Syahdan

Sang Konglongmerat yang Berpakaian Kumal ke Masjid

BANGUNAN rumah mewah di sudut lorong menuju Masjid Nurul Autar rampung. Orang-orang yang lewat pasti memuji keindahan rumah itu. Meski ukurannya tidak terlalu besar, namun model arsitekturnya sangat high class.

Rumah itu milik H. Lanto Daeng Pananrang, salah seorang pengusaha yang sukses. Kenduri masuk rumah baru dilaksanakan dengan gempita. Kyai Saleh memimpin skuad barazanji dengan langgam lokal yang khas.

Usai segala ritual memohon keselamatan dan keberkahan kepada Allah, pesta kuliner digelar. Warga Kalimana dengan sukacita menyerbu setiap jenis makanan yang tersedia.

H. Lanto dengan pakaian yang mahal dan necis menyambut para tetamu dengan suka cita. Keramahan terpancar jelas di wajahnya. Kenduri rumah baru tidak hanya sebagai ekspresi suka cita, tetapi juga ajang reuni. Maklum saja, meski H. Lanto orang asli kampung Kalimana namun baru beberapa hari saja dia datang.

Sebelumnya, H. Lanto merantau ke Kalimantan dan Pulau Jawa selama beberapa tahun. Setelah puas berkeliling, H. Lanto memutuskan untuk kembali ke kampungnya dan merenovasi rumah peninggalan orang tuanya.

“Kyai Saleh ini adalah guru saya. Ilmu-ilmu agama yang diberikan kepada saya sangat berguna ketika saya pergi merantau ke kampung orang,” kata H. Lanto kepada para warga yang datang.

“Jadi, daeng Ajji sudah mau menetap mi di sini?” Tanya salah seorang warga.

Iye. Biar bagaimana enaknya kampung orang, lebih enak hidup di kampung sendiri. Usaha saya di luar sudah saya berikan kepada anak-anak. Ada ji juga usaha disini. Cukuplah sebagai hidup saya di hari tua. Saya ingin kembali menjadi santri Kyai Saleh.” Kata H. Lanto sembari melirik Kyai Saleh yang duduk di sampingnya.Kyai Saleh hanya tersenyum kecil sembari menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya.

***

Azan di Masjid Nurul Autar berkumandang. Kemeriahan di rumah H.Lanto sudah usai. Warga Kalimana satu persatu menuju masjid, termasuk H. Lanto.

Penampilan H. Lanto membuat warga terheran-heran. Baju dan sarung yang dikenakan olehnya terlihat kusam. Di sisi belakang bajunya terdapat tambalan kain.

Sarungnya pun sudah terlihat tua. Sisi bagian bawah pun terlihat sedikit sobek. Sungguh kontras dengan penampilannya tadi siang di rumah barunya. Bagi yang tidak mengenalnya, pasti mengira H. Lanto sebagai orang miskin nan papa.

Hebatnya, H. Lanto melangkah tanpa canggung. Dia tidak memerdulikan tatapan heran warga. Dia tetap memendar senyum yang ramah kepada setiap jamaah yang ditemuinya.

***

Setiap hari, H. Lanto berpenampilan serupa itu setiap mendatangi masjid untuk berjamaah. Bahkan pada saat Salat Jumat pun H. Lanto memakai pakaian yang sama.

Perilaku unik H. Lanto ini membuat Ais tidak tahan untuk menanyakannya. Suatu ketika dia berjalan beriringan dengan H. Lanto menuju masjid.

Tabe. Ada yang saya mau tanyakan,” kata Ais.

“Apa itu, nak?” H. Lanto membalas kalimat Ais dengan ramah.

“Kenapa ki pakai baju kayak compang-camping ke masjid?” Tanya Ais.

Orang yang berjalan di samping Ais mencubit lengan Ais sebagai tanda peringatan. Pertanyaan Ais dianggapnya terlalu lancang.

“Ini ajaran Kyai Saleh,” jawab H. Lanto sembari tersenyum santai.

Ais mengernyitkan dahi. Masa sih Kyai Saleh mengajar begitu? Kata Ais dalam hati.

***

Tema pengajian Kyai Saleh malam adalah saat yang sempurna bagi Ais untuk menanyakan rasa penasarannya atas jawaban H. Lanto tadi.

“Tuhan meminta kita menggunakan pakaian kita yang paling indah dan paling baik ketika kita mendatangi-Nya untuk bersujud,” demikian kata Kyai Saleh ketika menjelaskan kandungan QS. Al-A’raf:31.

Tabe Kyai,” Ais mengacungkan jari.

“Silahkan nak Ais.”

