Locita

Rina Nose yang Sufi dan Ustad Somad yang Fiqih

FENOMENA Ustad Somad dan Rina Nose benar-benar mengganggu pikiran Ais beberapa hari belakangan. Dia tidak habis pikir, mengapa tindakan Rina melepas jilbab yang menurutnya sangat pribadi, menjadi ejekan seorang ustad dengan membawa bagian fisiknya. Ais merasa perlu menanyakan kepada Kyai Saleh di majelis pengajian.

“Siapa dibilang Rina Nose? Siapa itu Ustad Somad?” Kernyit Kyai Saleh mengkerut ketika Ais menanyakan hal itu. Ais sedikit keki.

“Aduuh Kyai kurang update. Itu yang sekarang lagi diributkan oleh netizen.”

“Ribut dimana? Mereka berkelahi?”

“Duh, tidak kyai. Cuitan, status di media sosial banyak yang membahas mereka. Pokoknya ramai. Coba maki lihat di internet.”

“Ais kenal Rina Nose? Kenal juga Ustad Somad?” Giliran Kyai Saleh bertanya.

Ais menggeleng-geleng kepala, “Ndak, Kyai.”

“Lohh…. kenapa diributkan?”

“Kan, lagi viral, Kyai. Lagi heboh. Jadi fenomena yang dibicarakan orang-orang. Jadi sebagai murid kyai, saya butuh pendapat dari Kyai, soal ini.”

“Ais.. Ais. Kamu sudah tahu kalau saya jarang buka internet, sekarang diminta membahas. Ya sudah, saya pelajari dulu. Minggu depan, kita bahas lagi.”

Ais tersenyum kecil melihat wajah Kyai Saleh yang keki.

***

“Jadi, bagaimana menurut Kyai?” Ais langsung menyerang Kyai Saleh dengan pertanyaan, seminggu kemudian.

Saya akan membahas dengan dua sudut pandang, suu dzhon dan husnu dzhon

“Wah.. kok dua, Kyai?”

“Sudut pandang tak pernah tunggal, Nak.”

“Bagaimana memandang dengan suu dzhon?”

“Saya akan bilang, Rina sedang mempermainkan kita dan Ustad Somad juga mempermainkan kita.”

“Kok Ustad Somad mempermainkan, Kyai? Yusran menyela.

“Perhatikan kalimat Ustad Somad yang jadi viral tentang Rina. Rina Nose ini siapa, artis? Yang pesek itu? Saya kalau artis jelek-jelek, kurang berminat saya mengamati. Apa kelebihan dia? Pesek, buruk. Ustad Somad bilang dia kurang berminat tetapi dia tahu kalau Rina Nose pesek. Pesek itu citra spesifik dari Rina Nose. Kalau Ustad Somad memang mengaku tak mengenali, kurang berminat, darimana dia bisa tahu kalau Rina itu pesek. Bukankah itu berarti Ustad Somad sebenarnya tahu siapa itu Rina Nose”.

“Kalau Rina?

“Ya jelaslah. Dia buka jilbab setelah memakainya itu juga bisa dianggap mempemain-mainkan agama. Titik!”

“Berarti dua-duanya keliru, Kyai?”

“Kan, saya menggunakan perspektif suu dzhon, yang mau dilihat dan dikomentari hanya bagian buruknya. Bukankah itu cara kalian berdebat di media sosial. Mencari-cari sisi buruk dari lawan dan mengabaikan kebaikan-kebaikannya?”

“Kalau husnu dzhon?

“Rina Nose itu menggunakan pendekatan sufistik dan sedikit filsafat ketika dia memutuskan melepaskan jilbabnya. Sedangkan Ustad Somad menggunakan standar fiqih dan etika dalam melihat Rina.”

“Masa Rina sehebat itu, Kyai?”

“Orang yang menggunakan cara sufi biasanya tampil dengan cara yang mengejutkan. Saya melacak beberapa argumen-argumen Rina, sangat sufistik. Dia melihat dirinya dalam sudut pandang yang sangat luas, jujur, dan yang terpenting berangkat dari kegelisahan spritual.”

“Argumen yang mana, Kyai?”

