Locita

Sehari Bersama Asri Anas, Si Penyayang Keluarga dan Inspirasi Berbagi

Di tengah kepenatan dan hiruk pikuk Ibu Kota. Nampaknya tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah. Apalagi bagi orang-orang yang memiliki tingkat kesibukan high level. Tak terkecuali untuk para politisi ataupun senator di Senayan.

Edisi Nimbrung kali ini, Locita.co mengikuti agenda Muhammad Asri Anas (42), salah seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah/Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (DPD/MPR RI). Dari Daerah pemilihan (Dapil) Sulawesi Barat yang meliputi Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Mamuju Utara, dan Mamasa, Asri melenggang ke satu dari empat kursi DPD RI untuk wilayah Sulbar.

Pemuda yang berlatar aktivis dan pengusaha ini belakangan aktif di berbagai kegiatan sosial.

Salah satu yayasan yang didirikan dan tidak banyak diketahui orang adalah Yayasan Rumah Tahfidz, yang merupakan homebase bagi para penghafal Alquran. Yayasan ini didirikannya sejak lima tahun yang lalu. Ia juga mempersiapkan beberapa kegiatan sosial lainnya.

Berikut pertemuan Asri Anas bersama Locita.co di kediaman Asri Anas di daerah Cibubur, Jakarta Timur.

Pukul 06.30, Joging dan Mengantar Anak ke Sekolah

Hari ini Jumat (09/09) pagi, saya dan Pimpinan Redaksi, Yusran Darmawan menyambangi rumahnya. Asri menyambut kami. Dia mengakui akan berada di rumah saja. Bersama anak dan mengontrol beberapa pekerjaan bisnis dari rumah.

“Hari ini saya di rumah ji, Dek, tidur. Kemarin malam saya baru sampai dari Makassar. Ada acara Forum Group Discussion (FGD). Di situ saya mengumpulkan 24 professor dan sekitar 16 doktor muda di bidang hukum dan poltik. Kami ingin memperkuat DPD tanpa amandemen,” jelas mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.

Di tengah kepadatan aktivitas kantor dan bisnis, Asri tetap memprioritaskan keluarga. Utamanya membangun kehangatan yang intim dengan anak-anaknya. Melihat potret keluarga Asri kiranya kita dapat teringat pada potret keluarga di sinetron, Keluarga Cemara. 

Dalam seminggu Asri menginvestasikan waktu minimal dua hari bersama anak. Berbagai agenda bersama keluarga dilakoninya, mulai dari mengantar anak mengaji, kursus,  joging hingga membantu pekerjaan rumah.

Pagi itu setelah salat subuh, Asri Anas  berangkat untuk joging. Ditemani dengan si bungsu yang masih berusia 4 bulanan.

Di kompleks rumahnya dia membawa anaknya yang berada dalam stroller. Beberapa tetangga yang juga lewat turut menegurnya. Asri membalas sambil menyunggingkan senyum tipisnya.

“Saya memang rutin untuk joging, Dek. minimal menghabiskan waktu satu jam,” ucapnya.

Kalau minggu saya biasa naik sepeda sama teman-teman, saya gabung di klub sepeda,” ungkap laki-laki yang pernah membangun pernikahan dengan Alm. A. Ice Fadriani Nur, SE, Ak, dan dikaruniai tiga orang anak: Th Olha Ubaidillah M.A, Nur Khosyi Ramadhan M.A, dan Sofial Salsabita M.A ini.

Asri Anas saat mengajak si kecil jogging dan berkeliling kompleks kediamannya. Sumber Foto: Yusran Darmawan

Setelah sejam lebih memutari kompleks dengan keringat yang bercucuran, Asri kembali ke rumah. Ia menjalani rutinitas hariannnya. Anak-anak akan berangkat ke sekolah. Ia juga sering menyiapkan seragam dan sarapan. Asri terlihat  begitu sibuk akan semua hal itu.

Mantan aktivis KNPI Sulawesi Selatan ini tak lupa membantu anaknya memakai seragam. Sebuah pelukan dan kecupan di pipi kedua anaknya mengiringi kepergian mereka.

