FeaturedTilik

Tanda-Tanda Gejolak Politik di Ulang Tahun Megawati

KEMARIN, Megawati Soekarnoputri genap berusia 71 tahun hari ini. Di hari bahagia itu, mantan presiden ini menggelar acara di Pagelaran Teater Kebangsaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Di acara tersebut terdapat pagelaran teater “Satyam Eva Jayati”  yang dipimpin oleh seniman Butet Kertaradjasa. Secara harfiah satyam eva jayati sendiri mempunyai makna hanya kebenaran yang berjaya.

Selain menggelar lakon Teater Kebangsaan, perayaan ulang tahun Megawati juga akan dipamerkan kiprah dan perjalanan Megawati yang menyukai tanaman ini di bidang kemanusiaan, kebudayaan, dan lingkungan.

Terlepas dari kebahagiaan yang meliputinya, kini Megawati menyaksikan tiga pertanda yang terjadi di hari ulang tahunnya. Tanda-tanda yang bisa jadi adalah prediksi gejolak politik di tahun politik ini. Sekaligus tanda bahwa tahun -tahun ini, Megawati akan menunggangi amukan banteng liar.

Pertama, gempa yang terjadi saat pementasan dan acara

Kenyataannya gempa yang berpusat di Lebak, Banten itu getarannya terasa hingga di ibukota. Gempa itu terjadi saat Megawati datang ke lokasi acara.  Beberapa orang panik, namun tidak bagi Megawati. Dia terlihat tenang saja mengamati pameran tanaman di acara tersebut.

Kalau secara pengetahuan, mungkin kita bisa mendeskripsikan bahwa gempa merupakan pergeseran lempeng bla bla bla. Tapi beda dalam bagaimana kearifan orang-orang masa lalu menerjemahkan tanda-tanda dan simbol-simbol yang diberikan oleh alam.

Kalau secara penanggalan Hijriyah, ulang tahun Megawati tepat di 6 Rabiul Awal. Kala menelisik kitab Mujarabat dan ramalan primbon, gempa memiliki makna sesuai bulan. Ramalan untuk gempa yang terjadi di kala siang hari, bisa berarti akan banyak musuh yang datang.

Megawati banyak musuh? Ya, itu bisa jadi mengingat tahun ini adalah tahun politik hingga 2019 nanti. Dan itu sudah terlukiskan dalam lakon “Satyam Eva Jayati”. Siapakah lawannya? Ini bisa dilihat selanjutnya.

Kedua, teater yang banyak pihak menduga merupakan sindiran kepada SBY

Gelaran teater tersebut yang dilansir dari berbagai media mengangkat tema tentang perjuangan menegakkan kebenaran di tengah kondisi masyarakat yang korup, dimana ada dua tokoh besar yang memperebutkan kekuasaan.

Adegan serta lawakan di pementasan ini turut mengangkat isu-isu politik yang hangat di akhir tahun kemarin. Seperti isu impor beras, isu program 35 ribu megawatt listrik, hingga Pilkada Jakarta. Pihak dari Megawati—diwakili oleh Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan—boleh saja menyangkal tiadanya pretensi apapun dalam lakon tersebut. Namun teater adalah teater. Dia memiliki makna, tanda, dan interpretasi.

Nur Sahid dalam bukunya, Semiotika untuk Teater, Tari, Wayang Purwa, dan Film menjelaskan semiotika adalah hamparan tanda-tanda, sehingga teks yang hadir dalam beberapa kesenian itu merupakan sekumpulan utuh tanda-tanda.

Di dalamnya dijelaskan bahwa kehidupan manusia merupakan bahan bakar dalam penciptaan sebuah karya. Maka dari itu simbol-simbol kehidupan dan tanda tidak terlepas dalam karya teater. Penampilan dan makna akan diterjemahkan dalam simbol, ungkapan verbal, dan non-verbal.

Wajarlah kalau beberapa pihak sedikit cemberut dengan penampilan tersebut. Tapi lagi-lagi memang melihat semiotika ini terkadang ada dua pandangan, yang menganggap ketika sang sutradara telah mati ketika karya ini ditampilkan.

Lainnya menganggap hanya sang sutradaralah yang mampu menerjemahkan teater tersebut. Pastinya, teater itu adalah refleksi dan (mungkin) prediksi akan tahun politik. Bisa jadi adalah tiadanya titik temu antara SBY dan Megawati.

