Locita

Putri Handayani: Gunung Tertinggi, Balas Budi Hingga Pedalaman Papua yang Menyedihkan

Putri Handayani

KESENJANGAN pendidikan di tanah Papua dirasakan betul seorang Putri Handayani saat mendaki puncak gunung Carstensz di Papua. Banyak anak-anak Papua khususnya yang di pedalaman, terpaksa tidak bersekolah karena terbatasnya sarana dan pra sarana pendidikan.

Celakanya, tidak hanya bangunan berupa sekolah, guru maupun staf pendidik umum juga nyaris tidak ada. Setelah menginjakkan kaki di puncak pegunungan Carstensz pada 2016 itu, ia memutuskan menambatkan mimpinya yang telah lama dicitakan di tanah Papua.

Ia hendak mendirikan sekolah alam di Pegunungan Tengah, salah satu desa terdalam di negeri ini.

“Saya sering naik gunung, tapi Papua beda banget. Miris padahal masih indonesia loh,” tutur Putri ketika menceritakan kepada saya awal keputusannya mendirikan sekolah alam di Papua.

Putri bersama anak-anak yang bermukim di wilayah Pegunungan Carstnesz, Papua. Putri akan mendirikan sekolah alam di wilayah ini, Oktober 2018. (Foto: Tim Jelajah Putri)

Memang telah lama, Putri menganyam mimpinya hendak membangun sekolah di pedalaman Nusantara. Barulah setelah menemukan sebuah desa yang terletak di kawasan Pegunungan Tengah Papua itu, dia memutuskan segalanya. Bahkan demi mewujudkan cita itu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai financial controller di sebuah perusahaan minyak multinasional tak lama setelah mendaki Carstensz.

Kini seolah mimpinya menapak satu anak bebatuan, mimpi yang dia rajut mendirikan sekolah sebagai caranya membayar kebaikan orang di masa lalu.

“Saya sering naik gunung, tapi Papua beda banget. Miris padahal masih indonesia loh,” tutur Putri ketika menceritakan kepada saya awal keputusannya mendirikan sekolah alam di Papua.

***

Rambutnya berwarna hitam, panjang menjuntai hingga ke punggung. Anting-anting besar menghiasi telinganya. Malam itu di sebuah resto di Kemang Village, Jakarta Selatan saya menemui Putri. Wanita yang rela meninggalkan karirnya di perusahaan asal Prancis demi naik gunung, dan membangun sekolah.

Putri duduk hanya semeter di hadapan saya dengan mengenakan kaos berwarna cokelat dan jogger pants berwarna putih. Cuaca Jakarta yang dingin akhir-akhir ini, membuatnya membiarkan sehelai syal cokelat membungkus lehernya.

Jika menyaksikan bentuk tubuhnya, mata Anda akan tertipu. Anda tak akan menyangka jika wanita bertinggi sekitar 156 cm, adalah satu wanita Indonesia yang berhasil menapakkan kakinya di puncak tertinggi Indonesia, Gunung Carstensz.

Tak hanya itu, wanita asal desa Perbaungan Sumatera Utara ini, juga telah menaklukkan berbagai puncak dunia termasuk Ama Dablam (6.812mdpl) gunung yang diakui oleh pendaki dunia lebih menantang dibanding Everest.

Perempuan yang bernama lengkap Diansyah Putri Handayani, ini juga tengah bersiap menjadi orang Indonesia dan perempuan Asia Tenggara pertama yang menyelesaikan ekspedisi The Explorers Grand Slam. Ekspedisi yang harus mendaki 7 puncak gunung yang terletak di 7 benua, dan 2 kutub. Misi pendakian yang sampai sekarang hanya berhasil dipecahkan oleh 58 orang di seluruh dunia, dimana 14 di antaranya adalah perempuan.

The Explores Grand Slam yang dirancang Putri akan selesai pada 2019. Kini menyisakan empat gunung tertinggi dan dua kutub lagi yaitu: Aconcagua di Argentina, Denali di Amerika Serikat, Vinson Massif di Antartika dan Everest di Nepal.

