Locita

7 Peraih Nobel Sastra Dari Asia

Tulisan-tulisan pria berusia 62 tahun itu ditandai dengan cara pengungkapan yang sangat ketat, terlepas dari kejadian apa pun yang sedang terjadi,” tulis Swedish Academy dalam siaran persnya.

KALIMAT di atas adalah pembuka sebelum pemberian penghargaan Nobel Sastra 2017 kepada penulis kelahiran Jepang namun berkebangsaan Inggris, Kazuo Ishiguro.

Akademi mengumumkan kemenangan Kazuo pada Kamis kemarin melalui situs nobelprize.org. Ishiguro berhasil menyisihkan sastrawan hebat lainnya seperti Haruki Murakami, Ngugi Wa Thiong’o dan Margaret Atwood.

Kazuo Ishugiro diganjar penghargaan prestisius ini berkat karyanya yang kesohor. Beberapa di antaranya berjudul The Remains of the Day dan Never Let Me Go.

Kazuo menyisihkan sastrawan lainnya termasuk sastrawan fenomenal asal Jepang, Haruki Murakami, dan tentu bagi kalian pembaca karyanya, ini sebuah kenyataan yang pedih.

Betapa pedihnya bagi Murakami, yang bukunya setebal bantal guling itu, harus kembali rela menonton saingannya mengambil penghargaan prestisius ini dikalungkan.

Yap. Penulis yang juga berdarah Jepang dan terkenal lewat novel Norwegian Wood itu telah beberapa kali masuk nominasi nobel sastra.

Namun, sebenarnya tercatat telah empat orang berdarah Jepang yang telah memenangkan nobel sastra selain Ishugiro. Indonesia? Hmm mungkin kita harus bersabar menunggu munculnya “Pram” baru.

Selain Kazuo Ishugiro, ternyata cukup banyak penulis berdarah Asia yang pernah memenangkan penghargaan nobel kesusasteraan itu.

Pada akhir pekan ini Locita.co coba merangkum 7 penulis kenamaan asal Asia yang pernah meraih puncak tertinggi bagi penulis tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan karyanya masih dibaca hingga saat ini. Berikut ketujuh orang itu:

1. Kazuo Ishugiro

Tentu saja yang paling hot sekarang Kazuo Ishugiro, terlepas dari kebangsaannya Kazuo Ishugiro masih layak disebut sebagai sastrawan asal Asia, karena dia dibesarkan oleh kedua orangtua Jepang selain itu dia juga lahir di Nagazaki.

Keluarganya membawa ia pindah pada usia 5 tahun dan menetap hingga menjadi warga negara ratu Elizabeth, Inggris. Tak perlu membahas banyak hal tentang Ishugiro cukup tahu saja bahwa ia sudah menerbitkan tujuh buku sejak 1982 dan semuanya tentu keren.

Buku terbarunya berjudul The Buried Giant, diterbitkan pada 2015 lalu. Beberapa karyanya bahkan telah diadaptasi menjadi film, seperti Never Let Me Go yang diterbitkan pada 2005 dan filmnya pernah meraih nominasi untuk Oscar.

2. Mo Yan

Penulis asal Asia kedua mungkin yang paling terkenal ialah Mo Yan. Terkenal dengan realisme fantastisnya. Penulis asal Cina yang yang namanya berarti “diam“ ini memiliki nama pena Guan Moye. Ia lahir di propinsi Shandong, Cina.

Karyanya “Red Sorghum” dianggap sebagai terobosan sastra zaman itu pada tahun 1987. Anak petani yang di negaranya sendiri dibenci dan dicintai ini dianggap piawai dalam menggabungkan cerita rakyat, sejarah, dan kehidupan kontemporer.

“Melalui campuran fantasi, realitas, sejarah, dan perspektif sosial, Mo Yan berhasil menciptakan karya yang tidak kompleksnya dengan tulisan William Faulkner dan Gabriel Garcia Marquez,” tulis academy Nobel saat mengganjarnya nobel sastra 2012 lalu.

Dia dianggap berhasil mempertemukan antara tradisi lisan dan kesusastraan lama di Cina.

3. Orhan Pamuk

Orhan Pamuk, merupakan penulis Turki yang lahir pada 1952. Dia memenangkan Nobel Sastra pada tahun 2006. Karyanya yang paling fenomenal ialah My name is Red yang telah diterjemahkan ke dalam lebih 60 bahasa.

Namun, keberhasilannya di dunia internasional tidak membuatnya mendapatkan tiket gratis sebagai sosok yang dipuja negaranya. Sama dengan Mo Yan, dia pernah diadili. Dan karyanya dilarang karena berlatar belakang tentang isu genosida warga Armenia di masa kekuasaan Otoman, Turki.

