Locita

Sehari Bersama Emand, Pendongeng Anak Ibu Kota

Emand, Mimo dan murid-murid TK At-Taubah Jakarta Timur.

FILM animasi Moana dibuka oleh dongeng seorang perempuan tua (Nenek Moana) yang memiliki tato bergambar ikan pari di punggungnya.

Sang Nenek (Tala) gemar menceritakan kisah-kisah lama yang konon bukan sekedar dongeng. Ia bercerita tentang jantung seorang dewi kehidupan bernama Te Fiti yang dicuri oleh manusia setengah dewa yang mampu berubah wujud. Karena jantungnya dicuri maka bangkitlah kegelapan.

Dari cerita sang Nenek, Moana terpantik untuk mengarungi samudra untuk mengembalikan hati Te Fiti. Moana menjadi perempuan pelaut, mengarungi samudra, hingga berhasil membungkam kegelapan.

Kisah-kisah menjadi begitu penting dalam kehidupan anak-anak, sayangnya pendongeng di era mutakhir ini sangat sedikit.

Bahkan penulis yang fokus berkarya menuliskan cerita atau dongeng anak amat sedikit. Tapi bukan berarti tidak ada, Locita.co dalam kesempatannya berhasil menemui seorang pendongeng Jakarta bernama Sulaiman Sofyan atau yang dikenal dengan nama panggung Ka Emand.

Emand termasuk orang pertama yang menjadi pendongeng di Jakarta sejak empat tahun lalu. Awalnya Ia ikut bersama Awam Prakoso.

Laki-laki satu anak ini mengaku mendongeng karena panggilan jiwa dan berkah.  “Saya bisa melihat anak-anak tertawa dan bermain bersama mereka itu senang sekali,” ungkap Emand (25).

Keberanian Emand menjadi pendongeng membuat saya ingin mengorek-ngorek awal Emand berkarir di Ibu Kota.

“Dulu saya hanya tiga orang di Jakarta, Alhamdulillah sekarang sudah 15 orang,” kata aktivis di Pelajar Islam Indonesia (PII) ini. “ Berapa upah pertama?” kata saya sambil terkekeh. Tanpa sungkan, Eman berkata 30 ribu. Namun, menurutnya upah sekecil itu membuat dia merasa amat dihargai kemampuan dan jerih payahnya.

Motor melaju dari arah Stasiun Kemayoran menuju Jakarta Timur, di atas motor kami berbincang mulai dari dunia dongeng hingga kebahagiannya yang baru mendapatkan anak pertama.

Pukul 10.00, Manggung di TK At-Taubah

Rabu pagi (04/10), isteri dari Dwi Oktaviyanti ini mendapatkan panggilan mendongeng di daerah Jakarta Timur, tepatnya di Taman Kanak-Kanak (TK) At-Taubah. Saya bertemu dengannya di stasiun Gondangdia kemudian bersama-sama menuju lokasi.

Kami sampai sekira pukul 10.00 disambut dengan tawa dan teriakan murid TK At-Taubah. Sembari menunggu giliran, saya iseng bertanya hal apa yang paling berkesan selama ia menjadi pendongeng.

“ Waktu itu saya pernah bercerita tentang kuman dengan anak-anak di salah satu sekolah di Stabat, Sumatera Utara. Betapa terenyuh saya, setelah dua tahun saya datang kembali kesana dan mereka masih mengingat dongeng kuman yang pernah saya cerita dua tahun lalu,” ungkap Eman dengan wajah berseri-seri. “

Saya tidak membayangkan mereka masih mengetahui nama saya juga. Mereka bahkan menceritakan ulang dongeng itu, meski ceritanya tidak utuh lagi. Tapi itu yang paling berkesan selama ini,” lanjutnya.

Memasuki tempat ini saya semakin berpikir bahwa TK adalah penjara karena membelunggu kebebasan anak dalam bermain, yang memang tugas utama mereka adalah bermain.