Asri Anas merapikan seragam sekolah anaknya sebelum mengantarnya berangkat ke sekolah. Sumber Foto: Yusran Darmawan

Pukul 07.00, Membantu Pekerjaan Rumah dan Mengurus Bisnis

Setelah mengantar anak ke sekolah, pria yang berencana untuk bergabung dengan Partai Amanat Nasional ini, kembali dengan agendanya di rumah.

“Sebelum monitoring bisnis, saya juga bantu pekerjaan istri,” ungkap lelaki yang pernah memimpin kelompok pergerakan mahasiswa yang disebut Persatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Sulawesi Selatan (PAMMI) ini, yang kemudian bertujuan memaksa rezim yang berkuasa turun pada tahun 1998.

Seusai mandi, dia kemudian naik ke lantai teratas rumahnya (lantai 3) dengan sekeranjang pakaian. Ia tampak tidak kikuk saat menjemur pakaian.

Pekerjaan yang lazimnya dikerjakan oleh kaum hawa. Tanpa rasa malu, suami dari Ricka Novianti ini merentangkan satu demi satu pakaian.

“Yah, kalau di rumah begini-begini saja. Santai sambil kerja bisnis kan. Saya juga terkadang selesaikan pekerjaan kantor di rumah, Dek. Karena di kantor itu biasa ramai sekali kan,” jelasnya.

Membantu pekerjaan isteri saat waktu luang di rumah. Sumber Foto: Yusran Darmawan

Pukul 15.00, Ngopi Santai di Cafe de Mahogany

Sembari menunggu Asri Anas menyelesaikan urusan bisnisnya. Saya dipersilahkan untuk berkunjung ke Cafe de Mahogany.

“Saya mau ke perusahaan dulu, Dek, di Central Plaza. Mau trading barang. Nanti kita ketemu di sana sekitar jam 3 nah,” tukas alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini.

Kafe itu didirikan Asri sejak beberapa tahun silam. Kafe yang berlokasi di sekitar jalan alternatif Cibubur ini sangat cozy untuk disinggahi para anak milenial.

Selain kafe dan restoran, kafe ini juga menyediakan kolam renang, lapangan badminton, serta ruang bermain anak. Dalam waktu dekat, akan dibangun lapangan futsal. Ruang parkir kafe didesain cukup luas.

Namun yang membuat saya lebih penasaran adalah sebuah banner berwarna oranye. Yang kira-kira berukuran 2 x 4 meter, diatasnya dibubuhi sejumput kata “Gerakan MARI Berbagi”.

Saya akhirnya memutuskan untuk bergegas ke dalam. Dengan disambut pelayan, saya menyusuri sudut demi sudut kafe ini.

Makin ke dalam ruangan ini semakin menambah nuansa asri dan nyaman. Sebuah kolam renang berukuran 26 x 15 meter terentang di sisi kiri dari arah pintu masuk.

Pemandangan Cafe de Mahogany dari dalam. Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Tidak hanya itu, berbagai tumbuhan dan beragam bunga bersemi. Mulai dari bunga kamboja, bonsai, pohon cemara, palem hingga kelapa tumbuh di sepanjang sisi kolam dan sudut ruangan.

Sebuah taman mini juga tersedia untuk anak-anak menegaskan jika tempat ini bersahabat untuk menjadi tempat bermain.

Sembari menunggu, saya menghabiskan waktu dengan mengambil foto dan melihat-lihat sudut ruangan. Tidak lama kemudian Asri Anas tiba, Diam-diam saya memerhatikan penampilannya.

Selembar baju jersey Barcelona, celana jeans, dan sandal hitam bersemayam di tubuhnya. Sungguh sederhana dan nge-pop.

Saya kemudian iseng bertanya tentang tulisan “Gerakan MARI Berbagi”. Asri menanggapinya dengan tersenyum. Dan sedikit malu-malu ia menjelaskan proyek yang telah diurusnya selama enam bulan belakangan.

Gerakan MARI Berbagi didirikan oleh empat orang anggota dewan sekaligus pengusaha. Salah satunya adalah Asri Anas.

“Kita ini pengusaha sebenarnya suka sekali nyumbang. Tapi kita itu maunya jangan uang tapi makanan. Nah, makanya kita buat ini gerakan sebagai ruang kita bisa memberi makanan ke rumah-rumah yatim,” jelas laki-laki berkulit putih ini.

Dua program Gerakan MARI Berbagi yang akan segera launching dalam waktu dekat ini yakni : Gerakan Infaq Makan Anak Yatim dan Gerakan Berbagi Sukses.

