Locita

Ketika Saya Berbahasa Inggris dan Mereka Menertawainya

YOU know…You know…You know…”

You know.” adalah ekspresi yang beberapa kali digunakan Agnez Mo saat diwacancarai di sebuah ajang musik bergengsi di Los Angeles. Netizen yang maha tahu dan maha benar pun membully walau memang tetap ada yang membela. Ada yang menyebutnya kampungan, juga ada yang menyebut terlalu berlebihan lalu diakhiri dengan ekspresi menertawai “hihihi”.

Nyatanya penutur asli (native speaker) Bahasa Inggris pun sering menggunakan ‘you know’ sebagai filler agar pembicaraan tak terputus. Walau baru tinggal 8 bulan di Amerika Serikat, saya selalu mendengar kata-kata ini dari orang-orang Amerika sebagai native speaker. Mahasiswa dan profesor saya pun sering menggunakan filler tersebut di kelas. Padahal sejak lahir sampai menjadi profesor, dalam kajian linguistik pula, ia masih saja sering menggunakan ekspresi “…you know.”

Agnez mungkin tidak tahu sedang dibully atau tahu tapi tidak akan pusing dengan hal receh seperti ini. Ia seorang bermental baja.

Tetapi tidak semua orang bermental seperti Agnez. Para siswa yang dibully karena salah mengucap kata akan ditertawai teman-temannya. Mungkin seisi kelas. Ketika telah menjadi mahasiswa pun masih demikian. Bayangan ditertawai kemudian diinternalisasi secara terus menerus. Kekhwatiran akan dipermalukan membayang-bayang dipikirannya setiap kali hendak berbicara Bahasa Inggris.

Hari-hari pertama di Amerika Serikat adalah hari-hari yang berat bagi saya. Salah satu kendalanya adalah bahasa. Bukan karena saya tidak memiliki bekal bahasa yang cukup.  Saya telah memenuhi persyaratan bahasa yang ditentukan, berupa TOEFL ITP, TOEFL IBT, dan IELTS. Jurusan saya adalah Pendidikan Bahasa Inggris. Saya telah belajar Bahasa Inggris sejak masih kelas IV SD. Saya juga tidak pernah dibully saat berbahasa Inggris. Pada dasarnya, tidak ada alasan bagi saya untuk ragu berbahasa Inggris.

Selama 4 tahun mengajar Bahasa Inggris pada mahasiswa semester 1 dan 2 dari berbagai jurusan yang berbeda di kampus, saya selalu menekankan untuk tidak takut salah. Selalu pula saya ingatkan untuk tidak menertawakan jika temannya berbuat salah. Berbuat salah ketika belajar bahasa baru adalah wajar. Saya menekankan ini sebab wajah-wajah mereka selalu menunjukkan kekhwatiran jika berbuat salah lalu ditertawai dan dipermalukan.

Celakanya kekhwatiran yang sama justru juga saya alami di hari-hari awal sampai beberapa minggu lamanya. Mental saya selalu terbayang pada perlakuan teman-teman atau orang-orang yang menertawai mereka yang berbahasa Inggris dan dianggap salah. Khwatir jika tata kalimat atau pengucapan salah dan tidak akurat. Kekhwatiran itu seperti hantu yang terus mengganggu.

Seringkali saya menghindar tidak berbicara dengan teman-teman Amrik. Saya juga terkadang menunda mengurus hal administrasi. Saya tidak berani mengeksplorasi kota sendirian, mencoba bus dan kereta, karena khawatir tidak akan mengerti dan seterusnya. Akhirnya banyak hal-hal yang ingin saya tanyakan  tetapi hanya ada dalam hati.

Perasaan inferior, selalu merasa Bahasa Inggrisnya payah, menjadi satu tantangan tersendiri. Sepatutnya perasaan rendah diri ini tak perlu terjadi jika kebiasaan membully tak menjadi kebiasaan. Kebiasaan membully menjadikan mental selalu merasa salah jika lawan bicara tidak mengerti penutur asli. Nyatanya tak selalu demikian.

Native speaker tidak semua terbiasa berkomunikasi dengan orang dari luar negaranya. Supir bus atau masyarakat lokal misalnya. Banyak diantara mereka tidak berpendidikan tinggi. Mereka tidak terbiasa berbincang dengan berbagai gaya Bahasa Inggris dari berbagai negara. Mereka terbiasa berbahasa Inggris dengan logat dan gayanya sendiri. Maka sering kali meski Bahasa Inggris kita benar, kita tetap merasa salah ketika mereka tidak mengerti. Sebab kita merasa bahwa mereka pasti benar karena memang bahasanya, padahal tak selalu demikian.

Kalaupun salah, mereka tidak akan menertawai. Saya belum pernah mengalami perlakuan ditertawakan apalagi dipermalukan karena Bahasa Inggris saya tidak benar. Sebaliknya mereka akan membetulkan.

Kesalahan dalam belajar bahasa yang bukan bahasa sehari-hari adalah hal wajar. Douglas Brown, seorang profesor dalam pengajaran bahasa, menyebut, “Mistake is the window of opportunity to learn language.” Kesalahan adalah jendela kesempatan untuk belajar bahasa.

Sudah sepatutnya guru menekankan siswa untuk tidak takut berbuat salah. Di saat bersamaan guru juga harus menanamkan kepada siswa untuk tidak menertawai apalagi mempermalukan temannya jika berbuat salah. Bahasa Inggris bukanlah bahasa kita. Jika salah ya wajar.

Dalam kajian Second Language Acquisition, disebutkan memang ada pola-pola kesalahan tertentu yang sering dialami ketika mencoba bahasa kedua atau bahasa baru. Maka tak ada alasan meledek jika non-native speaker berbuat kesalahan ketika mencoba bahasa baru.

Maka native speaker sendiri tidak menertawakan dan membully saat salah, lalu mengapa Anda yang bukan justru menertawai?

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

1 comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.