Locita

Menyoal Tingkat Capaian Pendidikan Kita

Kebijakan Indonesia dalam hal anggaran pendidikan, dengan mewajibkan pengalokasian anggaran minimal sebesar 20% dari jumlah anggaran total merupakan salah satu bentuk keberpihakan dan dukungan nyata untuk peningkatan pelayanan dan kualitas pendidikan. Namun, setelah beberapa tahun kebijakan tersebut  diterapkan, jika dilihat dari hasil survey PISA dan TIMSS ternyata masih menunjukkan bukti sebagaimana diharapkan.

Laporan berjudul Growing Smarter-Learning & Equitable in South Asia & Pacific yang dirilis World Bank pada Maret 2018 yang lalu menempatkan Vietnam beberapa tingkat lebih tinggi pada tingkat capaian pendidikan dengan perolehan skor 525 dibandingkan Indonesia yang hanya meraih skor 403. Padahal, prediksi Bank Dunia berdasarkan jumlah pendapatan per kapita penduduk, Vietnam dengan GDP sebesar US$ 5.668 hanya akan meraih skor 394 dan Indonesia dengan GDP sebesar US$ 10.385 akan meraih skor 422 (World Bank, 2018).

Pemeringkatan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penilaian kemampuan peserta didik pada jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)  dengan menggunakan metode survey the Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trend International Mathematics and Science Study (TIMSS). Hal tersebut sangat menarik untuk diperhatikan, bukan hanya karena rendahnya posisi Indonesia dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, namun juga mengingat hasil yang ditunjukkan PISA dan TIMSS pada rilis sebelumnya dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan kuat bagi pemegang kebijakan (policy maker) untuk melakukan perubahan pada kurikulum yang digunakan, yaitu KTSP menjadi K-13.

Berkenaan dengan hal-hal di atas, sebuah pertanyaan yang diajukan adalah, apakah ada korelasi positif antara tingkat pendapatan atau anggaran yang disediakan dengan tingkat capaian dalam pendidikan? Tingkat capaian pendidikan yang dimaksud bukan berkenaan dengan tingkat dalam arti jenjang pendidikan yang sudah berhasil diraih, melainkan tentang tingkat kemampuan dalam hal penguasaan kompetensi pada domain kognitif, utamanya pada bidang studi Matematika dan Sains.

Harapan sebenarnya, dengan besarnya alokasi anggaran yang disediakan untuk pendidikan serta tingginya tingkat pendapatan penduduk akan berbanding lurus dengan tingginya tingkat capaian pendidikan yang akan diperoleh. Namun ternyata, fakta menunjukkan hasil berbeda. Porsi anggaran pendidikan yang besar dan tingkat pendapatan penduduk yang  tinggi ternyata bukan penyebab utama (main factor) yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan tingkat capaian pendidikan sebagaimana diharapkan, pun dengan perubahan kurikulum yang telah dilakukan. Entah waktu implementasinya yang masih dirasa kurang, entah ada faktor lain.

Menurut hemat penulis, bahwa masalah sebenarnya adalah bukan pada usaha penguasaan kompetensi, melainkan pada tingkat penguasaan pengetahuan pada kompetensi tersebut. Rendahnya capaian tingkat pengetahuan pada skala kemampuan berfikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) yang ditargetkan, bisa dijadikan salah satu sebab. Kendala yang sering dihadapi peserta didik ialah, meskipun ketika di kelas ia mampu memahami suatu pengetahuan yang disampaikan dengan contoh-contoh yang disajikan, namun kesulitan dan bahkan gagal untuk memahaminya kembali ketika diberikan tugas dengan mengambil contoh operasi/penerapan dalam bentuk lain.

Pembelajaran yang diterapkan mungkin hanya menargetkan sebatas pada kemampuan mengingat dan memahami contoh yang disajikan serta melakukan pemecahan masalah yang serupa dengan apa yang sudah dicontohkan tersebut. Dengan kata lain, peserta didik hanya diarahkan pada usaha untuk mengikuti langkah tertentu yang disediakan untuk menuju tujuan, tanpa ia tahu secara benar cara kerja, hubungan dan pengaruhnya dengan elemen lainnya, sehingga ketika ia menemukan situasi dan kondisi yang berbeda dengan apa yang pernah dicontohkan, ia akan bingung dan bahkan tidak mampu untuk mengaplikasikan apa yang sudah pernah ia pelajari sebelumnya pada kondisi tersebut.

Selanjutnya, jika kita melihat data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebutkan bahwa pada 2016 lalu, terdapat 41. 218 guru yang mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) ulang, karena perolehan skor pada UKG sebelumnya belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan, yaitu 80 sehingga dalam ujian ulang tersebut kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan sebelumnya diturunkan menjadi 65. Kondisi ini pun bisa menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat capaian pendidikan yang diperoleh peserta didik. Tak bisa dipungkiri bahwa guru selalu memainkan peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Strategi apapun yang digunakan dalam pembelajaran, pada jenjang manapun pembelajaran diterapkan, guru selalu memiliki peran signifikan bagi kesuksesan capaian pembelajaran, baik sebagai penyampai konten pembelajaran, pendamping pembelajaran, meupun sebagai konsultan pembelajaran

Jumlah guru yang mengikuti UKG ulang tersebut memang bukan jumlah cukup besar sebenarnya, jika dibandingkan dengan total jumlah guru yang mencapai 2.919.325 orang. Namun, akan cukup  besar dampaknya jika dilihat dari jumlah peserta didik yang dibelajarkannya.

Oleh karena itu, harapan akan peningkatan tingkat capaian pendidikan sebagaimana diharapkan hanya akan bisa direalisasikan dengan terlebih dahulu menyadari bahwa situasi dan kondisi di lapangan yang semakin kompleks dan semakin cepat berubah tidak hanya menuntut penguasaan suatu kompetensi tertentu, namun juga tingkat kapabilitas yang tinggi, yaitu kemampuan mengembangkan kompetensi yang dimiliki dan mengaplikasikannya pada beragam situasi dan kondisi yang beragam.

Kemudian, perlu perhatian serius untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kualitas bagi guru, calon guru dan peserta didik tanpa harus meletakannya ketiganya pada skala prioritas yang berbeda. Hal tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar holistik dan terintegrasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka meraih tingkat capaian pendidikan yang lebih tinggi sebagaimana diharapkan.

Keberhasilan dalam pendidikan selalu diukur berdasarkan tingkat capaian yang diperoleh peserta didik. Adapun capaian pembelajaran yang diperoleh peserta didik secara langsung maupun tidak langsung mesti bergantung pada bagaimana cara guru membelajarkannya, dan kemampuan  guru dalam membelajarkan peserta didik mesti didapat dari beragam pengalaman dan proses yang telah dilalui saat masih menjadi calon guru.

Wallahu a’lamu bishshawab

Muhammad Ridha

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Ridha

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.