Locita

Pertumbuhan Buruh Upahan Perkotaan di Masa Kolonial Serangkaian pemogokan terjadi selama kurun waku 1920-an, puncaknya pada pemberontakan PKI 1926.

foto: www.google.com

Jumlah pekerja di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan angkatan kerja. Dalam sejarahnya, perbadingan pertumbuhan antara pekerja dengan angkatan kerja naik turun. Tapi dalam kurun waktu 2014-2018, berdasarkan data dari BPS, jumlah pekerja tumbuh lebih cepat.

Pekerja, atau buruh, di Indonesia, seperti umumnya di dunia, paling banyak berada di kawasan perkotaan. Mereka tersebar dalam berbagai bidang dan jenis pekerjaan. Dari mulai tukang, pegawai kantoran, pekerja bengkel, hingga pedagang. Urbanisasi dan lesunya perekonomian di desa yang terus berlanjut hingga kini masih menyebabkan migrasi penduduk dari desa ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Pada paruh kedua abad ke-19 jumlah penduduk di Indonesia, yang masih bernama Hindia Belanda, jauh belum sepadat seperti sekarang ini. Kota-kota besar seperti Batavia, Surabaya dan Surakarta bahkan jumlah penduduknya tidak jauh di atas 100.000 jiwa. Terdapat juga enam kota dengan populasi sekitar 50.000 sampai 100.000. Kota-kota lainnya di Jawa mempunyai populasi yang bervariasi, dari 5.000 sampai 50.000. Hal ini menandakan bahwa migrasi dari desa ke kota belum begitu masif.

Perubahan yang signifikan terjadi sejak ekspansi perekonomian kolonial tahun 1870-an, dengan dibukanya keran modal pribadi. Sejak itu bumi Hindia menyaksikan perkembangan jaringan perkeretaapian yang berlangsung cepat, pembangunan pelabuhan modern, kemunculan industri-industri permesinan dan industri-industri jasa.

Pertumbuhan populasi kota-kota Hindia Belanda yang berkesinambungan terjadi seiring dengan berubahnya fungsi ekonomi di Jawa. Fungsi ekonomi utamanya adalah untuk memperdagangkan hasil bumi di pasar-pasar internasional. Untuk menopang kegiatan tersebut, dilakukan industrialisasi yang terbatas untuk sekadar menyediakan perlengkapan yang penting untuk ekspor perdagangan hasil bumi sepeti teh, kopi, lada, dan gula. Bersamaan dengan itu dibangun juga industri-industri yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan penduduk kota.

Seperti dicatat oleh John Ingleson dalam Perkotaan, Masalah Sosial & Perburuhan di Jawa Masa Kolonial (2004), pada tahun 1915 terdapat 1.823 pabrik dan bengkel milik pribadi di Jawa yang mempekerjakan 49.000 buruh. Di antaranya 7.606 buruh bekerja di industri pencelupan batik dan pencelupan kain; 7.220 buruh bekerja di pabrik konstruksi, peralatan listrik, pembuat mesin, peleburan logam, industri reparasi dan penempaan besi; 5.318 buruh di pabrik percetakan dan penjilidan buku’ 4.169 di pabrik pembuatan ubin, barang-barang tembikar dan batu bata; 3.810 buruh di industri kereta api dan kereta listrik; 3.684 buruh di industri pembuatan kapal; 3.593 buruh di pabrik-pabrik pembuatan perabot rumah dan kayu.

Bandingkan dengan kondisi jauh setelah Perang Dunia I, yaitu di tahun 1942 di Hindia Belanda–yang akan segera berganti nama dan penguasa–terdapat 5.470 pabrik dan bengkel yang mempekerjakan 350.000 buruh. Dan 70% dari buruh tersebut berada di Jawa.

Kemunculan Pekerja Terampil Indonesia

Dengan perkembangan dan pembangunan yang besar, perekonomiam menjadi lebih kompleks. Hal ini membuat permintaan akan pekerja terampil dan tenaga ahli menjadi tinggi. Di Jawa pada awal abad 20 terjadi kekurangan pekerja terampil. Sedangkan mendatangkan tenaga ahli dari Eropa begitu mahal, belum lagi stabilitas ekonomi negara-negara Eropa sedang porak-poranda akibat berkecamuk Perang Dunia I. Di samping itu, tekanan dari kaum liberal di parlemen Belanda yang menjamur setelah publik Belanda memperoleh informasi tentang kondisi kehidupan para penduduk Hindia, mendorong Pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan Politik Etis, salah satunya dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk kaum pribumi.

Selama Perang Dunia I (yang sebetulnya lebih tepat disebut Perang Eropa), pemerintah kolonial kesulitan mendatangkan guru-guru untuk sekolah-sekolah dagang yang telah didirikan di tiga pusat utama: Batavia, Semarang dan Surabaya. Kesulitan itu membuat rencana ekspansi ekonomi kolonial sempat tertunda. Baru setelah perang, kegiatan pendidikan berlanjut dan pembukaan sekolah-sekolah baru menjamur.

Sekolah tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu pekerjaan perkayuan dan logam. Masing-masingnya menerima anak-anak berusia 13-17 tahun yang telah menyelesaikan Sekolah Rakyat Kelas Rendah atau pendidikan yang setara. Para lulusan sekolah inilah yang nantinya mengisi pos-pos menejerial di pabrik-pabrik.

Pekerja Berserikat

Banyaknya jumlah pekerja tidak disertai dengan kesejahteraan pekerja, terutama bagi pekerja ras pribumi. Sistem kolonialisme membedakan besaran gaji berdasarkan ras. Pekerja Eropa tentu dibayar lebih tinggi. Belum lagi dengan pergolakan sosial di Hindia dengan munculnya koran-koran tandingan yang menyuarakan aspirasi-aspirasi kaum pribumi atas ketidakadilan pemerintah kolonial. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan para pekerja pribumi. Ketidakpuasan tersebut terwujud dengan masifnya para pekerja yang mendaftar ke serikat buruh dan melakukan pemogokan demi memenuhi kebutuhan hidup layak.

Serikat buruh yang paling menonjol adalah Serikat Buruh Kereta Api dan Kereta Listrik (VSTP). Didirikan oleh 63 buruh Eropa, VSTP pada gilirannya berkembang menjadi serikat buruh pribumi, berkat pengaruh Henk Sneevliet yang mendorong VSTP untuk terbuka bagi seluruh kalangan, termasuk untuk posisi kepemimpinan eksekutifnya.

Pada akhir tahun 1914, Semaun bergabung dengan VSTP, yang kemudian diangkat menjadi salah satu pemimpinnya. Sampai tahun 1920, VSTP memiliki 93 cabang di seluruh Jawa. Puncaknya pada tahun 1923 organisasi tersebut memiliki 13.000 anggota yang mewakili seperempat buruh kereta api dan kereta listrik Indonesia.

Serangkaian pemogokan terjadi selama kurun waku 1920-an, puncaknya pada pemberontakan PKI 1926 yang mengandalkan kekuatan buruh-buruh yang terorganisir. Hal ini membuat pemerintah kolonial kerepotan dan mengambil langkah represif. Di samping itu keberadaan serikat buruh yang kuat di Hindia memunculkan harapan bagi kaum nasionalis untuk melawan kekuasaan kolonial Belanda dengan lebih radikal berlandaskan kesadaran kelas.

 

Mochamad Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Anggota GMNI, lulusan Sastra Rusia Unpad.

Tentang Penulis

Mochamad Luqman Hakim

Mochamad Luqman Hakim

Anggota GMNI, lulusan Sastra Rusia Unpad.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.