Locita

Kontestasi Pemuda Jaman Now, Old, sampai Al-Qur’an

Seorang pemuda membaca alquran di taman pada malam hari

JIKA tak tahan penatnya belajar, maka kamu harus siap menahan perihnya kebodohan. Demikian adagium yang semestinya terus menginspirasi setiap pelajar, baik itu kaum tua, terlebih pemuda.

Entah atas sebab apa kemudian dalam dinamika pendidikan Indonesia, kalimat indah nan inspiratif ini, seakan tidak lagi dikenal.

Keluh kesah kaum pelajar, terlebih anak muda membuat tingkat akumulasi pendidikan Indonesia rendah dalam pandangan saya. Manja, nakal, hedonis, adalah kata yang membuat kita harus geleng-geleng kepala.

Mungkin karena kita memang dididik jauh berbeda dengan sistem yang memanjakan seperti mereka. Kita dibentuk dengan kerja keras untuk “mencuri” banyak ilmu sampai mendapat “hikmah” kepada guru-guru. Sehingga, bagaimanapun sikap guru, kita berkewajiban untuk menghargai dan menganggapnya sebagai metode mentransfer ilmu pengetahuan.

Pemuda Semestinya

Terlepas dari itu semua, lagi-lagi grup WhatsApp cukup lincah memberi saya informasi tentang seorang guru yang dipolisikan, hanya karena memberi pelajaran kepada muridnya yang bertengkar, dengan memukul betisnya.

Entah apakah metode klasik oleh sang guru yang tak lagi relevan, atau memang muridnya yang nakal plus manja?

Tulisan pendek ini tidak ingin memperbincangkan itu panjang lebar, menurut saya percakapan grup WhatsApp juga tidak kalah menarik untuk sedikit disinggung, sekaligus kita ambil ideal moralnya.

Tidak perlu lama untuk menunggu, beberapa anggota grup yang juga merupakan anggota ORGANDA (Organisasi Daerah) di Sulawesi Selatan memberikan tanggapan tentang bagaimana sikap mereka semestinya terhadap kasus tersebut.

“Kasus ini tengah coba diselesaikan oleh pihak pelapor, guru dan kepolisian. Tugas ta’ sebagai putra daerah adalah, menjadi pemeran utama untuk kawal ki semua kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat, bukan kasus ini saja,” jawaban ketua ORGANDA tersebut.

“Sekali lagi, tugas ta’ adalah membaca, berpikir dan bertindak. Olehnya itu, jangan ki’ menyimak saja, karena kita pemuda,” tegas ketua mereka.

Di tengah era sistem pendidikan yang memanjakan dan menyodorkan dirinya sendiri, sistem yang membentuk pemuda lantang menyuarakan hak untuk sebuah kebebasan dan kebobrokan intelektual, setidaknya lewat cerita singkat  ini, ada sebuah harapan, ternyata juga terdapat banyak pemuda yang bergelut bersama ilmu, mengasah diri di bidang masing-masing, kemudian kembali untuk daerah, mengabdikan diri, membangun dan berbaur bersama masyarakat sebagai anak bangsa (tafaqquh fi al-din).

Pemuda Al Qur’an

Al Qur’an pun sebagai sebuah kitab pedoman mengisyaratkan dua karakter atau kecenderungan pemuda dalam regenerasi umat, sebagaimana realitas secara mandiri menjadi penjelas dan bukti nyata.

Kedua pemuda tersebut, di satu sisi sebenarnya menjadi harapan dan impian negara, di sisi lain menjadi semacam anomali, ketakutan tersendiri, yang dampaknya adalah krisis kader menuju bangsa yang berperadaban.

Nabi Ibrahim menurut al-Qur’an adalah icon ideal untuk harapat umat, dengan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang kemudian disokong oleh keberanian untuk mendobrak segala macam penyimpangan dengan program reformasi.

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim berani memukul rata patung-patung besar itu dan berani memikul resiko dengan tanggung jawab atas perbuatannya, yang kemudian dicelah dan dibakar oleh umatnya sendiri.

Demikian semestinya pemuda, membuat “kegilaan”, memikirkan apa yang orang lain lewatkan untuk dipikirkan. Begitulah sesungguhnya awal mula beberapa pembaharuan lahir, baik dari sains maupun humaniora.

Selain berbicara tentang penokohan pemuda ideal seperti nabi Ibrahim, begitu juga Ismail dan beberapa nama yang lainnya, tidak luput al-Qur’an juga mengisyaratkan tentang pemuda yang pola hidupnya bermasalah yang berdampak pada pengrusakan individu, kelompok dan negara sebagai organisasi yang menaungi.

Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki (pemuda) yang berbuat kerusakan di bumi, dan mereka tidak melakukan perbaikan (sedikit pun). (QS. al-Naml/27: 48).

Ayat ini dalam kajian kontek sosio historis mengisyaratkan bahwa akar masalah yang menjadi variabel bobroknya generasi muda di suatu kota tertentu, bukanlah variabel tunggal, tetapi multivariabel yang sistemik dalam sebuah sistem yang sakit.

Di antaranya adalah, kuatnya sistem feodalisme yang memberikan hak istimewa kepada kaum bangsawan untuk memegang kekuasaan, para pembesar/bangsawan yang berkuasa melindungi anak-anak mereka yang berbuat fasad (kerusakan), para pemuda membentuk peer group yang kebal hukum, dan sistem hukum yang tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.

Sepertinya, media lebih tertarik untuk menampakkan pemuda model kedua ketimbang harus membahas prestasi lain anak bangsa.

Namun demikian, pada akhirnya kita terkutuk untuk bebas memilih cara kita merasakan kegelisahan. Memilih pemuda aman-aman saja, nakal atau menjadi “gila” (pembaharu) dengan memikirkan apa yang luput dari pikiran mayoritas. Kesemuanya, ada dalam genggaman kita. Wallahu a’lam.

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Add comment

Tentang Penulis

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.