“Bukan kerjaannya curhat melulu. Ngeluh sama Tuhan kok di Twitter. Emang Tuhan follow situ?” tutur raja yang diperankan Butet Kertaradjasa.

Tentu kalau kita melihat dialog itu, ingatan kita akan tertuju pada sosok Don dari Cikeas, SBY. Sosok ini memang gemar bercurhat dan curcol lewat media Twitter.

Ketiga, ucapan Megawati dalam pidatonya

Di akhir sambutan di  acara itu, dia menuturkan, “Demikian, semoga apa yang disampaikan pertunjukan ini dapat membuat kita sekedar melupakan tahun politik ini, yang kayanya akan menegangkan, kayaknya.”

Dalam ucapan tersebut kita bisa melihat bahwa Megawati sangat antusias terhadap momen politik yang menyambut di tahun 2018 dan 2019. Harus diakui pula bahwa anak dari “putra sang fajar” ini bukan orang yang sehari dua hari di atas amukan banteng.

Sebut saja dari kelahirannya saja, dia harus menghadapi Bung Karno yang berada di pengasingan Pulau Bangka. Belum lagi terjalnya jalan politiknya di era Orde Baru. Hingga dia mencapai puncak kursi kepresidenan di tahun 2001.

Keempat, kehadiran JK di acara tersebut

Di acara tersebut turut hadir pula Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Boleh saja dikatakan bahwa kehadiran JK adalah bentuk silaturahmi. Namun, dalam aturan umum politik, disebutkan bahwa kehadiran seseorang tokoh politik di sebuah acara, memberikan sinyal ada “sesuatu”, apakah itu kesepakatan atau negosiasi politik apapun. Sebuah ucapan selamat ulang tahun mengalir dari mulut Jusuf Kalla.

“Ya tentu kita ucapkan selamat kepada Bu Mega, lebih bijaksana dengan bertambahnya umur,” tutur JK bertanggal 23 Januari 2018.

Ucapan tersebut selayaknya dog-whistle politics, sesuatu yang tersurat. Ketika mengutarakan kebijaksanaan kepada orang lain kita sebenarnya sudah mengukur kemampuan orang tersebut, dan sangat mungkin orang yang menuturkan itu lebih memiliki kemampuan tersebut–dalam hal ini kebijaksanaan.

Jusuf Kalla sebagai orang bugis yang menurut Ahmad Yani dalam “Budaya Politik Orang Bugis”, menggunakan hubungan patron-klien dalam berpolitik, bisa jadi paham bahwa pujian dan pengakuan adalah bentuk sebuah negosiasi politik. Apakah itu jalan untuk membuka tudang sipulung Megawati-JK? Bisa jadi penyatuan dua orang ini kembali terjadi untuk menghadang Prabowo ataupun gerbong lainnya, seperti mengulang pada Pilpres lalu.

Dari kedua tanda tersebut kita bisa menebak bahwa kehadiran dan ucapan Jusuf Kalla di acara tersebut dapat menjadi tanda akan adanya negosiasi politik pasca seteru mereka di Pilgub DKI. Konon di Pilgub ini katanya melibatkan pula Megawati di pihak Ahok-Djarot dan Jusuf Kalla di kubu Anies-Sandi.

Kira-kira itulah mungkin tanda-tanda yang bisa kita sedikit telisik lebih dalam. Benar atau tidaknya saya kira bisa dilihat di masa depan yang sebentar lagi menyambut, di KPU atau di layar-layar kita.

Ah, lagi-lagi politik adalah soal menjinakkan banteng liar, yang butuh kesabaran, tidak tergesa-gesa, dan perihal penting-tidak penting lainnya. Terlepas dari ramalan saya yang tidak lebih bagus dari ramalan Mbah Mijan, saya sepakat bahwa tahun politik ini adalah tahun yang seru. Salah satunya di tangan Megawati.

Selamat ulang tahun, Bu

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Mengapa Ibu-Ibu Pengajian Perlu Mempelajari Sastra

Massa HMI demo 4 November (sumber foto: viva.co.id)
Next post

Kongres HMI dan Masa Depan Populisme Islam di Indonesia