Locita

Ani Andayani ,Papua Punya Kekayaan Lain Buat Hapus Dia Punya Masalah

PAPUA ternyata memiliki potensi florikultura atau tanaman hias terbesar di Indonesia khususnya anggrek. Wilayah di ujung timur Nusantara itu menyimpan 2 ribu spesies anggrek, dari 5 ribu spesies yang ada di Indonesia.

Di negara lain seperti Thailand, Malaysia, Australia, dan Israel, hasil ekspor florikultura bisa berkontribusi terhadap PDB mereka hingga 40%. Dari 25 ribu spesies di dunia, mereka bisa menggerakkan perekonomian masyarakatnya dengan sangat baik.

Bandingkan dengan kita yang memiliki ribuan spesies anggrek, meskipun ada lima jenis bunga yang sekarang menjadi komoditas ekspor nasional yakni krisan, leather leaf, raphis exelsa (palem) dan melati tabur, volume ekspornya masih relatif kecil.

Saya menemui Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian Kementerian Pertanian, Ani Andayani di ruangannya, Selasa (14/3/2018). Pertemuan ini serupa diskusi yang menyenangkan, kami jadi belajar pertanian Indonesia, serta potensi dari tanaman-tanaman cantik, yang hanya mampu tumbuh di daerah tertentu, dengan perawatan khusus ini.

“Di negara lain seperti Thailand, Malaysia, Australia, dan Israel, hasil ekspor florikultura bisa berkontribusi terhadap PDB mereka hingga 40%. Dari 25 ribu spesies di dunia, mereka bisa menggerakkan perekonomian masyarakatnya.”

Ani–sapaan akrabnya–menyebut florikultura, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan untuk meraih pangsa pasar global, termasuk milik Papua. Papua menyimpan kekayaan yang tidak ternilai, dimana hampir separuh spesies anggrek Indonesia, berada di sana.

Namun, pengembangan florikultura tentu bukan tanpa masalah. Persoalan mendasar yang dihadapi lanjut Ani, ialah meningkatnya kerusakan lingkungan produksi dan perubahan iklim global, terbatasnya ketersediaan infrastruktur dan air, lemahnya sistem perbenihan nasional pada florikultura, serta keterbatasan akses petani terhadap permodalan.

Simak petikan wawancara saya, dengan Staf Ahli Menteri Pertanian yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Budidaya dan Pascapanen Florikultura, Kementerian Pertanian ini, di gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

Bisa dijelaskan apa tanaman florikultura itu?

Florikultura yang dulu, mudah dikenali sebagai tanaman hias, terdiri dari bunga potong, daun potong, tanaman pot, rumput dan bahkan termasuk tanaman hias air (UU no.10/2010 tentang hortikultura).

Tanaman hias dari jenis daun potong, di Indonesia sebagai negara tropis memiliki banyak potensi daun potong yang bisa dikembangkan dan berdaya saing baik sebagai komoditas ekspor.

Sejauh ini bagaimana perkembangan tanaman itu di Indonesia?

Pada periode 2010-2016 produksi dan produktivitas komoditas florikultura rata-rata sebesar 27 % per tahun, luas tanam meningkat 15 %, ekspor mencapai lebih dari US $ 20 Juta, dan penyerapan tenaga kerja mencapai lebih dari 0,75 juta orang (data dikutip dari Ditjen Hortikultura)

Pemerintah ingin mendorong florikultura agar lebih berkembang?

Komoditas florikultura secara umum mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan nilai usaha bagi pelakunya, karena margin profit yang bisa diraih relatif cukup tinggi, meskipun investasinya juga tinggi. Kemudian infrastruktur terkaitnya juga perlu berbagai pembenahan, mulai harus disiapkan dikala PDB Indonesia semakin membaik dimana saat itu nanti pangsa pasar komoditas estetika tentunya akan semakin meningkat.

Sampai saat ini sudah banyak pengusaha florikultura yang berhasil melakukan ekspor?

Sedikit. Yang saya tahu saat masih menjabat Direktur Florikultura, yang telah menembus pasar ekspor itu adalah krisan, leatherleaf, heliconia, raphis exelsa dsb dan anggrek dalam pot (masih belum berbunga).

Bila berhasil menembus ke pasar Jepang yang “strick” dalam standar, misalnya bunga potong krisan jenis spray sudah ekspor ke Jepang, maka negara lain akan menerima juga. Sehingga itulah strateginya, harus tembus pasarJepang dulu akan lebih mudah bagi pasar negara lainnya.

Berapa permintaan dari Jepang?

Saat itu sebagai contoh ada permintaan 300 ribu tangkai bunga potong krisan jenis spray per bulan, kini masih belum dapat dipenuhi. Kemudian anggrek dalam pot stadia belum berbunga juga masuk pasar Jepang puluhan ribu per minggu.

