi benar-benar mendorong kita untuk mendefinisikan apa itu Maoisme,” Lovell berargumen. “Kita dengan cepat menyadari bahwa itu tidak merupakan satu hal saja. [Kebangkitan Maoisme] itu ada dalam banyak hal, bahkan dalam hal-hal kontradiktif yang dulu disematkan ke Mao selama dan setelah hidupnya.”

Metafora Jell-O Clinton lebih cocok digunakan untuk mendeskripsikan tantangan Lovell saat mencoba menjabarkan tentang Maoisme. Apakah ini ideologi pemberontakan dengan kekerasan yang dianut Shining Path di Peru, atau murid-murid radikal yang berdemo di Eropa tahun 1968? Dapatkah kita membandingkan Maoisme Vietnam di Ho Chi Minh dengan Maoisme Presiden Sukarno di Indonesia? Dapatkah kita bicara secara kolektif tentang Pol Pot di Kamboja, prajurit gerilya dari Rhodesia, Josiah Tongogara dan, dalam hal ini, artis Hollywood Shirley MacLaine, yang menyatakan diri sebagai pendukung Maoisme di tahun 1970?

Sebagaimana yang diimplikasikan oleh daftar tersebut, identitas Maoisme yang beragam bahkan kontradiktif merupakan sebagian hasil dari diseminasi Maoisme di seluruh dunia dalam tujuh dekade terakhir. Tiap rezim Maois di tiap negara dan tiap momen bersejarah, telah membentuk ulang ideologi tersebut dalam penggambarannya sendiri, menambahkan aspek baru yang seringkali ganjil dibandingkan visi asli yang dimiliki Mao. Lovell mempertanyakan apa yang Mao akan pikirkan tentang mereka yang mengaku sendiri sebagai murid-muridnya dalam kaum minoritas tertindas karena etnis, di Nepal dan India.

“Maoisme di Cina sangat intoleran terhadap keragaman dan hak-hak etnis, serta kegigihan di Tibet dan Xinjiang. Namun di Nepal, Maoisme justru dilihat sebagai serangkaian strategi untuk mendapat hak-hak mereka yang termarjinalkan secara etnis. Hal ini merupakan kesalahan terjemahan yang aneh dari Maoisme, apalagi karena dibawah hidung para Maois Nepal, ada kamp-kamp pengungsian warga Tibet yang lari dari wilayah komunis Cina.

Dengan intoleransi Mao terhadap siapapun yang salah mengartikan kata-katanya, apakah dia menginginkan visinya untuk dapat dibentuk ulang dengan sangat mudah?

Lovell menunjukkan bahwa, sejak tahun 30-an, Mao sudah berargumen bahwa Revolusi Cina akan menjadi relevan secara internasional. Di samping “buku merah kecil”-nya Mao sendiri, yang dapat diperdebatkan sebagai publikasi terpenting dalam sejarah Maois, adalah Bintang Merah Diatas Cina (1937) yang ditulis jurnalis Amerika Edgar Snow, meski ditulis dibawah pengawasan mata berkilat Mao sendiri.

Tidak pernah kepribadian serba-sendiri orang ini digambarkan begitu bertabrakan dengan kejelasan yang menghancurkan, selain pada masa Revolusi Kultural. Seseorang dapat melihat, baik perlindungan Mao terhadap kekuasaannya sendiri, maupun manifestasi paling ekstrim dan menghancurkan dalam dukungannya untuk kekerasan sebagai senjata politik: apa yang Lovell sebut sebagai “kerugian besar bagi orang-orang karena kepemimpinannya, betapa cerobohnya dia dengan nyawa banyak orang Cina”.

