Syahdan

Puisi yang Mengoyak Sukma

SENJA menjelang. Hujan yang sejam lalu mengucur deras, kini mulai reda. Yang tersisa butiran kecil yang turun dengan sangat pelan. Semburat merah berbias indah di langit. Suara salawat sudah terdengar dari Masjid Nurul Autar. Waktu Salat Magrib akan segera tiba.

Di tengah suasana senja yang indah, warga Kalimana dikejutkan oleh suara azan yang terdengar berbeda dari biasanya. Pekikan nadanya tak beraturan, cempreng, fals dan sumbang. Sesekali terdengar nada falsetto yang melengking melampau notasinya. Sungguh, suara azan sore ini tak nyaman terdengar di telinga.

“Siapa yang azan?” Pertanyaan ini menyergap pikiran warga.

Beberapa orang warga bersegera datang ke masjid. Sekadar memastikan siapa yang sedang mengumandangkan azan.

Oh, rupanya Daeng Gassing. Lelaki renta yang sudah berusia 70 tahun. Warga heran, mengapa bukan Sampara? Bukankah dia sudah ditugaskan sebagai muazin masjid Nurul Autar? Andai kata Sampara sedang tidak di tempat, itu masih bisa dimaklumi. Tetapi, kenyataannya Sampara sudah ada di masjid. Pun, Kyai Saleh. Sang Kyai sedang duduk dengan mata tertutup seperti ‘menikmati’ suara Daeng Gassing.

Akan tetapi, pertanyaan itu harus diendapkan. Tak banyak waktu yang tersedia antara azan dan salat Magrib. Beberapa detik seusai melantunkan azan, Kyai Saleh memberi kode kepada Daeng Gassing untuk membaca iqamat. Masih dengan semangat yang sama, Daeng Gassing mengumandangkan iqamat. Para jamaah harus pasrah mendengar suara itu, sekali lagi.

***

Setelah Kyai Saleh mengucapkan salam pembuka pengajian, seorang jamaah mengacungkan tangan. “Kyai, kenapa tadi yang azan Daeng Gassing, bukan Sampara?”

“Wah, tumben ini cepat sekali bertanya.”

“Penasaran ka Kyai.”

“Saya yang meminta Daeng Gassing azan. Pahala azan itu besar sekali. Itu pekerjaan mulia. Kebetulan Daeng Gassing ada di masjid dan saya memintanya untuk azan.”

“Kan, ada ji Sampara, Kyai?”

“Memang kenapa kalau Daeng Gassing mau azan. Apa dia tidak boleh mendapatkan pahala azan?”

“Ndak ji, Kyai. Tapi tidak seperti suaranya Sampara bela!”

“Maksudmu, suara Daeng Gassing tidak bagus,” Kyai Saleh menyela cepat dengan suara sedikit meninggi.

“Baguskah memang kita dengar, Kyai?” Tanya Yusran dengan kening mengkerut. Kyai Saleh tampak terkesiap. Pertanyaan balik itu sungguh tak diduganya. Setelah beberapa detik terdiam,  Kyai Saleh lalu memendar senyum.

“Memang, suara Sampara lebih enak,” jawab Kyai Saleh.

“Sama jaki Kyai,” jamaah menjawab serempak.

“Tapi bagus tongji tawwa suaranya Daeng Gassing. Apalagi semangatnya. Lihatlah beliau, meski sudah renta tetapi tetap kencang melengking suaranya.” Kata Kyai Saleh dengan sedikit senyum terpendar di bibirnya.

Jamaah ikut tersenyum. Nada ironis terdengar jelas di kalimat Kyai Saleh.

Daeng Gassing tertunduk malu.  Lelaki renta itu  hanya tersenyum lirih. Dia sadar suaranya memang tidak indah. Sesungguhnya dia pun ragu ketika Kyai Saleh menawarinya. Degup kikuk menjalari hatinya. Tetapi, ini adalah kesempatan langka yang tak bisa disia-siakan.