“Tadi saya tanyakan kepada H. Lanto tentang kebiasaannya berpakaian kumal ke masjid, padahal kita semua tahu bahwa H. Lanto adalah orang yang sangat kaya. Saya merasa ini bertentangan dengan penjelasan Kyai Saleh barusan. Padahal, tadi H. Lanto bilang, beliau begitu karena ajaran kita, Kyai,” Kyai Saleh tersenyum simpul mendengar celoteh Ais.

“Alquran memang memerintahkan kita untuk menggunakan pakaian kita yang paling indah, paling baik, dan paling bersih ketika kita mendatangi masjid atau ketika hendak salat, menyembah kepada-Nya.”

“Tetapi kayaknya itu kontras dengan H. Lanto, Kyai?” Yusran ikut menyela.

“Iye Kyai. Kita saja kalau mau ketemu walikota atau gubernur tidak mungkin memakai pakaian yang kumal, apalagi kalau ingin bertemu dengan Allah,” Faris ikut menimpali sembari melihat ke arah H. Lanto yang hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan kritis dari santri-santri muda Kyai Saleh.

“Apalagi katanya kita yang ajari begitu,” Ais mengulangi kalimatnya.

“Masih ada lagi yang ingin protes!” Kyai Saleh memandangi seluruh jamaah. Semua hening.

“Baik. Kata kunci dalam berpakaian adalah bersih dan menutup aurat. Itu standar dasarnya. Bersih dari najis itu tidak multi tafsir dan tidak perlu diperdebatkan. Kategori selanjutnya adalah pakaian indah dan terbaik. Ini abstrak. Jika menggunakan standar keindahan publik, maka benarlah pertanyaan-pertanyaan kalian. Tetapi keindahan itu kadang-kadang ada yang bersifat personal.”

Para jamaah saling berpandangan. Mereka tampaknya belum puas mendengar jawaban Kyai Saleh. Bagi mereka, perilaku H. Lanto bertentangan dengan nalar mereka. H.Lanto seperti sangat kikir di hadapan Allah.

“Saya persilahkan H. Lanto yang menjawabnya.”

“Sebenarnya saya tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan adek-adek ini karena terlalu pribadi. Tetapi karena Kyai Saleh yang meminta saya menjawab jadi saya akan jawab. Bagaimana pun juga, tampilan saya hari ini sudah saya diskusikan panjang dengan Kyai Saleh beberapa tahun yang lalu,” H. Lanto berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.

“Bagi saya ini adalah pakaian yang terindah dari semua pakaian yang saya punya. Setiap selesai salat subuh saya minta kepada istri saya untuk mencucinya agar tetap2
suci. Dulu, bapak saya punya kebun kapas. Ibu berinisiatif memintal kain dari serat kapas itu dan menjahitnya menjadi baju dan sarung untuk bapak. Pakaian ini adalah hadiah cinta ibu kepada bapak saya. Ketika bapak meninggal, ibu menyimpannya sebagai kenangan. Setiap melihat baju itu ibu pasti mengambil air wudhu dan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan bapak saya. Pakaian ini diwariskan oleh ibu saya diakhir hayat beliau. Pesannya, gunakanlah baju ini untuk beribadah kepada Allah, ingatlah bapak dan ibumu di dalam setiap doa-mu,” hening.

Ais yang tadi mempertanyakan baju kumal itu kepada H. Lanto merasa terenyuh. Dia sama sekali tidak menyangka di balik pakaian kumal itu ada jejaring cinta suci yang menghubungkan bapak, ibu dan H. Lanto dengan Tuhan.

Ais menghela nafas, cinta yang indah. Entah kenapa, haru tiba-tiba menyeruak di hatinya.

“Jadi bagi H. Lanto, itu adalah pakaian terindah dan terbaik dalam kehidupannya. Lagi pula, baju-baju mahal yang ada di lemarinya belum tentu layak untuk dipakai menghadap kepada Tuhan,” kata Kyai Saleh menginterupsi keheningan.

“Kok bisa, Kyai? Kan yang penting bersih dan suci.”

“Iya… tapi siapa yang bisa memastikan kalau di balik pakaian mahal dari perusahaan ternama bermerek internasional itu, ada buruh yang tertindas karena gaji mereka tidak sesuai dengan pekerjaan berat mereka. Itu tidak berkah. Karena Allah tidak menyukai penindasan kepada golongan yang lemah. Wallahu a’lam!

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Menyambut Novel Sebagai Pemimpin Baru, dari Imam Masjid, Hingga Tsamara Amany

Next post

Film "Eiffel...I'm In Love" Sia-Sia Membuat Sekuel