Lovell melanjutkan: “Mao menghasut jutaan orang, terutama pemuda-pemudi yang kagum karena doktrinasi penyembahan dirinya, untuk menghancurkan kepemimpinan partai yang dia rasa telah berubah melawan revolusi dan menjadi konservatif. Hal ini merupakan momen yang sangat kontradiktif, tak dapat dibandingkan dengan apapun dalam sejarah komunisme global. Seorang pemimpin menggunakan orang yang memuja kepribadiannya untuk menghancurkan partai yang dia bentuk sendiri.”

Pemisahan Xi yang penuh kehati-hatian dari apa yang dia anggap sebagai “gandum Maoisme dari sekam Maoisme”, merupakan hal yang sangat khas dari sejarahnya yang lebih luas. Mungkin hanya satu dari rezim Maois yang hampir dapat mereplikasi kehancuran dari Revolusi Kultural: Khmer Rouge, yang menghancurkan basis kekuatannya sendiri dengan pemurnian dan pengusiran yang menghancurkan diri.

Selain itu, dikotomi fundamental Maoisme antara stabilitas dan ketidakteraturan menghasilkan dua jenis Maoisme yang berbeda. Rezim di Korea Utara, Vietnam, dan Myanmar telah berusaha mengikuti yang pertama, menjadi Mao yang sistematis. Selanjutnya, inkarnasi yang lebih liar menarik Shining Path di Peru dan kemunculan kembali pemberontak di Tanzania, Ghana, dan Zimbabwe yang melawan penjajahan Inggris.

“Salah satu aspek terpenting alat Maois adalah konsep tentang kesukarelaan. Jika Anda percaya Anda dapat melakukan sesuatu, Anda dapat melakukannya. Ia berkhotbah bahwa semua negara, mau semiskin dan seterbelakang apapun, dapat merubah nasibnya bila orang-orangnya percaya mereka bisa. Rasa antusias dan semangat revolusioner, Mao percaya, lebih penting daripada keunggulan material maupun persenjataan. Cukup mudah untuk melihat bagaiman konsep tersebut sangat menarik untuk negara-negara miskin dan berkembang yang telah menderita dibawah kolonialisme atau pemerintahan represif.

Hal yang dapat disebut sebagai contoh rayuan Mao yang persisten, bahkan keras kepala, ujar Lovell, adalah Partai Maois Nepal, yang memimpin negara secara singkat di tahun 2008. Asal mula revolusi berawal jauh dari “tidur”nya konsep Mao di Nepal, pada tahun 60-an. “Ini menunjukkan bagaimana ide dapat tenggelam dan membeku. Selanjutnya, pada suatu waktu tertentu, orang-orang yang antusias terhadap ide tersebut memutuskan bahwa waktunya sudah tepat untuk ide tersebut muncul kembali, yang dapat merubah takdir dari negara mereka. Bahkan orang-orang yang mencela mereka juga akan sulit menolak bahwa perang sipil Maois merupakan faktor utama yang mengakhiri monarki Hindu pasca tahun 2006.”

Buku Lovell menceritakan begitu banyak kisah yang Hong Kong hampir pasti disebut di dalamnya. Salah satu kejadian yang pasti ingin Lovell ceritakan adalah pemberontakan pro-komunis tahun 1967, sebuah contoh yang dia sebut sebagai “turbulensi Revolusi Kultural yang tumpah ke Hong Kong”.

Latar belakang lebih luas dari demo-demo tersebut adalah, kata Lovell, “suatu keadaan mengerikan dari hukum pekerja di Hong Kong pada saat itu. Saya rasa pejabat Inggris pun merasa hukum pekerja di Hong Kong pada tahun 1950-an sudah ketinggalan 100 tahun – di level era Viktoria Inggris.

Pergolakan penuh kekerasan yang mencakup “pembawa acara radio yang mengkritisi radikal sayap kiri di Hong Kong dibakar sampai mati di mobilnya”, menimbulkan efek yang nyata. Sebagaimana kejadian ini memaksa administrasi Inggris memperbaiki aturan-aturan kesejahteraannya selama tahun 70-an (perubahan oleh gubernur Murray MacLehose), kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi Inggris dalam kepemimpinannya di Hong Kong.