“Terus kenapa memang kita minta Daeng Gassing azan, tadi? Pasti ada alasan ta.” Seorang jamaah kembali bertanya. Tampaknya, Kyai Saleh belum memberikan penjelasan tentang itu.

“Meski suara Daeng Gassing tidak bagus, saya tetap menikmati aura spiritualnya. Kita harus paham bahwa azan itu panggilan spiritual, bukan seni keindahan belaka. Siapapun yang azan, Daeng Gassing yang suaranya tidak bagus atau Sampara yang suaranya merdu tidak mengubah apa-apa dari pesan azan. Azan tetap mulia meski dilantunkan dengan suara yang tidak merdu. Buktinya kalian tetap datang ke masjid kan?”

“Tapi kan bagus tong kalau merdu suaranya yang azan Kyai. Nyaman kedengaran masuk di telinga.”

“Secara seni, suara yang merdu memang enak dan pas. Tetapi apa fungsinya beda? Tidak. Banyak masjid yang azannya sangat menggugah, sangat merdu tetapi yang mau singgah salat, yang mau saja!”

“Berarti ndak salah ji itu puisinya bu Sukmawati.” Ais menyela dari barisan jemaah perempuan.

“Ya. Saya dengar ada puisi dihebohkan. Memang kenapa puisi itu?”

“Banyak yang marah karena dianggap melecehkan azan dan cadar.”

“Ah, masak marah sama puisi!”

“Betul, Kyai. Bahkan ada yang menganggapnya menistakan Islam.”

“Apa isi puisi itu?” Kyai Saleh balik bertanya.

Ais tidak menjawab. Dia segera mengaktifkan ponsel dan membacakan bait-bait puisi yang memantik kontroversi.

Kyai Saleh terdiam. Dia menarik nafas panjang dan membiarkan suasana menjadi hening.

“Menurut kita bagaimana, Kyai?” Suara Ais memecah keheningan. Dia ingin mendengar tanggapan Kyai Saleh, segera.

“Saya bukan ahli puisi. Saya tidak bisa menilai puisi itu. Apakah puisi itu layak disebut puisi atau hanya sekedar kumpulan kata-kata biasa yang didramatisasi. Ada tongji ahlinya itu. Saya hanya penikmat puisi. Khususnya, puisi Ibnu Arabi dan puisi Jalauddin Rumi.”

“Kalau kontennya bagaimana Kyai?” Ais kembali mencecar dengan pertanyaan.

“Ais kan anak sastra. Pasti tahu kalau puisi ditulis dengan bahasa metafor. Maknanya ada di balik kata. Setahuku, puisi dihadirkan untuk menyentak kesadaran tentang sesuatu. Mengadili kata-kata dalam puisi adalah penghianatan terhadap rasa.”

“Tetapi puisi ini menyinggung rasa, Kyai. Dia melebihkan sari konde di atas cadar. Juga, melebihkan kidung dari azan. Seolah ingin mengatakan bahwa kebudayaan jauh lebih tinggi dari pada agama”. Yusran kembali angkat suara.

“Mungkin di situ kelemahannya. Kritik terhadap simbolisme beragama yang ingin ditawarkan melalui puisi ini tidak kontekstual karena mempertentangkan agama dan kebudayaan. Padahal di Indonesia, agama dan kebudayaan menyatu, tidak dipertentangkan. Para ulama bekerja dengan pola itu. Lalu kenapa sekarang mempertentangkannya? Saya kira itu kekurangpekaannya. Tentu yang buat puisi ini punya argumentasinya sendiri.”

“Kenapa kah juga bawa-bawa agama dalam puisi!”

“Wah. Puisi Rumi dan puisi Ibnu Arabi itu bahan bakunya agama. Tuhan menjadi pusat dalam beberapa puisi spiritual Rumi dan Ibnu Arabi.”

Tojengki[1], Kyai?”

