Locita

Perwakilan IDI Mahesa Paranadipa: Tidak Ada Punishment yang Membuat Jera

PEKERJA perempuan jauh lebih mudah dilecehkan secara seksual dibanding laki-laki. Pekerja perempuan umumnya lebih rentan karena dianggap kaum yang lemah. Cosmopolitan pernah mengangkat temuan bahwa satu dari tiga perempuan Indonesia, pernah mengalami pelecehan seksual di tempatnya bekerja.

Namun, pelecehan seksual baik di tempat kerja, lingkungan rumah, ataupun di fasilitas umum seperti kereta dilakukan pada wanita dalam kondisi sadar. Bagaimana jika pelaku kejahatan seksual ini berkeliaran di dunia kesehatan? Pelaku memanfaatkan kelemahan korban, saat berada dalam pengaruh obat bius.

Berbagai riset yang mengungkap tingginya angka pelecehan seksual di Indonesia. Menunjukkan betapa tragedi pelecehan ini kian dekat dengan kehidupan kita. Kali ini dari dunia medis yang merebak.

“Pelecehan seksual umumnya terjadi di tempat kerja, lingkungan rumah, maupun di fasilitas umum. Bagaimana jika pelaku kejahatan seksual ini berkeliaran di dunia kesehatan?”

Jumat pagi, 26 Januari 2018, sesorang berinisial J dicokok polisi di sebuah kamar hotel. Pria paruh baya yang berprofesi sebagai perawat ini dicurigai melakukan tindak pelecehan seksual kepada pasiennya.

Ia kini telah ditahan oleh pihak kepolisian resor Surabaya. J sengaja menginap di sebuah hotel, untuk menghindari petugas setelah sehari sebelumnya meminta maaf pada korban yang dia lecehkan. Hal tersebut tentu melegakan, namun tidak menyelesaikan masalah, bisa saja kasus serupa terjadi di rumah sakit lain, dengan korban berbeda.

Bagaimana organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memandang hal tersebut? Apa sanksi bagi dokter maupun perawat, serta dampaknya jika sang pasien tidak melapor?

Berikut wawancara saya bersama Ketua bidang Keorganisasian dan Sistem Informasi Kelembagaan IDI, dr. Mahesa Paranadipa terkait pelecehan seksual yang menimpa pasien di rumah sakit National Hospital, Surabaya:

Bagaimana batasan antara tindakan medis dengan pelecehan seksual?

Pertama harus di-clear kan dulu istilah petugas medis. Isilah petugas medis hanya diperuntukkan untuk dokter dan dokter gigi, jadi kalau bicara soal tenaga medis berarti dokter dan doker gigi. Sementara yang di Rumah Sakit di Surabaya itu perawat yang mengerjakannya.

Tindak pelecehan seksual itu tidak mengenal petugas medis atau bukan, pokoknya tindakan itu sudah masuk pada pidana umum. Secara etik mau dia doker, perawat, atau bidan pastinya melanggar etik.

Tapi perawat bisa saja sedang melakukan tindakan medis?

Kalau bisa dibuktikan ada SOP (Standar Operasional Prosedur) bahwa laporan itu harus diterapkan kepada pasien, ngapain, di ruang apa silakan saja, tapi kalau tidak bisa dibuktikan tidak ada SOP-nya itu salah.

SOP ini dikeluarkan oleh siapa?

SOP ini dikeluarkan oleh rumah sakit. Jadi misalnya contoh pasien yang akan dioperasi kan harus dibius dulu. Setelah dibius tidak boleh ada pemeriksaan meraba-raba. Kecuali yang melakukan itu dokter, misal pasien akan dioperasi pada saat diberikan obat bius, dan pasien setengah sadar maka dokter boleh melakukan pemeriksaan misalnya dengan pemeriksaan stetoskop. Itu untuk memeriksa detak jantung pasien.

“Kalau bisa dibuktikan ada SOP (Standar Operasional Prosedur) bahwa laporan itu harus diterapkan kepada pasien, untuk apa, di ruang apa silakan saja”

Pada saat dibius memegang bagian tubuh tertentu dilarang?

