Locita

Kemenangan Putin dan Boikot Piala Dunia di Rusia

VLADIMIR Putin, Presiden petahana Rusia sudah diumumkan menjadi pemenang pemilu tahun ini. Menurut beberapa sumber, pemilihnya bahkan mencapai tiga perempat dari keseluruhan jumlah suara. Dia akan tetap menjadi presiden Rusia untuk beberapa waktu ke depan.

Sebagaimana dilansir The New York Times, Putin dalam sambutan kemenangannya, menjanjikan terobosan bagi Rusia kedepannya. Diantaranya adalah peningkatan standar hidup, modernisasi pendidikan dan pelayanan kesehatan serta, pemecahan masalah lingkungan.

Dia juga menyatakan bahwa Rusia harus tetap menjaga persatuan meskipun afiliasi politik berbeda.

Menyambut kemenangan Putin beberapa pemimpin dunia telah mengucapkan kata selamat. Diantara Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Secara mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun juga turut serta.

Meskipun dikritisi, dia keukeuh dan menyebutkan bahwa Rusia adalah mitra yang baik untuk menyelesaikan masalah dengan dan dalam beberapa kawasan. Misalnya Suriah, Korea Utara, Iran, dan Ukraina.

Kemenangan Putin yang disebut terbaik sepanjang karirnya ini juga sekaligus disambut oleh hal yang tidak mengenakkan. Yakni tuduhan percobaan pembunuhan terhadap mantan agen ganda Sergei Skripal serta kebakaran di pertokoan Rusia.

Sergei Skripal ditemukan tergeletak bersama putrinya akibat injeksi racun yang mematikan ke dalam tubuhnya. Dia yang kini tinggal di Inggris membuat negara Ratu Elizabeth itu langsung mengusir sejumlah diplomat Rusia. Bahkan dikabarkan juga memboikot piala dunia yang akan berlangsung di Rusia musim panas ini.

Menyusul ketegangan diplomatik ini, beberapa negara Eropa juga telah menyatakan ketidakinginan akan diplomat Rusia berada di negeri mereka.

National Security

Ketegangan ini membuka luka baru di atas luka lama. Pendahulu Rusia, Uni Soviet, memang pernah terlibat perang dingin selama beberapa dekade dengan blok barat, sebelum akhirnya negara yang pernah dipimpin Vladimir Lenin itu menjadi terpecah menjadi beberapa negara.

Menjelang tahun 1920, Inggris sendiri pernah mengirim bantuan untuk pasukan kontra revolusi Bolshevik. Hal ini juga diikuti oleh Amerika Serikat, Jepang dan Prancis. Namun usaha ini gagal karena barisan kaum Bolshevik terlalu kokoh untuk dibubarkan pasca kemenangannya di Uni Soviet kala itu.

Meskipun perang dingin telah usai, namun warisan ketegangan blok barat versus blok timur tetap eksis hingga hari ini. Percobaan pembunuhan Sergei Skripal adalah salah satunya. Meskipun belum keluar hasil investigasi resmi, dan Rusia juga tidak mengakui, terang saja ini adalah bagian dari pertarungan geopolitik dunia kontemporer.

Sergei merupakan eks intelijen Rusia yang pernah dipenjara akibat ketahuan bermain mata dengan Inggris. Dia dibebaskan setelah ada pertukaran tahanan mata-mata antara Amerika Serikat dan Rusia karena Inggris mendesak supaya Skripal diikutkan dalam program itu.

Terkait hal ini wajar saja kalau Rusia masih memantau aktivitasnya.

Bagi Rusia yang paling utama adalah keamanan negaranya (national security). Bagaimana informasi yang classified tidak bocor keluar serta misi negara untuk melindungi segenap warga dan teritorialnya tercapai.

Ini relevan dengan konsep ahli geopolitik awal abad 21 Sir Halford MacKinder bahwa barang siapa yang bisa menguasai Heartland akan mengontrol dunia.

Sebab area itu mempunyai sumber daya yang cukup melimpah. Dan sebagian besar wilayah inti dunia tersebut saat ini dikuasai oleh Rusia.

Dengan menguasai wilayah penting itu Rusia sebagai pelanjut Uni Soviet masih berdiri dengan gagah, termasuk berpengaruh terhadap konflik dikawasan lain. Dan lagi – lagi berseberangan dengan musuh pendahulunya.

Misalnya saja dalam konflik yang melanda Suriah saat ini. Bashar Assad dalam sebuah pidatonya secara verbal menyatakan terima kasihnya pada Rusia, Iran dan Cina. Artinya, Assad disokong oleh negara-negara tersebut dalam menyelesaikan konflik berdarah di negaranya.

Sementara blok barat misalnya Amerika dan Inggris juga berperan dalam konflik yang berada di Suriah. Dengan modus untuk “menghajar ISIS” mereka juga menurunkan pasukannya di medan laga.

Hal ini tentu saja akan mengganggu langkah-langkah yang dilakukan oleh Assad dalam meredam konflik tersebut. Ini belum lagi tudingan penggunaan senjata kimia oleh Assad yang kalau terbukti akan membuat Inggris berkonfrontasi langsung dengan pemerintahan sah Suriah.

Kalau hal itu sempat terjadi tentu Rusia sebagai aliansi Suriah tentu tidak akan tinggal diam.

National Interest

Ketegangan ini juga berkaitan dengan kepentingan nasional (national interest) negara mereka masing-masing.

Dengan pindahnya mantan agen Rusia tinggal di Inggris tentu merupakan suatu keuntungan bagi Inggris dalam mengakses informasi mengenai rencana – rencana Rusia dalam dunia internasional. Sebaliknya kerugian bagi Rusia karena sebagai mantan pejabat tinggi militer Sergei bukanlah orang sembarangan.

Kalau dikaitkan dengan konflik Suriah diatas tidak mungkin negara-negara besar berseteru kalau mereka tidak mempunyai kepentingan didalamnya. Hal ini dapat berupa akses terhadap sumber daya yang ada di Suriah, atau paling minimal merebut Suriah masuk kedalam pengaruh blok mereka.

Yang pasti, bagi negara barat khususnya Inggris, kepentingan mereka dalam Suriah adalah untuk menahan laju imigran akibat perang. Semakin banyak imigran masuk ke negaranya tidak hanya akan menyebabkan masalah demografi, tapi juga ekonomi dan sosial.

Persoalan lainnya yang melibatkan kedua negara beserta bloknya adalah Krimea. Inggris jelas mendukung Ukraina ketika bentrok dengan Rusia sehubungan dengan isu teritorial tersebut. Kalau Krimea sah dianggap sebagai bagian dari Ukraina maka secara tidak langsung Inggris telah berhasil dalam memperlemah posisi Rusia di kawasan Eropa Timur.

Rusia tidak tinggal diam. Berbagai usaha dilakukan Kremlin dalam menekan Ukraina untuk memastikan Krimea tetap berada di wilayahnya. Sejauh ini masih berhasil walaupun ketegangan masih melanda kawasan tersebut.

Perseteruan akibat kecelakaan Sergei Skripal ini tampaknya masih akan panjang. Harapannya Inggris tidak jadi memboikot piala dunia. Sayang juga kalau tidak menyaksikan kick and rush style ala Inggris di perhelatan sepak bola akbar itu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.