“Untuk lebih jelas, saya ingin bacakan satu puisi Rumi.”

Kyai Saleh segera mengambil dan mengaktifkan ponselnya. Sejenak, dia mengutak-atik ponsel dan memperbaiki posisi duduknya. Kyai Saleh menarik nafas lalu pelan membaca puisi Jalaluddin Rumi:

Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung sudah kuuji. Dia tidak di Salib.

Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno. Tidak ada tanda apapun di dalamnya.

Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar Aku memandang. Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah.

Dengan tegas, aku pergi ke puncak gunung Kaf. Di sana cuma ada tempat tinggal burung Aqsa.

Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah, Dia tidak ada di sana.

Aku menanyakannya kepada Avicenna sang filosuf. Dia ada di luar jangkauan Avicenna.

Aku melihat ke dalam ke hatiku sendiri. Di situlah tempatnya, aku melihat diri-Nya. Dia tidak ada di tempat lain.

Hening. Para jemaah terhenyak.

Suara Kyai Saleh membacakan puisi Rumi terdengar syahdu. Puisi tentang pencarian “Dia” (entah Tuhan, entah kebenaran) meresap ke dalam sukma para jamaah.

“Kalau membaca puisi ini secara denotatif, bisa saja disimpulkan Rumi telah melecehkan agama. Rumi bilang, DIA yang dicarinya tak ada pada agama yang mengiklankannya. Kalau DIA dalam puisi itu maksudnya adalah Tuhan, maka puisi Rumi sedang bilang bahwa Tuhan tidak ada pada agama-agama itu. Kalau DIA yang dicari  diartikan sebagai kebenaran, maka itu juga tidak ada pada agama-agama itu. DIA yang dicari oleh Rumi, ada dalam hatinya bukan di tempat lain. Makna puisi ini sangat sufistik dan mendalam,” Kyai melanjutkan penjelasannya.

“Kenapa tidak ada yang marah?” Tesa ikut bersuara.

“Mungkin karena  tidak ada yang tahu puisi ini. Setahu saya, peminat sastra puisi tidaklah banyak. Tapi guru saya, Mbah Bisri pernah bilang, ma kharaja min al- qalb dakhala ila al-qalb. Apa yang keluar dari hati, kena juga di hati.”

“Maksudnya bagaimana, Kyai? Apa hubungannya dengan puisi ini?”

“Puisi Rumi diciptakan sebagai bentuk kerinduan kepada DIA. Cinta kepada DIA. Meski rindu dan cinta Rumi itu melabrak dinding agama-agama, namun kita memahami dan meresapi kemana puisi ini hendak berlabuh. Saya ikut-ikutan merasakan kerinduan Rumi dalam puisi itu. Saya bahkan lupa kalau Rumi sedang mendekonstruksi agama.”

“Kalau puisinya bu Sukma?”

“Bisa saja puisinya tidak lahir dari sukma yang tenang, boleh jadi berasal dari sukma yang marah. Tidak spiritually. Sehingga puisi itu mengoyak sukma sebagian yang mendengarnya. Kemarahan sukma pendengar menjadikan puisi bu Sukma tidak bersukma. Sukma telah dikoyak oleh puisi dan menyerang kembali bu Sukma sang pembuat puisi.”

“Kenapa bisa ditanggapi begitu negatif. Bukankah ini puisi? Ekspresi seni yang berasal dari kebebasan berkreasi.” Tesa berkata kembali dengan mimik serius.

“Saya pernah mendengar teori tentang power of language. Salah satunya tentang kekuatan subyek sangat memengaruhi arah bahasa itu. Rumi, orang mengenalnya sebagai penyair sufistik. Orang tahu makam keagamaannya. Orang menerima kata-katanya sebagai kata-kata puitik. Pun, ketika Gus Mustafa Bisri membuat syair-syair yang kesannya mengkritik agama, orang bisa menerimanya karena Gus Mus adalah seorang Kyai yang sastrawan. Nah, bu Sukma dikenali sebagai politisi atau paling tidak bukan penyair, bisa jadi orang menganggap itu bukan puisi tetapi orasi politik yang dipuisi-puisikan. Entahlah!”

