Locita

Ikhsan Asaad: Sosok Visioner di Balik Langit Biru Jakarta

“Kami ingin mendorong Jakarta sebagai ibukota negara yang langitnya biru, dan terang benderang,”

Itulah salah satu kalimat yang meluncur dari bibir Ikhsan Asaad, General Manager PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya), kepada para jurnalis.

Ia menyampaikan itu saat PLN Disjaya, yang dipimpinnya, meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) atas pelaksanaan konvoi kendaraan listrik yang digagasnya di jalanan Jakarta awal Oktober lalu.

Langit Biru Jakarta merupakan salah satu program yang digagas mantan General Manager Maluku-Maluku Utara ini sejak memimpin PLN Disjaya awal tahun 2017. Program ini digagasnya demi membuat Jakarta bebas polusi udara. Ia sosok visioner yang hendak mendorong penggunaan kendaraan listrik yang ramah lingkungan.

Tak hanya Langit Biru Jakarta, ia juga membuat program lain yakni Jakarta Terang Benderang. Ia menginginkan kota Jakarta tidak gelap di malam hari. Ia ingin agar setiap jalanan maupun taman dapat diterangi lampu.

***

Saya menemui pria yang lahir di Palopo 51 tahun lalu, demi menyerap informasi mengenai dua program yang diusungnya.

Program Langit Biru Jakarta serta Jakarta Kian Terang Benderang ini bahkan diharapkan menjadi pilot project bagi daerah lain untuk program hemat bahan bakar sekaligus mengurangi polusi udara.

Ikhsan menginginkan, program ini menjadi titik awal dari perubahan pola hidup masyarakat Indonesia, agar beralih menggunakan kendaraan listrik.

Selain itu ia mengingatkan Peraturan Presiden terkait larangan produksi mobil non listrik pada 2040 telah terbit.

“Kita harus beralih segera jika tidak mau ketinggalan,” tegasnya.

Saya menemui Ikhsan di ruangannya dua minggu lalu, Senin (6/11). Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, serta celana kain hitam sore itu.

Pria yang menjadi karyawan PLN sejak 1992 ini menjawab pertanyaan saya mengenai program prioritas PLN yang dipimpinnya. Sambil menyeruput teh hangat, obrolan kami berlangsung dalam diskusi yang menyenangkan. Sesekali ia melemparkan pujian tentang media kami yang baru seumur jagung ini.

Apa yang Anda harapkan dari penggunaan kendaraan listrik?

Polusi udara Jakarta ini sudah sangat bahaya. Kami ingin PLN menjadi pelopor kendaraan listrik agar langit Jakarta kembali biru dan bebas polusi.

Kami di PLN Jakarta ini memulainya dari karyawan sendiri. Semua karyawan dengan posisi setingkat manajer diwajibkan memiliki kendaraan listrik. Jadi, selain dipakai di rumah, juga di kantor.

Ikhsan Asaad merupakan General Manager PLN Disjaya yang tengah fokus menjalankan misi Langit Jakarta Biru dan Jakarta Kian Benderang (foto: Anggun)

Mengapa meluncurkan program Jakarta Kian Benderang dan Langit Jakarta Biru?

Waktu kecil itu saya suka menyanyikan lagu bintang kecil di langit yang biru, tapi sekarang anak anak saya di sini tidak bisa menyanyikan lagu itu. Mereka tidak pernah lagi melihat langit berwarna biru. Saya sampaikan ke Gubernur Anies, kita harus lakukan sesuatu.

Berarti penerangan di kota Jakarta tidak cukup?

Sebagai kota besar, penerangan Jakarta menurut saya tidak cukup. Contohnya saja Singapura itu menghabiskan sekitar 30-40 ribu Megawatt (MW), sementara kita masih 5 ribu MW. Padahal bisnis dan industri dari kota ini harus diterangi demi menopang perekonomian. Nah, program ini saling terkait.

Itulah tugas kami yakni bagaimana membuat langit Jakarta ini kian benderang namun tetap tidak menghilangkan langit biru Jakarta. Torotar, gang-gang  dan lorong itu kita ingin pasang lampu. Agar tidak hanya terang namun juga eksotis.

Kota ini kian menarik dan kesan Jakarta kota yang seram itu akan kita hilangkan. Apalagi tahun depan kita akan menyambut lebih 1.000 atlet Asian Games.

Dari segi daya bagaimana, apakah tenaga listrik cukup ketika melakukan penambahan?

Tidak ada kekhawatiran kekurangan daya. Berapapun yang dibutuhkan masyarakat, kami punya cadangan. PLTU Jawa-Bali ini kan 6000-7000 MW. Kalau malam beban Jakarta itu 4.900 MW, sementara siang pukul dua pas beban puncak mencapai 5.200 MW.

Artinya kami mau mendorong supaya Jakarta itu benar-benar city of light, trotoar dan taman itu bagus, banyak tapi tempat duduknya sepi karena lampunya redup-redup terus.

Setelah meluncurkan kedua program itu apa yang Anda lakukan?

Setelah diluncurkan kembali pada Agustus 2017, meski ini program lama sebenarnya, kami di PLN Disjaya coba mempelopori itu agar mengubah mindset warga Jakarta tentang kendaraan bermotor, serta bagaimana gedung-gedung hotel tidak menggunakan energi listrik lain misal genset yang mengotori langit.

Kami buat power bank berisikan gardu listrik yang bisa kemana-mana. Kendaraan listrik itu tahap awal saja, motor motor itu sekarang kami siapkan stasiun pengisian listriknya di area Jakarta. Saat ini sudah terpasang 620 Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU).

SPLU dimanfaatkan siapa? Bukankah kendaraan motor listrik belum banyak?