Nilai-nilai belajar didapatkan seharusnya dengan beramain sebebas-bebasnya. Fenomena itu umunya dijumpai di sekolah-sekolah berpagar tinggi, anak-anak diarahkan untuk duduk rapi dan teratur. Guru akan lekas memarahi mereka jika topi yang dikenakannya dijadikan bola.

Pagi itu di tengah keriuhan acara Berbagi Kebahagiaan Bersama yang diselenggarakan pihak sekolah, anak-anak begitu rapi dengan tampilan baju seragamnya, mereka menyanyi dan menari di atas panggung.

Tingkah lucu dan keusilan mereka seringkali membuat saya tersenyum sendiri. Sementara itu Emand sedang sibuk menyiapkan peralatan yang akan dipakainya di atas panggung.

Beberapa menit lagi Ia akan dipanggil, sebuah syal merah dililitkan di lehernya. Ia naik ke panggung dengan sebuah senyuman merekah dan sebuah tas punggung dibelakangnya. Emand memulai dengan memperkenalkan diri dan menyapa anak-anak.

Beragam cerita lucu yang bersifat didaktik dimunculkan dalam dongeng. “ Saya sesuaikan aja sih, kalau sekolahnya Islam kita biasanya membawa kisah-kisah Nabi. Saya bahkan pernah bawa dongeng di depan para biksu, karena waktu itu peringatan hari besar agamanya saya diundang. Kaget juga karena yang datang bukan hanya anak-anak.”

Di saat Emand memperkenalkan temannya disaat itulah cekikikan murid-murid At-Taubah terdengar setelah diperintah oleh gurunya duduk rapi dan baik. Sementara itu yang dimaksud teman Emand adalah seorang boneka berwarna orange, bertubuh jangkung, memiliki kaki dan tangan yang panjang, mulut yang lebar dan bisa mengatup.

“Halo teman-teman namaku Mimo, Aku temannya ka Emand,” kata Mimo dengan suara khas boneka yang sebenarnya suara tersebut di verbalkan oleh Emand. Pendongeng yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini mampu menirukan beberapa suara hewan, salah satunya suara ayam.

Keceriaan dan tawa anak mendengarkan suara lucu Emand di atas panggung. Sumber Foto (Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)
Eman dan Mimo Sedang Bercerita dengan murid TK At-Taubah. Sumber Foto (Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

 

Setelah memperkenalkan Mimo, Emand kemudian melanjutkan kisah seekor burung pipit dan semut. Burung pipit dikisahkan memiliki banyak persediaan makanan di atas pohon tetapi tidak ingin membagi makanannya kepada semut.

Cerita sederhana ini menurut Emand penting untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan berkelompok; saling membantu

“Jika ada yang tanya cerita dongeng itu bohong, bagaimana menjawabnya?” tanya saya.

“Kita akan menjelaskan kalau dibalik kisah khayalan itu kita ingin memberikan nilai-nilai kehidupan, misalnya kita ingin anak-anak mengetahui sifat-sifat Rasulullah. Tidak mungkin kita akan mengisahkan kehidupannya Rasulullah. Tapi melalui cerita-cerita dongeng kita bisa menyederhanakannya,” jelasnya.

Di tengah-tengah pementasan, saya memutuskan untuk berbaur di tengah anak-anak. Di samping saya seorang bocah laki-laki bernama Adri.

Ia begitu khidmat mendengar cerita seekor burung pipit dan elang. Rupanya ia senang sekali mendegar cerita dongeng, saat saya tanya dongeng apa yang sering diceritakan oleh Ibunya. Adri menjawab belum pernah diceritakan dongeng oleh kedua orangtuanya.

Setelah membagi-bagikan hadiah, Emand turun dari atas panggung, beberapa anak dan juga orang tua murid mengajaknya berfoto dan bersalaman. “Mau foto dengan Mimo,” rengek seorang bocah perempuan sambil menanggalkan kerudungnya.

