Tilik

5 Buku Rekomendasi untuk Muslimah Kekinian

Sungguh menarik sekaligus cukup tersinggung ketika membaca tulisan di rumahketjilku.blogspot.co.id. Tulisan yang diberi judul Obesitustuff: Penyakit Muslimah Kekinian? Seharusnya menjadi subjek kontemplasi bagi setiap muslimah yang sudah keranjingan gaya dan mode.

Saya sendiri belum membaca buku Marie Kondo, The Life-Changing Magic of Tidying Up (dan tentu saja saya akan segera mencarinya). Buku yang menjadi titik balik atau mengubah hidup dari penulis di blog rumahketjilku.blogspot.co.id.

Perasaan aneh seringkali datang ketika mendengar istilah muslimah kekinian. Tapi mungkin istilah tersebut yang cukup mewakili kewarasan saya ketika berselancar di sosial media utamanya di Instagram (IG).

Ah, saya juga perempuan dan sempat tergoda ketika melihat muslimah-muslimah dengan kerudung yang menjulur hingga ke bokong, kulit cerah, dan lipstik merona. Berikut dengan gaya pakaian yang seringkali di labeli dengan brand syar’i, stylish, dan modis. Mereka berpose di depan kamera dan dikonsumsi oleh ribuan ummat, muslimah kekinian.

Beragam peranti yang melingkupi tubuh mereka cukup melelahkan buat saya untuk diikuti.

Jika buku Marie Kondo berhasil menjadi amunisi untuk memutus obsesitustuff, dalam tulisan ini saya juga akan menuliskan 5 list buku favorit saya dan sedikit banyaknya mengubah hidup saya juga. Paling tidak memberikan waktu luang yang lebih panjang kepada diri saya untuk membaca sebagai seorang muslimah. Lima buku yang saya rentangkan dibawah ini sungguh subjektif dan melingkupi/ berangkat dari bacaan sastra.

Mata Hari– Remy Sylado

Sumber Foto: goodreads.com

Entah ini adalah buku keberapa Remy Sylado yang seringkali saya menyesal selepas membacanya. Tapi toh, saya akan kembali membaca buku penulis polyglot ini. Mata Hari adalah salah satunya. Membaca Mata Hari seperti ada perasaan dengki, sekaligus iri. Bagaimana mungkin seorang pelacur menasehati kita tentang harkat dan martabat menjadi manusia. Sial! Namun, tidak ada jalan lain selain menerimanya. Mengapa ?

Seperti di setiap karya sastra, tokoh protagonis, nampaknya harus selalu menang. Mata Hari pun. Namun bukan karena ia menjadi si tokoh utama melainkan nilai-nilai luhur yang perlu kita pelajari.

Menghayati hidup Mata Hari dalam buku Remy penting bagi muslimah mutakhir. Bukan karena kepiawaiannya menjadi penari eksotis dan keluwesannya berdialog di atas bantal dengan pejabat negara. Tapi hal-hal lain yang memang sangat jarang dimiliki muslimah kekinian.

Dengan kecerdasanya, Mata Hari tidak hanya mejual diri. Ia diangkat menjadi agen mata-mata untuk mencari rahasia negara di setiap pejabat yang berhasil tidur dengannya. Mata Hari menguasai 7 bahasa, ia juga memiliki kebiasan membaca buku setiap hari. Ia bahkan datang ke Indonesia untuk mempelajari kebudayaan dan sejarah leluhurnya.

Seperti novel-novel Remy Sylado lainnya, Mata Hari juga memberikan kesempatan kepada setiap pembaca untuk berselancar bahasa. Kita disuguhkan pembacaan sejarah yang ringan utamanya yang berkaitan dengan nama-nama jalan yang telah berubah paska penjajahan. Tapi satu hal saya tidak menyarankanmu untuk membeli buku ini. Berpinjamlah kepada teman yang memilikinya atau berselancarlah menemukan e-book gratisnya. Bagi kantong mahasiswa, buku ini cukup mahal.

Pandora – Oka Rusmini

Sumber Foto: goodreads.com

Jika anda sedang berada dalam kekalutan rasa yang letih dalam hidup. Ada baiknya membaca buku puisi, Pandora. Buku ini dijamin tidak akan membuat pembaca bertambah galau melainkan mungkin akan lebih banyak bersyukur.

Tidak banyak penyair perempuan yang menyita perhatian saya. Dan memang jumlah penyair perempuan Indonesia amatlah sedikit. Oka Rusmini berada di jajaran penyair Indonesia yang sangat saya sukai puisi-puisinya. Menggairahkan dan magis. Begitu yang saya dapatkan tatkala membaca buku puisi Pandora.

Ada perasaan tercabik-cabik sebagai “calon” Ibu dan perempuan tatkala menyelami samudra bahasa Oka. Mungkin karena pengalamannya sebagai wanita Bali yang terus menerus dibenturkan oleh tradisi dan adat yang mengungkung wanita. Sungguh membuat setiap bait puisinya bagai letupan.

