Locita

Sehari Bersama Novi Wahyuningsih, Si Jutawan Muda Sederhana dari Kebumen

Novi membaca di atas kereta (Foto: Dhihram Tenrisau)

Novi Wahyuningsih (25), atau yang sering disapa Novi adalah perempuan  asal Kebumen yang telah mengembangkan karirnya dari usia 18 tahun hingga mampu menjadi direktur utama di beberapa perusahaan berbasis IT di Malaysia dan Indonesia.

Diantaranya, Direktur Utama PT. Wahyu Global Abadi, Direktur Utama PT. Callind Network International, Direktur Utama PT. Rise Solution International, dan Komisaris PT. Rise Halcyon Solution.

Perempuan ayu kelahiran Kebumen, 6 November 1991 ini juga pernah terjun di dunia politik. Ditandai dengan keseriusannya mencalonkan diri pada pemilihan legislatif (Pileg), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) 2014 lalu—­­untuk Dewan Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VII (Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara).

Novi menjadi salah satu calon legislatif termuda di Indonesia (20 tahun) saat itu. Meski gagal,  ia mendapatkan 43.000 suara. Angka yang cukup besar untuk usia yang belum banyak ditempa ujian dan pengalaman berpolitik.

Masih sangat muda dan sukses, namun untuk mencapai titik itu, Novi memiliki cerita perjalanan hidup yang berliku nan rumit. Semangat dan jiwa mudanya yang membara, serta keberanian mengambil keputusan menurut Novi adalah kunci dari semua pencapaiannya.

“Kuncinya adalah berani, Mbak, dan anak muda pasti punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dan utama,  doa restu orangtua. Saya mempertaruhkan itu,” ungkap lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dibesarkan di desa, ayah dan ibu Novi hanya pernah mengalami pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, Novi merasa memiliki peran besar untuk keluarganya.

Saat kuliah Novi mengaku hanya mendapatkan kiriman 200 ribu. Masuk ke semester dua, Novi bertekad menghasilkan uang sendiri dengan merambah dunia bisnis. Yang sekaligus menjadi titik balik hidupnya hingga ia membuat sebuah karya bernama Callind, aplikasi sosial media yang siap mendunia.

Berikut edisi Nimbrung saya bersama Dhihram Tenrisau mengikuti Novi, Kamis (14/9).

Pukul 08.00, Sarapan dan Meeting Bersama Rekan Bisnis

Saya tiba lebih awal di rumah makan Jawa, Pecel Pincuk (daerah Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan). Setengah jam kemudian Dhihram datang dengan rambut keperakannya yang acak-acakan. Sementara Novi masih bertaruh di atas ojek, menembus kemacetan Jakarta di pagi hari.

“Selamat pagi. Bagaimana kabarnya, Dek?” Pertanyaan dari perempuan berkulit sawo matang itu seolah kita telah lama berkenalan.

Saya tersenyum sambil memperkenalkan Dhihram. Novi saat itu datang nyaris tanpa polesan apapun, hanya gincu tipis saja di bibirnya.

“Ayo sarapan dulu, pesan aja, beneran, pesan yah,” pinta perempuan Jawa yang sepintas telah kehilangan bahasa Jawa ngapaknya.

Novi mengambil beberapa makanan Jawa yang satupun tidak saya tahu nama dan rasanya. Kecuali, nasil pecel.

“Ayo, mau makan apa? Biasanya, garang asem enak,” Ia memberikan saran sambil berlalu mengambil langkah ayunya. Tapi wasangka, ternyata perempuan penggemar motor besar ini pernah hobi adu motor di jalan.

Novi memberikan penjelasan mengenai startupnya kepada rekanannya (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Pagi itu, Novi bertemu dengan beberapa rekan bisnis yang juga berasal dari Kebumen. Dia sibuk menjelaskan lewat gawai dan layar Macbook Air-nya.