Konteksnya apa dulu, meraba payudara itu hanya boleh kalau konteksnya persalinan. Misalnya pasien akan melahirkan, pembukaannya sudah lengkap, agar proses persalinannya cepat, maka diinduksi. Induksi bisa dilakukan dengan obat atau dengan rangsangan, tindak memegang payudara itu tujuannya untu merangsang rahim ibu berkonstraksi.

Namun, itu untuk kondisi persalinan, tindakan lain bisa juga. Seperti jika pasien dicurigai ada kanker payudara, itu untuk pemeriksaan tapi kalau di luar itu untuk apa meraba-raba.

Apakah IDI mempunyai data berapa banyak pelecehan seksual yang pernah terjadi di dunia medis Indonesia?

Belum ada.

Data yang ada menyebutkn banyak korban takut mengungkap kejadian yg menimpanya. Apa yang harus dilakukan pasien atau petugas kesehatan jika mengalami pelecehan seksual di rumah sakit misalnya?

Jangan takut untuk menyampaikan keluhan ke bagian humas rumah sakit atau kepala puskesmas. Bisa juga langsung ke organisasi profesi seperti IDI atau asosiasi perawat seperti Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Apalagi jika sudah masuk tindak pidana umum.

Apa sanksi yang diberikan oleh PB IDI jika seorang dokter terbukti melakukan pelecehan seksual?

Dilihat dulu pelecehannya seperti apa, karena pelecehan seksual itu bisa hanya verbal, non-fisik. Kalau fisik bisa sanksi berat, yakni dicabut keanggotaannya.

Implikasinya?

Tidak bisa praktik dimana-mana.

 

TERKAIT KASUS PELECEHAN SEKSUAL NATIONAL HOSPITAL: Menyibak Tabir Kasus Pegang Tetek National Hospital

Apa tanggung jawab rumah sakit untuk kasus pelecehan seksual?

Kalau untuk rumah sakit kan di situ ada komite medik, itu tugasnya untuk mengawasi semua tenaga kesehatan khususnya pelanggaran di luar SOP yang dilakukan. Kalau sudah ada pelanggaran misal, meraba payudara di luar SOP-nya maka (pelaku) disanksi. Sanksi terberat tentu pemecatan, tapi itu kembali lagi aturan rumah sakit, kalau rumah sakit tidak ingin memecat itu kan dampaknya buat rumah sakit juga. Kredibilitas rumah sakit itu dipertanyakan.

Tips agar petugas kesehatan tidak tergoda jadi pelaku pelecehan seksual?

Patuhi sumpah profesi, kode etik, aturan internal fasiltas kesehatan (medical staff by law), pengawasan dari organisasi profesi, pengawasan dan dari dinas kesehatan.

Apa penyebab pelaku bisa berulang kali melakukan pelecehan seksual tanpa merasa jera?

Karena tidak ada punishment yang membuat efek jera. Harus ada sanksi tegas dari institusi & organisasi profesi. Harus juga dilaporkan ke pihak berwajib karena ini sudah tindakan kriminal umum.

Apakah korban dapat mengalami trauma berkepanjangan?

Iya, bisa.

(Baca juga: http://locita.co/esai/darurat-pelecehan-seksual-jakarta-hollywood-hingga-angelina-jolie)

Kepada pasien sendiri apa saran diberikan agar menghindari pelecehan seksual di pusat kesehatan seperti rumah sakit?

Pasien itu punya hak di dalam undang-undang praktek kedokteran untuk bertanya prosedur tindakan medis.

“Jangan takut untuk menyampaikan keluhan ke bagian humas rumah sakit atau kepala puskesmas. Bisa juga langsung ke organisasi profesi seperti IDI atau asosiasi perawat seperti Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).”

Contohnya?

Misalnya, tiba-tiba pasien disuruh buka baju, boleh tanya, dok tujuannya buka baju apa, sakitnya di dengkul ngapain buka baju.

Sakitnya di kepala ngapain buka baju. Pasien punya hak untuk bertanya.

Pasien berhak menolak?

Kalau misal jawaban dari dokter tidak memuaskan, pasien berhak untuk menolak. Tidak boleh ditakut-takutin. Pasien berhak untuk menolak atau menerima, dan itu ada dalam undang-undang kedokteran.

 

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

6 comments

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.