Locita

Ketika Puisi Lebih Penting dari Hutan

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

KEMARIN, 21 Maret 2018, ada dua perayaan yang dilakukan. Yang pertama, Hari Puisi Dunia (World Poetry Day) dan yang kedua adalah Hari Hutan Internasional (International Day of Forest).

World Poetry Day atau yang kita kenal sebagai Hari Puisi Dunia pertama kali dicetuskan di Paris pada saat pertemuan UNESCO yang berlangsung pada Oktober-November 1999. UNESCO mengungkapkan bahwa kebutuhan akan estetika merupakan kebutuhan manusia, dan puisi dapat memenuhi kebutuhan itu.

Sementara itu, 20 tahun terakhir (sejak 1999) ketertarikan pada puisi semakin meningkat dengan banyak kegiatan-kegiatan yang melibatkan puisi di negara-negara anggota serta semakin bertanbahnya jumlah penyair.

Sementara itu, International Day of Forest atau Hari Hutan Internasional pertama kali dirayakan pada tahun 2013 berdasarkan pada resolusi PBB pada November 2012. Majelis umum PBB menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Hutan Internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan merawat semua jenis hutan.

Pada setiap perayaan hari ini, setiap negara didorong untuk melakukan upaya-upaya lokal, nasional, dan internasional untuk mengatur kegiatan yang melibatkan hutan dan pohon, seperti kampanye penanaman pohon dan kampanye menjaga hutan dan habitat didalamnya.

Sebagai pengguna media sosial, selama dua hari terakhir, Hari Puisi Dunia secara berturut-turut merajai top ten trending topic Indonesia di jagad maya dari tanggal 20 hingga 22 maret. Hampir semua kalangan menuliskan (bahkan banyak juga yang hanya sekedar retweet dan bahkan copas) syair-syair puisi di jagat maya.

Sehingga tidak heran ketika tagar #haripuisisedunia masih menjadi raja di linimasa (setidaknya hingga tulisan ini dibuat). Sementara tagar #HariHutanInternasional atau #InternationalDayofForest tidak masuk dalam perbincangan hangat para netter.

Sebenarnya, saya bukan anti pada puisi. Bisa dikatakan, saya adalah penikmat puisi. Syair puisi dari sastrawan kondang negeri ini seperti Sapardi Djoko Damono seperti “Aku Ingin” yang dibuatnya sebelum saya lahir (1989) bahkan selalu menjadi senjata untuk merayu sang pujaan hati selama ini.

Bahkan sastrawan dari negeri Britania, Charles Dickens, yang terkenal dengan aliran yang sangat sentimental dan melodramatik pun saya konsumsi. Hal ini membuktikan bahwa saya bukan membenci puisi.

Hal mendasar yang menggerakan saya untuk menulis tentang ini bukan untuk nyinyir pada penikmat sastra. Akan tetapi lebih pada menyadarkan kita semua tentang betapa pentingnya tanah tempat kita berpijak, udara untuk kita bernapas, dan bahkan seluruh semesta ini.

Pada tanggal 21 Maret ini, kita tidak harus mendayu-dayu dengan merangkai kata-kata indah bernuansa romantis dan lebay semata, akan tetapi ada yang juga tidak  kalah penting yaitu ikut aktif dalam menggalang dukungan moril akan pentingnya hari hutan sedunia. Hari penghapusan diskriminasi rasial internasional dan juga hari air sedunia keesokan harinya (22 Maret).

Jika tagar #haripuisisedunia menjadi viral karena banyaknya puisi-puisi baru yang ditulis oleh anak bangsa, secara pribadi, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Hal ini membuktikan pada dunia bahwa minat baca masyarakat Indonesia sudah tidak lagi menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia. Dengan apiknya merangkai diksi-diksi dan prosa dalam puisi setidaknya menjadi salah satu indikator bahwa minat baca kita sudah membaik.

