FeaturedSyahdan

Secangkir Kopi Politik di Teras Rumah Kyai Saleh

POLITIK mengubah suhu kampung Kalimana yang seharusnya dingin menjadi lebih panas. Sebentar lagi, pemilihan ketua RW di lingkungan Kyai Saleh akan dilaksanakan.

Ada tiga calon yang maju. Dandi, Mantan ketua RW lama yang masih ingin maju. Musafir, seorang pedagang baju bola yang merasa layak jadi ketua RW. Dan Daeng Inal, mantan sekertaris RW yang dipecat oleh ketua RW karena dianggap tidak bisa bekerja sama.

Ketiga calon menggalang dukungan kesana kemari. Tak jarang, ketiga tim sukses saling bersinggungan. Seperti kemarin seorang lelaki dipukuli oleh empat orang gara-gara spanduk. Yang dipukuli harus dirawat di rumah sakit. Yang memukul berurusan dengan pihak kepolisian.

Politik memang bikin jengah. Hari ini Kyai Saleh membaca di koran lokal, seorang professor terancam tidak bisa ikut bertanding di arena politik di tingkat provinsi. Gara-garanya, partai pendukung yang sudah ikut deklarasi, tiba-tiba mengubah haluan mendukung calon lain.

Seorang yang pernah tersandung kasus korupsi bersanding dengan seorang dengan branding ustad. Ah, politik. Apa yang terlihat tak selalu yang terlihat.

Dramaturgi dengan kepentingan sebagai junjungan. Kyai Saleh melipat koran dengan wajah buram.

Dan politik itu datang mendekat ke teras rumah Kyai Saleh. Setiap hari para kandidat RW datang menyambangi. Basa-basi tentu saja. Kyai Saleh sebenarnya kurang sreg tetapi dia tidak bisa mengelak. Tamu tetaplah tamu. Meski dia datang sekali lima tahun tetaplah dia tamu yang harus disuguhi segelas kopi.

Oh iya, kopi. Kyai Saleh adalah penggemar berat kopi. Para kandidat RW tahu itu dengan pasti. Hadiah kopi adalah sebentuk cara untuk menggoda perhatian Kyai Saleh. Itu satu-satunya benda yang tak pernah ditolak oleh Kyai Saleh.

Semua tahu, Kyai Saleh adalah tokoh sederhana. Dia tidak akan mau menerima pemberian materi, seberapa pun jumlahnya dari para politisi. Semua tahu, Kyai Saleh pernah menolak hadiah mobil dari seorang kandidat walikota. Tetapi kopi punya tempat sendiri di hati Kyai Saleh. Pemberian kopi dari para kandidat diterimanya dengan sukacita.

Semakin dekat dengan hari pemilihan, jumlah kopi di rumah Kyai Saleh semakin banyak. Kyai Saleh hanya tersenyum. Para santri dan tetangga-tetangga pun kecipratan kopi.

“Kyai… kenapa ki terima pemberian kopi dari para kandidat?” tanya Tesa suatu ketika

“Karena mereka memberi!” Kyai Saleh menjawab sekenanya.

“Lah…kemarin-kemarin ada yang mau kasih ki mobil kenapa kita tolak,” Yusran ikut bicara.

“Saya tidak butuh mobil lagi. Kijang tua itu sudah cukup.”

“Kalau kopi?”

“Kopi adalah romansa terindah. Nikmat sekali. Kopi bisa mendekatkan saya kepada Tuhan. Meminum kopi bagi saya adalah tindakan spritual. Kopi adalah jalan saya untuk merasakan apa yang dirasakan oleh Rabiah Al-Adawiyah, Al-Khallaj, Dzun Nun, dan para sufi yang kecanduan cinta kepada Tuhan. Tergila-gila!”

“Bagaimana bisa begitu, Kyai? Bukankah kopi itu minuman biasa?” Ais pun turut nimbrung. Sebagai orang yang tidak suka kopi, pernyataan Kyai Saleh menggelitik baginya.

“Kopi bisa membawaku ke ruang kenikmatan. Dalam kenikmatan itulah setiap manusia bisa menjumpai keindahan. Dan esensi dari segala keindahan adalah Allah. Kopi adalah jalanku untuk menjumpai Sang Pemilik Keindahan.”

***

Menjelang pemilihan, Kyai Saleh mengundang semua kandidat ke rumahnya. Hari ini Kyai Saleh mengundang Pak Dandi, besok Daeng Inal, dan besoknya lagi Musafir.

Setiap kandidat disuguhi cangkir kopi di teras rumahnya. Uniknya, Kyai Saleh selalu menyiapkan tiga gelas kopi yang tersedia meski yang ada hanya Kyai Saleh dan sang kandidat.