Keempat gunung tersebut akan melengkapi perjalanan Putri di puncak lain yaitu Kilimanjaro di Afrika, Carstensz Pyramid, di Indonesia dan Elbrus di Rusia.

Jika berhasil Putri akan menjadi perempuan Indonesia pertama yang mendaki tujuh puncak gunung tertinggi dunia. (Foto: Tim Jelajah Putri).

Di tengah-tengah persiapannya di Indonesia sebelum berangkat ke Aconcagua, Argentina, Januari mendatang. Saya berkesempatan menemuinya malam itu, Rabu, (20/12/2017). Berikut hasil wawancara saya:

Bisa Diceritakan bagaimana awalnya sehingga mulai menyenangi aktivitas pendakian?

Kalau dulu sih waktu kecil itu ikut kegiatan pramuka, camping, berjelajah terus naik Gunung Sibayak. Sebenarnya gak suka, walaupun gunungnya hanya ketinggian 2000 mdpl tapi untuk anak 13 tahun kan kayaknya, wah banget. Kita bangunnya jam tiga pagi, kaki sampe keram-keram loh pokoknya gak suka banget.

Eh, pas sampai puncak ada kawah belerang, kita masak telor dan direbus hingga matang, ditambah ada matahari terbit, yang bagi anak 13 tahun itu keren banget. Akhirnya momen itu paling teringat sampai sekarang.

Kapan kecintaan terhadap gunung mulai muncul?

Sejak usia 13 tahun itu hingga kuliah selain aktif sebagai ketua di Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil, BEM FT UI, saya bergabung juga di Kamuka Parwata (KAPA), klub pecinta alam di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).

Kecintaan itu terus berlanjut selepas kuliah?

Iya, jadi sambil bekerja saat sebelum mulai proyek ini (Seven Summit) kalau sedang berlibur saya pergi mendaki seperti ke Indonesia di Rinjani, Semeru, terus waktu mutar-mutar saya ke Jepang naik gunung Fuji terus ke Inggris, Switzerland, dan Himalaya (Pokalde, Lobuche dan Ama dablam).

Putri dan salah satu gunung tertinggi (foto: Tim Jelajah Putri)

Selain gunung tertinggi di dunia, gunung tertinggi apa yang pernah didaki di Indonesia?

Ada 5 dari 7 puncak Indonesia, yaitu Carstensz Pyramid, Kerinci, Rinjani, Semeru dan Latimojong.

Mengapa meninggalkan pekerjaan demi mendirikan sekolah di Papua?

Jadi sebenarnya gak tiba-tiba. Saya sering pulang balik Dubai-Jakarta untuk mengurusi tapi saya putuskan untuk resign agar fokus. Proyek ini tagline-nya mendaki dan berbagi. Orang sering nanya kenapa tiba-tiba.

Yah, nggak tiba-tiba ini tuh sudah berakar dari sejak saya kecil. Saya berasal dari desa dan sudah harus keluar dari rumah sejak kecil karena kondisi desanya, banyak orang yang ngebantuin gitu karena memang orang tua gak mampu membayar biaya sekolah. SMP saya tinggal bersama bibi dan SMA hingga kuliah dapat beasiswa.

Jadi Anda ingin membalas bantuan itu?

Saya mengambil contoh diri saya sendiri, kalau dulu tuh saya gak dibantuin mungkin saya gak akan jadi seperti sekarang ini. Saya merasa kita butuh bukan hanya giving back, tapi pay forward

Tapi kenapa memilih Papua?

Sebagai pendaki biasanya memang kondisi di sekitar gunung mengkhawatirkan, kalau seperti Semeru dan Rinjani not too bad. Tapi begitu saya ke Papua waktu mendaki Carstenz tahun 2016 beda banget.