“Jadi bagaimana sebaiknya sikap kita kepada puisi itu,  Kyai?”

“Alessandro Duranti, seorang antropolog bahasa bilang, bahasa itu ada dua, privat dan publik. Puisi ini sebenarnya bahasa privat. Dibuat dengan jenis komunikasi tertentu yang berbeda dengan komunikasi publik. Persoalannya, di era media sosial batasan privat-publik sudah kabur. Puisi yang dibacakan dalam ruang privat diviralkan dalam ruang publik yang sebagian besar mungkin tidak memahami bahasa privat itu. Yang terjadi chaos. Kalau saja puisi Rumi tercipta dalam dunia simulakra ini, mungkin juga begini.”

“Berarti sikap marah terhadap puisi itu berlebihan, Kyai?”

“Berlebihan, jika diamukkan dan merusak kemanusiaan. Misalnya, gara-gara puisi bu Sukma,  kita menghina, mencaci, mencemooh. Itu jelas berlebihan. Tetapi kalau puisi bu Sukma dibalas dengan puisi yang indah, satire yang menggelitik, meme lucu itu ndak apa-apa. Tidak berlebihan.”

“Kan, dibolehkan sombong pada orang sombong, Kyai.”

“Betul. Maka balaslah puisi dengan puisi. Jangan sampai kita membela agama dengan cara menghancurkan agama itu sendiri. Karena itu,  Umar bin Khattab pernah mengatakan matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya. Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang menyukainya. Jadi, nahi mungkar itu punya banyak cara. Kadang-kadang kita harus berteriak tetapi kadang-kadang kita harus mendiamkan.”

“Saya dengar bu Sukma sudah meminta maaf.”

“Ya, maafkanlah!”

Aii.. kalau kita tidak tegas, nanti akan ada lagi yang berbuat begitu. Sudah berbuat minta maaf lagi.”

“Ya, maafkan lagi. Susakamma![2] Jangan pernah kehabisan stok minta maaf dan memaafkan. Agama ini diturunkan tidak untuk mematikan emosi, tetapi meminta kita untuk meletakkannya di tempat yang tepat. Dan, memaafkan adalah mekanisme penting dalam sebuah relasi yang emosional. Itu ajaran Nabi.”

“Tetapi kan, kita juga tidak bisa melarang orang marah, Kyai!”

“Jika ingin hidup dengan api, bersiaplah untuk terbakar. Jika ingin marah, maka marah juga lah pada gelombang. Yang riuhnya membuat kamu tidak bisa mendengar suara azan. Marah pula-lah kepada badai yang menghancurkan rumah ibadah-mu sehingga kamu tak punya tempat bersujud. Kecuali, hatimu penuh cinta. Gelombang yang riuh dan badai yang meluluhlantakkan tidak berarti apa-apa. Karena, seperti Kata Jalaluddin Rumi, Tuhan ada di hati bukan di tempat lain.”

Lalu, hening.

Waktu salat Isa sudah menjelang. Sayup-sayup suara azan dari masjid kampung sebelah sudah terdengar. Kyai Saleh segera menutup pengajian.

“Apa kalian mengizinkan Daeng Gassing untuk azan salat Isa?”

“Janganmi deh, Kyai. Sampara mo.” Jamaah serentak menjawab.

Kyai Saleh mengangguk tersenyum sembari memberi isyarat ke Sampara.

Sampara maju ke depan melantunkan azan. Kali ini, suara azannya terdengar lebih merdu, lebih dari biasanya.

 

[1]Benarkah?

[2] Susah amat.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Membuka Kran Wacana Keagamaan

Next post

Pudarnya Etika Komunikasi Mahasiswa ke Dosen