Locita

Kim Jong Un dan Rumor-Rumornya

kim jong un

Sekilas kelindan bisnis media dengan kepentingan politik Barat.

Kim Jong Un mendadak ramai menjadi perbincangan di sosial media setelah beredar rumor tentang meninggalnya pemimpin Korea Utara tersebut usai menjalani operasi jantung. Di Twitter, tagar #KIMJONGUNDEAD menjadi nomor satu dengan lebih dari 500 ribu cuitan per hari Minggu, 26 April, pukul 12.00.

Media-media arus utama internasional tampak bersemangat memberitakan rumor tersebut meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Korea Utara, ataupun negara sahabatnya seperti Tiongkok. Spekulasi demi spekulasi terus diramu demi memenuhi kepentingan bisnis media yang berkelindan dengan kepentingan politik Barat.

Spekulasi tentang kesehatan Kim pertama kali muncul karena ketidakhadirannya pada ulang tahun sang kakek, Kim Il-sung, yang merupakan pendiri Republik Rakyat Demokratik Korea, atau sering disebut dengan Korea Utara, pada 15 April.

Media pemerintah Korea Utara terakhir kali melaporkan keberadaan Kim ketika dia memimpin pertemuan pada 11 April.

Namun pada Rabu, 23 April, portal berita Tiongkok memberitakan bahwa pemimpin Korea Utara mengirim pesan kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad berupa ucapan terima kasih atas catatannya tentang ulang tahun kelahiran kakek Kim.

The Pyongyang Times edisi Sabtu, 25 April, juga memberitakan bahwa Kim menyampaikan pesan untuk mengucapkan selamat atas ulang tahun Presiden Kuba Miguel Mario Diaz-Canel Bermudez yang ke-60.

Tak sabar dengan berita resmi, perusahaan media yang bermarkas di London, Reuters, dengan lancang membuat berita berdasarkan pencitraan satelit mengenai sebuah kereta yang terparkir di sebuah stasiun di Wonstan, yang diduga merupakan milik keluarga Kim Jong Un. Tetapi media itu sama sekali tidak bisa menunjukkan apa hubungan antara kereta terparkir dengan rumor kematian Kim.

Berita seperti Reuters inilah yang kemudian didaur ulang oleh berbagai media Barat, hingga diikuti oleh media-media Indonesia. Hingga tulisan ini ditulis, berita terpopuler nomor satu di portal berita Detik.com adalah mengenai isu ini.

Membicarakan kematian pemimpin tertinggi negara komunis yang memiliki senjata nuklir ketika sedang menjabat merupakan hal yang sangat penting bagi politik Barat, terutama bagi dedengkot anti-komunisme dunia, Amerika Serikat. Letak geografis Korea Utara yang berbatasan dengan Tiongkok dan Rusia, membuatnya semakin strategis untuk terus dipantau, apa lagi di tengah ketegangan politik antara AS dengan Tiongkok.

Di Indonesia, seperti juga di negara-negara didikan AS pada umumnya, sosok Kim Jong Un lebih sering menjadi bahan bercandaan ketimbang sosok yang dibenci seperti lazimnya pemimpin komunis, walaupun tendensinya tetap sinis. Mungkin karena wajah Kim yang “lucu” untuk ukuran pemimpin negara yang dianggap “seram” menjadi suatu nilai tersendiri. Beragam meme yang menampakkan wajah Kim menjadi bahan lelucon santai. Bahkan populernya sebuah merek pakaian Supreme—meski versi bajakannya–belakangan ini pun berkaitan dengan sosok Kim sebagai supreme leader, ditandai dengan dicetaknya potret wajah Kim pada produk pakaian tersebut.

Namun tidak sedikit juga orang Indonesia yang menyukai Korea Utara dalam sikap internasionalnya yang menentang imperium AS, apa lagi ketika lantang membela Palestina dari aneksasi Israel. Pada titik ini, pandangan konservatif Islam dalam masyarakat Indonesia yang membela Palesina atas nama persaudaraan sesama umat muslim, dan permusuhannya dengan AS atas gaungan islamofobia, bertemu dengan pandangan anti-imperialisme Korea Utara.