Di sisi kirinya terlihat segelas sari temulawak. Sayangnya meski duduk bersebelahan saya tidak mampu menerjemahkan 80 persen percakapan yang berbahasa Jawa itu.

“Tadi kita ngomong soal Callind, saya memaparkan produk ini seperti apa, fitur apa yang dipersiapkan,” tutur peraih Perempuan Inspiratif Nova ini.

Pukul 11.00 kami berangkat dari rumah makan menuju Rumah Jabatan DPR RI, masih di daerah Kalibata City.

Pukul 11.00 Silaturahmi dan Melepas Kangen dengan Luke

Taksi melaju dari Pecel Picuk menuju rumah Kompleks Rumah Jabatan DPR RI, Kalibata, Jakarta Selatan. “Kita ketemu sama Bang Asa dulu ya, kalian nggak apa-apa kan. Agenda saya padat loh,” tukas perempuan yang mengaku telah mendapatkan keuntungan sebesar 2 miliar di usia 19 tahun.

Selain merambah dunia bisnis, Novi juga menjadi salah satu kader di partai politik yang dinakhodai oleh Surya Paloh. Meski gagal di Pileg tahun 2014, Novi masih berkeinginan untuk belajar dan terjun di dunia politik. Asa a.k.a Andi Syoekri Amal ini adalah salah satu seniornya.

“Jadi silaturahmi aja sih sama Bang Asa dan Bang Ade kan. Sekalian minta nasihat-nasihatnya karena sama-sama di NasDem,” ungkap Novi sambil mengelus-elus sahabatnya, Luke.

Si kucing yang tampak begitu akrab dengannya. Di rumah itu hadir juga Ade Mohammad, koordinator tenaga ahli Prananda Paloh.

Novi dan Asa bermain-main dengan Luke, si kucing mainecoon. (Foto: Dhihram Tenrisau)

Percakapan itu memutar di politik, namun tidak ada yang begitu serius selain percakapan tentang bagaimana menurunkan berat badan. “Saya mau turunin berat badan loh, Bang. Kayaknya bagus,” tutur Novi kepada Ade.

Belum beberapa menit keinginan untuk menurunkan berat badan itu, Asa yang juga staf tenaga ahli dari Prananda Paloh ini telah menawarkan makan siang dengan menu makananan laut. Tawaran yang tidak bisa ditolak Novi sekaligus menggugurkan keyakinannya untuk langsing

Selain sukses di dunia bisnis, Novi juga memiliki network yang luas dalam politik. Pemahamannya tentang politik cukup luas. Menurutnya, kekalahannya saat di Pileg membuatnya banyak belajar.

Pukul 13.00, Silaturahmi dengan Amelia Anggraini (Anggota DPR RI)

Mobil melaju dari Kalibata City menuju Gedung Nusantara, Senayan. Beberapa titik kemacetan membuntuti kami, tidak ada jalan lain selain menikmatinya.

Lift meluncur menuju lantai 13, ruangan Amelia Anggraini, dari Komisi IX DPR RI yang juga berasal dari Dapil Jawa Tengah ini nampak kosong. Pun tidak ada tanda-tanda asisten ataupun staf yang bersedia membukakan kami pintu.

Seseorang datang dengan kepala yang agak plontos membukakan kami pintu. Sambil menunggu, saya sok tahu menanyakan urusan politik dengannya. Pertanyaannya sederhana, mengapa tertarik berpolitik?

“Dari 500 lebih legislator di Senayan, ada sedikit keresahan di hati saya. Kenapa tidak ada satupun putra daerah (Kebumen) yang berhasil duduk di DPR RI. Saya yang waktu itu merasa telah melewati dan beres dengan masalah finansial. Karena menurut saya ya, Dek, orang yang berpolitik itu harus sudah beres dari segi finansial. Dan namanya jiwa masih muda, keinginan juga pasti banyak,” ungkap Novi.

Novi berbincang dengan Amelia Anggraini (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

Pertanyaan lain terlontar dari Dhihram, “Kenapa waktu itu berani maju, Mbak, apalagi langsung di DPR RI ?”

