Locita

Seandainya Saya Yusran Darmawan

YUSRAN DARMAWAN. Kami memanggilnya “Kak Yus”, kaum adam di kampus merah memanggilnya “Kanda”, kaum hawa akan bergidik ketika dipanggil “Dek” olehnya, apalagi dipanggil “Dinda” ditambahi dengan intonasi lembut juga sorot matanya tajam. Mahasiswa pembaca amatir teori kritis akan menganga ketika dia menjelaskan teori-teori dan pengetahuannya yang berkelindan.

Hampir sebagian besar menganggapnya guru, dari yang paling kanan hingga yang paling kiri. Dari yang liberal dan yang konservatif, juga dari pro Rina Nose hingga kontranya. Sekali mengunggah status Facebook, ratusan orang akan memberi like, puluhan lainnya berkomentar, satuan lainnya meng-capture dan menyimpan di memori ponselnya–bahkan taik sekalipun.

Dia bisa disebut spin doctor, atau orang yang berselancar di atas isu-isu yang lagi happening. Sekali posting tulisan, pembacanya ribuan–kalau tidak percaya lihat saja pembaca tulisannya di Locita.co.

Di ranah intelektual dia adalah antropolog begawan, di ranah aktivisme dia adalah referensi, di ranah senang-senang dia seumpama raja di lantai dansa. Dia digirangi oleh para pemburu beasiswa, disebabkan karena statusnya lulusan kampus luar negeri.

Dia juga disukai oleh para ibu-ibu karena tulisan-tulisan ringannya soal keluarga dan pernikahan. Bahkan para pemabuk sekalipun menyakui cerita-cerita berbabu “mesum” di blognya. Bagi saya dia  Polymath, kalau dalam rumusan matematis = .

Saya kadang-kadang memikirkan kalau seandainya di posisinya, saya akan melakukan banyak hal. Beberapa antaranya adalah sebagai berikut:

1. Membuat Buku Otobiografi

Saya akan memaripurnakan kebegawanan saya. Yup, kebegawanan seseorang tak terlepas dari kisah dan penutur orang akan dirinya. Sudah saatnya saya pensiun sebagai seorang penutur kisah seseorang atau menulis buku untuk orang.

Kini saatnya dialah yang diceritakan, terlebih rekaman-rekaman off the record yang dia dapatkan saat melakukan pekerjaannya untuk menuliskan biografi orang-orang tertentu.

2. Membuat Film

Setelah membuat buku biografi, biasanya untuk memantapkan dirinya sebagai legenda, biasanya difilmkan. Apalagi saya yakin buku saya akan best seller dan mendapat banyak review positif. Saya membayangkan–dalam hal ini Yusran Darmawan–di film itu akan diperankan oleh Reza Rahardian, disutradai oleh Riri Riza atau Joko Anwar, dan scoring-nya dikerjakan oleh Bam Mastro.

3. Menjadi Anak Band

Tidak ada yang lebih keren ketika menyampaikan isi tulisan dan buah pikiran melalui musik. Toh, Jim Morrison dan Leonard Cohen sudah membuktikannya. Tulisan-tulisan Yusran Darmawan dapat dibuat lirik loh, sebagai peneliti pasti temanya kuat dan dalam. Bangsa kita butuh musisi dengan lirik jenius. Saya membayangkan “Jangan Bunuh Dwi Hartanto” dijadikan lirik, saya rasa itu akan selevel dengan “Light My Fire” milik the Doors.

4. Menjadi Sastrawan

Keseringan Yusran Darmawan memakai topi pet membuatnya terlihat “nyeni”. Apalagi Kak Yus ini memiliki kegemaran baca puisi. Sering juga dia membahas puisi dan berlagak puitik di tulisannya.

Latar belakang sebagai antropolog–disertai perjalanan hidupnya yang menarik. Saya akan membuat syair ala Goenawan Mohammad berlatar kehidupan nelayan di Buton atau novel orang Buton yang kesasar di Amerika.

5. Maju di Pilkada

Media konon adalah pilar demokrasi. Dengan tren media sosial dan internet yang semakin cepat di kalangan milenial, menjadikan kedua item tersebut menjadi basis kekuatan politik. Saya kira Tsamara dan PSI-nya sudah membuktikan itu. Dengan karisma dan popularitas saya, satu kursi tentu tidak terlalu sulit.

6. Mendukung #GerakanBersama

Sebagai artis dengan basis terbanyak ibu-ibu dan perempuan-perempuan intelek, Yusran Darmawan kiranya harus memberikan dukungan kepada gerakan untuk UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang Berpihak pada Korban. Saya akan mengumandangkan di status-status saya untuk gerakan ini.

7. Menggulung Tere Liye

Tere Liye adalah penulis populer sekaligus kontroversi belakangan ini. Sebagai anak cucu dari gen pelaut tangguh, saya akan membuat karya tandingan atau semacam kritik sastra. Minimal Tere Liye ini tidak asal ribut lagi. Misalnya, “99 Dosa Tere Liye dalam Menulis”.

8. Menjadi Direktur BUMN

Seorang penulis adalah penyuluh semangat dan energi untuk pembacanya. Apalagi penulis yang hits. Sebagai Yusran Darmawan? Ya, saya cukup mumpuni dan memenuhi kriteria. Saya akan mengejar posisi Dirut itu, minimal korporat milik negara itu bisa berputar seiring menguatnya isu holding BUMN.

9. Menjadi Panglima Umat Islam

Sekalipun saya tahu, keberpihakan tokoh aslinya–Yusran Darmawan–dalam aksi 212 ataupun aksi sejenisnya cenderung menolak; saya akan mengisi posisi ini. Umat kita butuh semangat bukan sekedar retorika–di situ menurut saya kekurangan Bib Rieziq. Semangat itu ada di tulisan-tulisan yang bernas. Kemudian tinggal mencari sorban dan jubah biar tidak nampak sekuler.

Sayangnya Yusran Darmawan tidak menjadi itu, malah memilih menjadi Pimred Locita.co. Mungkin begitulah seorang guru, senantiasa membesarkan muridnya. Biarlah kesemua itu dimiliki oleh Faris, Ais, Aco’, Rut, Arief Rosyid, ataupun Ardiansyah Laitte.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.