Karena karya tersebut, buku-bukunya bahkan dianjurkan dibuang dan, disusul dengan pembakaran massal.

4. Gao Xingjian

Gao Xingjian adalah penulisan Cina kelahiran Ganzho, 4 Januari 1940, tak hanya novelis, ia sekaligus penerjemah, pelukis, dramawan, dan kritikus.

Meski lahir di salah satu provinsi di Cina, ia memutuskan pindah ke Perancis, lalu menjadi warga negara Perancis.  Gao memenangkan Penghargaan Nobel dalam Sastra pada tahun 2000. Sebelum itu, pada tahun 1992 ia dianugerahi Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres oleh pemerintah Perancis.

Gao dicap pembangkan oleh pemerinta Cina, sama seperi peraih novel sastra di atas. Karya-karyanya tak boleh dibaca, dan dilarang beredar oleh pemerintahan komunis tersebut. Buku paling popular Gao adalah Gunung Roh terbit tahun 1990.

5. Vidiadhar Surajprasad Naipaul

Vidiadhar Surajprasad Naipaul TC atau lebih dikenal V. S. Naipaul, adalah seorang penulis India namun berkebangsaan Britania. Dia Lahir di Trinidad dan Tobago pada 17 Agustus 1932. Sejak 1950 entah mengapa ia memutuskan menjadi warga negara, dan tinggal di negeri yang menjajah tanah leluhurnya itu.

Mungkin sama dengan para peraih nobel lain, meninggalkan tanah asal usul untuk mencari pendidikan lebih baik, namun mereka tak pernah kembali.

Pada 1990 V.S Naipaul bahkan dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elisabeth. Dan selang 11 tahun kemudian pada 2001 menerima Penghargaan Nobel sastra. Uniknya dalam beberapa karya V.S Naipul mengangkat tema nasionalisme dan kolonialisme.

Novelnya juga beberapa mengangkat tema pada peran agama, seperti Islam, meski ia harus menuai kritikan tidak hanya di India tapi juga Pakistan. Karya terkenalnya yang dibenci sekaligus dipuja ialah A House for Mr. Biswas, 1961 dan Among the Believers: An Islamic Journey, 1981.

6. Rabindranath Tagore

Namanya dibenci negara Inggris tapi harum di tanah kelahirannya. Ia lahir dan menetap hingga mati di negeri Shahrukh Khan, provinsi Kolkata, India, 7 Mei 1861.

Inilah dia orang pertama Asia yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra. Dikenal juga dengan nama Gurudev, ia merupakan seorang penyair, dermawan, filsuf, seniman, musikan, sekaligus sastrawan bengali.

Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun dengan  nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) serta sudah menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mendapatkan pendidikan dari rumah (Home Schooling), di Shilaidaha.

Tagore dikenal bangsa India sebagai orang yang tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat. Rasa kecewa kepada Inggris membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan memutuskan memperjuangkan negara India merdeka bersama dengan Mahatma Gandhi.

Karya  besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World). Dua lagu dari aliran Rabindrasangeet yang diciptkannya bahkan menjadi lagu kebangsan Bangadesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana). Tagore meninggal pada 7 Agustus 1941.

7. Kawabata Yasunari (川端 康成)

Lahir 1899 di Osaka. Ialah penulis asal Jepang pertama yang meraih nobel sastra. Kawabata kehilangan orangtuanya sejak usia empat tahun ketika Jepang terjebak di situasi perang.

Ia pernah menjadi seorang wartawan untuk sebuah koran di Osaka dan Tokyo. Sejak masih berkuliah, jiwa sastra Kawabata sudah terlihat. Ia menulis cerita pendeknya yang terkenal dan masih dibaca di sekolah Jepang berjudul Shokonsai Ikkei.

Tidak seperti karya Natsume Soseki atau Akutagawa Ryunosuke penulis Jepang yang kesohor itu, Yasunari menolak tunduk pada unsur romantisme semata, karya sastra milik Kawabata Yasunari cenderung lebih melankolis dan banyak mengeksplor kisah cinta para tokohnya.

Karyanya yang paling terkenal adalah Yukiguni (雪国) atau Negeri Salju, yang berkisah tentang seorang pria dengan geisha di sebuah desa.

Kawabata memiliki kisah tragis, meski tak dibenci di negaranya namun ia harus memilih meninggal dunia pada usia 72 tahun dengan cara meracuni dirinya dengan gas

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.