Locita

Pernikahan (Bugis-Makassar) Tanpa Pesta, Memungkinkan? Gengsilah yang membuatnya rumit

Mungkin. Iya mungkin. Kenapa tidak. Alghifari Jassin, teman saya membuktikannya dua hari lalu. Ia menikahi Feranda, kekasihnya. Seorang perempuan yang masih berdarah Makassar. Suatu suku yang terkenal di Indonesia Timur yang terkenal dengan budaya dan tradisinya yang kental, yah termasuk tradisi pesta pernikahan mewah. Dan oh….Tentu saja uang panaiknya (mahar) itu.

Alghifari-Feranda membalikkan semua kondisi itu. Sebuah hal yang nyaris tidak mungkin dilakukan oleh seorang keturunan leluhur Makassar, pun begitu Bugis. Pernikahannya yang saya tahu dari Instagram (ig) Story dari teman-temannya yang juga beberapa adalah teman-teman saya. Beberapa diantaranya bahkan hanya mencopot dari Ig story yang lain.

Berbeda dengan ucapan selamat biasa yang biasanya hanya basa basi seperti semoga samawa, samara, atau semoga cepat dapat momongan, ucapan selamat atas pernikahan Alghifari-Feranda diiringi ucapan salut, keren, dan iri. Beberapa menyebutnya pernikahan indie. Sebuah pesta pernikahan yang tidak merepotkan banyak orang. Tidak ada undangan, foto prawedding, catering, sewa gedung, MC, dan nyanyian seperti layaknya di banyak pesta pernikahan.

Pernikahan mereka memang mengagumkan. Dalam artian yang lain, pernikahannya berbeda daripada umumnya alias anti mainstream. Pernikahan yang tidak biasa. Tidak biasa bukan karena uang panaiknya yang ratusan sampai miliaran.

Banyak rujukan cerita, pernikahan Bugis-Makassar menjadi viral dan disorot karena besaran yang panaiknya bisa menembus ratusan juta. Lalu media mem-blow up menjadi berita heboh yang harus dibaca. Yah membaca jumlah uang panaiknya berapa dan barang apa lagi yang diserahkan serta mengulik siapa sepasang pengantin. Biasanya antara seorang kakek atau anak orang kaya dengan seorang perempuan biasa tapi masih muda atau seorang anak pejabat.

Seperti biasanya, media akan memberitakan bahwa pernikahan itu tidak semata-mata dilandaskan karena tingginya panaik. Decak kagum netizen pun mengiringi. Sayangnya, beberapa di antaranya berakhir dengan ketukan palu pengadilan karena cerai. Dan mereka yang pernah selangit memuji-muji cinta tidak memandang usia seolah-olah tidak pernah berkata demikian.

Meski demikian, saya tetap meyakini bahwa keputusan mengadakan pesta pernikahan tanpa pesta bukanlah keputusan yang begitu saja lahir dari mereka berdua. Proses menuju keputusan itu tidak lahir dari ruang hampa begitu saja. Mereka telah menimbang-nimbang reaksi macam apa yang akan muncul. Apa kata orang-orang. Apa pikiran-pikiran orang-orang di sekitarnya yang biasanya begitu cerewet, kepo, dan menyebalkan. Berupa-rupa fitnah bisa saja muncul begitu saja. Menggelinding seperti bola salju. Semakin besar dan liar.

Pertam, pastinya mereka menghadapi dirinya sendiri. Mereka harus berpikir berulang-ulang, berdebat dengan pikirannya sendiri. Dapatkah mereka menekan ego masing-masing. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Bukan permainan yang bisa diulang sesuka hati. Seorang hanya ingin terjadi sekali seumur hidupnya. Oh oke beberapa mungkin memang berniat menikah lebih dari sekali. Tetapi tentu Alghifari-Feranda bukan bagian dari beberapa itu.

Entah siapa yang mula-mula punya ide. Bagaimana mereka membincangkan dan mendiskusikan satu dari yang lain. Kata-kata dan argumen yang mereka yakinkan satu sama lain. Alghifari mungkin memang punya bakat untuk itu.

Alghifari, saya mengenalnya sebagai seorang idealis yang selalu ingin merdeka. Ia adalah mahasiswa. Bukan mahasiswa biasa. Ia seorang demonstran. Pemimpin demonstrasi. Kata-katanya menggelegar dari balik toa tanpa takut. Ia sangat ekspresif. Ia seorang sastrawan dan selalu membaca puisi seolah-olah WS Rendra. Penampilannya mungkin memang seperti Rendra.

Selanjutnya, perlu mereka yakinkan sesudahnya adalah keluarga. Mula-mula adalah keluarganya sendiri. Lalu keluarga ke masing-masing calon. Mungkin ada pertentangan-pertentangan. Ada beberapa yang menerima dan ada beberapa yang kukuh menolak. Bahkan mungkin sampai kini. Tetapi setiap keputusan berbeda yang diambil memang demikian adanya. Akan selalu ada yang setuju dan ada yang tidak. Kita memang tidak memiliki kewajiban membuat semuanya setuju.

Hal menarik lainnya adalah mahar. Sederhana. Alghifari melamar kekasihnya dengan sebuah buku dan seperangkat alat salat. Yah hanya itu. Sesederhana itu. Dan SAH. Mereka telah menyatukan ikrar secara agama dan hukum. Mereka malah pulang dengan naik pete-pete (sejenis angkutan kota di Makassar).

Seorang mengunggah hasil perbincangan dengan seorang kawannya yang lain.
“Mereka telah meredam gengsi masing-masing.” Kurang lebih begitu.
Gengsi orang tua? Bukan. Gengsi om dan tante? Bukan sepenuhnya. Gengsi masyarakat.

Lalu, apakah mereka yang mengadakan pesta salah? Tentu saja tidak. Tidak ada yang salah. Tepatnya mungkin kurang bijak jika menyebutnya salah. Hanya saja Alghifari-Feranda telah membuktikan bahwa pernikahan tanpa pesta bermewah-mewahan mungkin saja terjadi di masyarakat yang semakin hari semakin tinggi gengsinya. Dan segala hal dilakukan demi memenuhi standar masyarakat yang tidak ada ujungnya.

Sayang, Alghifari-Feranda bukan pasangan selebritis sehingga kisahnya tidak diliput dan menjadi viral. Mungkin media memang lebih suka memviralkan yang tinggi uang panaik dan mewah pestanya. Mungkin…

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.