FeaturedSyahdan

Poligami

CERITA tentang seorang ustaz terkenal memamerkan istri barunya di facebook menjadi perbincangan hangat di kelurahan Kalimana, tempat Kyai Saleh. Para lelaki menggunakannya sebagai alibi. Dan para perempuan menentangnya habis-habisan.

“Eh, kalau kita izinkan suamita menikah lagi, langsungki masuk surga” kata salah seorang warga.

Aduuhh…. Banyak cara masuk surga. Bukan itu satu-satunya cara. Lagian apa gunanya dapat tiket masuk surga tetapi di dunia kehidupan merana, sakit hati. Yang kedua, ketiga, keempat mungkin kecil volume sakit hatinya. Tapi istri pertama?” Sergah Ais.

“Ah, banyak bicara kamu Ais. Padahal, masih jomblo. Punya pacar juga belum tentu,” Faris datang mengejek. Ais meringsut, mukanya memerah.

“Cocok dek Ais. Kami ibu-ibu menolak poligami, atas nama apapun. Nanti saya cari jalan lain masuk surga daripada berbagi cinta,” Saribanong, seorang ibu penjual campuran dekat masjid bersuara mendukung. Ais bersemangat.

Ah, kalian ini perempuan. Ajaran agama sudah begitu jelas masih juga ditolak-tolak.”

“Kalian juga laki-laki. Pakai agama untuk membenarkan nafsunya. Jujur saja. Kalian mau nikah lagi karena melampiaskan nafsu kan?”

Perdebatan berhenti. Suara azan Magrib berkumandang. Ais buru-buru ke masjid. Dia ingin menanyakan perihal poligami pada Kyai Saleh.

Usai salat Magrib, Ais segera maju ke barisan paling depan bagian perempuan. Dia langsung angkat tangan setelah Kyai Saleh mengucapkan salam pembuka dan meminta jamaahnya mengajukan pertanyaan.

“Waahh! Tumben dek Ais mau bertanya” Kata Kyai Saleh, “apa pertanyaanmu nak?”

“Begini pak Kyai, bagaimana sebenarnya poligami itu Kyai?”

“Ais mau bertanya begini karena mau tahu atau karena terpengaruh berita di media sosial?”

“Tidaklah Pak Kyai. Saya benar-benar ingin tau.”

Kan Tuhan sudah menyatakan dalam Alquran Surah Annisa ayat 3, mau bagaimana lagi?” Kyai Saleh berkata dengan nada memancing.

“Kyai ! Bagi saya poligami itu pintu darurat. Apakah ada yang bisa adil? Saya melihat bolehnya poligami dijadikan sebagai pembenaran untuk memuaskan nafsu birahi, Pak Kyai. Buktinya rasulullah itu istrinya tua-tua” Ais berkata dengan semangat.

“Aisyah dan Mariyam Al-Qibtiyah itu dinikahi dalam usia muda nak. Nabi pun 12 kali menikah. 10 janda dan 2 gadis. Meski ada yang berusia tua, tetapi isteri nabi semuanya adalah perempuan sehat, tidak berpenyakitan.

Rasulullah memang menikahi dengan tujuan politik dan penyelamatan tetapi secara biologis semua istri nabi menarik dan sehat kecuali Sauda. Maryam Al-Qibtiyah sangat cantik, Hafsa cantik, dan Aisyah juga sangat cantik. Kamu tahu sendirilah.. orang Arab itu cantik-cantik”

“Jadi. Berarti Ustaz yang pamer-pamer istrinya yang cantik-cantik itu sudah benar Kyai?” Tanya Faris.

“Benar atau tidak. Sulit untuk dijelaskan. Teks tentang poligami jelas ada dalam Alquran. Soal adil atau tidak itu sangat subyektif. Setiap orang bisa menyebut dirinya adil meski kenyataannya tidak. Jadi tidak perlu berdebat soal itu.”

“Terus… Pak Kyai. Kenapa tidak poligami?” Usran menyela

Kyai Saleh tak langsung menjawab tetapi memandangi wajah Usran sejenak.

“Karena saya mengikuti rasulullah.”

“Lah… bukannya rasulullah banyak istri. Pak Kyai cuma seorang istri saja. Bagaimana bisa dianggap mengikuti Nabi?”

“Iya… karena saya bukan rasulullah”

Usran dan jamaah lain terlihat kebingungan. Jawaban Kyai Saleh terdengar bertele-tele dan tak konsisten. Melihat jamaahnya kebingungan, Kyai Saleh melanjutkan perkataannya.

“Nabi menikah usia 25 tahun dengan Khadijah. Selama Khadijah hidup, Nabi tak sekalipun menikah dengan wanita lain. Nabi menikah lagi ketika Khadijah meninggal dunia dengan Saudah, disusul Aisyah, Hafsa, Maryam, dan seterusnya. Ingat! Setelah Siti Khadijah meninggal dunia, Rasulullah dihibur dengan Isra’ Mi’raj. Dimana Rasulullah berkesempatan bertemu –dalam tanda kutip dengan Allah. Tahukah kalian, puncak kenikmatan bagi seorang manusia adalah bertemu dengan Sang Maha Pencipta.”

Meski jawaban Kyai Saleh panjang namun tak cukup memuaskan para jamaah. Kyai Saleh melanjutkan.

“Singkatnya, Nabi Muhammad mulai memiliki banyak isteri setelah dia berusia di atas 50 tahun, setelah Khadijah meninggal dunia, dan setelah mengalami puncak kenikmatan bertemu dengan Allah pada saat Isra’ Mi’raj.

Tidak ada tandingannya kenikmatan di dunia ini selain bertemu dengan Allah. Saya ulangi sekali lagi. Jadi, saya meyakini nabi menikah dengan beberapa orang wanita bukan untuk urusan kelaki-lakian.”

Jamaah terdiam menyimak. Perlahan-lahan mereka sudah bisa menebak arah penjelasan Kya Saleh.

“Karena itu, saya tidak berani poligami karena saya bukan nabi. Kalau saya cari istri lagi, pasti saya cari yang lebih mudah dan lebih cantik dari istri saya sekarang. Berarti nafsu saya yang bicara. Pastilah karena nafsu saya tidak cukup dengan seorang saja.”

Kyai Saleh berhenti sejenak. Lalu melanjutkan kalimatnya, “lagi pula, bagi saya ayat tentang poligami itu tentang pengurangan istri, bukan penambahan.”

Jamaah kembali kebingungan. Faris angkat bicara,

“Kok bisa pengurangan Pak Kyai? Bukankah poligami itu tambah istri, dari satu menjadi dua, tiga, dan empat”

“Iya.. benar. Tapi ketika ayat ini turun. Istri nabi sudah sembilan orang. Istri para sahabat kecuali Ali bin Abi Thalib lebih dari empat. Orang-orang Arab bahkan ada yang punya istri hingga ratusan orang. Lalu kenapa Allah membatasi hanya empat. Bukankah ini pengurangan?”

Entah mengerti atau tidak, sebagian jamaah menganggukkan kepala. Ais pun terlihat cukup puas dengan jawaban Kyai Saleh. Pengajian dibubarkan. Seorang jamaah mengumandangkan azan Isya.

Pepi Al-Bayqunie

Pepi Al-Bayqunie

Bukan penulis, hanya mau menulis. Pengagum Gus Dur. Novelnya yang sudah terbit adalah Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016).

Previous post

Sehari Bersama Emand, Pendongeng Anak Ibu Kota

Next post

Ustaz itu Seorang To Balo