Gerakan infaq direncanakan akan launching pada 16 September 2017 yang akan dihadiri sekitar 10 ribu anak yatim. Kegiatan ini rencananya akan diresmikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bertempat di Café de Mahogany.

Sedangkan Gerakan Berbagi Sukses akan launching pada 28 Oktober mendatang di Makassar.

Asri Anas saat menjelaskan konsep ” Gerakan Infak Makan Anak Yatim”. Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

“Nanti makanan yang akan kita salurkan itu punya standar dan tentunya sehat. Kita sudah memanggil orang-orang professional di bidangnya. Selain itu kita juga saya mengajak beberapa artis, dan pengusaha untuk bergabung. Jadi ini benar-benar gerakan sosial,” ungkap Asri.

Sementara untuk gerakan berbagi sukses. Lelaki berparas oriental ini rencanannya akan mengajak ribuan pelajar untuk mendapatkan key spirit ( yang menurutnya adalah kunci sukses ). Melalui pembicara-pembicara yang memang telah menapaki jalan kesuksesan. Diantaranya, SBY dan Chairul Tanjung.

“Satu hal yang saya selalu percaya, Dek. Jadi orang pintar itu gampang tinggal belajar. Tapi tidak mudah mendapatkan key spirit. Nah, ini yang coba saya bangun dan tularkan kepada anak muda,” tegasnya.

Model ini sebelumnya juga pernah ia lakukan di Sulbar. “Jadi saya mengumpulkan anak-anak, memberi motivasi kepada mereka. Utamanya yang akan masuk kuliah. Mengajarkan bagaimana agar mereka tidak korup,” jelas politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Asri memiliki dua ambisi dalam hidupnya yakni berbagi dan berbicara. Ia melihat tidak banyak pejabat yang mau meluangkan waktu panjangnya berbicara di depan pelajar.

Kalaupun ada, banyak yang hanya berbagi program dan uang. Tapi sangat sedikit yang ingin turun ke lapangan untuk bercerita kepada anak-anak lalu menginspirasi mereka.

“Seorang pejabat dan pemimpin itu penting datang ke sekolah, Dek. Karena itu akan menjadi key spirit-nya mereka. Jadi bukan hanya selfie. Tapi kita butuh mereka bercerita dan menularkan ide-ide suksesnya,” jelasnya.

Azan maghrib berkumandang pembicaraan kami berlanjut setelah kami menunaikan ibadah salat magrib.

“Saya salat dulu nah. Kalau mau salat di lantai dua,” sesaat kemudian saya pun menyusul.

Di lantai dua saya bertemu beberapa staffnya yang sedang mempersiapkan kotak makanan untuk anak yatim.

Salah seorang pegawai menyiapkan kotak makanan untuk anak yatim. Sumber Foto: Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Setelah selesai mengambil air wudu, saya pun melenggang masuk ke musala, bersamaan dengan itu Asri datang dan mengajak saya salat berjamaah.

Tiga rakaat telah digelar, karena penasaran. Saya sedikit memata-matai ruang kerja Asri yang berhadapan dengan musala.

Sesekali mendengar suara riuh ketika Asri ikut bercanda dengan para pegawainya.

Saya memutuskan untuk turun, percakapan kami dilanjutkan dengan bahasan yang agak berat. Memperbincangkan dinamika politik dan partai.

Ia selalu merasa heran jika setiap gerakan sosial yang dilakukan selalu dihubungkan dengan kampanye.

“Bisa hancur umat kalau selalu dihubungkan dengan kampanye,” tukas laki-laki yang setiap sebulan menyisikan satu juta uangnya untuk berbelanja buku ini.

Selang 20 menit kemudian makan malam saya telah datang, sepiring nasi goreng Mahogany dan tea latte. Aroma rempah menyeruak di hidung. Membuat selera makan saya semakin memuncak.

Karena telah terlalu lama bercerita dan mengkhawatirkan ia memiliki agenda lain. Saya pun izin pamit. Saya menyalaminya dan ia berkata.

Ndak usah mako bayar ki nah. Hari ini saya yang traktir,” katanya penuh canda dengan dialek Makassar.

Akhirnya lantunan azan isya memisahkan pertemuan kami.

 

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.