Meskipun sulit dimengerti, hal ini menjadi menarik mengingat di samping doyan membela apapun asalkan sesama muslim, masyarakat Islam konservatif Indonesia sudah terbiasa dengan doktrin antikomunis yang terus ditanamkan sejak masa pemerintah Hindia Belanda, diteruskan oleh pemerintah militer Jepang, disambung kembali oleh pemerintahan militer Orde Baru, dan didaur ulang oleh pemerintahan sipil hari ini.

Hanya sedikit pengetahuan publik mengenai bagaimana perjuangan sesungguhnya dari rakyat Korea Utara dalam memakmurkan kehidupannya. Hal itu sangat wajar mengingat sensor negara dan swasensor masyarakat menghalangi diskursus tersebut dengan sendirinya.

Tidak pernah muncul berita bahwa di bawah sanksi imperium AS, Korea Utara masih mampu bangkit dari krisis tahun 90-an dan memperoleh banyak pencapaian, di antaranya kesuksesan membangun nuklir untuk pertahanan, pertumbuhan ekonomi sebesar 3,6% di tahun 2016, dan pembangunan fasilitas-fasilitas teknologi dan perumahan untuk warga negara. Satu yang belakangan muncul adalah berita tentang keseriusan pemerintah Korea Utara dalam menghadapi pandemi Covid-19, itu pun ditekankan pada kedisiplinan perbatasan, dan tetap dengan judul bombastis “Cegah Corona, Korut akan Tembak Warga Cina yang Langgar Perbatasan“.

Perlu diingat bahwa dalam Perang Korea tahun 1950-1953, wilayah Korea Utara yang dikuasai kaum komunis menjadi wilayah paling hancur akibat serangan militer AS. Sebanyak 635.000 ton bom ditajuhkan oleh pesawat AS. Jenderal Angkatan Udara AS, Curtis Lemay, mengakui sendiri bahwa AS telah membunuh 20% dari total populasi Korea. Pasca-perang, 75% dari Pyongyang, ibukota Korea Utara, telah hancur, sehingga dapat dihitung jari jumlah gedung yang tersisa.

Profesor sejarah Korea, Charles Amstrong, dalam The Destruction and Reconstruction of North Korea, 1950-1960 menggambarkan  bagaimana kelas pekerja Korea Utara dengan cepat dapat membangun kembali kota-kota di atas puing-puing reruntuhannya dengan bantuan Uni Soviet, aliansi Eropa Timur, Tiongkok, dan Mongolia. Hal ini menandai ‘solidaritas sosialis internasional’ terbesar dalam sejarah.

Dengan penderitaan yang begitu dalam yang dialami oleh rakyat Korea Utara dalam sejarahnya, hari ini negara pekerja tersebut mampu bertahan dan berkembang untuk kemakmuran hidup rakyatnya. Kim Jong Un, yang hari ini memegang estafet kepemimpinan, sedang menjadi perhatian dunia yang bertanya-tanya akan kemanakah arah politik Korea Utara berjalan ke depannya. Semangat reunifikasi yang diharapkan oleh rakyat Korea masih terus bergulir, walaupun terhalang oleh ikut campur AS. Bagaimanapun kabar Kim kemudian mengenai kesehatannya, sudah semestinya jalur perdamaian dan menghormati negara satu sama lain selalu dijunjung tinggi, dan biarkan orang-orang Asia menentukan sendiri jalannya, tanpa dikelilingi pangkalan militer pihak luar.

Mochamad Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Alumni Sastra Rusia Unpad, anggota GMNI, bekerja sebagai media analyst di Jakarta.

Add comment

Tentang Penulis

Mochamad Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Alumni Sastra Rusia Unpad, anggota GMNI, bekerja sebagai media analyst di Jakarta.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.