Murid TK At-Taubah terlihat begitu antusias menyapa dan menyalami Mimo. Sumber Foto (Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

Pukul 12.00, Makan Siang

Betapa senangnya ketika Eman mengajak saya makan siang di salahsatu rumah makan seafood, sekitar daerah Jakarta Pusat. Ia memesan Ikan dan seporsi nasi, sementara saya memesan tom yum dan juga seporsi nasi.

Sembari menunggu hidangan dihidangkan. Kami berbincang perihal rumah tangga dan keseharian Emand selain menjadi pendongeng.

“Kalau di rumah jadi Ayah, sebelum punya anak saya suka belajar gendong anak teman saya. Di luar rumah saya adalah aktivis dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII),” kata laki-laki yang memiliki obsesi menulis novel ini.

Beberapa menit, hidangan kami datang dan perbincangan terus berlanjut. Sekali lagi saya masih terusik dengan pertanyaan kenapa bertahan menjadi pendongeng.

“Menjadi pendongeng itu peluang Ais. Di Jakarta ini total hanya 13 pendongeng sementara permintaan sangat banyak. Dalam seminggu bisa full, paling sedikit 2 kali manggung dalam seminggu,” jelasnya.

Main dan remeh-temeh, menurut Eman tingkat kesulitannya juga sangat tinggi. Apalagi saat berada dalam kondisi mood yang buruk.“Wah itu sangat sulit buat saya, biasa solusinya nonton video lucu untuk mengembalikan mood yang baik itu,” ungkap laki-laki yang memiliki kesukaan warna merah ini.

Pukul 13.00, Berkunjung ke Sekretariat PB PII di Menteng 58

“Kita ke Menteng dulu Ais, saya mau ketemu salah satu pengurus PB. Mau ambil buku dan bicarakan program kerja di Sekret.”

Motor melaju menuju Menteng, tidak ada kemacetan berarti yang didapatkan di tengah jalan. Hanya terik matahari yang menyengat menembus pori-pori kulit.

Kami memasuki sebuah gerbang kecil, beberapa oragnisasi besar bertempat di Menteng 58. Di antaranya, Gerakan Pelajar Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Emand berdiskusi dengan Anton, salah satu PB PII. Sumber Foto (Ais Nurbiyah Al-Jum’ah).

Selain keprihatinanya terhadap dunia anak, di saat orangtua tak lagi mau bercerita. Eman juga memilki perhatian khusus kepada para pelajar.

“Saya banyak belajar di PII, generasi Z ini harus ada yang peduli dan selamatkan,” ujarnya dengan cukup serius.

Pukul 17.00, Mengunjungi Isteri dan Anak

Menurut tradisi Jawa anak yang belum berumur 40 hari harus tinggal di rumah mertua, oleh sebab tradisi itu Eman harus bolak-balik mengunjungi anak dan isterinya. “Sudah pengen banget aku ajak ke kost tapi nunggu 40 hari dulu.”

Kami tiba di daerah Jakarta Utara tepatnya di Swasembada Barat, Kelurahan Kebun Bawang. Di rumah yang sempit ini, sebuah tokoh kecil berdiri, seorang perempuan menyambut dan menyalami saya. Eman melanjutkan dengan memperkenalkan nama dan pekerjaan saya, perempuan itu adalah mertua Eman.

Di dalam sesosok perempuan berambut sebahu menggendong bayi mungil, bernama Dzakir Latief Khadafi.

Hujan semakin deras di luar, bercampur dengan tangis bayi yang sedang ditepuk-tepuk oleh Ayahnya.

Emand bersama sang buah hati yang baru berumur dua minggu. Sumber Foto (Ais Nurbiyah Al-Jum’ah)

“Semoga saya bisa menjadi pendongeng setia bagi anak-anak saya kelak,” tutur Emand sambil menyeruput teh hangatnya.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.