Locita

Bayang-Bayang Konservatisme dalam Arus Moderasi Islam

Konferensi Internasional Al-Azhar 2020 di Mesir (foto: Arabic.cnn.com)

Grand Syeikh Prof. Ahmad Tayyib membacakan sebuah deklarasi yang digadang sebagai moderasi Islam dunia, Selasa (28/01/2020). Ada 29 rumusan hasil dari Konferensi Internasional Al-Azhar di Nasr City, Kairo, Mesir tentang pembaharuan pemikiran Islam (al-tajdid fii al-fikr al-islami). Diikuti oleh cendekiawan muslim dari 41 negara termasuk Indonesia, seperti Prof. Quraish Shihab, Prof. Din Syamsuddin dan TGB. H. Muhammad Zainul Majdi.

Sebetulnya, apa yang dibacakan rektor Al-Azhar University tersebut ialah ialah rangkuman isu dalam Islam tak yang kunjung usai; tentang khilafah, dalam deklarasi tegas bahwa khilafah adalah produk sejarah yang sudah purna sejak masa sahabat Nabi alias sudah tak cocok lagi pada masa sekarang, pun tak diatur di Al-Quran dan Sunnah. Negara menurut Islam ialah negara-bangsa modern yang demokratis-konstitusional (al-daulah al-wataniyah al-dimuqratiyyah al-dusturiyyah al-haditsah).

Soal kafir-mengkafirkan, dibacakan gamblang; “al-takfir fitnah ibtaliyat biha al-mujtama’ qodiman wa haditsan”. Mengkafirkan orang lain adalah musibah yang dialami umat Islam dari dulu hingga sekarang. Begitu pula soal mengucapkan selamat kepada non-muslim saat perayaan ialah salah kebajikan yang musti diserukan umat Islam, yang menghukumi haram merupakan kelompok ekstrim yang kaku dan eksklusif.

Tak luput juga menyoroti konsep warga negara (citizenship/muwatanah), korupsi, narkoba, pariwisata, perlindungan benda kepurbakalaan, isu gender, sampai menyinggung tentang hoaks. Nyaris semuanya memberi angin sejuk tentang kemajuan, pembaharuan dan moderasi pemikiran Islam.

Catatan kritis

Pada deklarasi poin ke-9, menganggap atheisme sebagai bahaya yang mengancam stabilitas kehidupan beragama. Sekilas nampak it’s okey. Namun jika dibaca lebih lanjut, bahwa atheisme (dan padanannya) dianggap suatu alat perang pemikiran yang bersembunyi dibalik kedok “kebebasan beragama” yang mengancam keberadaan agama. Meski diakui bahwa ia adalah efek langsung dari ekstrimisme dan terorisme atas nama agama. Namun dikatakan lagi; “tastahibu al-adillah al-aqliyyah wa al-barahin al-kauniyyah wa nataij al-ulum al-tajribah al-haditsah

Bahwa kelompok atheisme mempersenjatai diri dengan dalil-dalil rasional, bukti alam, dan produk sains empirik modern sebagai bahan dialog dan kampanye untuk mengikis keimanan terhadap eksistensi Tuhan.

Banyak yang perlu dikritisi dari poin ini. Pertama, Islam seolah justru menciptakan gap dengan menempatkan suatu kepercayaan (atheis) sebagai musuh. Sikap ini justru dapat menimbulkan tindakan intoleransi oleh Islam sebagai mayoritas dan atheis sebagai minoritas.

Kedua, seakan menyempitkan makna “kebebasan beragama”, sebagai bentuk setiap orang harus memilih agama. Tidak beragama, tidak bertuhan, dianggap bentuk kejahatan, ancaman, dan bukan dari komunitas masyarakat beradab. Jelas ini keliru dan dapat meruntuhkan visi moderasi itu sendiri.

Ketiga, persoalan lawas; yakni titik temu sains dan agama yang simpang siur. Penemuan-penemuan sains modern kerap kali menjadi ancaman agama, sedangkan ulama Islam menghalau hanya dengan – memaksakan – “mengislamkan” produk-produk sains dengan “klaim” bahwa semua hasil sains sudah ada dalam Al-Quran. Padahal dua hal berbeda. Sains sebagai produk akal manusia melalui tindakan ilmiah, sedangkan Al-Quran ialah petunjuk yang bersifat spirituil, berkebalikan dengan sains.

Keempat, yang cukup krusial, kata atheisme dipadankan dalam bahasa Arab sebagai ilhad. Kata ini berakar dari alhada. Muncul dalam surat Fusilat ayat 40; “Innaladzina yulhiduuna fii ayatinaa…”. kata ini sangat berkonotasi negatif. Pada tafsir Al-Tabari ayat itu ditafsirkan sebagai orang-orang yang berpaling dari kebenaran Tuhan serta mendustakanya.

Ada juga yang mengartikan kata Ilhad sebagai kaum musyrik, kafir, dan tak mau menerima kebenaran Islam. Jelas apa yang dimaksud dengan atheisme/agnostik di masa modern ini tidak kompatibel dengan penggunaan kata ilhad yang dari dulu bermakna negatif.

Mengubur konservatisme

Berdasar keempat catatan itu, bahwa salah satu poin dalam deklarasi itu memboncengi aroma konsevatisme dan pobhia terhadap suatu realitas masyarakat. Barangkali ini juga linier dengan fenomena di Arab, dimana muncul tren anak muda Arab yang memilih hidup sebagai non-religion atau atheisme.

Akan tetapi itu tidak dapat menjadi pijakan untuk melakukan tindakan “memusuhi” suatu keyakinan masyarakat. Sebagai sebuah ciri pandangan konservatif ialah sukar menerima suatu hal yang baru dan memusuhi sesuatu yang dianggap mengancam eksistensi pemahaman yang telah mapan.

Sedangkan visi islam moderat jelas mengedepankan dialog, dan tidak berwatak arogan, egois, dan offensif. Moderasi Islam haru mengubur dalam-dalam bibit-bibit konservatisme, meski pembaharuan pemikiran tidak melulu semua mengganti semua dengan yang baru, serta membuang semua hal yang lama.

Pembaharuan maupun moderasi Islam ialah upaya merestorasi corak dan watak Islam agar menjadi medium terdepan dalam visi humanisme universal dan perwujudan keadilan sosial masyarakat dunia tanpa memandang latar belakang agama, kepercayaan, suku, ras, gender, atau gap apapun.

Ariful Anam

Ariful Anam

Pengajar | Ketua Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) kab. Kediri | Penyuka isu sosial-kultural | Penikmat kopi

Tentang Penulis

Ariful Anam

Ariful Anam

Pengajar | Ketua Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) kab. Kediri | Penyuka isu sosial-kultural | Penikmat kopi

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.