“Gini, Mas, setiap orang punya ambisi, dan apa salahnya kita punya cita-cita. Kalau bisnis saya memang mendapatkan keuntungan yang banyak, tapi manfaatnya ke orang lain sedikit,” ungkap perempuan yang mengawali karirnya di perusahaan Multi Level Marketing (MLM) ini.

Percakapan kami terpaksa terhenti, saat Amelia melenggang masuk ke ruangannya. Saat itu, saya dan Dhihram juga memilih untuk masuk. Meskipun sebelum bertemu, Novi mengaku perbincangan ini sedikit privasi.

Anggota dewan itu datang dengan syal yang melingkar di lehernya, sedikit mengingatkan pada gaya pramugari. Dia mempersilahkan kami duduk. Turut juga kader NasDem lainnya, Lathifa Marina al-Anshori.

Seperti saat bertemu Asa, percakapan itu memutar di politik, namun tidak ada yang begitu serius. Legislator yang pernah menjadi Juara Harapan II Pemilihan Abang None Jakarta Utara itu turut juga mencoba lipstik baru. Perempuan single ini hanya tersenyum.

Pukul 16.00, Pulang Naik Kereta 

Sebelum keluar dari pintu gerbang Senayan, kami pergi beribadah di masjid sektiaran Senayan. Empat rakaat telah ditunaikan, sebelum mengantar Novi pulang kami memutuskan untuk menggunakan KRL di Stasiun Palmerah.

Di bawah jembatan penyeberangan Stasiun Palmerah, Novi berujar,

“Makan yuk.” Dhihram menolak, namun Novi memaksa. Kami memesan dua porsi ketoprak sayur dan satu porsi mi ayam dari seorang laki-laki senja. Yang tangannya bahkan bergetar saat mempersiapkan menu yang kami pesan.

Santapan kampung ini kami nikmati dengan diskusi-diskusi sederhana tentang semangat hidup Novi, kegagalan, hingga nostalgia masa sekolah Novi.

“Kunci kesuksesan bagi saya adalah doa orang tua,” imbuhnya saat ditanya mengenai kunci kesuksesan bagi dia.

Selain itu dia turut memesan es teh manis dari sepeda kopi di dekat kami.

Novi memesan minuman di sepeda kopi (Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

“Awalnya saya itu jaga warnet sebelum ke MLM yah. Memang dari kecil saya sudah banyak bantu orangtua yang telah bertani,” ungkap Novi yang kelihatan khusyuk berdiskusi dengan Dhihram, sementara saya sibuk mengaduk-aduk mi di mangkuk yang menolak masuk di perut saya.

Setelah makan kami berangkat menuju Stasiun Palmerah, dari situ kami turun di Stasiun Tanah Abang. Seharusnya saya akan menemani Novi sampai Stasiun Pasar Senen.

Namun karena beberapa agenda yang molor, Novi yang awalnya akan pulang ke Kebumen memutuskan untuk kembali ke apartemennya di Kalibata City. Setelah peron agak longgar, Novi memandang Dhihram yang sibuk membaca.

“Mas, ada buku lain nggak?” tanyanya pada Dhihram.

Perempuan ini memang senang membaca buku, dia mengakui dapat menghabiskan 2 buku dalam seminggu. Dhihram kemudian memberikan sebuah buku kumpulan cerpen Jorge Luis Borges, Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina.

Di Stasiun Duren Kalibata. Novi pamit dan pertemuan kami pun berakhir  saat senja juga telah berpisah digantikan keriuhan lampu kota Jakarta. Dia menyodorkan kembali buku tersebut.

“Ceritanya aneh ya,” kelakarnya kepada kami berdua.

Tiba-tiba Dhihram melempar pertanyaan sembari tertawa,

“Mbak sudah punya calon belum?”

“Belum sih, Mas, ” balasnya. Pintu kereta kemudian memisahkan kami disertai senyum merekahnya.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.