Locita

Sekali Goyang Tobelo, Dua Tiga Rindu Terlampaui

SEJAK setahun belakangan saya mulai bekerja di Balai Rehabilitasi BNN Baddoka, Makassar, Sulawesi Selatan. Saya bertugas sebagai konselor yang bertanggung jawab untuk perawatan rehabilitasi sosial residen.

Orang –orang dengan gangguan penyalahgunaan yang dirawat di dalam Balai Rehabilitasi disebut residen. Di dalam Balai Rehabilitasi, setiap residen wajib mengikuti program yang ada untuk membantu proses pemulihan dari ketergantungannya.

Di antara seluruh program yang ada, saya selalu suka kegiatan pada Jumat pagi. Hal ini karena kantor mengadakan kegiatan senam pagi setiap Jumat. Senamnya cukup serius karena mengundang instruktur dari luar. Semua residen juga selalu menunggu kegiatan ini.

Selain karena dapat berolahraga, juga ini adalah aktivitas paling lama residen dapat berada di luar ruangan. Kegiatan ini juga menjadi ajang penghiburan bagi para residen untuk mengekpresikan diri mereka.

Selama kira–kira sejam, residen akan melakukan senam pagi di lapangan. Tentunya dengan pengawasan ekstra ketat dari Major On Duty bekerjasama dengan security yang bertugas. Diawali dengan doa, dan akan diakhiri pula dengan doa.

Pakemnya selalu sama. Gerakan senam di awal pasti memilh “Senam Jantung Sehat“. Setelah itu, pilihan senam bervariasi tergantung selera instruktur senam yang memimpin. Tetapi ada beberapa lagu rutin yang biasanya menjadi request residen untuk melanjutkan kegiatan senam pagi seperti “Telolet“ atau “Nasi Padang“.

Tetapi lagu yang paling sering di-request setiap Jumat pagi adalah Goyang Tobelo. Siapapun instruktur yang hadir pada saat itu dan darimanapun asal residennya, Goyang Tobelo selalu menempati tempat teratas dalam tangga lagu request senam pagi di Balai Rehabilitasi BNN Baddoka.

Lagu yang dipakai pada Goyang Tobelo berjudul “Hioko Tobelo” dan dinyanyikan oleh penyanyi yang sudah cukup terkenal sejak saya masih kecil, Yopie Latul, yang juga mendendangkan lagu “Poco-Poco”.

Di tulisan ini saya bukan mau melakukan komentar terhadap musikalitas sebuah lagu yang dijadikan gerakan senam. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang tersebut. Saya lebih ingin membahas perasaan residen ketika mendengarkan lagu ini.

Awalnya saya menganggap lagu dari salah satu daerah di Maluku Utara ini di-request hanya karena enak didengar dan para residen hapal dengan liriknya. Saya bahkan sempat kepo sepopuler apa goyang ini di internet. Kemudian saya jadi tahu bahwa beberapa tokoh masyarakat dan pejabat dari daerah Maluku sempat terekam memperagakan Goyang Tobelo ini.

Setelah beberapa kali hadir dan melihat ekspresi residen ketika sing along sambil bergerak mengikuti instruktur yang ada di depan, saya menjadi paham mengapa lagu ini menjadi request paten residen di Balai Rehabilitasi Baddoka. Rindu.

Rasa itulah yang dirasakan oleh residen ketika mendengarkan lagu ini. Hal ini paling jelas terlihat pada lirik, Kita di sini tahan rindu mama e, pulang ke kampong. Bisa dipastikan ketika lirik ini yang terdengar, seluruh residen yang hadir pasti ikut meneriakkan kalimat ini dengan ekspresi wajah yang bermacam–macam.

Ada yang matanya berkaca – kaca, ada yang menerawang, dan ada pula yang tersenyum. Jauh di dalam sana, kita bisa merasakan kerinduan yang tertahan.

Ada yang bilang bahwa musik adalah sesuatu yang universal. Hal ini terbukti pada lagu “Tobelo” tadi. Darimanapun asal residennya, requestnya tetap lagu ini. Alasannya karena di lagu “Tobelo” inilah mereka meluapkan rasa rindu kampung halaman yang mengendap selama masa rehabilitasi.

Padahal saya tahu sebagian besar residen tidak benar paham arti keseluruhan dari lagu tersebut. Tapi berbulan – bulan menahan rasa rindu pada rumah, keluarga, dan sahabat yang jauh bahkan hingga ke seberang lautan semuanya dapat diwakili oleh sebuah lagu yang diputar setiap Jumat pagi saat kegiatan senam.

Disinilah letak nilai universalnya. Para residen berharap pesan rindu kepada kampong, rumah, orang tua, dan saudara semua dapat tersampaikan lewat sebuah lagu yang sebenarnya mereka hanya hapal satu lirik saja.

Tapi adakah yang lebih haru daripada rasa rindu yang datang ketika membayangkan indahnya kebersamaan dengan keluarga? Ketika mengenang masa kecil yang berbahagia bersama orang tua yang mencintai kita.

Lalu berharap jika program rehabilitasi nanti selesai kita dapat melanjutkan hidup bersama keluarga dengan lebih berbahagia lagi. Dalam lagu “Tobelo” inilah seluruh harapan para residen ini terpelihara.

Sekalipun banyak dari residen yang menjalani rehabilitasi mengakui bahwa sebelum masuk ke Baddoka mereka bukan orang yang dekat dengan keluarga. Mereka hanya pulang ke rumah jika butuh uang saja. Bahkan ada yang sudah tidak bertemu keluarga hingga berbulan–bulan.

Di dalam program, mereka belajar merasakan pentingnya keluarga, dan hanya keluarga yang mampu menerima dengan segala kekurangan yang dimiliki. Bahkan setelah semua perbuatan yang menyakitkan di masa lalu, selalu ada jalan pulang untuk kembali pada keluarga.

Dengan pemahaman yang baru tentang arti sebuah keluarga, rasa rindu para residen untuk segera bertemu keluarga semakin besar. Dan semuanya diluapkan di Jumat pagi dalam sebuah lagu yang sangat indah.

Lalu telepon genggam saya berdering. Terbaca satu nama dari layarnya. Ah, mungkin ibu saya pun rindu pada anaknya.

Prayuda Said

Owner Boeken Huis. Konselor Adiksi di Balai Rehabilitasi Narkotika BNN Baddoka

Add comment

Tentang Penulis

Prayuda Said

Owner Boeken Huis. Konselor Adiksi di Balai Rehabilitasi Narkotika BNN Baddoka

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.