Syahdan

Waria yang Babak Belur Karena Dituduh Homo

SUASANA di kampung sebelah ramai. Dua orang sedang digebuk warga.  Salah seorang diantaranya waria. Keduanya dituduh melakukan tindakan cabul sesama jenis. Warga benar-benar marah. Mereka tidak ingin kampung mereka tertimpa azab Allah karena tindakan dua orang ini.

“Hey.. kau tauji kenapa umat Nabi Luth itu diazab oleh Allah. Mereka semua dimusnahkan karena orang-orang seperti kalian ini,” teriak salah seorang warga dihadapan kedua pemuda itu.

Keduanya itu hanya bisa terdiam. Wajah mereka sudah lebam terhajar warga. Tak ada yang mereka lakukan kecuali menangis dan meminta agar tidak dipukuli lagi.

“Sudah mi kodong. Sakit sekali mi badanku,” si waria meratap dengan air mata yang mengucur.

Iyo… kau enak-enak begitu. Kalau azab Allah turun, bukan ji kau yang kena sendiri. Kita semua kena.”

Sarmidi yang kebetulan lewat lalu mendekat. Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat orang yang dipukuli itu adalah temannya.

Astagfirullah, Rince. Kenapa ko??”

“Dipukuli ka Sarmidi. Tolong ka kodong.

“Eh, kenapa kita pukul orang begini kah?” Sarmidi berteriak keras.

“Jangan moko bicara kau Sarmidi. Kau juga calabai. Teman-temanmu ji ini semua. Awas ko juga kau!” Salah seorang bersuara menggertak.

Sarmidi merasa khawatir juga mendengar ancaman itu. Dia segera berinisiatif menelpon Kyai Saleh.

“Kyai… bisa ki datang sebentar ke sini.”

***

Tak lama kemudian, Kyai Saleh datang.

“Ada apa ini? Kenapa ada orang dipukuli?” Kyai Saleh tertegun melihat dua orang tak berdaya di tengah kerumunan orang-orang yang sedang geram dan marah.

“Ini Kyai. Mereka ini homo. Mereka melakukan tindak asusila di kampung kami. Kami tidak terima!”

“Ada yang menyaksikan mereka melakukan perbuatan itu?” Kyai Saleh bertanya.

Semua warga terdiam.

“Apa ada yang menyaksikan mereka berbuat zina?” Kyai Saleh kembali bertanya dengan suara yang lebih keras.

Tak ada satupun warga yang bersuara.

“Mereka berduaan di kamar, Kyai. Apalagi yang mereka lakukan kalau tidak berbuat zina sesama jenis. Menjijikkan!” Kata seseorang diantara mereka.

“Kami tidak ingin dilaknat oleh Allah karena perbuatan kaum homo ini. Kyai tentu tahu kenapa umat Nabi Luth diazab oleh Allah”

“Ini yang saya khawatirkan ketika agama berada di tangan orang yang tidak mengerti dengan detil hukum-hukum Islam.”

“Apa maksud ta Kyai? Bukankah orang berzina itu boleh dirajam.”

“Iya…. tetapi esensi dari hukum Islam adalah melindungi kemanusiaan.”

“Nah… sudah benar kan Kyai. Orang-orang ini melanggar norma kemanusiaan. Mereka berbuat asusila.”

“Saudaraku semua pernahkah membaca bagaimana proses orang disebut berzina dalam hukum fikih?”

“Maksudnya bagaimana, Kyai”

“Dalam fikih, seseorang yang menuduh orang lain berzina dia harus mendatangkan empat orang saksi yang melihat kejadian itu secara langsung. Kalau tidak bisa mendatangkan saksi, justru yang menuduh itu yang harus kena hukuman.”

“Kenapa begitu, Kyai?”

“Hukum Islam ditegakkan atas dasar kemanusiaan. Tidak boleh kita bertindak terhadap seseorang hanya karena dugaan dan tuduhan. Kita harus melindungi kemanusiaan mereka.”

