Locita

Andai Saya Seorang TKI

DALAM mencapai tujuan apa-apa dalam hidup ini, sebetulnya ada begitu banyak pilihan. Manusia bisa menentukan caranya sendiri agar bisa mencapainya. Apa pun itu dan bagaimanapun caranya.

Sebagai makhluk yang dikarunai akal oleh Tuhan, soal yang baik dan buruk, menguntungkan atau tidak menguntungkan, mendatangkan kebaikan atau keburukan seharusnya tidak menjadi suatu masalah. Itu lumrah muncul sebagai hasil proses berpikir dari akal tadi, sebelum akhirnya ditindaklanjuti dalam suatu tindakan yang nyata.

“Lagipula sebentar lagi kau kan akan lulus sekolah. Impianmu boleh jadi terhambat oleh pekerjaanku yang hanya mencangkuli sawah setiap hari dengan keuntungan tak menentu. Aku pun tidak ingin menjadi orang tua durhaka dengan membiarkanmu menjadi apa yang disebut orang-orang sebagai pengangguran terpelajar. Jalan satu-satunya untuk menutupi pintu neraka orang tuamu ini adalah dengan membuatnya merasa bangga serta bahagia, kau mesti bekerja. Tapi tidak dengan menanamkan kakimu ke dalam lumpur kotor. Kau harus memiliki pekerjaan lebih baik. Membebaskan nasib keluargamu yang terkungkung dalam lingkar proletar,” ujar seorang bapak kepada anaknya.

“Tapi pak, saya harus bekerja apa ?” tanya sang anak.

“Kau tidak usah bingung. Biarkan keahlianmu membawamu pada pekerjaan. Kalau kau punya suatu keahlian, jangan sia-siakan, apapun itu. Jadikan ia sebagai suatu keuntungan. Entah kau punya bakat mengusir sarang tawon atau menjinakkan ular sawah, kalau kau buatkan tarif khusus untuk itu, otomatis itu akan menjadi suatu pekerjaan. Kau harus tahu, saat ini, sulit menyelesaikan sebuah masalah tanpa suatu imbalan. Jadi, kau pun harus pintar membaca setiap masalah sebagai peluang,” kata sang bapak.

“Tapi pak, bukankah dalam ajaran agama, kita sebagai sesama harus saling menolong?” tanya sang anak.

“Kau boleh berkata seperti itu, tetapi dalam kenyataan tidak demikian.”

“Lupakan perihal tenggang rasa kalau kau tidak mau di cap pengangguran.”

“Nak, sekarang ini zaman edan. Agar bisa bertahan hidup, kau dituntut untuk memiliki sikap perhitungan. Prinsip money oriented itu penting agar kau tidak terdepak dalam kehidupan ini,” jawab sang bapak.

“Wah, pak, saya tidak mau di cap kapitalis!”

“Bukan kapitalis, itu rasional. Lagipula, tindakan yang tidak berdampak apa-apa bagi orang yang melakukannya justru lebih bahaya. Kaupun tahu akibatnya apabila tujuan yang begitu dielu-elukan tidak tercapai!”

Sang anak hanya terdiam tanpa melontarkan sepatah kata apapun. Ia mengerti, sebagai seorang anak, dalam situasi pembicaraan seperti ini, kebenaran berpihak pada yang lebih tua. Tidak ada kuasa apapun untuk bisa menang berdebat dengan orang yang lebih tua, apalagi orang tua sendiri.

“Satu hal lagi, dalam menghadapai dunia kerja nanti yang penting yaitu kau harus mengerti dan menguasai teknologi. Wajib hukumnya di era saat ini. Itupun kalau kau juga tak mau di cap ndeso. Tetapi itu juga sebenarnya pilihan. Kalau pun kau tak berkeinginan untuk mengerti atau karena kebodohanmu sendiri sehingga tidak bisa menguasai, itu bukan masalah, kau pun tidak perlu merasa minder.”

“Lho, kenapa?”