Berikut kutipkan salah satu puisinya dalam buku Pandora:

Sebuah pintu kubuka dengan darah/Impian-impian pun pecah dalam genggaman tangan/berharap sepotong daging akan menambal lubang yang rajin dicangkul perempuan yang dulu pernah memintaku jadi anaknya/Sebuah pintu kubuka dengan luka/“ jangan mendekat/Bara tanganku akan membakarmu”/Tapi aku tak punya sungai tak punya laut/Sajak-sajak kumuntahkan pada seorang perempuan/Sebuah pintu kututup/Mata laki-laki itu datang padaku. Berpuluh tahun ia menyembunyikan rahasia kami,

The Vegetarian – Han Kang

Sumber Foto : koreaherald.com

Seorang penulis perempuan asal Korea, Han Kang berani menuliskan cerita panjang tentang pertempuran ketauhidtan dalam sisi yang berbeda. Berangkat dari si tokoh utama yang bermimpi dan memutuskan menjadi vegetarian. Perjalanannya sampai di titik ia moksa dengan alam. Keinginan menjadi pohon.

Bagi saya novel ini menyerupai novel Nafas Mayat dan Sang Penebus. Menggiring pembaca untuk memaknai bacaan sastra tidak hanya dalam lingkup sastra. Sastra seperti kata sejarawan, budayawan, dan sekaligus cendekiawan muslim, Prof. Kuntowijoyo,“Karena etika profetik bersumber pada kitab-kitab suci, sastra profetik adalah senjata budaya orang beragama untuk melawan musuh-musuhnya: materialisme dan sekulerisme tersembunyi.”

Novel yang meraih penghargaan Man Booker International ini berhasil menjungkirbalikkan pemahaman saya tentang nilai tauhid. Kembali menegasikan penolakan yang cukup liar mungkin terhadap kekalutan hidup manusia mutakhir. Menariknya, Han Kang membukanya di jalan sastra. Selamat!

Perempuan Bernama Arjuna – Remy Sylado

Sumber Foto : goodreads.com

Sebuah novel yang diklaim dengan label “Bukan Bacaan Ringan” hadir sekali lagi membuka oase berpikir saya sebagai muslimah. Saya merasa Arjuna hanyalah jualan Remy untuk memuaskan hatinya mengejek pembaca utamanya kaum perempuan. Bagaimanapun Remy selalu berhasil untuk itu.

Novel ini hadir dalam lima seri. Seri per-tama, Filsafat dalam Fiksi. Seri ke-dua, Sinologi dalam Fiksi. Seri ke-tiga Javanologi dalam Fiksi. Seri ke-empat Batakologi dalam Fiksi. Dan seri ke-lima Minasanologi dalam Fiksi.

Ajakan Remy cukup keras. Seperti dalam seri ketiga, Javanologi dalam Fiksi. Perempuan dipaksa untuk tahu bagaimana “tutorial” bersetubuh dengan baik menurut kitab Kejawen, melayani suami dan membuatnya betah di rumah isteri. Atau bagaimana padatnya ia menjelaskan eksistensi bangsa, budaya, dan adat Cina di Indonesia dalam seri ke-dua sinologi dalam fiksi.

Seolah tak puas, dua tokoh utama, Arjuna dan Jean-Claude van Dumme tidak hanya membagi kisah cinta tapi juga ihwal “safari” intelektual, kultural, hingga sisi religius. Seri pertama kita akan berselancar dalam filsafat dengan setting negeri Belanda. Selebihnya Remy akan mengajak kita pulang. Tidak hanya pulang secara fisik tapi juga batin dan perasaan.

aku bukan masa depan– Shinta Febriany

Sumber Foto : kepadapuisi.blogspot.co.id

Secara tidak sengaja saya menemukan buku puisi Shinta Febriany di rak buku Bilik Literasi Solo. Buku puisi yang ditulis seorang penyair perempuan asal Makassar, tahun 2003 ini membuat saya jatuh cinta sejak lembaran pertamanya. Mungkin karena juga pengalaman biografis saya sebagai perempuan yang lama menjejali kota Makassar.

Ini adalah pertama kalinya saya menemukan buku tanpa huruf kapital di dalamnya. Saya sendiri belum sempat menanyakan kepada sang penyair apakah hal ini memiliki alasan ideologis atau hanyalah sebuah dorongan mendapatkan sesuatu yang baru.

Puisi ini hangat dibaca tatkala sedang merantau. Dua puisi di bawah ini adalah puisi favorit saya. Menerangkan betapa rumitnya menjadi perempuan yang hidup di tengah masyarakat urban.  Ini kutipan puisi “malka sansi”:

perempuan-perempuan itu menuduhku perempuan dari/kasta perampok, karena aku telah meninggalkan/harum keringatku di tubuh lelaki mereka./lelaki mereka/kehausan dan datang padaku, lalu harum keringatku/menjelma opium. aku menyembunyikan batu di/kemaluanku. apakah mereka tahu ?/aku menyarankan mereka berperan sebagai syahrazad/yang setiap saat bercerita tanpa lela, tapi tak/ada/yang akan menggantungku. aku bukan selir.

Sama halnya ketika membaca “opera kanak-kanak”: aku selalu menyangka kalau cinta kita layaknya/dongeng masa kanak-kanak, mendera sejenal lantas/mengeras di setiap detak waktu.

 

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Bonus Demografi Menurunkan Angka Jomblo?

Next post

Potongan Harga dan Frustasi Para Produsen