Bukankah Bunga Indah Malino pernah ekspor dan bagaimana kondisinya sekarang?

Bunga Indah Malino itu sedang memperbesar skala usahanya, seperti memperbesar luas lahan produksi, membangun greenhouse baru dan menjalin kemitraan dengan petani sekitar sebagai plasmanya. Kalau standarnya sih sudah bisa masuk, untuk Bunga Krisan Spray.

Sampai saat ini hanya Bunga Indah Malino yang bisa memenuhinya, meskipun masih jumlah terbatas. Masih ada peluang sangat besar. Kalau Krisan tidak seperti pada anggrek, tidak high cost dan relatif lebih mudah bagi petani tapi standarnya yang repot, ada kutu satu ekor saja langsung ditolak.

Pasar dalam negeri?

Sebenarnya konsumsi florikultura dalam negeri juga semakin tinggi, tapi di dalam negeri pasarnya tidak stabil. Kuota di luar negeri sangat besar dan stabil sehingga dengan dikelola berorientasi ekspor maka kita bisa meraih lebih banyak profit.

Ani dan Anggrek (foto: Ani Andayani)

Indonesia mempunyai spesies tanaman hias banyak, mengapa bisnis tanaman hias khususnya anggrek potong kurang berkembang?

Kendalanya ada pada masa pembungaan yang sangat lama, dimana sebenarnya anggrek bisa lebih cepat dinikmati hasilnya kalau melalui teknologi. Di Indonesia butuh satu atau dua tahun setelah penyilangan. Di luar negeri empat sampai enam bulan sudah bisa. Setelah saya tanya orang Jepang, ternyata ada beberapa step kita yang harus dikoreksi. Saya pernah mengajak pelaku usaha dan peneliti anggrek serta petani ke sana untuk belajar, maksud saya siapapun yang nanti menggerakan, bisa bersinergi supaya Indonesia punya suatu bisnis anggrek yang bernilai.

“Sebenarnya konsumsi florikultura dalam negeri juga semakin tinggi, tapi di dalam negeri pasarnya tidak stabil. Kuota di luar negeri sangat besar dan stabil.”

Apa yang dikehendaki dari kunjungan itu?

Saat saya masih menjabat Direktur Budidaya dan Pascapanen Florikultura, saya mendorong agar, anggrek itu, bukan poin pemikiran saya pribadi, tapi pemikiran bersama secara sinergi dari Tim Konsorsium Anggrek, bahwa sumber daya genetika anggrek di Indonesia sangat banyak, kita nomor dua setelah Brazil.

Jadi harus ada teknologi untuk menambah keunggulannya. Akan tetapi, ketersediaan benih anggrek unggul berkualitas belum mencukupi. Di Indonesia kita bisa belajar dari Jepang yang telah mampu dengan sistem “mericlone” dan mereka telah memanfaatkan teknologi itu untuk hasilkan anggrek lebih cepat berbunga.

Hasilnya?

Kami membentuk sebuah konsorsium anggrek yang anggotanya dari UGM, UI, Unibraw dan peneliti LIPI, anggrek kita bisa dikembangkan secara “mericlone” dan sangat mungkin untuk bersaing, dimana sumber genetikanya bisa eksplore dari Papua.

Bagaimana agar masyarakat bisa mulai menanam anggrek atau tanaman florikultura lainnya?

Jika masyarakat belum bisa mendapatkan skala bisnis, maka petani Indonesia bisa mencoba untuk menyatu dalam kelompok tani untuk usaha daun potong (yang banyak dipakai sebagai filler).

Banyak daun potong tropis yang diminati di luar negeri karena selain fungsi estetika, sebagai filler rangkaian bunga juga sebagai penyerap polutan sehingga udara sekitar semakin lebih sehat. Ratusan jenis florikultura pokoknya akan jadi bisnis masa depan.

Butuh waktu berapa lama sampai tembus pasar Jepang?

Lumayan lama, sebelumnya kami secara berturut-turut setiap tahun berpartisipasi dalam Flower Expo di sana yang diselenggarakan rutin setiap bulan Oktober. Mengajak beberapa petani bunga dari Bali, Bogor, Sulsel dan juga Banten. Kita sewa paviliun Indonesia, kemudian tampilkan florikuktura unggulan, dan berdaya saing, untuk pasar ekspor sebagai destinasi pasar harapan baru.

Hingga ada satu buyer yang kita deal di booth saat itu. Dia liat sample dan oke tapi akhirnya datang juga ke lokasi produksi untuk melihat langsung.

Jadi, trik menembus pasar ekspor, harus betul-betul siap dengan protokol ekspor negara sasaran, dan juga tidak kalah pentingnya ialah komunikasi, karena untuk ke Jepang saya kebetulan masih bisa lancar berkomunikasi dalam bahasa Jepang, sehingga selain kualitas produk terstandar, menjalin persahabatan dan trust itu maha penting.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Add comment

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.