“Hong Kong bukanlah sebuah kuil modernitas dan keuangan global. Hong Kong juga merupakan tempat yang sangat problematis dalam hal pembagian sosial dan segregasi.”

Hal ini menjelaskan keputusan Mao yang menarik tetapi sengaja untuk tidak mengambil kembali Hong Kong. “Mao ingin Hong Kong menjadi tempat mata-mata. Hong Kong penting untuk bisnis, intelijensi, dan keamanan (sebagai contoh, memasukkan dan mengeluarkan orang-orang dari Cina secara diam-diam), tetapi juga untuk mengeluarkan cerita kultural Cina daratan ke dunia.” Sebagai contoh, film opera tahun 1954 Liang Shanbo dan Zhu Yingtai, yang sangat populer di Hong Kong maupun Asia Tenggara, merupakan film berwarna pertama yang diproduksi di Cina dan digunakan Zhou Enlai untuk mempromosikan kekuatan halusnya pada konferensi Genewa di tahun yang sama (perdana menteri tersebut mengenalkan film itu ke para diplomat sebagai “Romeo dan Juliet dari Cina”.)

Sebagaimana Mao menggunakan Hong Kong untuk menyebarkan Maoisme ke seluruh dunia, dunia pun menggunakan Hong Kong sebagai jendela untuk melihat ke dalam Cina yang dipimpin Mao. “Hong Kong menawarkan akses khurus ke informasi dari Cina daratan. Hingga Jasper Becker, Frank Dikötter dan sejarawan lainnya dapat mengakses arsip dan wawancara dalam Cina setelah pada tahun 1980, para pengungsi ke Hong Kong yang kabur dari program Langkah Besar Kemajuan dan Revolusi Kultural menjadi narasumber utama dalam mengetahui apa yang sedang terjadi di negara itu. Bagi Departemen Negara Amerika, Hong Kong sangat krusial sebagai sumber informasi.

Disebutnya arsip-arsip ini mengingatkan saya untuk menanyakan pada Lowell tentang pengalamannya sebagai peneliti di Cina. Ia memulai dengan menitikberatkan pada kerja kerjas yang dilakukan cendekiawan Cina, yang telah mendedikasikan periode panjang dalam hidup mereka, dalam bertahun-tahun, bekerja untuk arsip-arsip sejarah untuk menemukan informasi berharga. Ia menggambarkan betapa berharganya penemuan-penemuan tersebut dengan menyebutkan bahwa salah satu arsip (dari materi tahun 1949 sampai 1965) yang tadinya sudah dibuka ke umum oleh Kementrian Luar Negeri Cina pada tahun 2003, telah dijadikan dokumen rahasia lagi.

“Saya memilih waktu yang buruk untuk memulai menulis buku,” ujar Lovell sambil tersenyum. “Tetapi saat ini juga tidak lebih baik. Mungkin lebih buruk, menurut saya. Mungkin momen paling baik untuk menulis buku ini adalah pada tahun 2000-an. Meski kontrol yang sama sudah ada dalam hal mengawasi sejarah dan kebebasan berpendapat, masa itu sedikit lebih longgar daripada sekarang, apalagi akses ke arsip.” Wawancara lisan juga sudah lebih sulit dibanding sebelum 2012, “karena sekarang ada kecemasan yang lebih besar dalam berbicara ke orang asing”.

“Era Mao selalu sensitif, tetapi sudah menjadi isu yang lebih sensitif lagi karena garis darah Xi Jinping – yaitu, bahwa kekuasaannya dalam politik bisa dirunut dari fakta bahwa ia adalah putra dari salah satu kawan seperjuangan revolusi oleh Mao.” Lovell mengutip peringatan Xi bahwa sejarawan tidak boleh mempraktekkan “nihilisme” sejarah, termasuk mengkritisi era Mao.