Awalnya digunakan buat bantu pedagang-pedagang kaki lima supaya tidak nyantol. Tidak mencuri. Itu kan sangat berbahaya. Disiapkan SPLU, mereka tinggal beli tokennya, selain berbahaya ongkos listrik mereka pasti mahal dibandingkan mereka pakai kompor listrik, kasian kan.

Sejauh ini bagaimana perkembangan membantu pedagang itu?

Sekarang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan penjual gorengan sudah pakai kompor listrik dan mereka isi di SPLU. Sudah sangat banyak. Apalagi kami sekarang mau kerjasama dengan mereka, Kami siapkan semua peralatannya yang full listrik, kompor induksi, coffee maupun juice maker sehingga mereka benar-benar bersih.

Kami dorong bank-bank untuk cairkan CSR-nya di situ bersama PLN. Supaya slogan listrik untuk hidup lebih baik bisa terwujud bagaimana supaya PLN ini dicari tidak hanya pas listrik padam (tertawa).

Ikhsan Asaad adalah alumnus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Ia bergabung dengan PLN pada 1992, menjabat GM PLN Disjaya awal 2017.  (foto: Anggun)

Program Langit Jakarta Biru seperti apa?

Jadi sekarang kami berusaha bagaimana terjadi perubahan gaya hidup masyarakat, terkait kendaraan listrik. Itu sudah lama tapi baru Agustus saya dorong lagi, termasuk kemarin kita raih MURI saat konvoi 200 motor listrik.

Persiapannya?

Dari sisi kesiapan infrastruktur SPLU 620 pada tahun ini akan kami tambah jadi 1.000. Kami akan dorong juga di luar Jakarta. Mungkin nanti kami berharap ada perubahan lifestyle saja orang tidak lagi kagok karena motor atau mobil listrik ini gak ada suaranya.

Harapan saya, gaungnya bisa besar. Pak Anies sudah minta dicarikan motor. Pak Menteri BUMN dan wakilnya juga sudah punya, bahkan Pak Sandiaga datang cari saya mau beli motor listrik. Kalau gak dimulai sekarang kapan lagi, tunggu 2040 itu sangat lama.

Bagaimana cara mempeloporinya?

Saya bilang bagaimana orang mau pakai kendaraan listrik kalau kita saja tidak pakai. Makanya, semua manager saya wajibkan untuk pakai dan punya kendaraan listrik.

Sekarang semua kendaraan operasional PLN Disjaya itu pakai  kendaraan listrik. (kendaraan) Ini yang ada tulisan listrik pintar itu, dipakai ke pelanggan semua full listrik bukan hybrid. Saya sudah minta ijin mau berikan Corporate Social Responsibility (CSR) ke Pemprov, kita mau kasi bis listrik sehingga bisa dipakai untuk bis pariwisata.

Anda ingin bus listrik digunakan di lingkungan pemerintah?

Iya. Harapan saya juga nanti bus Transjakarta. Saya sudah ngomong ke teman-teman perbankan agar CSR-nya mereka beli bus Transjakarta listrik saja.

Selain itu di kantor-kantor pemerintah maupun kementerian, semua sudah ada dan akan dipasangi SPLU. Ini sebagai bagian untuk kepeloporan supaya orang tidak ada keraguan lagi pakai kendaraan listrik.

Apa harapannya dengan kedua program yang tengah berjalan?

Kita berharap agar kepeloporan PLN Disjaya ini bisa diikuti oleh pemerintah. Misalkan pemerintah mendorong agar mengganti secara bertahap bus Transjakarta, bus Kopaja, maupun bajaj dengan kendaraan listrik. Untuk bajaj, kami rencanakan bertemu komunitasnya.

Kami ingin diskusi mengenai bagaimana memfasilitasi bajai itu agar bisa pakai listrik tapi butuh juga bantuan pemerintah dari Kementerian Perhubungan.

Apa keuntungan bagi pemerintah mendukung kedua program ini?

Efisiensi dan hemat polusi udara, bahkan juga gak ada (polusi) suara. Kalau bajaj kan berisik banget terus knalpotnya juga menyumbangkan polusi udara. Begitu pula Kopaja, Transjakarta.

Seberapa efisien kendaraan ini, bukankah ini jenis kendaraan mewah?

Yang mahal itu pajaknya karena kena pajak barang mewah. Harga motornya 16 jutaan. Mungkin kalau ada regulasi bisa murah karena dari segi operasinya sangat murah, karena cuma mesin saja kan gak pakai oli maupun bensin.

Kalau dayanya 2 KWH, itu sekitar 3.100 rupiah sudah mampu menjangkau 60 kilometer, di banding motor biasa, 60 kilometer itu menghabiskan lima liter.

Ada kemungkinan harga kendaraan listrik turun?

Bisa. Kita berharap dibebaskan dari pajak barang mewah, kemudian dikasih insentif. Jadi masyarakat bisa memilikinya. Sekarang ini masih terlalu mahal.

Program Anda menopang Peraturan Presiden (Perpres) terkait larangan kendaraan non listrik di Indonesia 2040?

Iya, tapi itu kelamaan. Kita harus bergerak segera, sebagaimana kota-kota lain di negara maju sana. Di Eropa bahkan ada kantor yang hanya menyediakan lahan parkir untuk kendaraan listrik. Makanya, saya wajibkan juga ke karyawan saya bisa cicil motor listrik. Kita kasih diskon. Kita bantu.

Bagaimana agar gaung penggunaan kendaraan listrik ini bisa terdengar masyarakat?

Makanya, kami minta semua media bantu, regulator juga dorong, bank sesama BUMN itu kita minta beli melalui CSR dijadikan kendaraan operasional, atau jika pemprov bisa ganti bisnya dengan mobil listrik.

 

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.