“Tapi apalagi yang jadi alasan. Apa yang mereka lakukan berduaan di kamar kalau tidak begitu, Kyai? Saya yakin mereka berbuat salah!”

“Kalau caramu memandang orang lain begitu, agama justru bisa menjadi alat penghancur kemanusiaan. Para ulama kita menyadari ini sehingga menerapkan syarat yang sangat ketat untuk menuduh dan menghukumi orang yang berbuat asusila. Bayangkan setiap orang berdua dianggap berzina, setiap lelaki berduaan dianggap homo lalu dihukum. Terus mau dibawa kemana spirit kemanusiaan agama ini?”

“Tapi kan waria dan kaum homo dilaknat Allah, Kyai,” seorang lagi mengajukan argumen.

“Benar. Dan biarkan Allah yang melaknatnya. Itu hak Allah bukan hak kalian. Allah tidak pernah mengalihkan haknya kepada kalian untuk melaknat.”

“Berarti Kyai melindungi kaum LGBT?”

“Saya melindungi dia sebagai manusia.”

“Ah, kalau begini cara ta Kyai. LGBT akan merajalela di negara kita. Biar Kyai juga terkesan melindungi.”

Kyai Saleh menatap tajam orang ini.

“Saudaraku, jangan kamu jalankan agama ini untuk memuaskan hasrat kehewananmu. Agama Islam diturunkan untuk menyempurnakan akhlak kemanusiaan, bukan untuk menyalurkan nafsu hewani.”

“Lah…si bencong itu yang menyalurkan nafsu binatangnya, masa tidak boleh dihukum.”

“Saya tidak pernah bilang tidak perlu dihukum. Hukum dalam Islam sudah sangat jelas. Tetapi, saya bertanya apakah kalian menyaksikan perbuatan itu secara langsung. Itu bagian dari etika penegakan hukum dalam Islam. Bukan asal tuduh lalu hukum.”

Kyai Saleh berhenti sejenak dan meminta air untuk memberi minum kepada dua orang yang sedang kesakitan itu.

“Rasulullah bahkan menunda hukuman seorang perempuan yang mengaku berzina hingga tiga kali perempuan itu datang mengadu.. Apa maksudnya? Rasulullah sangat berhati-hati dalam menjatuhkan hukuman kepada seseorang untuk perbuatan yang privasi. Rasulullah pernah menunda menghukum perempuan yang mengakui dirinya berzina karena sedang hamil. Apa maksudnya? Rasulullah menghargai bayi dalam perut perempuan tadi karena bayi itu tidak bersalah. Padahal, dia anak haram. Rasulullah menghargai manusia ciptaan Tuhan yang tidak bersalah. Jika kalian bermaksud menegakkan agama Allah, maka tegakkanlah dengan bijak dan arif.” Lanjut Kyai Saleh.

“Jadi, menurut Kyai, bagaimana?”

“Kalau tidak ada yang berani bersaksi bahwa dia menyaksikan secara langsung perbuatan zina itu, lepaskan dia! Kalau ada yang menyaksikan secara langsung, silahkan bawa ke kantor polisi. Atau begini. Siapa diantara kalian yang merasa mulia dan suci, tidak punya dosa, saya persilahkan untuk menghajar lagi kedua orang ini.”

Semua terdiam. Sarmidi memapah Rince yang terkulai lemas. Kyai Saleh meminta salah seorang warga untuk memapah lelaki yang satunya.

“Bawa ke puskesmas. Saran saya buat kalian. Kalian jadikan ini pelajaran. Jangan berbuat sesuatu yang bisa memancing kemarahan warga. Hati-hatilah dalam bersikap. Jauhi hal-hal yang bisa mendatangkan keburukan bagi kalian sendiri.”

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Misteri Hadis 200 Tahun: Abu Janda Vs Felix Siauw

Penampilan Frontxside di panggung Rock In Celebes (foto: Ifan Aditya)
Next post

Arah Dukungan Pegiat Industri Musik di Pilkada Sulsel