Meski kontrol politik telah diperketat dan kekuasaan partai dijadikan terpusat di bawah Xi, yang ditengarai mengisyaratkan kebangkitan kembali Partai Komunis, Lovell berpendapat ini bukanlah cerita selengkapnya. “Ada sisi lain dari koin tersebut. Meningkatkan kontrol bukan berarti sebuah partai menjadi lebih kuat. Ini dapat berarti partai tersebut justru sedang khawatir.”

Ketika saya bertanya isi apa yang paling penting bagi Cina saat ini, Lovell menyebutkan dua.

“Tantangan besar untuk partai Cina dan pemerintahannya adalah: apakah mereka bisa tampil sebagai pihak yang lebih toleran terhadap keragaman? Di beberapa bulan terakhir, dunia sudah kaget khususnya untuk sebuah penerapan kontemporer dari intoleransi partai negara: sebuah rezim pengawas anti-Uyghur yang dibentuk di Xinjiang, bersama sebuah jaringan indoktrinasi dalam kamp-kamp penahanan. Ini adalah tanggungjawab bagi para ahli tentang Cina untuk menarik perhatian terhadap kerusakan ini, sebuah pembatasan masif dari hak asasi manusia yang beberapa telah menyebutnya sebagai genosida kultural.”

Isu kedua juga tak kalah penting: perubahan iklim, dan peran penting Cina dalam mengarahkan dunia menuju masa depan yang berkelanjutan. Ini adalah isu yang sebagian berupa isu domestik, karena Cina terus mengembangkan industri, menjadi lebih komersial dan meluncurkan proyek-proyek yang merubah dunia seperti Inisiatif Sabuk dan Jalan. Tetapi dengan Donald Trump menolak Persetujuan Paris, suara Cina sangat penting untuk mengingatkan Barat akan tanggungjawabnya, apalagi di Asia.

“Dunia Barat telah menghasilkan hampir semua kehancuran [lingkungan], sementara beberapa bagian dunia seperti Asia Selatan, Malaysia dan Indonesia yang tidak menikmati modernisasi tersebut justru terdampak paling buruk.”

Pada level profesional, Lovell telah menjalani proyek baru: sebuah terjemahan yang disingkat dari Perjalanan ke Barat, yang ia gambarkan sebagai salah satu “pekerjaan besar untuk fiksi premodern Cina”. Dalam caranya sendiri, buku tersebut sama sulitnya untuk ditulis dengan Maoisme: Lovell harus menemukan cara untuk menerjemahkan cerita yang akar naratifnya merupakan sebuah epik lisan, dan dunianya “asing dan aneh”, apalagi referensinya terhadap agama dan politik. Secara kebetulan, Perjalanan ke Barat adalah buku favorit Mao. “Sangat menarik ketika saya akhirnya berpikir, ‘inilah yang Mao rasa berhubungan dengan dirinya.’”

“Saya harap lebih banyak orang akan mempelajari bahasa Cina dengan serius,” ujarnya. “Saya harap orang-orang akan melihatnya bukan hanya sebagai sesuatu yang bisa berguna, tetapi sebagai hal yang benar-benar perlu disinggung. Studi soal Cina dan bahasa Cina benar-benar menghasilkan hubungan jangka panjang.”

Cerita Lovell sendiri adalah bukti dari hal tersebut.

“Saya harap murid-murid Inggris akan belajar bahasa Cina dengan intensitas yang sama murid-murid Cina belajar bahasa Inggris. Masih terdapat defisit kultural yang besar dalam hal ini. Hampir semua orang Cina tahu jauh lebih banyak tentang kultur Barat, apalagi kultur Inggris, daripada sebaliknya.”

Beberapa orang yang seperti Julia Lovell pasti dapat mengembalikan keseimbangan tersebut.

=====

Artikel ini ditulis oleh James Kidd dan dipublikasikan di South Morning China Post

tanjunglarasati

41 comments

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.