Padahal sebelum ke sana kan sudah sering lihat fotonya dan lihat di Youtube ada perasaan emosional ada perasaan yang tersentuh. Jadi memang sesuatu harus kita saksikan sendiri, agar bisa benar dekat secara emosional. Memang pantaslah difokuskan ke sana (pembangunan) karena mereka sangat butuh.

Saya mengambil contoh diri saya sendiri, kalau dulu tuh saya gak dibantuin mungkin saya gak akan jadi seperti sekarang ini. Saya merasa kita butuh bukan hanya giving back, tapi pay forward

Di perjalanan hidupnya Putri juga mengalami bantuan dari banyak orang agar bisa mengenyam pendidikan. Pada usia 10 tahun dia harus meninggalkan desanya dan menumpang di rumah bibi agar dapat melanjutkan sekolah menengah. (Foto: Oji)

Bagaimana perkembangan sekolah itu?

Jadi kalau dari segi infrastruktur sementara didesain. Kita mau bikinnya sekolah alam, tetap dekat dengan alam sehingga inisial desainnya bikin sekolah baru, tapi tergantung pembicaraan dengan pihak sponsor lagi apakah mau pakai punya mereka.

Kita targetnya ada tujuh rumah belajar, belum ditentukan apakah sekolah sistem hub dengan tujuh sekolah, ataukah anak-anaknya kita asramakan karena desa mereka berjauhan.

(Putri membuka laptop-nya kemudian memperlihatkan kepada saya foto-foto perjalanannya. Wajahnya tampak bahagia menjelaskan berbagai perjalanan yang telah ia lakukan hingga tiba di Papua)

Kapan sekolah ini beroperasi?

Targetnya sekolah alam Oktober 2018. Tapi kan programnya ada satu lagi kelas inspirasi. Ini akan jalan lebih dahulu, kelas inspirasi ini tujuannya agar anak-anak bisa bermimpi yang besar, gak mesti di bidang pendakian, bidang apa saja yang penting menginspirasi mereka. Jadi sesuai keinginan saya mendaki dan mendidik bisa sejalan.

(Putri tiba-tiba mengangkat sebuah panggilan di handphone-nya. Dia mengobrol lantas menutup panggilan tersebut, rupanya ajakan untuk segera bergabung dengan temannya untuk nonton)

Bagaimana dengan sponsor, seperti apa bentuk dukungan yang telah diraih?

Belum ada yang final masih obrolan-obrolan. Cuma sekitar dua bulan lalu presentasi ke Ikatan Alumni (Iluni) UI dan oke, programnya dibawahi mereka saja, jadi sekarang konsolidasi panitia.

Alhamdulilah, di bawah Iluni UI banyak yang bantuin jadi gak sendiri lagi, mereka juga tertarik karena visi sosialnya dan relevan dengan pengabdian masyarakatnya. Kalau ngobrol di sana dibilangin, wah ini ketua bidang Sosma bukannya udah selesai masa kepengurusannya ya? (tertawa).

Sekolah alam dan Kelas Inspirasi ini hanya di pedalaman seperti Papua?

Saya lihat di kota kayak kemarin waktu diajak bicara Tempo di kota sudah sangat banyak event. Sementara anak-anak pedalaman jarang, mereka yang dekat gunung itu sendiri saja tidak pernah naik gunung. Jadi saya mau menginspirasi dengan berekspedisi di pedalaman dulu.

Seperti apa ekspedisi yang bermuatan pembelajaran itu?

Karena saya engineer makanya kelas inspirasi itu nantinya dipaket berdasarkan ekpedisi, enginering dan teknologi. Jadi walaupun nanti misalnya kita bawa mainan, mainan itu yang nanti bercerita inspirasi tentang, saya engineer dan saya mountainer.

Nah, ini kak putri nanti bawa mainan, tapi semua mainan itu berbau STEM (Science, Technology, Egineering, Mathematic) untuk ini mungkin kolaborasi sama Indonesia Mengajar.

Saya juga sementara menyusun buku ilustrasi, jadi nanti tidak pakai proyektor tapi kita bercerita menggunakan buku itu.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Add comment

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.