“Kau mesti membuka kepala secara terbuka. Orang-orang yang tidak mengerti teknologi atau menolak kemajuan sejatinya tidak selalu merupakan orang terbelakang. Coba lihat orang-orang suku pedalaman yang masih teguh hidup dengan adat budayanya. Mereka orang-orang luar biasa. Kita harus berterima kasih. Apalagi di zaman serba modern sekarang ini. Karena berkat jasa mereka, budaya nenek moyang nusantara kita dahulu masih tetap lestari sampai sekarang. Kalau bukan karena keteguhan masyarakat yang menjaga adat-istiadat kebudayaannya itu, Presiden Jokowi sudah pasti tidak bisa berfoto ria dengan topi pandan khas Raja Ampat, Papua, yang terpakai di kepalanya saat datang berkunjung ke bumi cendrawasih lalu. Semestinya pemerintah memberikan penghargaan atas dedikasi mereka.”

“Akupun sering merasa resah mendengar kisah hutan-hutan yang menjadi sumber penghidupan suku-suku pedalaman di Indonesia yang semestinya dilindungi oleh pemerintah–justru dihancurkan atas dalih pembangunan–sungguh balasan yang buruk dan tak bisa disebut manusiawi dari sebuah negara kepada warganya.” Kata sang bapak melanjutkan.

“Begitulah jadinya, ketika rasio telah mematikan segalanya. Boleh dibilang kasih budi kita kepada sesama hari ini sangat langka.”

“Jadi kau tidak usah risau. Ketidaktahuanmu pada teknologi sedikit tidak menaikkan derajat kemanusiaanmu.”

“Baik. Jadi bagaimana? setelah kau lulus nanti kau mau kerja apa?” Tanya sang bapak.

“Apa ya, pak? Saya mau jadi TKI saja pak.” Seketika saja ucapan sang anak tersebut langsung membuat si bapak tertegun.

“Lho, kamu kok malah ngawur? Mau jadi babu negara orang? Kamu tidak lihat berita-berita di TV sudah berapa banyak orang yang harus jadi korban karena menjadi TKI.”

“Tidak, Pak. Saya hanya mencoba menjadi rasional,” jawab sang anak.

“Kamu ini bagaimana? Kan, masih banyak pekerjaan lain yang bisa digeluti, kok, malah mau jadi TKI? Bapakmu ini bangganya dari mana kalau kamu menjadi TKI.”

“Saya pun sebenarnya ingin sekali membantu bapak melanjutkan kerja sebagai petani. Tapi lihat, Pak, sawah-sawah bapak dan milik warga sekitar sudah mulai merasakan sesak. Kiri-kanan, utara dan selatan dari petak tanah palawija yang luasnya tak seberapa itu dihadang oleh deretan bangunan perumahan megah dan mewah. Saya pun tidak yakin sawah bapak akan bisa bertahan lama. Pastilah juga ia sudah merasa pasrah, tidak ingin dicangkuli lagi dan merelakan pabrik industri berdiri.”

“Selain itu, apa daya pula yang bisa dilakukan dengan mengandalkan pendidikan yang hanya tamatan usia sekolah dua belas tahun?” Kata sang anak. Untuk kedua kalinya sang bapak dibuat tertegun.

“Lagipula menjadi TKI itu gajinya lumayan, lho Pak.”

“Kamu jangan sok tahu kalau belum jadi TKI deh!”

“Dari testimoni seorang kawan di desa sebelah yang sudah tiga setengah tahun merasakan hidup sebagai kuli TKI di negeri jiran, gajinya bisa mencapai 4 juta/bulannya. Dibandingkan UMR pekerja dalam negeri seperti Alfam**t atau Indom**t), kalah jauh lho, Pak. Kalau tiga tahun saja saya menjadi TKI seperti kawan tersebut, kan, lumayan. Sekarang coba deh bapak pikir-pikir, saya lebih bisa buat bangga bapak menjadi TKI atau sebagai karyawan supermarket?”

Berbicara hal ihwal keuntungan yang ini, sudah pasti sang bapak mulai tersudut. Ia tidak tahu bagaimana mengguggat rasionalitas sang anak tersebut.

“Jadi, kalo saya mau jadi TKI bagaimana, Pak ?

“Ya, bagus kalo begitu,” jawab sang bapak.

Afthon Ilman Huda

Rakyat Biasa

1 comment

Tentang Penulis

Afthon Ilman Huda

Rakyat Biasa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.