“Kenapa ada tiga gelas Kyai?” tanya pak Dandi

“Dua gelas untuk kamu, aku segelas lainnya.”

“Tapi aku cuma butuh segelas Kyai. Itu sudah cukup.”

“Aku hanya ingin membalas kebaikanmu. Kamu dan tim sukses mu setiap hari menghadiahiku kopi.

Padahal, kamu tahu kalau kebutuhan saya terhadap kopi hanya segelas. Tapi kopi yang kamu berikan itu bisa untuk satu sumur. Bukankah kebiasaan kalian memberi karena kepentingan bukan karena kebutuhan.”

Wajah Pak Dandi sedikit memerah.

“Minumlah.”

Pak Dandi segera menyeruput kopi. Baru seteguk, matanya terbelalak. Matanya memicing seperti sedang menahan kecut. Dia menelan kopi itu dengan terpaksa. Kalau saja, dia tidak sedang berhadapan dengan Kyai Saleh, dia pasti sudah memuntahkannya.

“Kenapa pak Dandi?”

“Kopinya asin… mungkin lupa istri ta. Nakasih garam bela.” kata Pak Dandi sembari memicingkan mata.

Kyai Saleh malah tersenyum kecil sembari menyuguhi Pak Dandi segelas air putih.

“Saya tahu itu asin. Saya meminta kepada istri saya untuk memberi garam.”

Dee kodong, Kyai. Tega ta suguhi saya kopi asin ini.”

“Bukankah politik begitu, Pak Dandi. Kalian semua tahu bahwa sebenarnya kalian bukan orang yang tepat menjadi pemimpin tetapi kalian memaksa rakyat kecil untuk menerimanya. Kalian tidak peduli, wajah mereka kusut, musam, marah. Yang kalian pedulikan diri kalian sendiri. Kalian memberi kopi asin kepada rakyat dan kalian sendiri menikmati kopi yang manis. Begitulah sekarang. Saya tahu kopi itu asin. Alangkah bodohnya jika saya meminumnya.”

Wajah Pak Dandi melongo.

“Minumlah kopi yang satu lagi,” pinta Kyai Saleh.

Pak Dandi tidak segera memenuhi permintaan Kyai Saleh. Wajahnya ragu. Kopi asin yang diminumnya tadi memberinya sedikit rasa trauma.

“Jangan takut. Kopi ini nikmat. Campurannya khas. Kamu pasti menyukainya.”

Meski masih didera rasa ragu, Pak Dandi tetap menyeruput kopi itu. Matanya terpejam. Rasa kopi itu enak sekali. Benar, kata Kyai Saleh. Campuran gula, air, dan kopinya sangat pas di tenggorokan.

“Enak sekali Kyai. Pantas suka sekali ki minum kopi. Dan semoga kopi yang saya berikan kepada Kyai bisa memberi berkah kepada ku.”

“Hehehehehe…. Iya. Saya memang sangat suka kopi karena rasanya spesial. Tapi ngomong-ngomong, kopi yang kamu minum itu adalah pemberian dari Daeng Inal, lawan politikmu.”

Wajah Pak Dandi berubah. Dia terlihat keki dihadapan Kyai Saleh.

“Politik itu seharusnya seperti kopi. Menyambungkan rasa, bukan memisahkannya. Kamu setiap hari menjelek-jelekkan lawan politikmu tetapi kopi hadiahnya tetaplah nikmat di tenggorokanmu. Berpolitiklah dengan perspektif kemanusiaan, maka kamu akan mendapatkan penghargaan sebagai manusia, bukan sebagai demurka.”

Pak Dandi akhirnya menyudahi basa-basi politiknya. Pilihan kopi yang tersedia di meja Kyai Saleh sangat menjebak. Begitu pula, reaksi Daeng Inal dan Musafir pada hari berikutnya.

***

Para kandidat itu merasa tujuannya tercapai hanya karena menyumbangkan kopi kesukaan Kyai Saleh. Mereka berharap mendapatkan tuah dari pemberian itu. Mereka bahkan tidak pernah tahu kalau Kyai Saleh tidak pernah meminum kopi-kopi sumbangan mereka. Kopi-kopi itu sekarang dipacking untuk dikirimkan ke rumah tetangga dan daerah bencana.

Kyai Saleh memang pecinta kopi tetapi bukan sembarang kopi. Kyai Saleh hanya meminum kopi yang bisa mengantarkannya ke Tuhan. Kopi buatan isteri dan dibeli dari uangnya sendiri. Bukan kopi politik.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Mengapa “Nur” Begitu Banyak di Indonesia?

Next post

Orientasi Seksual Tidak Menular