Tapi, viralnya hari puisi sedunia dikarenakan banyaknya retweet dan copas pada puisi-puisi yang terkenal. Akun twitter @SapardiDjokoID dan @hurufkecil  di retweet lebih dari seribu kali oleh para pemuda-pemudi negeri ini. Sementara akun resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (@KementerianLHK) di retweet 64 kali, sementara akun @WWF_ID hanya di retweet sebanyak 25 kali saat hastag International Day of Forest dalam cuitan mereka. Menurut saya, hal sederhana seperti ini bisa menjadi indikator bahwa kesadaran kita akan alam ini, terlebih pada hutan sangat kurang.

Padahal sejatinya, masalah kehutanan dapat berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan, baik itu, ekonomi, politik, budaya, hukum, juga keamanan, dan yang paling penting adalah pertahanan yang berkaitan dengan kedaulatan sumber kekayaan alam. Tanpa kita bersama sadari, dengan sikap acuh tak acuh kita pada hutan Indonesia, berbagai macam orang dari seluruh dunia hilir melirik negara kita yang konon salah satu negara megabiodiversity setelah Brazil dan Kongo.

Kita tentu tak ingin, kita hanya larut dalam keindahan rangkaian puisi namun orang-orang dari pelbagai penjuru dunia justru sibuk menembus masuk pelosok hutan-hutan kita untuk mempelajari dan mengambil manfaat dari karunia terbesar yang Tuhan titipkan dan harusnya dinikmati oleh pada bangsa ini.

Hutan, yang oleh para guru sekolah dasar kita disebut sebagai paru-paru dunia saat ini telah mengalami kerusakan yang mengkhawatirkan. Sebagai sebuah kawasan hijau yang menyuplai oksigen untuk kelangsungan hidup bagi seluruh makhluk hidup di muka bumi in, hutan, menjadi hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian semua pihak.

Lebih dari 2 juta hektar hutan di negeri ini setiap tahunnya berkurang. Banjir dan tanah longsor di musim penghujan serta kekeringan dan kelaparan di musim kemarau terjadi akibat dari deforestasi.

Jangan pernah bersembunyi dibalik payung investasi dan pembangunan, jika sebenarnya yang kita lakukan hanyalah eksploitasi hutan besar-besaran untuk memenuhi hasrat keserakahan semata.

Haruskah kita menutup mata dari berbagai kejadian miris di negeri ini, pada bulan Januari lalu seekor orang utan ditemukan mati mengambang tanpa kepala di sungai Barito, Kalimantan Tengah. Belum lagi kejadian terbaru di bulan ini adalah Pembantaian Harimau secara tragis di Sumatera Utara.

Kejahatan semacam ini layak kita kutuk bersama-sama. Atau memang mental kita memang lebih tertarik menjadi relawan bencana dan menggaungkan tagar #prayforblabla daripada saling mengingatkan untuk menjaga alam dari bencana buatan kita sendiri? Wallahu a’lam.

Bukan bermaksud untuk membandingkan mana yang penting antara puisi dan hutan, akan tetapi dengan tidak adanya “obrolan hangat” dari para pengguna sosial media tentang alam ini menunjukkan bahwa kepedulian kita dalam menjaga alam ini tidak ada.

Karena saya juga adalah penikmat sastra, ijinkan saya kembali mengingatkan kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam novel klasik tetralogi Pulau Buru, “Seorang terpelakar harus adil sudah sejak dalam pikiran”.

Tuhan memerintahkan kita berbuat adil dalam segala aspek kehidupan. Maka adil jualah terhadap alam dan hutan kita saat ini, yah minimal menyadari bahwa Hari Hutan Internasional dapat kita jadikan momentum untuk merenungi peran penting hutan bagi kelangsungan hidup.

Sudah saatnya, elit bangsa ini seperti Ketua MPR (yang juga pernah menjadi menteri kehutanan) dan Menteri-Menteri Kabinet di Negeri ini tidak hanya menuliskan syair puisi pada tanggal ini, tapi juga menggalang dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia bahwa menjaga dan melestarikan hutan adalah salah satu hal penting dalam menjaga keberlangsungan hidup kita semua.

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Add comment

Tentang Penulis

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.