“Itu. Ketika dia melihat fenomena di Jepang dan mengakhiri dengan kalimat kalau hidup kalian sudah sebaik ini lalu buat apa mencari agama dan Tuhan lagi? Kira-kira begitu kalimatnya.”

“Bukannya itu nihilis, Kyai? Menggugat agama dan menghilangkan eksistensi Tuhan, bisa Atheis tuu.”

“Bagi kaum sufi, kekosongan adalah cara mendekati Tuhan. Tuhan hanya bisa didekati dengan kekosongan, ketika hamba menelanjangi semua identitasnya. Tetapi disitu Rina sedang menggunakan kaca mata Ibnu Arabi, kritik terhadap agama sebagai penghalang menuju Tuhan. Jika semua itu sudah didapatkan, buat apalagi mencari agama dan Tuhan? Kira-kira begini, jika kamu sudah menemukan Tuhan buat apalagi kamu mencari-Nya?”

“Ndak ah, kyai. Kayaknya Rina tidak seperti itu.”

“Saya lanjut. Para sufi, biasanya menempuh cara unik, anti-teori, dan kadang-kadang anti logika. Al-Hallaj, ketika keluar dari perenungannya tiba-tiba berteriak, saya adalah kebenaran, saya adalah kebenaran, saya adalah Allah. Bayangkan, seorang manusia mengaku sebagai dirinya bersatu dengan Tuhan. Begitulah dunia para sufi.”

“Tapi Rina bukan Sufi, Kyai?”

“Rina mungkin bukan sufi. Tetapi Rina sedang berdialog dengan dirinya. Ini yang mahal. Tidak banyak kita berdialog dengan diri kita terhadap apa yang sudah kita miliki. Tidak pernah kita gelisah, salat kita ini seperti apa? Bagi saya, Rina sedang dalam perjalanan spritual, di tengah jalan dia terus berdialog dengan dirinya sendirinya. Keputusan untuk melepas jilbab adalah refleksi dari dialognya. Itu tindakan yang sangat berani. Tidak banyak orang yang bisa melawan arus seperti itu.”

“Kok Rina jadi keren, Kyai?”

“Perspektif dunia sekarang adalah permainan perspektif. Saya sedang memasukkan Rina dalam perspektif sufi. Apa Rina seperti itu? Entahlah.”

“Trus Ustad Somad?”

“Ustad Somad menggunakan standar fiqih dan etika dalam menilai perbuatan Rina. Para ustad dan penceramah sudah seharusnya menggunakan cara itu. Cara yang mudah dianggukkan oleh mayoritas publik. Kalau Ustad Somad menggunakan cara aneh seperti cara kaum sufi, akibatnya bisa buruk bagi pendengar dan pengikutnya.”

“Kenapa penjelasan Kyai tentang Ustad Somad tidak sekeren Rina?”

“Karena pendekatan fiqih tidak butuh penjelasan panjang, fiqih untuk ditaati bukan untuk diperbincangkan panjang dan lebar.”

“Tetapi kenapa Ustad Somad main fisik ustad?” Ais kembali bertanya.
“Orang fiqih memang suka main fisik. Kaidah ushul fiqih menyebut, nahnu nahkumu bidzhawahir wa Allahu yahkumu bissarair. Kita hanya bisa menghukumi yang terlihat, sedangkan Allah menghukumi yang tak terlihat. Rina Nose melepas jilbab, kita sebut dia buruk. Tetapi betulkah dia buruk, Allah lah yang menilai.”

“Maksud saya kenapa harus mengejek Rina yang pesek, buruk dan sebagainya. Kyai?”

“Ndak ji tawwa. Itu bukan ejekan. Itu pernyataan solidaritas. Orang pesek yang mengejek orang pesek bukanlah ejekan.” Ais tersenyum simpul.

“Begini anak-anakku semua. Jangan biasakan membuat hal tidak penting menjadi penting.”

“Maksud Kyai?”

“Hal-hal tidak penting, tapi kalian membuatnya menjadi penting dengan membicarakannya sepanjang waktu, bahkan membahasnya di pengajian.”

“Memang begitu kids jaman now,” Tesa menyela.

“Ya.. sudah. Mari berdoa, semoga nalar sehat kalian tetap terpelihara!”

“Amin!” ujar seluruh jamaah

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Tentang Penulis

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.